Hukum tidak berpihak pada Anggita, jadi aku yang akan jadi hukumnya. Satu misi yang menjadi tujuanku hancurkan Arvin Teriaz. Aku Nabila Azzahra, topengku sekretaris, senjataku kode. Rencana sempurna begitu sempurna sampai Galen Teriaz, dokter yang membenci darahnya sendiri, mengulurkan tangan dalam misiku.
Apakah misi mereka berhasil dalam, menghancurkan seorang Arvin Teriaz ?
Baca selengkapnya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Pulang
1 Bulan Kemudian di rumah Sakit menunjukkan Jam 09.00, selama 1 minggu ini
Galen udah bisa duduk. Bahunya masih pake sling, tapi wajahnyaa udah ada warna.
TV nyala menampilkan berita
"40 KORBAN BERHASIL DIPULANGKAN, 12 TERSANGKA LAIN DITANGKAP"
Anggita duduk di pinggir ranjang, sedang myuapin Galen bubur.
"Kak, buka mulut. Aaa..." Ucap Anggita
"Udah, gede masih disuapin." Ujar Galen sambil terkekeh
"Biarin. 5 tahun aku nggak nyuapin kakak" Jawab Anggita
Nabila masuk bawa tas
"Baju ganti, hari ini kita pulang" Ucap Nabila
Galen langsung duduk tegak.
"Serius? Dokter udah ngizinin?" Tanya Galen dengan senyuman cerah
Dokter masuk
"Boleh, tapi kontrol tiap minggu dan jangan angkat berat" Jawab Dokter
"Siap Dok" Ujar Galen
Anggita loncat-loncat
"PULANG! PULANG!" Ucapnya membuat mereka terkekeh karena tingkahnya
*****
Jam 11.30 perjalanan pulang mobil jalan pelan, di dashboard ada bunga matahari kecil pemberian anak-anak yayasan. Anggita duduk tengah.
"Bil... rumah kita masih sama kan?" Tanya Anggita
"Masih, cuma ada tambahan 2 pot bunga di teras. Aku yang nanem" Jawab Nabila
Sesampai di pelataran rumah, pagar sudah di cat ulang berwarna biru muda karena 1 bulan di rumah sakit Anggita tidak ikut pulang dengan Nabila ke rumah karena Galen mengkhawatirkan jika Anggita bersama Nabila keduanya menjadi incaran lagi.
Di depan pintu ada banner kecil: "SELAMAT PULANG KAK GALEN & KAK GIT". Tertulis tangan anak-anak yayasan, Galen turun pelan yang di pegangi oleh Nabila.
Anggita langsung lari buka pintu.
"Wanginya masih sama, wangi rumah" Ucap Galen
Di ruang tamu ada meja panjang, ada kue, ada foto mereka bertiga waktu launching.
"Staf yayasan yang bikin kejutan" Ujar Nabila
Galen duduk di sofa. Napas
"Akhirnya... bisa duduk di rumah sendiri tanpa takut" Kata Galen bernafas lega
*****
Jam 3 Sore di teras Rumah, mereka bertiga duduk di kursi goyang ditambah teh anget beserta hujan gerimis yang menemani suasana mereka. Kali ini tidak mencekam tapi terasa tenang.
"Kak, Bila besok aku mau ke yayasan ya, mau ajarin anak-anak gambar" Ucap Anggita
"Boleh. Kak antar" Ujar Galen
"Kamu udah jadi 'Kakaknya Gita' beneran ya" Kata Nabila tersenyum bahagia
Anggita senyum dan pertama kalinya senyumnya sampe ke mata.
"Iya, karena dulu cuma ada kamu yang menjadi sahabat dan kakak untuk aku dan sekarang kak Galen juga menjadi kakak aku" Jawab Anggita lalu memeluk Nabila
Hening sebentar.
"Git... makasih ya, karena kamu kuat" Ucap Galen
"Makasih juga kak, karena nggak pernah berhenti nyari aku dan membantu Bila dalam misi balas dendamnya" Jawab Anggita
Nabila nyender di bahu Galen
"Dendam kita udah selesai, sekarang kita nanem cinta aja ya" Ucap Nabila
“Ekhem… permisi di sini masih ada orang ya” Celetuk Anggita
“Sepertinya aku mendengar suara orang, siapa ya” Usil Nabila membuat Anggita cemberut
Rumah hening, nggak ada tangis, nggak ada teriak. Hanya ada 3 napas yang akhirnya sama-sama tenang, di meja ada surat terakhir dari Kapolres:
‘Kasus ditutup, Suryo dan jaringan divonis seumur hidup. Terima kasih atas keberanian Bapak Galen Wijaya’ Di bawahnya, Galen tulis pake spidol: ‘UNTUK ANGGITA. DAN UNTUK SEMUA YANG BELUM PULANG’ lalu dia lipat dan di taruh di laci.