Semuanya bermula dari sebuah kejadian yang sama sekali tidak pernah ia rencanakan.
Tinggal di panti asuhan membuat gadis itu terbiasa menjalani hidup sederhana,Jauh dari kata kemewahan,Namun satu hal yang selalu berhasil membuatnya tersenyum adalah kelinci kesayangannya.
Hingga suatu hari,Kelinci itu tiba-tiba kabur.
Tanpa berpikir panjang,Ayla berlari mengejarnya hingga keluar ke jalan raya,Karena terlalu fokus mengejar,ayla tak menyadari sebuah motor melaju ke arahnya.
Brak!
Dalam hitungan detik,Hidupnya seolah berubah.
Beruntung,Seseorang datang menolongnya sebelum keadaan menjadi lebih buruk,Pertemuan yang awalnya hanya sebuah ketidaksengajaan itu ternyata menjadi awal dari kisah yang jauh lebih besar.
Siapa sebenarnya lelaki yang menolongnya?
Dan apakah setelah pertemuan itu,Takdir seolah terus mempertemukan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira Maulidah salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Langit cerah,Tapi suasana sekolah tidak benar-benar terasa ringan.
Sejak pengumuman pertunangan satu minggu lalu,Nama ayla terus jadi pusat perhatian,Bukan hanya karena iri atau kagum tapi juga karena satu orang yang belum berhenti menganggu.
Upacara baru saja selesai,Barisan dibubarkan,Siswa mulai kembali ke kelas masing-masing.
Ayla berjalan bersama rina dan salsa,Namun beberapa langkah kemudian ayla berhenti.
"Aku ke toilet dulu ya."
"Kita anterin"ucap salsa.
"Nggak usah,Aku sendiri aja"ucap ayla menolak.
Rina mengangguk.
"Yaudah,Kita tunggu di kelas."
Salsa menambahkan.
"Cepet ya,jangan lama-lama."
Ayla mengangguk,Lalu berjalan sendiri menuju toilet perempuan di ujung koridor itu lebih sepi,Langkah ayla terdengar jelas,Saat ayla masuk ke dalam toilet,Suasana Terlalu sunyi,Ayla sedikit mengernyit.
"Sepi banget."
Ayla berjalan ke wastafel,membuka keran,dan membasuh tangannya,Namun Tiba-tiba Klik,Suara pintu terkunci,Ayla langsung menoleh dan di sana keisha berdiri di depan pintu,Tidak sendiri ada dua orang di belakangnya yaitu sesil dan mira dan tak lupa senyuman mereka tidak ramah.
Jantung ayla langsung berdegup lebih cepat,Tapi kali ini ayla tidak mundur.
"Apa maumu?."
Keisha tersenyum pelan.
"Wah langsung to the point ya."
Keisha berjalan mendekat dan langkahnya santai.
"Tadinya aku pikir kamu bakal lari."
Ayla tetap berdiri.
"Kalau cuma mau ngomong,Nggak perlu kunci pintu."
Sesil tertawa kecil.
"Berani juga ya dia."
Keisha mengangkat tangan, menyuruh mereka diam,Lalu menatap ayla Lebih dekat.
"Aku cuma pengen ngobrol tanpa gangguan."
Ayla menatapnya tajam.
"Ngobrol atau ngerjain?."
Keisha tersenyum.
"Dua-duanya bisa,Tadinya aku pikir kamu bakal lebih hati-hati setelah kejadian kemarin."
Ayla menatapnya tajam.
"Aku nggak takut sama kamu."
Sesil tertawa kecil.
"Berani banget ya."
Mira menyeringai.
"Kayaknya kemarin kurang ya."
Keisha mengangkat tangan,menyuruh mereka diam,Lalu keisha berhenti tepat di depan ayla.
"Aku kira"suaranya pelan, tapi menusuk,"kemarin itu udah cukup jadi peringatan."
Ayla tidak menjawab dan hanya menatap balik.
Keisha memiringkan kepala.
"Dan aku kira"ucap Keisha lanjut,"kamu sama bagas bakal bener-bener putus."
Hening.
Ayla mengepalkan tangan.
Keisha tersenyum tipis.
"cuma putus sebentar ya?."
Kalimat itu langsung membuat suasana menegang.
Ayla menatapnya.
"Hubungan aku dan bagas bukan urusan kamu."
Keisha tertawa kecil.
"Oh sekarang masih berani ngomong begitu?."
Keisha berjalan memutari ayla,Perlahan Seperti mengamati.
"Padahal kamu udah tau aku nggak suka."
Ayla tetap diam dan Menahan diri.
Keisha berhenti di depan ayla,Tatapannya turun Ke arah tangan ayla,cincin di jari manis ayla,Senyumnya berubah Lebih tajam dan Lebih dingin.
"Jadi ini yah."gumamnya pelan.
Ayla refleks menarik tangannya sedikit ke belakang.
"Jangan sentuh."
Keisha tertawa kecil.
"Kenapa?Takut?."
Ayla menatapnya tegas.
"Itu bukan punya kamu."
Mata keisha tidak lepas dari cincin itu,Lalu Tanpa peringatan keisha meraih tangan ayla dengan cepat.
"Lepas!."
Ayla mencoba menarik tangannya.
Tapi Keisha lebih cepat,Cincin itu Terlepas.
Ayla langsung berusaha merebut kembali.
"Balikin!."
Keisha mundur satu langkah dan Mengangkat cincin itu di depan wajahnya dan Mengamatinya.
"Bagus juga."
Keisha tersenyum miring.
"Pantes kamu nggak mau lepas."
Ayla maju satu langkah.
"Keisha,balikin."
Nada suaranya mulai berubah,Lebih serius danLebih menekan.
Namun keisha justru berjalan ke arah wastafel,keisha berdiri di depannya dan Memainkan cincin itu di ujung jarinya.
"Lucu ya"katanya pelan,
"kamu pikir ini yang bikin kamu lebih unggul dari aku?."
Ayla mengepalkan tangan.
"Itu bukan tentang unggul atau nggak."
Keisha menoleh.
"Terus apa?."
Ayla menatapnya lurus.
"Itu bukti kalau dia milih aku."
Hening.
Sesil dan mira saling pandang sedangkan keisha diam beberapa detik,Lalu Tersenyum Tapi kali ini Senyumnya berbahaya.
"Sayang banget ya?."
Keisha mengangkat cincin itu sedikit lebih tinggi.
"Kalau tiba-tiba hilang?."
Ayla langsung melangkah maju cepat.
"Jangan macem-macem,Keisha."
Namun sesil dan mira langsung menghadang dan Menahan Ayla.
"Eh eh santai dulu"kata sesil.
"Belum waktunya"tambah mira.
Ayla berusaha melepaskan diri.
"Lepasin!."
Keisha tetap di tempatnya.
Lalu Dengan gerakan pelan keisha membuka tutupnya.
Klik
Suara kecil itu terdengar jelas di ruangan yang sunyi.
Ayla langsung membeku.
"Keisha"suaranya berubah,
"Jangan."
Keisha menatapnya dan Menikmati reaksi itu.
"Oh sekarang takut?."
Ayla menatap cincin itu dan Matanya mulai berkaca-kaca.
"Balikin itu penting buat aku."
Keisha tertawa kecil.
"Ya justru itu."
Keisha memiringkan kepalanya.
"Aku pengen lihat seberapa penting."
Ayla berusaha lagi melepaskan diri,Namun tenaga dua orang menahannya,Tubuh ayla mulai goyah.
"Keisha,cukup."
Nada suaranya sekarang tidak setenang tadi,Ada tekanan dan Ada emosi.
Keisha mengangkat cincin itu tepat di atas lubang toilet.
"Last chance."
Hening.
Ayla menatapnya dan Tidak berkedip.
"Turunin."
Keisha tersenyum.
"Bilang dulu."
Keisha mendekat sedikit.
"kamu bakal mundur dari Bagas."
Hening.
Udara terasa berat.
Ayla mengepalkan tangan dan tubuhnya gemetar.
Namun ayla menggeleng pelan.
"Enggak."
Sesil langsung nyeletuk.
"Wah nekat."
Mira tertawa kecil.
"Udah tau akibatnya masih aja-"
Keisha mengangkat tangan,Menyuruh mereka diam,Matanya tetap ke ayla.
"Serius?."
Ayla menatap balik.
"Serius."
Keisha menghela napas pendek,Seolah kecewa Namun sebenarnya Keisha menikmati ini.
"Yaudah."
Dan Tanpa ragu keisha menjatuhkan cincin itu.
Cekluk.
Suara kecil terdengar saat cincin masuk ke dalam.
Ayla langsung membeku.
"Keisha."
Keisha tidak berhenti,Tangannya langsung turun Menekan tombol flush.
Klik
Suara air langsung mengalir deras.
"JANGAN!."
Ayla berusaha lepas,Tenaganya meningkat seketika.
Namun terlambat Air berputar Dan cincin itu Menghilang.
Hening.
Benar-benar hening.
Namun keisha belum selesai,Keisha menutup tutup toilet dengan santai.
Lalu berbalik.
Menatap ayla.
Dari atas ke bawah.
"Segitu doang?"ucapnya sinis.
Ayla hanya diam,Masih syok dan Masih kosong.
Keisha mendekat.
"Baru cincin aja udah kayak gitu."
Keisha menyeringai.
"Gimana kalau nanti yang hilang orangnya?."
Sesil tertawa kecil.
"Bisa nangis darah kali ya."
Mira ikut menambahkan.
"Atau malah ditinggalin lagi kayak kemarin."
Kalimat itu Menusuk.
Ayla mengepalkan tangan,Matanya mulai bergetar Namun ayla tetap diam.
Keisha semakin puas,keisha mendorong bahu ayla pelan,Bukan keras,Tapi cukup menjatuhkan keseimbangan,Ayla mundur satu langkah.
"Liat deh"lanjut Keisha,
"tanpa cincin, kamu nggak ada bedanya sama yang lain."
Keisha mendekat lagi.
"Bahkan mungkin lebih rendah."
Ayla menatap keisha Meski matanya basah.
"Aku nggak butuh itu buat tetap di samping dia."
Hening.
Kalimat itu masih berani dan masih kuat dan itu membuat Keisha tersenyum lagi.
"Ternyata kamu masih keras kepala ya."
Keisha menepuk pelan pipi ayla.
"Makanya aku bilang."
Suaranya merendah.
"aku bakal bikin kamu capek."
Lalu Keisha berbalik.
"Yuk."
Sesil dan Mira ikut.
Namun sebelum keluar keisha berhenti dan menoleh sedikit.
"Aku kira kemarin itu peringatan terakhir."
Keisha menyeringai tipis.
"ternyata kalian cuma putus sebentar."
Tatapannya dingin.
"Sekarang kita mulai dari awal lagi."
Klik
Pintu terbuka.
Dan tertutup kembali.
Sunyi.
Ayla berdiri sendiri,Tangannya gemetar dan Napasnya tidak beraturan,ayla menatap ke arah toilet.
Kosong.
Perlahan ayla berjalan ke wastafel dan Berpegangan Karena kakinya terasa lemah,Ayla menatap dirinya di cermin,Wajahnya pucat,Matanya merah dan rambutnya berantakan,Namun ayla menahan semuanya.ayla membasuh wajahnya.
Air mengalir.
Dingin.
Namun tidak cukup menghilangkan sesak di dadanya.
Ayla menarik napas panjang.
Satu kali.
Dua kali.
Lalu merapikan rambutnya dan seragamnya.
Menguatkan diri Dan berjalan keluar.
Di kelas
Rina dan salsa menunggu.
"Lama banget."
Salsa langsung berhenti.
"Ay?."
Rina langsung mendekat.
"Ini kenapa?."
Ayla tersenyum kecil.
"Gapapa."
Namun Langkahnya tidak stabil.
Salsa langsung menangkap tangannya.
"Lo pucet banget."
"Aku gapapa rin,sal."
"Ay serius lo gapapa?."
Ayla tidak langsung menjawab,Pandangannya mulai kabur,Suara di sekitarnya terdengar Sangat jauh.
"Ay?"Rina menggoyang bahunya pelan.
"Ayla?."
Napas ayla semakin berat,Dadanya naik turun tidak teratur,Pandangan matanya mulai kosong dan Dalam hitungan detik Tubuhnya langsung limbung.
"AY"
BRUK.
Ayla jatuh pingsan di lantai kelas.
Suasana langsung kacau.
Siswa-siswa berdiri.
Panik.
"Woy pingsan!."
"Cepet panggil guru!."
Salsa langsung menahan kepala ayla.
"Ay!Bangun!Ay!."
Rina panik.
"Air!Ambil air cepet!."
Suasana kelas masih kacau.
Suara panik bercampur jadi satu.
Salsa mengguncang pelan bahu ayla yang terbaring lemah di pangkuannya.
"Ay!Ay bangun!Ayla!."
Rina berlari ke meja depan, mengambil botol air dengan tangan gemetar.
"Ini!Ini airnya!."
Salah satu siswa berteriak dari pintu.
"Gue panggil guru!."
Namun sebelum siapa pun sempat bergerak lebih jauh suara langkah cepat terdengar dari koridor,Tegas dan Terburu-buru,Dan dalam hitungan detik bagas muncul di depan pintu kelas,Tatapannya langsung menyapu ruangan,Mencari Dan berhenti Di satu titik ayla terbaring di lantai dengan wajah pucat dan tak bergerak.
Hening.
Sepersekian detik.
Namun cukup membuat suasana berubah drastis.
"Siapa yang bikin dia kayak gini?"
Suara Bagas rendah,Dingin dan Berbahaya.
Tidak ada yang menjawab.
Rina menatap bagas dengan mata panik.
"Gas ayla tiba-tiba pingsan dia dari toilet udah keliatan nggak baik."
Salsa menahan tangis.
"Dia bilang gapapa tapi ternyata-"
Bagas tidak menunggu penjelasan selesai,bagas langsung berjalan cepat dan Berlutut di samping ayla,Tangannya menyentuh pipi ayla pelan dan matanya langsung berubah,Lebih gelap dan Lebih dalam.
"Sayang."
Tidak ada respon.
Bagas mengangkat tubuh ayla perlahan,Satu tangan di punggung dan Satu tangan di bawah lutut,Bagas Menggendong ayla tanpa ragu,Seolah itu hal paling natural di dunia.
"Gue bawa ke rumah sakit."
Nada suaranya tegas dan Tidak bisa ditolak.
Rina langsung mengangguk cepat.
"Iya!Kita ikut!"
Bagas menoleh sedikit.
"Raka mana?."
"Di luar tadi!."
"Suruh siapin mobil."
Dimas yang baru datang langsung mengerti situasi.
"Gue panggil!"
Dimas langsung berlari.
Beberapa menit kemudian Di parkiran sekolah.
Mobil putih sudah menyala,Pintu terbuka Bagas langsung masuk ke kursi belakang dan Masih menggendong ayla.
Rina dan salsa masuk di samping,Raka di kursi depan dan dimas langsung duduk di sebelahnya.
"Cepet."
Satu kata dari bagas.
Tapi cukup membuat raka langsung menginjak gas.
Mobil melaju cepat.
Suasana di dalam mobil sunyi,Tapi penuh ketegangan.
Salsa menggenggam tangan ayla.
"Ay bangun ya."
Rina menatap wajah ayla yang pucat.
"Dingin banget badannya"
Bagas tidak berkata apa-apa,Tatapannya tidak lepas dari ayla dan tangannya masih menahan tubuh ayla lebih erat seolah takut kehilangan,Rahangnya mengeras Dan di dalam diam itu Ada sesuatu yang sedang terbentuk Amarah Yang belum keluar.
Rumah sakit.
Pintu IGD terbuka cepat.
"Pasien pingsan!"
Perawat langsung datang dengan brankar.
Ayla dipindahkan dengan hati-hati.
Bagas berdiri di sampingnya,Tidak menjauh dan Tidak satu langkah pun.
"Silakan tunggu di luar."
Perawat mencoba menahan.
Namun bagas tetap berdiri.
"Gue di sini."
Nada suaranya tidak tinggi,Tapi tidak bisa dibantah.
Beberapa menit kemudian Pintu IGD tertutup dan Lampu di atasnya menyala.
Rina duduk di kursi dan Tangannya masih gemetar.
"Ini semua pasti karena keisha"
Salsa mengepalkan tangan.
"Gue sumpah,Gue nggak bakal diem lagi."
Dimas berjalan mondar-mandir.
"Anjir ini udah kelewatan"
Raka bersandar di dinding,Raka hanya diam Namun matanya serius.
Di sisi lain Bagas berdiri Sendiri.
Di depan pintu.
Dia hanya Diam Namun auranya sangat berat
Sekitar beberapa waktu kemudian Pintu terbuka.
Dokter keluar.
"Pasien sudah sadar."
Semua langsung berdiri.
Bagas yang pertama masuk.
Di dalam ruangan ayla terbaring di ranjang Infus terpasang dan Wajahnya masih pucat,Namun matanya sudah terbuka.
Bagas mendekat,Langkahnya pelan dan Berhenti di samping ranjang,Menatap Ayla,Beberapa detik,Tanpa bicara.
"Sayang."
Suaranya lebih rendah dari biasanya,Lebih lembut Tapi ada tekanan di dalamnya.
Ayla menoleh pelan dan menatap Bagas,Matanya langsung berkaca-kaca,Namun ayla menahan.
Bagas menarik kursi dan Duduk di sampingnya,Tangan bagas perlahan menggenggam tangan ayla.
Begitu tangannya digenggam bagas,Refleks Hal pertama yang Ayla lakukan ayla menepis tangan bagas,Matanya langsung berubah panik dan sedikit gemetar.
Bagas yang melihat itu Langsung menangkap,Tatapannya turun ke tangan ayla Kosong Tidak ada cincin,Rahangnya mengeras.
"Sayang."
Suaranya rendah Lebih berat dari sebelumnya.
Ayla menoleh pelan dan berusaha tenang.
"Cincin kamu mana?"
Ucapnya Langsung Tanpa basa-basi.
Hening.
Ayla terdiam beberapa detik dan matanya sedikit menghindar.
"Jatuh."
Jawabannya pelan.
Bagas tidak langsung bereaksi.
"Jatuh?."
Ayla mengangguk pelan.
"Iya gak sengaja jatuh ditoilet."
Suaranya terdengar normal,Tapi jelas dipaksakan.
Hening.
Bagas menatapnya lama Seolah mencoba membaca dan Menembus.
"Sayang."
Nada suaranya berubah dan Lebih dalam.
"Kamu yakin?."
Ayla mengangguk lagi,Meski tangannya di atas selimut mulai menggenggam kuat.
"Iya."
Hening.
Bagas bersandar sedikit,Tapi matanya tetap ke ayla dan tidak percaya sepenuhnya.
"Siapa yang bikin kamu kayak gini?"ucapnya langsung to the point.
Ayla diam,Tatapannya turun dan menghindar.
Bagas menatapnya Lebih dalam.
"Jawab."
Nada suaranya masih tenang tapi jelas menekan.
Ayla menggeleng pelan.
"nggak ada."
Hening.
Rahang bagas langsung mengeras,Tangannya sedikit mengepal.
"Ayla,Aku nggak butuh kamu tutupin."
Ayla tetap diam,Matanya berkaca-kaca Namun ayla tidak menjawab.
Beberapa detik hening.
Bagas menarik napas Dalam,seperti Menahan sesuatu,Lalu bagas mengangguk pelan,Seolah mengerti,Tapi juga memutuskan sesuatu.
"Yaudah."
Satu kata,Pendek dan Dingin.
Ayla menoleh sedikit dan menatap bagas.
Bagas berdiri perlahan,Kalimat berikutnya keluar,Pelan,Tapi sangat jelas.
"Kalau kamu nggak mau jawab."
Bagas menatap ayla Dalam dan Tajam.
"biar aku yang cari sendiri."
Hening
Ayla menatap bagas ada kekhawatiran di matanya.
"Bagas."
Namun bagas sudah berbalik dan melangkah menuju pintu,Di ambang pintu bagas berhenti sebentar Tanpa menoleh.
"Tapi satu hal."
Suaranya lebih rendah dan lebih dingin dari sebelumnya.
"Begitu aku tahu siapa."
Bagas menoleh sedikit tatapannya gelap.
"jangan harap aku bakal diam."
Klik
Pintu terbuka.
Dan tertutup kembali.
Di dalam ruangan ayla terdiam dan tangannya menggenggam selimut kuat karena ayla tahu apa yang akan terjadi setelah ini bukan lagi sekadar masalah sekolah Ini sudah berubah menjadi sesuatu yang lebih besar dan bagas bukan tipe orang yang berhenti di tengah jalan.