NovelToon NovelToon
Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:4
Nilai: 5
Nama Author: Pelukis Mimpi

Arya Pratama dikeluarkan dari sekolah. Nilai jelek, masa depan hancur, semua orang bilang dia tidak berguna. Tapi hari itu, dia menyadari sesuatu yang mengubah segalanya — bukan dia yang bodoh... seluruh dunia yang bodoh.

Apoteker tidak bisa hitung tambah-kurang. Profesor universitas menulis rumus yang salah selama ratusan tahun tanpa ada yang sadar. Juara catur dunia bisa dikalahkan dalam sepuluh langkah. Di dunia ini, pengetahuan SMA biasa adalah kekuatan tertinggi — dan Arya adalah satu-satunya orang yang memilikinya.

Dari siswa yang dibuang, dia naik menjadi legenda yang tidak pernah menunjukkan wajah aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Bab 10: Siswa yang Hilang

Telepon Pak Surya malam itu mengubah cara para guru menatap Arya Pratama.

Mereka tidak tahu siapa yang ditelepon. Mereka juga tidak tahu apa arti kalimat "orang yang selama ini kita tunggu". Tetapi keesokan harinya, setiap guru masuk kelas dengan buku yang sudah diberi banyak tanda. Mereka takut salah di depan Arya.

Arya menyadarinya sejak pelajaran pertama.

Bu Ratih tidak lagi menulis rumus sebelum memeriksa catatan dua kali. Pak Damar meminta Arya menunggu sampai akhir kelas jika menemukan kesalahan. Bahkan siswa yang biasanya ribut menjadi lebih hati-hati ketika bertanya.

Rizky Hartono menikmati semuanya.

"Bro, lo sadar nggak? Sekarang kalau lo batuk, guru langsung cek papan tulis."

"Jangan berlebihan."

"Gue serius. Tadi Pak Damar hampir minta maaf ke kapur."

Putri Ayu Dewi tidak tertawa. Ia duduk di tepi bangku, membaca berita di ponsel dengan wajah kaku.

Arya melihat perubahan itu. "Ada apa?"

Putri memutar layar ponselnya.

Berita lokal MoBo menampilkan foto seorang siswa berseragam SMA Negeri 1 Buana. Nama di bawahnya: Bagas Mahendra, kelas XI IPA. Hilang sejak kemarin sore setelah pulang les tambahan.

Rizky berhenti bercanda. "Bagas? Gue kenal. Anak basket."

Berita itu singkat. Bagas terakhir terlihat keluar dari gerbang samping pukul 16.40. Tasnya ditemukan di dekat warung fotokopi, tetapi ponselnya mati. Keluarga sudah membuat laporan ke Polres Buana. Sekolah meminta siswa tidak pulang sendirian.

Di kelas, kabar itu menyebar lebih cepat daripada bel istirahat.

Seorang siswi menangis karena pernah satu kelompok dengan Bagas. Beberapa siswa langsung menelepon orang tua. Pak Surya datang ke kelas dan mengumumkan aturan sementara: pulang berkelompok, tidak lewat gerbang samping, kegiatan sore dibatasi.

"Kalian fokus belajar, tapi jangan ceroboh," kata Pak Surya. "Jika melihat sesuatu yang mencurigakan, lapor ke wali kelas atau satpam. Jangan bertindak sendiri."

Saat mengatakan kalimat terakhir, matanya berhenti pada Arya sepersekian detik.

Arya pura-pura tidak melihat.

Sepulang sekolah, ia tidak langsung pulang. Ia berdiri di dekat gerbang samping, tempat Bagas terakhir terlihat. Ada kamera CCTV di atas pos kecil, tetapi arahnya menghadap jalan utama. Sudut gang menuju warung fotokopi tertutup pohon mangga besar dan papan iklan bimbel.

Titik itu buta karena kamera menghadap ke arah yang salah.

Arya berjalan ke warung fotokopi. Pemilik warung berkata polisi sudah datang pagi tadi, bertanya sebentar, lalu pergi.

"Mereka ambil rekaman CCTV?" tanya Arya.

"Tidak ada CCTV di sini, Mas. Cuma kamera palsu." Pemilik warung menunjuk benda hitam di sudut atap. "Supaya orang takut maling."

"Bagas beli sesuatu kemarin?"

"Fotokopi tugas. Dua lembar. Atau tiga. Saya lupa."

"Dia pergi ke arah mana?"

Pemilik warung menunjuk kanan, lalu ragu dan menunjuk kiri. "Mungkin sana. Atau sana. Anak sekolah banyak sekali, Mas."

Informasi lemah. Tapi bukan nol.

Arya mencatat waktu, posisi kamera, arah gang, dan jarak ke gerbang sekolah. Ia lalu berjalan mengikuti rute kanan. Gang itu menembus area belakang sekolah, melewati gudang olahraga lama dan tembok tinggi yang catnya mengelupas. Ada satu titik yang tidak terlihat dari jalan utama maupun pos satpam.

Jika seseorang ingin menarik korban tanpa terlihat, titik itu cukup ideal.

Arya berjongkok. Di tanah dekat selokan, ada bekas gesekan halus, seperti tas diseret sebentar lalu diangkat. Hujan malam hampir menghapusnya, tetapi belum sepenuhnya.

"Arya."

Putri berdiri beberapa langkah di belakangnya.

"Kamu mengikuti aku?" tanya Arya.

"Kamu mengikuti kasus."

"Pak Surya bilang jangan bertindak sendiri."

"Aku tidak bertindak. Aku mengamati orang yang jelas-jelas akan bertindak."

Rizky muncul dari belakang Putri sambil membawa helm. "Dan gue mengamati dua orang yang sama-sama bikin orang tua cepat uban."

Arya berdiri. "Pulang. Ini bukan urusan kita."

Putri menatap bekas gesekan di tanah. "Kalau bukan urusan kita, kenapa kamu mencatat?"

Arya tidak menjawab.

Dari kejauhan, sirene motor polisi terdengar lewat jalan utama. Namun motor itu tidak berhenti di gang. Ia terus melaju, seperti seluruh dunia melewati tanda kecil yang sudah cukup jelas.

Malam itu, Arya membuka peta Kota Buana di meja rumah. Ia menandai gerbang samping, warung fotokopi, gudang lama, posisi kamera, dan titik buta.

Satu hilang belum cukup untuk membuat pola.

Tapi cukup untuk membuat pertanyaan.

Jika Bagas benar-benar diculik, pelakunya tidak sekadar berani. Ia tahu sekolah ini. Ia tahu kamera mana yang menghadap ke mana. Ia tahu jam pulang les tambahan. Dan ia tahu bahwa orang-orang di dunia ini sering tidak melihat hal sederhana di depan mata.

Arya menatap titik merah pertama di peta.

Di luar, pesan peringatan dari sekolah masuk ke grup siswa: jangan pulang sendiri, tunggu jemputan, hindari area sepi.

Arya membaca pesan itu sekali.

Terlambat, pikirnya.

Arya tidak puas hanya dengan satu garis. Ia kembali ke papan pengumuman dan membaca daftar kegiatan Bagas selama sebulan terakhir. Di dunia lamanya, itu pekerjaan paling dasar: cari rutinitas, cari celah, cari orang yang tahu celah itu. Di SMA Garuda Cendekia, para guru justru sibuk memperdebatkan apakah pengumuman kehilangan perlu ditempel dengan font besar atau kecil.

Di dekat ruang BK, dua siswa kelas sebelas berbisik bahwa Bagas suka pamer jam tangan baru. Seorang petugas kantin berkata Bagas terakhir membeli air mineral dua botol, padahal biasanya satu. Seorang anak basket mengaku melihat mobil van putih berhenti sebentar di ujung gang, tapi ia tidak melapor karena mengira itu kendaraan katering. Potongan kecil itu masuk ke kepala Arya seperti angka yang menempati kolom masing-masing.

Rizky menggigil ketika Arya menyebut van putih itu mungkin hanya pengalih perhatian. Putri malah bertanya kenapa pelaku mengambil Bagas dari area sekolah. Jalan pulang lebih sepi, jadi pilihan itu terasa ganjil. Arya menunjuk ke kamera rusak di dekat gudang olahraga. "Karena di sini semua orang merasa aman. Tempat yang dianggap aman adalah tempat paling mudah membuat orang lengah."

Kalimat itu membuat Putri diam lebih lama dari biasanya. Nada Arya tidak menakutkan. Yang membuatnya dingin adalah cara anak baru ini berbicara tanpa menebak-nebak. Ia terdengar seperti seseorang yang sudah berkali-kali melihat kesalahan manusia diulang dengan wajah berbeda. Sementara itu Rizky memaksa tertawa, tapi tawanya patah di tengah jalan ketika sebuah pesan masuk ke grup kelas: polisi meminta saksi tambahan, dan tidak ada satu pun siswa yang merasa melihat sesuatu dengan jelas.

Di rumah, Arya menyalin ulang semua potongan itu ke halaman baru. Ia memberi tanda berbeda untuk informasi yang pasti, informasi yang hanya rumor, dan informasi yang perlu diuji. Pekerjaan seperti itu biasanya membosankan bagi orang lain. Bagi Arya, justru di situlah kebohongan paling mudah terlihat.

Ia juga menulis satu kalimat besar di bawah peta: pelaku tidak membutuhkan korban tertentu, pelaku membutuhkan waktu tertentu. Itu membuat kasusnya lebih buruk. Jika korban bukan tujuan utama, siapa pun yang melewati celah waktu berikutnya bisa menjadi pengganti.

lau pelaku sudah berhasil sekali, ia akan mencoba lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!