"Matilah aku!" Bora segera menggetuk kepalanya dan berusaha ingin kabur karena tendangan mautnya baru saja berhasil bersarang pada kaca belakang mobil mewah yang baru saja melewati dirinya.
Penasaran dengan kisah cinta Bora si tomboi dan Auriga CEO Judes yang unyu-unyu sekaligus nyeselin?!
Buruan pantengin kisahnya di sini manteman...
With luv
Othsha ❤❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Othsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KCJ - 17
Bora mendapatkan informasi dari Miguel bahwa Minka adalah salah satu sahabat dekat Chitra dan kemungkinan mendapatkan misi dari mantan kekasih Auriga itu untuk membongkar kedok dari Bora. Bora yang mendapatkan informasi itu, menyambut baik niat Minka itu dan bekerja sama dengan Miguel untuk membalas perbuatan Chitra melalui Minka.
Bora berusaha membangun persahabatan dengan Minka, sesuai instruksi dari Miguel. Walaupun ia tahu siapa Minka yang sebenarnya. Sesungguhnya ia berharap bisa mendapatkan teman yang tulus seperti Agnia dalam kehidupan palsu yang ia jalani saat ini, setidaknya ia bisa merasakan sedikit rasa nyaman dan penerimaan dari orang lain yang sebaya dengan dirinya.
Demi menunjukkan keseriusan Bora berakting, ia bahkan mengijinkan Minka untuk mengunjungi apartemen yang ditempatinya setelah mendapatkan ijin dari Auriga. Bora bisa melihat tatapan menyelidik dari Minka yang sudah beberapa kali tertangkap olehnya. Ia membiarkan Minka mengeksplor seluruh ruangan yang ada apartemen itu, karena semua jejak yang bisa menjadi bukti penyamaran Bora sudah mereka amankan sebelum Minka menginjakkan kaki ke apartemen itu untuk pertama kalinya.
"Min, kamu mau makan apa? Biar aku masakin! Kamu kalo mau istirahat bisa ke kamar aku!" ujar Bora santai yang membuat Minka tersenyum dalam hatinya.
Sebentar lagi aku akan mendapatkan bukti untuk membongkar kedok tunangan pacar Auriga ini! Maaf Bora tapi aku terpaksa melakukan ini! batin Minka yang beberapa kali mencari celah untuk mencari bukti tentang penyamaran yang Bora lakukan selama ini. Ia sudah mulai merasa lelah melakukan semua kepura-puraan ini, karena di awal sebenarnya ia sudah menolak permintaan dari Chitra, tetapi karena Chitra mengancam akan membongkar sebuah aib MInka yang tanpa sengaja diketahui oleh Chitra, sehingga Chitra terpaksa mengiyakan kemauan gadis itu.
Minka terpaksa menuruti kemauan dari gadis yang selama ini berpura-pura menjadi sahabatnya hanya untuk menjadikan dirinya pion dan melakukan banyak hal untuk Chitra. Minka sebenarnya berharap ia tak menemukan bukti apapun yang akan memberatkan Bora, karena ia merasa Bora adalah gadis yang baik dan ada ketulusan dalam sikap gadis itu kepada Minka yang membuat dirinya nyaman berada di dekat gadis pilihan Auriga itu.
****
Sementara itu Chitra terus berusaha untuk meminta sang ibu agar mau kembali mendekati Maharani, agar mereka bisa menjalin hubungan dengan keluarga Auriga lagi. Awalnya Eleena menolak keinginan dari Chitra itu, tetapi sang putri terus mendesaknya yang membuat Eleena akhirnya mengiyakan permintaan Chitra. Eleena sebenarnya memang berharap agar persahabatannya dan Maharani bisa terjalin kembali, karena bagi Eleena, seorang Maharani Dipta sudah seperti saudara perempuan yang sangat disayanginya.
Chitra merasa sangat senang, ketika sang ibu menyetujui permintaannya. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan melakukan segala cara untuk merebut kembali Auriga dari Bora, perempuan yang menurut Chitra tak pantas bersanding dengan lelaki yang dicintainya itu.
Kalo mama udah berhasil mendekatkan diri lagi sama Tante Maharani, tujuanku untuk mendapatkan Auriga akan semakin mudah, batin Chitra saat membayangkan bahwa semua rencananya akan berjalan dengan mulus.
"Gimana, ada hal yang bisa membuktikan bahwa perempuan kampungan itu cuma pura-pura kaya engga?" tanya Chitra saat menghubungi Minka.
"Sejauh ini engga ada Chit, ini aku lagi ada di kamarnya. Aku akan coba geledah mana tau ada bukti yang kita cari," ujar Minka yang berusaha berbicara sepelan mungkin agar tak terdengar oleh Bora yang sedang berada di luar kamar.
"Ehmmm, kerja bagus. Aku tunggu kabar baik dari kamu ya, Minka sayang!" ujar Chitra penuh penekanan yang membuat Minka memutar bola matanya karena kesal. Chitra memutuskan panggilannya tanpa mengucapkan salam perpisahan.
*Ahhh, kenapa si licik itu harus melihat kejadian waktu itu sih?! Sial! Gara-gara kejadian itu, aku harus jadi k**cung si Chitra! Arghh, kesalllll! batin Minka sembari mengepalkan tangannya karena sudah muak dengan semua kelakuan Chitra.
Dengan sedikit was-was Minka membongkar barang-barang milik Bora, ia merasa tak enak hati kepada Bora, tetapi ia tak punya pilihan lain. Ia belum siap menanggung malu bila aibnya diketahui oleh orang lain, karena Chitra mengancam akan menyebarkan aib Minka bila ia tak melakukan permintaan Chitra.
"Ketemu yang kamu cari, Ka?" tanya Bora yang tiba-tiba muncul dan mengejutkan Minka hingga membuat barang Bora yang dipegangnya terjatuh.
"Ohhh, ma..., maaf Bora. A..., aku cuma mau liat tas kamu yang ini. Ben..., bentuknya bagus banget! Aku suka," ujar Minka tergagap ketika ia ketangkap basah menggeledah barang milik Bora.
"Kamu suka? Kamu boleh ambil kok!" ujar Bora tersenyum, berpura-pura tak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Ehhh, engga..., engga usah! Aku cuma suka liatnya doang kok, lagian lemari tas aku juga udah penuh! Hehehe..., Maaf ya Bor, aku engga maksud nyentuh barang-barang kamu," ujar Minka yang merasa semakin bersalah kepada Bora. Ia merasa Bora mengetahui perbuatannya tetapi gadis itu sama sekali tak terlihat mempermasalahkan hal itu.
****
"Kayaknya tebakan Pak Miguel, Minka memang mencoba mencari bukti untuk membongkar kedok aku! Tapi kenapa aku tetap ngerasa Minka itu orang yang baik ya?" ujar Bora saat Miguel menghubunginya malam itu.
"Menurut Pak Auriga, keluarga Minka itu memang keluarga dengan latar belakang baik dan terpandang. Menurut beliau, ada kemungkinan besar bahwa Minka sedang dimanfaatkan oleh Chitra," ujar Miguel yang membuat Bora mengangguk paham.
Bora meminta ijin Miguel, agar dirinya tetap bisa berteman dengan Minka, dengan harapan Minka akan bersikap jujur dan memberitahu niat Chitra. Namun, Miguel malah menyuruh Bora untuk meminta ijin langsung kepada Auriga karena lelaki itu tak merasa berwenang untuk memutuskan hal itu. Perkataan Miguel itu membuat Inka mencebik kesal, tetapi ia sama sekali tak membantah karena yang dikatakan oleh asisten Auriga itu benar adanya.
"Malam, Pak Auriga. Apa saya boleh ngomong sebentar dengan bapak?" ujar Bora yang memberanikan diri untuk menghubungi Auriga setelah Miguel memutuskan panggilannya.
"Dua menit! Aku lagi sibuk!" ujar Auriga dingin yang membuat Bora mengumpat dalam hatinya. Bora pun mengutarakan maksudnya dan tanpa basa-basi Auriga langsung menyetujui permintaan Bora. Hal itu membuat Bora merasa sangat senang.
"Makasih, sayang!" ujar Bora tanpa sadar yang membuat Auriga terkejut sedangkan Bora terguncang. Bora menutup panggilan itu dengan cepat tanpa menunggu jawaban dari Auriga.
"Sayang?!"
****
Keesokan harinya, Eleena memberanikan diri untuk menemui Maharani di kediaman Dipta. Ia memilih opsi bertatap muka langsung dengan Maharani walau kemungkinan besar ia akan mendapat pengusiran dari mantan sahabatnya.
"Nyonya besar, Nyonya Eleena sedang ada di luar dan ingin bertemu dengan nyonya," ujar salah satu pelayan yang ada di kediaman Dipta. Maharani mengangkat sebelah alisnya saat mendengarkan nama Eleena disebut.
Mau apa lagi perempuan itu ke sini? batin Maharani kesal, tetapi ia memilih untuk menemui Eleena.
Maharani dan Eleena sudah duduk berhadapan di ruang tamu.
"Maaf, maafin kami, Rani...," ujar Eleena lirih dengan air mata yang tak bisa dibendungnya lagi. Ia menangis di hadapan Maharani. Maharani tetap diam dan menunggu Eleena selesai berbicara. Eleena mengutarakan semua perasaan yang ia pendam selama ini, tentang rasa bersalahnya kepada Maharani dan keluarga Dipta. Maharani yang sebenarnya masih sayang menyayangi Eleena merasa iba melihat tangisan Eleena.
Maharani merasa serba salah, ia masih merasa kesal karena tingkah laku Chitra, tetapi di sisi lain, ia merasa sikap Eleena sangat tulus dan apa yang dikatakan mantan sahabatnya itu seakan memang berasal dari lubuk hatinya.
"Baiklah aku memaafkan kamu, tapi tidak dengan Chitra. Ia sudah melukai putra kesayanganku dengan begitu dalam!" ujar Maharani tegas sembari menghela nafas berat karena ia tak tahu apa tanggapan Auriga, bila putranya itu mengetahui Maharani menerima permintaan maaf dari Eleena.
Maafin mami, sayang!
****
mampir juga yaa di karyaku.....
terima kasih /Smile/
Othsha berterima kasih banget buat dukungannya. Semoga dimana pun kakak berada tetap sehat, bahagia dan sukses ya.
Mohon dukungannya untuk karya Othsha lainnya bila berkenan ya....
Sekali lagi mamaci banyak. Maaf juga engga bisa balas komennya satu per satu ya..🥰🥰🥰🥰
Apakah itu Auri,yng manggil Bora???
Pantas saja Auriga tidak menyukai Harjun,,,,,bnyk hal yng membuat bertanya2 ttng sepak terjang Harjun yng bisa bermusuhan dngn Auriga
Andai iya,,,untung cpt diajak pergi sblm semuanya bubrahh!!