NovelToon NovelToon
Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / CEO / Selingkuh / Cinta Lansia / Tamat
Popularitas:41.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anindita Kirana

Ratna mengira pernikahan 28 tahunnya hanya sedang lelah. Sampai ia melihat Hendra, suaminya, memeluk sekretaris muda di rumah sakit, bersama anak laki-laki yang memanggilnya Papa.
Selama ini Ratna bekerja diam-diam, mengurus mertua, anak, menantu, dan cucu, sementara uang keluarga mengalir ke apartemen perempuan lain.
Saat semua orang mengira Ratna terlalu tua untuk melawan, ia justru bangkit. Dengan bantuan Arga Wijaya, CEO dingin yang tak pernah banyak bicara, Ratna mulai merebut kembali harga dirinya.
Tapi semakin jauh ia melangkah, semakin banyak rahasia keluarga yang terbongkar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 07 - Perempuan di Apartemen Itu

Clara memilih tempat yang mahal untuk bertemu.

Sebuah kafe di lantai bawah apartemen mewah kawasan Kuningan. Dinding kaca tinggi, aroma kopi mahal, perempuan-perempuan muda dengan tas bermerek, dan laki-laki berjas yang bicara pelan tentang bisnis.

Ratna datang dengan blus sederhana dan kerudung rapi. Ia tidak memakai gaun merah. Bukan karena takut, tapi karena ia tidak mau memberi Clara panggung untuk menertawakan penampilannya.

Siska duduk dua meja di belakangnya. Tidak mencolok. Hanya membawa laptop dan secangkir kopi.

Hanif menunggu di mobil.

Ratna awalnya tidak ingin bertemu. Tapi Clara terus mengirim pesan. Foto apartemen. Foto Alif. Kalimat-kalimat manis yang sengaja ditajamkan.

"Mbak, kasihan Mas Hendra kalau terus diikat masa lalu."

"Anak saya butuh ayahnya."

"Di usia Mbak sekarang, bukankah lebih baik mencari ketenangan?"

Ratna membaca semua itu dengan dada panas.

Lalu ia meminta Siska menemaninya.

Clara datang sepuluh menit terlambat. Ia memakai dress pastel, rambut terurai, wajah dipoles sempurna. Dari jauh, ia tampak lembut. Perempuan yang mudah membuat orang ingin melindungi.

Ratna tahu sekarang, kelembutan juga bisa menjadi senjata.

"Mbak Ratna," sapa Clara sambil tersenyum. "Maaf menunggu. Tadi Alif rewel, tidak mau ditinggal."

Ratna menatapnya.

"Duduk."

Senyum Clara sedikit kaku. Mungkin ia tidak menyangka Ratna tidak akan basa-basi.

Clara duduk dan meletakkan tas mahal di kursi sebelah, seolah sengaja memperlihatkan logo.

"Mbak mau pesan apa? Biar aku traktir."

"Tidak perlu."

"Jangan begitu, Mbak. Walau situasinya tidak enak, kita tetap bisa bicara baik-baik."

Ratna menyandarkan punggung.

"Kalau kamu ingin bicara baik-baik, kenapa mengirim foto keluarga kecilmu tadi malam?"

Clara menunduk, pura-pura menyesal.

"Aku hanya ingin Mbak tahu kenyataannya. Aku tidak mau berbohong lagi."

"Kamu berbohong dua belas tahun."

Clara mengangkat wajah.

Matanya berubah.

"Mbak pikir aku senang disembunyikan?"

Ratna diam.

Clara memanfaatkan diam itu.

"Aku mencintai Mas Hendra. Alif juga anaknya. Selama ini kami hidup tanpa pengakuan. Mas Hendra selalu bilang belum bisa meninggalkan Mbak karena Mbak tidak punya siapa-siapa. Aku mengerti. Aku sabar."

Ratna hampir tertawa.

Sabar.

Perempuan yang tinggal di apartemen dari uang suami orang menyebut dirinya sabar.

"Lalu sekarang kamu tidak sabar?"

"Mbak sudah tahu. Jadi untuk apa dilanjutkan? Mas Hendra tidak mencintai Mbak lagi. Maaf kalau aku terdengar jahat, tapi bukankah Mbak juga merasakannya? Kalian sudah lama hanya seperti teman serumah."

Kalimat itu tepat menusuk tempat yang sakit.

Ratna meremas ujung tas.

Clara melihatnya. Senyumnya makin halus.

"Aku tidak menyalahkan Mbak. Usia, kebiasaan, semua orang bisa berubah. Laki-laki butuh perhatian. Butuh perempuan yang bisa membuatnya merasa hidup."

Ratna menatap wajah Clara.

"Jadi kamu merasa tugasmu membuat suami orang hidup?"

Wajah Clara memerah tipis.

"Mbak jangan kasar."

"Kamu tidur dengan suamiku, memakai uang usaha kami, membesarkan anak dengan ayah yang masih punya istri sah, lalu tersinggung karena aku kasar?"

Clara menahan napas.

Beberapa orang di meja dekat mereka mulai melirik.

Clara menurunkan suara.

"Mbak, tolong jangan mempermalukan aku."

"Kamu mengundangku ke tempat umum."

"Karena aku pikir Mbak cukup dewasa untuk bicara."

"Aku cukup dewasa untuk tahu mana bicara dan mana manipulasi."

Clara menggenggam cangkirnya.

Matanya mulai berkaca-kaca. Gerakannya halus, terlatih. Seolah air mata itu bisa dipanggil kapan saja.

"Aku cuma ingin Alif punya keluarga utuh."

Ratna terdiam sebentar.

Nama anak itu membuat amarahnya sedikit goyah. Anak memang tidak salah. Alif tidak memilih lahir dari kebohongan.

Namun Ratna juga mengingat Bima. Cucu kecilnya yang lesnya hampir ditunggak karena uang rumah dikurangi.

"Anakmu butuh ayah," kata Ratna pelan. "Cucuku juga butuh biaya sekolah. Ibunya Hendra butuh obat. Rumahku butuh makan. Semua itu selama ini aku pikir kami tanggung bersama."

Ia menatap Clara lebih tajam.

"Ternyata aku ikut membiayai hidupmu juga."

Clara membuka mulut, tapi tidak langsung menemukan jawaban.

Ratna mengeluarkan ponsel dan meletakkannya di meja.

"Katakan tujuanmu."

"Aku ingin Mbak bercerai baik-baik."

"Baik-baik menurutmu seperti apa?"

"Jangan menuntut terlalu banyak. Mas Hendra sedang sulit. Kalau Mbak memaksanya membagi semua, usaha bisa hancur. Raka juga kena dampaknya. Bima juga."

Ratna menatapnya lama.

Jadi itu.

Clara bukan hanya ingin status. Ia ingin aset tetap aman.

"Mas Hendra yang menyuruhmu bicara?"

Clara cepat menjawab, "Tidak."

Terlalu cepat.

Ratna mengambil cangkir air putih dan minum sedikit.

"Clara, kamu mungkin terbiasa bicara dengan istri yang kamu pikir bodoh. Tapi aku tidak sebodoh kemarin."

Wajah Clara menegang.

"Maksud Mbak?"

"Aku tahu apartemenmu dibeli dari rekening usaha. Aku tahu mobilmu. Aku tahu biaya sekolah Alif. Aku tahu ada vendor fiktif."

Clara pucat.

Sangat pucat sampai bedaknya tidak mampu menutupi.

Ratna melihat perubahan itu dan merasa hatinya aneh. Tidak senang. Tidak puas. Hanya semakin yakin bahwa semua ini lebih kotor dari yang ia bayangkan.

"Mbak menyelidiki kami?"

"Kalian memberiku alasan."

Clara menunduk sebentar, lalu saat mengangkat wajah, air matanya benar-benar jatuh.

"Aku tidak tahu soal rekening usaha. Mas Hendra yang mengatur semuanya. Aku hanya menerima karena dia bilang itu haknya."

"Kalau begitu nanti kamu bisa jelaskan ke pengacaraku."

"Mbak Ratna, jangan kejam. Aku juga perempuan."

Ratna tersenyum tipis.

"Aku tahu. Justru karena itu aku heran, kenapa kamu begitu mudah menginjak perempuan lain."

Clara terdiam.

Dari meja belakang, Siska mengirim pesan.

"Cukup, Bu. Jangan beri informasi lebih banyak."

Ratna membaca sekilas, lalu berdiri.

"Aku datang hanya untuk mendengar sendiri apa yang kamu mau. Sekarang sudah jelas."

Clara ikut berdiri.

"Mbak Ratna, tunggu. Kalau Mbak terus begini, Mas Hendra akan marah. Dia tidak akan tinggal diam."

Ratna memasukkan ponsel ke tas.

"Bagus. Suruh dia bergerak. Semakin banyak dia bergerak, semakin banyak jejak yang tertinggal."

Clara menggigit bibir.

"Mbak pikir ada yang mau membela Mbak terus? Orang kaya itu hanya kasihan. Jangan terlalu percaya pada keluarga Wijaya."

Ratna berhenti.

Ia menoleh, kali ini benar-benar menatap Clara sebagai lawan.

"Aku pernah terlalu percaya pada suamiku. Kesalahan itu cukup sekali."

Lalu ia pergi.

Di luar kafe, Hanif sudah membuka pintu mobil.

"Bagaimana, Bu?"

Ratna masuk dan menutup pintu.

"Dia takut."

Hanif mengangguk.

"Orang yang takut biasanya ceroboh."

Benar saja.

Tidak sampai lima menit setelah mobil berjalan, Clara menelepon Hendra. Hanif yang sudah memasang pemantauan legal lewat nomor bukti komunikasi menerima kabar dari Siska.

Siska mengirim pesan pada Ratna.

"Clara panik. Dia baru saja menyebut vendor fiktif dalam telepon. Rekaman dari pihak kita aman."

Ratna membaca pesan itu.

Di luar jendela, gedung-gedung Jakarta berdiri angkuh.

Untuk pertama kalinya, Ratna tidak merasa kecil di hadapannya.

Ia memang terlambat belajar melawan.

Tapi ia belajar cepat.

Di perjalanan kembali, Ratna meminta Hanif berhenti sebentar di depan sebuah minimarket. Hanif hendak turun membantunya, tapi Ratna menggeleng.

"Saya bisa sendiri."

Ia membeli air mineral, permen jahe, dan satu buku tulis baru. Buku kecil yang lama sudah penuh dengan catatan belanja dan luka yang tak pernah disebut luka.

Di halaman pertama buku baru itu, Ratna menulis tanggal hari itu.

Lalu ia menulis:

"Clara takut kehilangan apartemen. Hendra takut kehilangan nama. Aku takut kehilangan diriku lagi."

Ia menutup buku itu.

Ketika masuk mobil, Hanif tidak bertanya apa yang ia beli. Sikap itu membuat Ratna nyaman. Tidak semua orang harus tahu isi tasnya, isi pikirannya, atau isi lukanya.

Beberapa perjuangan memang perlu saksi.

Beberapa lagi cukup dicatat sendiri agar ia tidak lupa.

Malam itu Clara mengirim pesan dari nomor berbeda. Kali ini tidak ada foto. Hanya kalimat pendek.

"Mbak puas membuat Mas Hendra marah padaku?"

Ratna membaca pesan itu di depan Bu Laras. Ia tidak membalas, hanya menunjukkan pada Siska.

Siska menjawab, "Simpan. Polanya jelas: provokasi berulang."

Ratna mematikan layar.

Bu Laras bertanya, "Tidak ingin membalas?"

"Ingin."

"Kenapa tidak?"

Ratna menatap buku barunya.

"Karena kalau saya membalas, dia akan merasa kami sedang berebut laki-laki. Saya tidak berebut. Saya mengembalikan barang rusak ke pemilik masalahnya."

Bu Laras tertawa keras sampai perawat masuk untuk memeriksa.

1
adisty aulia
Karakter Ratna kuat meski telat sadarnya🙁🙁🙁
adisty aulia
🌺🌺🌺
adisty aulia
Suka alur ceritanya🌺🌺🌺
Nicky
Ratna memandang mantan suaminya? Raka? ga panggil mama lagi?
Nicky
Arga melamar Ratna lagi? mengajak menikah? bukannya di part² sebelum hamil ini sudah menikah di KUA dan pulangnya mereka yang menghadiri lanjut makan soto. Agak membingungkan ini KK author.
Nicky
ada part yg ga sinkron, mulai dr panggilan ibu yg di beberap bab sebelumnya setelah hasil tes DNA Bagas di ketahui sebagai anak Ratna, sudah panggil ibu, di bab ini malah bukan anak kandung, panggil nama saja dan baru mulai panggil ibu?
Endang Sulistia
pengen tampol keluarga hendra😤😤😤
Hertanti Mandanya Dhafin
novel yg keren saya suka sama bahasanya, authornya hebat 👍
Fia Ayu
Knpa up nya pelit banget, pertama rilis langsung banyak, lagi tegang2nya di gantung 😢
Fia Ayu
Lanjut kak,, penasaran weee
Fia Ayu
Wkwkwk
Fia Ayu
Sokor,
Klo sudah tiada
Baru terasa,,,,,, 💃
Fia Ayu
Tuman😏
Fia Ayu
Mampir,,, baru bab pertama dah bikin nyesek 😢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!