Putri Aurelia dari Kerajaan Oakhaven menghabiskan seluruh hidupnya seperti burung di dalam sangkar emas, terisolasi di menara kaca istana yang megah. Namun, kedamaian semu itu berakhir ketika ia menginjak usia dua puluh satu tahun. Demi menyelamatkan kerajaannya yang mulai runtuh dan menghentikan perang tiga dekade yang berdarah, Aurelia terpaksa menjadi tumbal politik. Ia harus bertunangan dengan Pangeran Cassian dari Kerajaan Valenica di Utara—seorang panglima perang yang dikenal kejam, dingin, dan dijuluki "monster medan perang."
Pertemuan pertama mereka di Aula Agung langsung memicu percikan ketegangan. Alih-alih tunduk pada intimidasi sang Pangeran yang memiliki tatapan sepekat badai, Aurelia justru menyambutnya dengan keberanian dan lidah yang tajam. Keteguhan hati Aurelia justru memikat rasa ingin tahu Cassian, yang terbiasa menghadapi kepatuhan yang membosankan.
Di balik kemegahan rencana pernikahan mereka, bahaya besar sedang mengintai. Aurelia tidak hanya harus beradaptasi dengan calon suaminya yang penuh teka-teki, tetapi ia juga harus belajar bertahan hidup di tengah dinding istana yang dipenuhi intrik politik, racun, dan pengkhianatan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa dari dunia yang bertolak belakang, yang harus memilih antara saling menghancurkan atau bersatu demi menyelamatkan sebuah kekaisaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 : Darah diatas Marmer suci
Badai Besi di Kamar Peraduan
Dentang pedang yang saling beradu pecah seketika di dalam kamar peraduan Raja Alistair, menghancurkan kesunyian malam yang mencekam. Bau racun Air Mata Kematian yang terbakar oleh sihir pemurni kini berganti dengan aroma tajam karat darah dan bau mesiu yang menyengat. Sepuluh prajurit Nightstalkers—pasukan elite Frosthelm yang terlatih bertarung dalam ruang sempit—bergerak bagaikan bayangan hitam membunuh. Mereka membentengi tempat tidur sang Raja dengan barikade tubuh dan tameng baja mereka, menahan gempuran belasan Garda Gagak Hitam milik Valerius yang mengamuk bagai binatang kesetanan.
Cassian melangkah ke depan dengan keanggunan seorang penguasa perang dari Utara. Setiap ayunan greatsword kelabunya tidak hanya mengandalkan tenaga kasar, melainkan kepresisian mematikan yang diasah oleh dinginnya badai Varencia. Seorang perwira Garda Gagak Hitam mencoba menyerang pinggang Cassian dari samping, namun Pangeran Utara itu memutar tubuhnya perlahan, membiarkan mata pedang musuh memotong angin hampa, sebelum membalas dengan tebasan mendatar yang membelah zirah dada sang musuh hingga darah segar menyembur membasahi tirai berkelambu emas.
"Aurelia! Tetap di belakangku!" seru Cassian, suaranya tenang namun menggelegar di atas suara jeritan menakutkan dan gesekan logam yang memekakkan telinga.
Aurelia tidak tinggal diam. Kendati matanya bertautan dengan bayangan mengerikan dari kematian yang terjadi beberapa inci di depannya, ia menarik belati perak berukir lambang mawar—hadiah Cassian saat pernikahan mereka—dari balik pinggangnya. Berdiri di samping ranjang ayahnya yang masih bernapas lemah, Aurelia memasang kuda-kuda. Ketika seorang prajurit musuh berhasil menerobos barisan Nightstalkers dan melompat hendak meraih tubuh sang Raja, Aurelia menghujamkan belatinya tepat ke sela leher zirah prajurit tersebut dengan ketepatan yang lahir dari rasa cinta dan keputusasaan seorang anak.
Prajurit itu tercekik, roboh berlutut di depan Aurelia sebelum tubuhnya tak bernyawa jatuh menimpa karpet sutra. Aurelia mencabut belatinya kembali, napasnya memburu, matanya berkilat oleh keberanian yang tak pernah ia duga ia miliki sebelumnya.
*•*
*•*
Keputusasaan Sang Tiran
Duke Valerius menyaksikan pasukan elitenya dibantai satu per satu dengan wajah yang kian memucat. Luka bekas tebasan pedang Cassian di bahu kirinya—luka yang ia dapatkan saat kekalahannya yang memalukan di Varencia—kembali berdenyut hebat dan mengeluarkan darah hitam berbau busuk. Efek sihir kutukan darah yang ia konsumsi untuk mempertahankan kekuatannya mulai menggerogoti tubuhnya sendiri dari dalam.
"Tidak... Ini tidak mungkin terjadi! Oakhaven adalah milikku!" raung Valerius, suaranya parau dan dipenuhi kegilaan. Ia memandang ke arah tempat tidur Raja Alistair, di mana napas sang Raja tampak semakin teratur dan kuat, tanda bahwa penawar Air Kehidupan Eterna sedang memulihkan organ-organ dalam yang sempat rusak.
Melihat rencana bertahun-tahun yang ia bangun runtuh dalam hitungan menit, Valerius merogoh saku dalam jubahnya dan mengeluarkan sebuah tabung kaca kecil berisi cairan hitam pekat yang bergolak bagai memiliki kehidupan sendiri. Cairan itu adalah sisa racun murni Air Mata Kematian yang digabungkan dengan sihir terlarang dari gurun selatan—sebuah senjata pemungkas yang dirancang untuk membusukkan siapapun dalam radius beberapa meter jika dipecahkan.
"Jika aku harus jatuh ke neraka malam ini, maka kalian semua akan menemaniku!" jerit Valerius, mengangkat tabung itu tinggi-tinggi dengan niat menghempaskannya ke lantai di bawah ranjang Raja Alistair.
"Jangan harap!" bentak Cassian.
Dalam satu gerakan cepat yang hampir tak terlacak mata telanjang, Cassian melemparkan pisau lempar berbilah tipis yang tersembunyi di pergelangan tangannya. Pisau itu meluncur deras membelah udara, menembus tepat di tengah telapak tangan Valerius yang memegang tabung kaca. Valerius menjerit kesakitan yang membakar, genggamannya terlepas, dan tabung kaca itu jatuh meluncur ke lantai.
Sebelum tabung itu menyentuh marmer dan pecah, Cassian sudah melompat mendahului gravitasi. Sepatu bot berpelat bajanya menangkap tabung itu di udara, menendangnya dengan keras ke arah jendela kaca patri kamar peraduan. Tabung beracun itu menerobos kaca patri yang berserakan dan meledak di udara luar, menyemburkan uap kehitaman berbahaya yang langsung disapu bersih oleh angin malam dan hujan lebat Oakhaven.
*•*
*•*
Kejatuhan Iblis Oakhaven
Valerius tersungkur berlutut, memegang tangannya yang tertembus pisau perak. Darah segar bercampur uap hitam menetes dari lukanya. Cassian melangkah mendekat, berdiri tegak bagaikan malaikat pencabut nyawa di atas paman yang penuh kemurkaan dan dengki itu. Ujung pedang kelabu Cassian kini berada tepat di depan jakun Valerius.
"Berlututlah di hadapan Ratu-mu yang sah dan Rajamu yang telah bangkit," bisik Cassian, suaranya dingin tanpa belas kasihan.
Aurelia berjalan mendekat, menyandingi Cassian. Matanya menatap Valerius tidak lagi dengan rasa takut seperti saat ia melarikan diri dari istana ini bulan lalu, melainkan dengan tatapan kekaisaran yang penuh wibawa dan kesedihan mendalam atas pengkhianatan keluarganya sendiri.
"Paman Valerius..." kata Aurelia, suaranya bergetar namun tegas. "Kau menjual jiwamu pada sihir gelap, meracuni saudaramu sendiri yang telah memberimu gelar dan tanah, serta mengorbankan rakyat Oakhaven ke dalam ketakutan dan kemiskinan hanya demi sebuah kursi emas berdarah. Kau tidak layak disebut seorang bangsawan, apalagi seorang manusia."
"Kau... gadis kecil tak berguna..." desis Valerius dengan sisa kekuatannya, meludah darah ke arah lantai. "Kau pikir kau menang?! Pasukan Garda Gagak Hitam-ku di luar sana berjumlah ribuan! Mereka akan mengepung tempat ini dan membakar kalian hidup-hidup!"
Seolah-olah menjawab ucapan Valerius, suara terompet tanduk perang khas Kerajaan Utara bergema dahsyat dari arah gerbang utama istana, membelah gemuruh hujan malam. Suara itu diiringi oleh dentuman keras pintu gerbang kayu yang didobrak hancur, disusul oleh sorak-sorai pertempuran puluhan ribu prajurit Varencia yang menyapu bersih sisa-sisa pasukan pemberontak di pelataran luar.
Pintu kamar peraduan kembali terbuka, dan Panglima Kaelen—jenderal utama Frosthelm—masuk dengan zirah yang lumuran darah musuh. Ia berlutut di hadapan Cassian dan Aurelia.
"Yang Mulia Pangeran, Yang Mulia Putri," lapor Kaelen dengan tegas. "Pasukan utama Varencia telah berhasil merebut seluruh benteng luar dan menundukkan Garda Gagak Hitam. Seluruh pimpinan pemberontak telah ditangkap. Istana Oakhaven resmi berada di bawah kendali kita!"
Mendengar laporan itu, mata Valerius melotot selebar-lebarnya. Harapan terakhirnya musnah seketika. Tubuhnya membeku, dan dari mulutnya keluar racun sisa yang merebus organ dalamnya sendiri akibat pembalasan dari sihir gelap yang ia gunakan. Valerius terjerembap ke depan, menghembuskan napas terakhirnya di atas lantai marmer dingin yang pernah ia impikan untuk dikuasai.
*•*
*•*
Fajar Baru Oakhaven
Keesokan harinya, hujan deras yang mengguyur Oakhaven akhirnya mereda, digantikan oleh sinar matahari pagi yang menerobos celah-celah awan kelabu. Karpet uap tipis membumbung dari atap-atap rumah warga ibu kota saat kabar mengejutkan menyebar bagaikan api liar di antara kerumunan rakyat: Sang Tiran Valerius telah jatuh, dan Putri Aurelia telah kembali bersama Pangeran dari Utara membawa keselamatan bagi Kerajaan.
Di dalam kamar peraduan yang telah dibersihkan, Raja Alistair duduk di atas tempat tidurnya. Kendati tubuhnya masih lemah, wajahnya tak lagi sepucat mayat. Selaput putih di matanya telah hilang, digantikan oleh tatapan hangat penuh kasih saat ia memegang erat jemari putri tunggalnya.
"Aurelia... anakku sayang..." suara Raja Alistair terdengar jauh lebih bertenaga. "Maafkan Ayah... Ayah begitu buta hingga tidak menyadari kebusukan di dalam dinding rumah kita sendiri. Kau telah melalui begitu banyak penderitaan..."
"Tidak, Ayah," sahut Aurelia, menahan air mata bahagia yang menyelimuti matanya. "Semua telah berlalu. Yang terpenting Ayah telah selamat, dan kerajaan kita terbebas dari belenggu kekejaman Paman Valerius."
Raja Alistair mengalihkan pandangannya kepada Cassian yang berdiri tegap di sisi ranjang dengan pakaian kebesarannya. Sang Raja memberikan anggukan hormat yang sangat mendalam pada pemuda yang kini menjadi menantunya tersebut.
"Pangeran Cassian dari Varencia," ucap Raja Alistair dengan wibawa seorang monarki. "Kau tidak hanya melindungi putriku di tanahmu yang dingin, tetapi kau juga membawa keberanian dan pasukannmu untuk menyelamatkan nyawaku dan membebaskan rakyatku dari kehancuran. Utang darah dan kehormatan ini tidak akan pernah bisa terbalaskan oleh Oakhaven."
Cassian membungkuk hormat dengan khidmat. "Saya hanya menjalankan kewajiban saya sebagai suami Aurelia dan sebagai sekutu sejati Oakhaven, Yang Mulia Raja Alistair. Takdir telah mengikat Kerajaan Utara dan Selatan untuk saling melindungi."
Raja Alistair tersenyum penuh kebanggaan, lalu memegang tangan Aurelia dan Cassian, menyatukan jemari mereka berdua di dalam genggamannya.
"Hari ini menandai dimulainya penyembuhan bagi tanah kita," kata Raja Alistair pelan namun penuh keyakinan. "Namun, perang ini belum sepenuhnya usai. Sisa-sisa sekutu kegelapan Valerius masih bersembunyi di perbatasan selatan. Kita harus bertindak cepat sebelum mereka menggalang kekuatan baru."
Aurelia menatap Cassian, dan Cassian membalas tatapannya dengan kepastian yang membakar. Di dalam mata mereka berdua, terpatri janji yang sama: mereka tidak hanya berhasil merebut kembali tahta Oakhaven, tetapi mereka siap melangkah bersama menghadapi badai berikutnya hingga kedamaian sejati terwujud di seluruh negeri
*•*
*•*
*•*
*•*
*•*
ehh iya kalo ada waktuu mampir jugaa yaa ke novel kuu "Tak Semua Tangis Memiliki suara"