Aryo Pradana adalah seorang pengusaha sukses, namun sayang berada di puncak pencapaian dengan bergelimang harta tak lantas membuatnya jadi suami bersyukur. Ia memilih mengkhianati Sekar—istri setianya yang berasal dari garis keturunan dukun terkuat di sebuah desa terpencil asal Banyuwangi.
Demi ambisi dan gairah, Aryo menikah siri dengan Maya, gadis kota, muda, namun ambisius. Alih-alih meratap dan menangisi nasibnya, Sekar yang mengetahui pengkhianatan ini justru memilih mundur dengan keheningan yang mematikan.
Ketika Maya mulai mengandung anak Aryo dan menuntut posisi sebagai istri sah satu-satunya, teror gaib yang legendaris, Santet Pring Sedapur, mulai dikirimkan.
Di balik keputusasaan Aryo untuk menyelamatkan istri mudanya, ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa satu-satunya cara menghentikan teror ini adalah menyerahkan kembali jiwanya pada Sekar—atau mati bersama seluruh keturunannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 03 - Tuntutan Maya
Pagi hari di daerah Pondok Indah selalu diawali dengan harmoni yang tampak sempurna. Sinar matahari menembus celah gorden sutra, memantulkan kilau keemasan pada perabotan serba marmer di ruang makan.
Di atas meja, telah tersaji sarapan mewah—roti panggang gandum, sosis premium, buah-buahan segar, dan secangkir kopi hitam tanpa gula kesukaan Aryo.
Maya duduk di sana, penampilannya sudah rapi dengan gaun hamil berbahan katun lembut berwarna pastel yang menonjolkan aura kecantikannya yang sedang merekah.
Namun, ketenangan di wajah Maya hanyalah topeng. Di dalam dadanya, ada badai kecemasan yang terus bergemuruh semenjak desas-desus tentang dinginnya sikap Sekar sampai ke telinganya.
Aryo turun dari lantai dua dengan setelan kerja yang rapi, namun langkahnya terasa berat. Lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa disembunyikan, sisa dari malam-malam yang mulai diganggu oleh ketidaknyamanan yang tak kasat mata.
Begitu Aryo duduk, Maya tidak langsung menyodorkan kopi. Ia menatap suaminya dengan tatapan menuntut yang tajam, dibalut dengan senyuman manis yang dipaksakan.
"Mas," panggil Maya memulai percakapan, suaranya sengaja dibuat selembut mungkin, namun mengandung tekanan yang tak bisa diabaikan. "Kemarin sore aku ngobrol dengan pengacara yang kamu rekomendasikan. Dia bilang, berkas gugatan cerai untuk wanita di Banyuwangi itu belum juga kamu tanda tangani. Kenapa diulur-ulur terus sih, Mas. Apa yang kamu tunggu?"
Aryo menghentikan tangannya yang hendak meraih cangkir kopi. Ia menghela napas panjang, meletakkan kembali cangkir itu ke tatakannya dengan denting yang sedikit keras.
"Maya, tolong mengertilah. Ini bukan cuma soal tanda tangan di atas kertas. Menurunkan Sekar dari posisi istri sah itu rumit. Sebagian besar aset perusahaan atas nama bersama, dan beberapa proyek besar di Surabaya juga masih membutuhkan tanda tangan persetujuannya sebagai komisaris."
"Aset, aset, dan aset! Itu terus alasan kamu, Mas!" suara Maya mulai meninggi, ego mudanya mulai mengikis topeng kesabaran yang ia bangun. Ia menggebrak meja makan dengan pelan namun sarat emosi.
"Lalu bagaimana dengan statusku, Mas? Bagaimana dengan anak yang ada di dalam perutku ini? Kamu bilang kamu mencintaiku, kamu bilang hubungan kalian sudah hambar. Tapi kenapa kamu seperti ketakutan setengah mati pada perempuan kampung itu?" Emosi Maya kian menjadi.
Aryo menatap istri mudanya itu dengan kilat kemarahan yang tertahan. Sebagai seorang pengusaha besar, ia tidak suka ditekan, apalagi di rumahnya sendiri.
"Aku tidak takut, Maya! Aku hanya realistis. Kalau aku melangkah sembarangan, Sekar bisa menarik seluruh modal dan pengaruh keluarganya dari proyek-proyek utamaku. Memangnya kamu mau kita tinggal di rumah mewah ini tapi dalam keadaan bangkrut, hah?"
Maya tertegun sejenak mendengarkan bentakan Aryo. Akan tetapi, sebagai wanita yang lihai memanfaatkan kelemahannya, matanya langsung berkaca-kaca.
Air mata buatan—namun terlihat sangat nyata—mulai bergulir di pipinya yang mulus. Ia memegangi perutnya yang membuncit, lalu sesenggukan.
"Aku tidak peduli soal harta, Mas," bohong Maya, suaranya kini bergetar parah, beralih ke mode korban yang teraniaya. "Aku hanya ingin kepastian. Aku tidak mau setelah anak kita lahir nanti dia dicap sebagai anak haram oleh lingkungan sosial karena ibunya hanya istri siri. Aku ingin menjadi satu-satunya Nyonya Aryo yang sah di mata hukum. Aku ingin harga diriku kembali setelah tiga tahun bersembunyi seperti pencuri! Kamu paham kan, Mas."
Melihat air mata Maya disertai rengekannya yang mendayu, runtuh sudah pertahanan Aryo. Pria itu bangkit dari kursinya, melangkah memutari meja, dan langsung berlutut di samping kursi Maya.
Ia menggenggam jemari tangan wanita muda itu dengan erat, menciuminya berulang kali penuh penyesalan.
Ego kelelakian Aryo selalu goyah jika dihadapkan pada kerapuhan Maya—sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari Sekar yang terlalu mandiri dan kokoh seperti batu karang.
"Maafkan aku, Sayang ... maafkan masmu ini, hem," bisik Aryo penuh penyesalan, menghapus air mata di pipi Maya dengan ibu jarinya.
"Jangan menangis, itu tidak baik untuk bayinya. Aku berjanji, minggu depan aku akan mengurus semuanya. Aku akan memaksa Sekar untuk menandatangani surat cerai itu, berapa pun kompensasi yang dia minta. Seluruh hidupku, masa depanku, hanya untukmu dan anak kita."
Maya perlahan meredakan tangisnya. Ia melirik Aryo dari balik bulu matanya yang basah, memastikan bahwa suaminya benar-benar telah terkunci dalam janjinya.
"Benar ya, Mas? Minggu depan? Kamu harus tegas. Kalau dia menolak, paksa saja. Atau bila perlu, bawa pengacara terbaikmu ke Banyuwangi. Tolong, lakukan ini demi anak kita, Mas."
"Iya, Sayang. Aku berjanji," jawab Aryo mantap, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia mampu mengatasi Sekar.
Setelah badai perdebatan itu mereda, Aryo menghabiskan kopinya dengan terburu-buru dan berpamitan untuk pergi ke kantor.
Maya mengantarnya hingga ke pintu depan, memberikan kecupan manis di pipi Aryo seperti layaknya seorang istri sah yang penuh kasih. Ia melambaikan tangan saat mobil sedan mewah Aryo bergerak membelah gerbang rumah.
Begitu mobil itu hilang dari pandangan, senyuman manis di wajah Maya langsung lenyap, digantikan oleh tatapan dingin dan penuh kemenangan. Ia berbalik, berjalan kembali ke dalam rumah dengan langkah yang angkuh.
"Perempuan kampung," cibir Maya pelan, merujuk pada Sekar. "Lima belas tahun kamu mempertahankan pria ini, tapi pada akhirnya, akulah yang memenangkan seluruh hidupnya. Menangislah di desamu sampai kering, karena sebentar lagi kamu bukan siapa-siapa lagi."
Maya melangkah menuju ruang tengah untuk bersantai di sofa beludrunya. Namun, begitu kakinya menginjak anak tangga pertama menuju ruang keluarga, sebuah sensasi aneh mendadak menyerang perutnya.
Cess ....
Rasanya dingin, sangat dingin, seolah-olah ada sebongkah es batu yang mendadak dimasukkan secara paksa ke dalam rahimnya.
Rasa dingin itu kemudian dengan cepat berubah menjadi sensasi seperti dicubit dengan kuku yang sangat tajam dari arah dalam.
"Ah!" Maya memekik pelan, tangannya spontan mencengkeram perut.
Ia terengah-engah, berpegangan pada bodi pagar tangga besi tempa. Rasa sakit itu hanya berlangsung selama beberapa detik, namun sukses membuat keringat dingin menetes di pelipisnya. Maya mencoba menarik napas dalam-dalam, menenangkan dirinya sendiri.
"Hanya kontraksi palsu ... iya, pasti begitu. Kata dokter usia kehamilan segini kadang ada kontraksi kecil," gumamnya menenangkan diri, mencoba mengabaikan firasat buruk yang mendadak menyergap hatinya.
Maya memutuskan untuk mengabaikan rasa sakit itu dan berjalan menuju dapur bersih untuk mengambil segelas air hangat.
Namun, saat ia melintasi cermin besar yang terpasang di lorong antara ruang tamu dan ruang tengah, langkah kaki Maya mendadak terkunci. Bulu kuduknya meremang hebat secara tiba-tiba tanpa alasan yang jelas.
Suasana di dalam rumah mewah itu mendadak terasa sangat sunyi, seolah-olah seluruh suara bising jalanan Pondok Indah di luar sana diserap oleh dinding-dinding rumah.
Udara di dalam lorong itu pun mendadak berbau aneh—bukan lagi wangi lilin french vanilla yang mahal, melainkan bau apek dari kain yang sudah bertahun-tahun disimpan di dalam gudang bawah tanah yang lembap.
Maya menoleh perlahan, menatap pantulan dirinya di dalam cermin.
Awalnya, semuanya tampak normal. Namun, ketika Maya memperhatikan lebih dekat, ia menyadari ada sesuatu yang salah dengan pantulannya.
Di dalam cermin, di belakang bayangan tubuhnya sendiri, tampak sebuah siluet hitam yang samar-samar mulai terbentuk di area kegelapan lorong.
Siluet itu menyerupai seorang wanita yang berdiri dengan tegak, kepalanya dihiasi oleh sanggul besar yang rapi dengan beberapa tusuk konde yang berkilau redup.
Wanita di dalam cermin itu tidak memiliki wajah yang jelas, hanya berupa sepasang mata yang menyala kemerahan di balik kegelapan wajahnya, menatap lurus tepat ke arah mata Maya.
Mata Maya membelalak ketakutan. Jantungnya berdentum begitu keras di dalam dada hingga rasanya seperti mau melompat keluar.
"Si-siapa itu?!" teriak Maya, suaranya bergetar parah.
Ia langsung membalikkan tubuhnya ke belakang dengan cepat, bersiap untuk memaki siapa pun pelayan rumah yang berani mengejutkannya.
Namun, ketika ia melihat ke lorong nyata di belakangnya, tempat itu kosong melompong. Tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada sofa kosong dan lampu dinding yang berpendar tenang.
Dengan tubuh yang gemetar, Maya kembali menatap ke arah cermin.
Siluet wanita berkonde itu telah lenyap. Yang tersisa hanyalah pantulan wajah Maya sendiri, yang kini tampak pucat pasi seperti mayat, dengan napas yang memburu tak beraturan. Maya mencengkeram dadanya yang terasa sesak.
"Halusinasi ... aku pasti cuma kecapean karena kurang tidur," bisiknya menenangkan diri, meskipun air matanya hampir menetes karena rasa takut yang teramat sangat.
Maya bergegas berlari menuju kamarnya di lantai dua, mengunci pintu rapat-rapat, dan menenggelamkan dirinya di balik selimut tebal.
Ia tidak tahu bahwa tuntutan egoisnya pagi itu telah memicu pergerakan sesuatu yang jauh lebih besar di ujung timur Jawa. Di Banyuwangi, kain kafan yang disiapkan Sekar baru saja digunting, disesuaikan dengan ukuran tubuh seorang wanita muda yang sebentar lagi akan menjemput ajalnya.
Yaa.... karena Pring sedapur ini memang tujuannya menghabiskan keturunan Aryo.
Jadi .... ibaratnya Aryo adalah target pamungkas dari pembalasan sakit hati Sekar.
Jadi ... Maya tidak mungkin dilepaskan oleh Sekar kan?
Bahkan siapapun yang terlibat dalam penghianatan Aryo sudah menuai akibatnya.
Seseorang yang bisa memutus santett Pring sedapur Ki demangkah ??
Dia tidak mau "menjatuhkan" dirinya di hadapan Sekar.
tapi ....
pada akhirnya azab yang akan memaksa dia untuk "jatuh" ..... sejatuh jatuhnya
dasar laki laki tidak tau diri
Rumah Sekar? atau
alas Purwo?
Aryo yang berbuat
tapi Maya yang menanggung siksa jiwa dan raga atas ulah Aryo.
Aryo menderita dan hampir gila dengan menyaksikan semua penderitaan Maya yang terkena santett Pring Sedapurr
Maya sudah hampir menjadi Pring/bambu yang kering dan mati .