Andai Hugo mencintainya, Ana akan memilih untuk tetap bertahan dan tinggal di rumah besar itu bersamanya. Tapi Hugo tak mencintainya, pria itu membencinya karena menganggap Ana telah menipunya hingga terpaksa harus menikahinya.
Ana memilih pergi setelah menandatangani surat gugatan cerai dari Hugo. Dengan sisa uang yang di milikinya, Ana memulai kehidupan barunya di kota lain seorang diri.
Tiga tahun berlalu, kabar mengejutkan datang dari salah satu kerabat Hugo yang tanpa sengaja bertemu dengannya. Ana dihadapkan pada satu pilihan sulit, hingga pada akhirnya Ana memutuskan datang menghadiri pemakaman mantan papa mertuanya.
Pertemuannya kembali dengan Hugo memberinya kesadaran baru, bahwa jarak dan waktu tak mampu mengikis rasa cintanya pada pria itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonAden119, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Bersikap manis
Ana buru-buru menyiapkan pakaian kerja Hugo dan menaruhnya di atas ranjang, lalu menarik rak lemari bagian kanan untuk mengambil dasi. Ia harus bergegas kalau tidak ingin berhadapan dengan laki-laki itu lagi. Ana bergidik dan cuping telinganya ikut bergerak-gerak mengingat sikap Hugo padanya tadi.
“Bos aneh,” gumam Ana lalu menaruh tas kerja Hugo di meja sofa. Sudah selesai, waktunya pergi.
“Kau menganggapku bos aneh?!”
Terlambat! Tahu-tahu Hugo sudah berdiri di depan pintu menghalang jalan keluar Ana. Sepertinya laki-laki itu mendengar ia bergumam. Hugo melangkah masuk ke dalam kamarnya seperti pasukan yang siap berperang, dan wajahnya itu seperti akan meledak kapan saja.
“Aku toh tidak menyebutkan nama, kenapa Tuan berpikir seperti itu?” jawab Ana dengan nada menantang, ia melangkah mundur dan merapat ke dinding kamar. Ia tak bisa bergerak lagi karena terhalang ranjang.
Kedua alis Hugo menukik tajam, ia menghentikan langkahnya dan menatap Ana tajam. “Memang siapa yang Kau maksud? Di sini, hanya ada kita berdua. Kau dan Aku. Dan Aku, adalah bos di rumah ini.”
Ana panik mendengar pintu di depannya berdentum dan menutup rapat, ia terkurung bersama laki-laki itu dalam kamar tertutup.
“Berhenti di situ! Kalau Tuan macam-macam, Aku teriak nih!” Ana memajukan tangannya menyuruh Hugo berhenti bergerak mendekatinya. Ia sudah tersudut dan tubuhnya merapat ke tepi ranjang.
“Wanita aneh,” gumam Hugo dengan kening berkerut mengamati reaksi Ana yang menurutnya berlebihan. Ia berjalan mendekati ranjang, dan menundukkan wajah di dekat Ana. “Percuma teriak-teriak, gak bakal ada yang dengar.”
“Keluar, pergi sana! Jangan ganggu Aku lagi!” Ana mengerutkan tubuhnya dan mulai menggerak-gerakkan tangannya seperti memukul sebagai perlindungan diri. Ia baru sadar kalau kamar itu kedap suara, dan itu membuat Ana ketakutan setengah mati. Ia takut Hugo akan berbuat macam-macam lagi padanya.
“Ini kamarku, kenapa Aku yang harus pergi?” Hugo malah jadi kesal dengan sikap Ana. “Kamu kenapa, sih. Panik begitu, memang Kamu pikir Aku mau ngapain?”
“Aku gak panik,” sahut Ana, ia mendongak dan mengerjapkan mata menatap Hugo. Wajah laki-laki itu sangat dekat dengannya, ia bahkan bisa merasakan embusan napas Hugo di wajahnya. Dan itu membuat Ana gugup. “Tuan sendiri ngapain dekat-dekat Aku begini?”
“Astaga, Ana. Aku mau ambil baju ganti kali, mau kerja. Memang Kamu pikir apa?” Hugo mengambil bajunya di atas ranjang yang tadi disiapkan Ana. “Kamu yang aneh, berpikir terlalu jauh.”
“Aow!” Ana mengusap keningnya yang disentil Hugo. Ia langsung berdiri dan bergegas membuka pintu, keluar dari kamar Hugo sebelum laki-laki itu menyuruhnya pergi.
“Apa dia berpikir Aku akan menyentuhnya lagi?” Hugo tersenyum menatap punggung Ana yang berlari menuruni anak tangga. Sejujurnya ia memang menginginkannya, tapi Hugo sama sekali tak berniat membuat Ana takut padanya. Ia ingin semua berjalan sesuai rencananya, membuat Ana kembali padanya menurut keinginannya sendiri.
☆ ▪︎ ☆ ▪︎ ☆
“Tuan sudah pergi,” bisik bik Ani ketika melihat Ana berdiam diri di dalam kamarnya. “Ayo, sarapan dengan Bibi.” Ajak bik Ani kemudian.
Ana meringis, ia lalu berjalan di belakang bik Ani menuju meja makan. “Pagi-pagi sudah ribut,” kata bik Ani sambil menuangkan teh hangat ke dalam gelas dan memberikannya pada Ana.
Ana mesem, tak menanggapi ucapan bik Ani. Ia hanya mencicipi sedikit ketika ditawari nasi goreng dan lebih memilih makan roti. “Nanti siang mau ikut Bibi gak, belanja bahan masakan. Kebetulan besok malam minggu mau ada tamu yang menginap di rumah ini.”
“Tamu siapa, Bik?” Ana balik bertanya.
“Nona Livia dan mamanya, teman kuliah tuan Hugo waktu di luar negeri dulu. Katanya sih mau menghadiri acara reuni bareng sama tuan,” jelas bik Ani, yang ditanggapi Ana dengan membulatkan bibirnya.
Hari masih pagi, dan Ana bosan hanya berdiam diri di kamarnya. Ingin mencari kesibukan di rumah itu tapi semua sudah dikerjakan asisten rumah tangga. Ana lalu menghubungi Kila, sahabatnya itu tengah berada di kafe Dylan mengawasi bahan material yang masuk yang sudah dipesan atas permintaan ibu Astrid.
“Gimana proyek, lancar?” tanya Ana, ia dengar dari Kila kalau pembangunan kembali kafe Dylan akan segera terlaksana dalam beberapa hari ke depan.
“Gila! Panas banget hawanya di sini, An. Kamu tahu, hampir seharian Aku berdiri buat mengawasi barang masuk. Udah kayak mandor proyek beneran.” Kila terkikik geli.
“Memang gak ada yang ngawasin, kok Kamu yang disuruh bos?” tanya Ana heran.
“Kemarin sih ada, tapi ya gitu. Bos kasih kepercayaan orang buat cari barang, sekalinya datang gak sesuai sama maunya bos. Untungnya tokonya mau barangnya diganti.”
“Memang waktu beli gak konfirmasi sama bos?”
“Yaelah, An. Kamu kan tahu bos kayak gimana, pokoknya iya-iya aja. Sekalinya datang gak sesuai selera. Makanya kemarin kita belanja sendiri dan lihat langsung barangnya ke tokonya. Minggu rencananya mulai dikerjain sama tukang, kalau bagian yang ini mah udah bukan kerjaan Aku lagi. Ada orang kepercayaan bos yang gantiin nanti,” ungkap Kila sambil tertawa.
Ana ikutan tertawa mendengarnya. Tengah asyik berbincang di telepon dengan Kila, pintu kamarnya diketuk dengan tergesa. Ana terkejut ketika melihat bik Ani masuk dengan membawa tas kerja di tangannya.
“Non Ana, cepetan. Anter tas tuan Hugo, ditungguin sekarang. Ada berkas penting di dalamnya,” kata bik Ani sambil menarik lengan Ana keluar dari kamarnya.
“Maksud Bibi, Aku yang antar tas tuan Hugo ke kantornya?” Ana mengulang ucapan bik Ani, dan wanita itu mengangguk cepat sambil menyelipkan tali pegangan tas itu ke dalam genggaman tangan Ana. “Berarti gak jadi temani Bibi belanja dong?”
“Udah gapapa, biar Bibi sendiri aja nanti. Sekarang, Non Ana buruan pergi. Barusan tuan telpon, ditungguin sama Tuan berkasnya.”
“Kok gak telpon Aku sendiri? Terus kenapa gak suruh sopir kantor aja yang ambil ke rumah?”
“Aduh, Non. Itu berkas penting, gak boleh sembarangan orang yang bawa. Udah buruan pergi, tuh ada pak Gani di depan.” Tak sabar, bik Ani mendorong Ana pergi.
“Iya Bik, iya. Aku pergi sekarang.” Ana tersenyum sambil memegang bahu bik Ani, yang tampak cemas karena sempat mendengar nada tinggi suara Hugo saat meminta Ana mengantar berkasnya yang ketinggalan di ruang kerjanya.
“La, udah dulu ya. Dipanggil bos, suruh antar berkas ke kantornya.” Kata Ana pada Kila yang masih menunggunya di seberang telepon.
“Oke, hati-hati. Salam kenal buat bos di sana.” Kila tertawa sebelum menutup teleponnya. Ana bergegas menuju mobil di mana pak Gani berdiri menunggunya. Gara-gara buru-buru, Ana sampai kelupaan dompetnya.
Setengah jam kemudian, Ana sudah berada di kantor Hugo. Ia bergegas masuk tanpa mengetuk pintu, dan Hugo sedang duduk di belakang mejanya dengan kepala tertunduk.
“Syukurlah akhirnya Kau datang,” Hugo berdiri menyambut Ana yang langsung menyerahkan tas di tangannya.
Ana mengembuskan napas lega, ia setengah berlari saat menuju ruang kerja Hugo tadi. Ana berdiri mengawasi Hugo membuka tas dan memeriksa isi di dalamnya. Kening Hugo berkerut dalam, ia mendongak menatap Ana. “Bukan berkas yang kucari, bik Ani salah memasukkan berkas yang Aku maksud.”
“Terus gimana, Aku harus balik lagi ambil ke rumah?” tanya Ana, mendadak lututnya lemas.
“Sebentar.” Hugo lalu membuka layar monitor di depannya, tangannya mengetik sesuatu di sana. Hugo lalu menelepon Yuda, bicara sambil berbisik-bisik.
Tak berapa lama Hugo berdiri, menyambar jasnya yang tergantung di dinding lalu meraih tangan Ana masuk dalam genggaman tangannya.
“Ikut Aku sekarang,” ucapnya lebih seperti sebuah perintah untuk Ana.
“Ke mana? Tuan mau ajak Aku ke mana?” Ana berusaha mengikuti langkah lebar Hugo yang berjalan di sampingnya.
“Nanti juga Kamu tahu.”
Ana mengernyit, tapi Hugo malah tersenyum dan tak melepas genggaman tangannya. Tak peduli banyak mata di kantor itu yang melihat mereka.
“Lepaskan Tuan, gak enak dilihat orang.” Kata Ana mencoba melepaskan genggaman tangan Hugo, tapi Hugo mengabaikannya dan baru melepasnya saat mereka berada di dalam mobil.
Ana tak bertanya lagi, karena Hugo juga tak bicara padanya. Baru saat mereka tiba di sebuah resto dan Hugo mengajaknya turun, Ana kembali bertanya.
“Aku mau Kamu bersikap manis di depan mereka, dan bilang kalau Kau adalah tuanganku.”
Ana melongo, “Maksudnya?”
Hugo mesem, dan kembali menggenggam tangan Ana. Hugo membawanya masuk ke dalam resto di mana sudah ada Yuda dan Mitha yang menunggu mereka di sana.
“Silakan, Tuan.”
Hugo mengangguk, Ana masih bingung. Ia ingin bertanya pada Hugo tapi laki-laki itu sedang bicara dengan Mitha sekretarisnya.
“Itu mereka datang.”
Ana menoleh cepat, melihat kedatangan dua orang wanita beda usia yang berjalan ke arah mereka. Yang satunya muda dan cantik, dan satunya paruh baya namun tampil anggun dan terlihat awet muda. Saat pandangan Ana bertemu dengan wanita muda itu, tak pelak lagi Ana melihat sorot aneh terpancar dari raut wajahnya.
▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎ ▪︎
karya ini mengandung rasa cinta dan kasih 🌹