NovelToon NovelToon
Tiga Bayi Tersembunyi: CEO Menyesal Seumur Hidup

Tiga Bayi Tersembunyi: CEO Menyesal Seumur Hidup

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Anak Genius / Penyesalan Suami / Teman lama bertemu kembali
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

Lima tahun lalu, Keira diusir dari keluarga Mulyono saat perutnya baru membesar.
Tidak ada yang tahu dia sedang mengandung tiga anak sekaligus — anak-anak dari pria paling berkuasa di Jakarta: Kevin Hartono, CEO Hartono Group.
Tanpa uang, tanpa keluarga, tanpa nama — dia membesarkan ketiga anaknya sendirian. Diam-diam, dia membangun kerajaan bisnisnya sendiri. Menjadi CEO SH Corporation. Menjadi dokter jenius yang dipanggil "Dr. Mira." Menjadi ahli chip SSS-level yang dicari seluruh dunia dengan nama "Ainara."
Sekarang, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai gadis yang pernah dibuang. Tapi sebagai wanita yang bisa menghancurkan siapa saja yang pernah menyakitinya.
Masalahnya? Kevin Hartono — mantan suami yang bahkan tidak tahu dia pernah hamil — baru saja menemukan bahwa putranya, Darren, punya saudara kembar yang identik.
Dan dia tidak akan berhenti sampai menemukan ibu mereka.
"Kei... kamu bisa membenciku. Kamu bisa memukulku. Tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi."
Tapi Keira sudah bersumpah: *dia yang membuangku, sekarang harus berlutut untuk mendapatkanku kembali.*
Siapa bilang balas dendam terbaik bukan hidup bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2

Bab 002

Lima tahun kemudian, pagi di Soekarno-Hatta terasa seperti halaman baru yang sengaja dibuka terlalu cepat.

Pintu kedatangan internasional bergeser. Dari arus penumpang bisnis yang bergerak tergesa, Keira muncul dengan kacamata hitam, gaun hitam sederhana yang jatuh pas di tubuh, dan sepatu hak tinggi yang mengetuk lantai marmer dengan ritme tenang.

Tidak ada lagi gadis basah kuyup di depan Rumah Mulyono.

Tidak ada lagi perempuan yang berjalan tanpa paspor, tanpa dompet, tanpa tempat pulang.

Di belakangnya, seorang bocah laki-laki berusia lima tahun berjalan sambil memeluk tablet tipis. Wajahnya putih bersih, matanya bulat seperti anggur hitam, dan bibirnya kemerahan seperti habis mencuri permen. Di samping bocah itu, seorang gadis kecil dengan rambut halus diikat dua menenteng boneka kelinci sambil melompat kecil.

"Mommy," bisik Tiffany, "Jakarta panas, ya?"

Keira menunduk. Suaranya langsung melunak. "Baru keluar pesawat, Tiffi sudah protes?"

Tiffany mengerucutkan bibir. "Bukan protes. Tiffi cuma memberi laporan cuaca."

Ethan tidak mengangkat wajah dari tabletnya. "Laporan cuaca tidak penting. CCTV terminal B mati dua detik lagi. Mommy, belok kanan. Jalur VIP kosong."

Keira berhenti setengah langkah. "Eth."

Bocah itu menatapnya dengan mata polos yang terlalu pintar. "Aku cuma lihat. Belum merusak apa-apa."

"Belum?"

"Belum banyak."

Keira menahan senyum. Lima tahun membesarkan dua anak ini sendirian membuatnya terbiasa pada kejutan kecil setiap pagi. Ethan bisa membuka sistem keamanan hotel sebelum ia bisa mengikat tali sepatu dengan rapi. Tiffany bisa membuat puluhan ribu orang di TikTok Live meleleh hanya dengan menyanyikan lagu anak-anak sambil salah lirik.

Mereka adalah alasannya bertahan.

Mereka juga alasannya kembali.

Keira menatap papan kedatangan beberapa detik. Lima tahun di Singapura mengajarinya berjalan tanpa menoleh. Ia membangun SH Corporation dari ruang sewa kecil, tidur di sofa kantor ketika Ethan demam, menyusui Tiffany sambil membaca laporan investasi, dan menangis hanya setelah dua anaknya tertidur.

Namun Jakarta punya bau yang tidak berubah. Campuran kopi bandara, parfum mahal, dan udara lembap setelah hujan. Bau itu membuat luka lama bergerak seperti bekas jahitan yang terkena dingin.

"Mommy takut?" tanya Ethan tiba-tiba.

Keira menatap anak itu. Di balik gaya sok dewasanya, Ethan tetap anak kecil yang bisa membaca napas ibunya.

"Tidak."

Ethan memiringkan kepala. "Kalau begitu kenapa tangan Mommy dingin?"

Keira menunduk pada tangan yang menggenggam koper kecil Tiffany. Benar. Ujung jarinya dingin.

Tiffany langsung memeluk pinggangnya. "Kalau ada orang jahat, Tiffi bisa nyanyi keras-keras sampai mereka pusing."

Keira tertawa pelan. Suara itu pendek, tetapi cukup untuk membuat dadanya terasa sedikit longgar.

"Mommy punya kalian. Jadi Mommy tidak takut."

Di sisi lain terminal, suasana berubah lebih dingin ketika Kevin Hartono melangkah keluar dari lift privat. Setelan gelapnya rapi tanpa satu lipatan, wajahnya tampak seperti tidak pernah belajar tersenyum kepada dunia. Feng mengikuti di belakangnya sambil membawa map dan ponsel kedua.

"Boss," kata Feng cepat, "manifest penumpang dari Singapura sudah cocok. Nama Ainara tidak muncul, tapi data biometrik menunjukkan target berada di pesawat yang sama."

Kevin berhenti. "Dia memakai identitas lain."

"Kemungkinan besar."

"Cari dari kamera kedatangan."

"Sedang dilakukan."

Di samping Kevin, Darren berjalan tanpa suara. Bocah itu memakai kemeja kecil warna putih dan celana pendek mahal. Wajahnya begitu mirip Kevin sampai beberapa staf bandara sempat menoleh dua kali. Namun matanya lebih sunyi daripada anak seusianya.

Kevin menunduk. "Ren, pegang tangan Daddy."

Darren tidak menjawab, tetapi jari kecilnya bergerak masuk ke telapak Kevin.

Feng melirik bocah itu sebentar. "Tuan muda terlihat gelisah sejak turun dari mobil, Boss."

Kevin tidak suka orang lain membicarakan Darren seolah anak itu laporan medis. Namun Feng sudah bekerja dengannya cukup lama untuk tahu kapan harus bicara.

"Dia tidur?"

"Kurang dari tiga jam. Pak Hadi bilang semalam tuan muda terus melihat jendela."

Kevin menunduk lagi. "Ren, mau pulang?"

Darren menggeleng hampir tak terlihat.

Itu sudah jawaban panjang untuk ukuran Darren.

Kevin mengusap puncak kepala anaknya. Hatinya yang biasa dingin selalu melemah di satu tempat ini. Darren datang ke hidupnya dari panti asuhan privat dengan berkas terlalu bersih dan mata terlalu sepi. Tidak ada nama ibu. Tidak ada riwayat keluarga. Hanya bayi kecil yang berhenti menangis begitu Kevin menggendongnya.

Sejak hari itu, Kevin tidak pernah melepasnya.

Sejak tiga tahun lalu, Kevin belajar membaca diam anaknya. Diam saat lelah berbeda dengan diam saat takut. Diam saat ingin sesuatu berbeda dengan diam saat menahan tangis. Hari ini Darren terlalu diam, tetapi tubuh kecilnya tidak tampak sakit. Hanya gelisah.

Lalu Darren berhenti.

Matanya terpaku pada satu arah.

Kevin mengikuti pandangannya.

Di antara kerumunan, seorang perempuan berkacamata hitam berjalan menuju jalur VIP. Rambutnya tergerai halus, bibirnya merah, langkahnya tidak cepat tetapi membuat orang-orang otomatis memberi jalan. Di sampingnya ada dua anak kecil.

Kevin menyipit.

Ada sesuatu pada perempuan itu. Bukan sekadar cantik. Bukan sekadar mahal. Ia membawa jarak, seolah seluruh bandara hanya ruang singgah yang boleh ia tinggalkan kapan pun.

Darren tiba-tiba melepas tangan Kevin.

"Pretty Mommy."

Suara itu kecil. Hampir tertelan suara pengumuman bandara. Namun bagi Kevin, dua kata itu seperti benda keras yang jatuh ke lantai kaca.

Darren bicara.

Anaknya yang selama ini hanya mengucapkan kata-kata pendek ketika benar-benar dipaksa, baru saja memanggil perempuan asing.

"Ren?"

Darren sudah berlari.

Kevin bergerak cepat mengejarnya. "Darren!"

Beberapa penumpang terkejut ketika bocah kecil itu menyelip di antara koper. Kevin nyaris menabrak seorang pria asing yang membawa tas golf. Feng langsung mengambil alih, meminta maaf sambil memberi jalan. Dalam beberapa detik, aura rombongan Hartono membuat petugas bandara ikut bergerak, tetapi Kevin mengangkat tangan, melarang mereka menyentuh Darren.

Anaknya tidak pernah berlari kepada siapa pun.

Tidak kepada guru terapi.

Tidak kepada dokter anak.

Tidak kepada keluarga besar Hartono yang mencoba memanjakannya dengan hadiah mahal.

Namun hari ini Darren berlari kepada perempuan yang bahkan belum mereka kenal.

Di depan, Keira baru saja menerima pesan dari Rio bahwa mobil sudah menunggu di pintu VIP. Ia meraih tangan Tiffany, sementara Ethan mendadak mengangkat kepala.

"Mommy."

Nada Ethan berubah.

"Ada yang mengejar kita."

Keira tidak menoleh terlalu jelas. Cukup dari pantulan kaca toko bebas bea, ia melihat bocah kecil berwajah sama persis dengan Ethan berlari ke arahnya.

Dunia berhenti.

Wajah itu.

Mata itu.

Tinggi badan itu.

Lima tahun luka yang ia simpan rapi mendadak retak.

Bocah itu berhenti beberapa langkah darinya, terengah kecil. Bibirnya bergetar seperti ada banyak kata yang tidak tahu jalan keluar.

"Pretty Mommy," ulangnya.

Keira merasa lututnya hampir lemas.

Tiffany menatap bocah itu, lalu menatap Ethan. "Koko Eth, kenapa kamu ada dua?"

Ethan tidak menjawab. Jarinyalah yang bergerak cepat di tablet.

"Mommy, kita harus pergi sekarang."

Kevin tiba tepat saat Keira menoleh. Untuk satu detik, mata mereka bertemu.

Tidak ada nama. Tidak ada masa lalu yang dikenali. Hanya hentakan asing di dada, tajam dan tidak masuk akal.

Kevin melihat perempuan itu menahan napas. Keira melihat laki-laki itu berdiri seperti badai yang memakai jas mahal.

Ia tidak tahu siapa pria itu.

Namun ia tahu bocah di depannya milik pria itu.

Dan hati kecilnya, bagian yang paling keras kepala dari seorang ibu, berteriak bahwa bocah itu juga miliknya.

"Nona," Kevin berkata rendah, "tunggu."

Keira mendengar suara itu dan sesuatu di tulang punggungnya menegang. Suara laki-laki itu tidak keras, tetapi terbiasa dipatuhi. Di masa lalu, suara seperti itu pernah membuatnya kehilangan rumah. Hari ini ia tidak akan membiarkan siapa pun memakai nada perintah untuk mengambil anak-anaknya.

Ethan menekan layar.

Lampu indikator di jalur VIP berkedip. Sistem pintu otomatis terbuka lebih cepat. Dua petugas keamanan yang tadinya ingin menghentikan Keira tiba-tiba menerima notifikasi prioritas di perangkat mereka.

"Mommy, kanan. Sekarang."

Keira menggenggam tangan Tiffany dan menarik napas. Ia ingin berlutut, memeluk bocah itu, bertanya siapa namanya, dari mana ia datang, kenapa wajahnya sama seperti anak yang ia peluk setiap malam. Namun langkah Kevin mendekat. Instingnya berubah menjadi perlindungan.

Ia tidak boleh panik.

Belum.

"Maaf," katanya kepada Darren, suaranya lembut sampai hampir patah. "Mommy harus pergi dulu."

Darren membeku pada kata itu.

Mommy.

Kevin juga mendengarnya. Matanya langsung menggelap.

Sebelum ia sempat meraih Keira, Ethan sudah menarik ibunya masuk ke jalur VIP. Pintu kaca menutup. Di layar informasi bandara, sistem tiba-tiba mengalami gangguan kecil. Kamera di tiga sudut terminal membeku selama tujuh detik.

Tujuh detik cukup untuk membuat Keira menghilang.

Kevin berdiri di depan pintu tertutup. Feng berlari mendekat dengan napas tertahan.

"Boss, kamera terminal kehilangan jejak."

"Berapa lama?"

"Tujuh detik."

Kevin menatapnya.

Feng langsung menunduk. "Seseorang masuk ke sistem internal bandara. Bukan amatir. Sangat bersih."

Kevin mengingat bocah laki-laki yang berjalan di samping perempuan itu. Wajahnya hanya terlihat sekilas, tetapi cukup. Anak itu terlalu mirip Darren. Bukan mirip seperti anak-anak yang kebetulan memiliki bentuk mata sama. Itu wajah yang sama, seolah dunia membuat salinan lalu menyembunyikannya lima tahun.

"Anak laki-laki tadi," kata Kevin, "ambil fotonya dari kamera sebelum gangguan."

"Baik, Boss."

Darren menyentuh kaca pintu yang sudah tertutup. Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, bibir kecilnya bergerak lagi.

"Mommy..."

Kevin menoleh pelan. Dada pria itu seperti ditarik oleh sesuatu yang tidak ia pahami.

"Ren, kamu kenal dia?"

Darren tidak menjawab. Air matanya jatuh satu, tanpa suara.

Itu lebih mengganggu Kevin daripada seribu laporan buruk.

Kevin menatap Darren. Anak itu masih memandang pintu, mata hitamnya basah, tetapi tidak menangis.

"Cari perempuan itu," kata Kevin.

"Ainara?"

Kevin menoleh pelan. "Cari semuanya. Ainara, perempuan berkacamata hitam itu, dua anak kecil yang bersamanya. Aku mau nama mereka sebelum matahari terbenam."

Di luar terminal, Keira masuk ke mobil hitam yang sudah menunggu. Begitu pintu tertutup, tubuhnya yang sejak tadi tegak akhirnya sedikit merosot.

Tiffany memeluk bonekanya erat. "Mommy, anak tadi siapa?"

Ethan menatap layar. Di sana, satu foto buram dari CCTV sempat tersimpan sebelum ia memutus akses. Wajah bocah itu sama dengannya, hanya matanya lebih sepi.

Keira menyentuh layar dengan ujung jari.

Untuk pertama kali sejak kembali ke Jakarta, suaranya terdengar tidak stabil.

"Mommy pulang ke Jakarta," bisiknya, "untuk mencari kakak kalian."

Tiffany menutup mulut kecilnya. "Koko yang hilang?"

Keira mengangguk. Matanya masih melekat pada foto buram itu. "Mommy belum pasti. Tapi hati Mommy..."

Ia tidak mampu melanjutkan.

Ethan memegang tangan ibunya. Untuk semua kecerdasan yang membuat orang dewasa kewalahan, ia tetap anak yang ingin melihat ibunya tidak menangis.

"Aku akan cari, Mommy. Aku akan cari semua tentang Darren Hartono."

Mobil melaju masuk ke jalan tol bandara. Jakarta terbentang di depan mereka, padat, bising, dan penuh musuh lama.

Keira mengusap layar, tepat di wajah bocah yang memanggilnya Pretty Mommy.

"Kita akan menemukannya," katanya. "Apa pun yang harus Mommy hadapi."

1
sunaryati jarum
Kamu minta maaf bukan merasa bersalah hanya takut perusahaan kamu koleb
sunaryati jarum
Berarti ibu Rosalind masih hidup
Tri Septi
apakah Leon kakaknya Kevin? dia mirip Raymond ayahnya Kevin ya 🤔🤔🤔
Tri Septi
lanjut thor🙏🙏🙏🙏
Tri Septi
mama keira hilang diculik, mama Kevin juga ada di mana ??? makin rumit aja
Tri Septi
semangat Kevin 💪 terima kasih author meski sedikit 😁🙏🙏🙏
Tri Septi
Kevin, ayo buktikan bahwa kamu bersih dan mereka yang berbuat jahat terbukti bersalah /Casual/
Tri Septi
sepandai-pandai tupai melompat suatu saat akan gagal juga....niat jahat semoga dpat digagalkan😆💪🙏
Tri Septi
orang bertopeng ini apakah sama dengan yang mengambil Darren waktu bayi ya......banyak yg terlibat, musuh keira banyak😠 semoga bisa segera terungkap 💪🙏
Tri Septi
penyesalan selalu di akhir
Tri Septi
mama Rosalind mungkin jenius, sehingga ada yg berniat menyembinyikan dan memanfaatkan nya /Frown//Frown//Frown/
Tri Septi
selamat datang kembali "Kei" 😍😍😍
Tri Septi
ada konspirasi....apa motifnya ya /Casual/
Siti Maryati
sampe.ikut berdesir mambaca "kamu punya aku"
Tri Septi
yang dibelakang Maya patut diwaspadai /Casual/ makin penasaran thor😄😄😄
sunaryati jarum
Berarti saudara seibu artinya ayahnya beda
sunaryati jarum
Semoga kalian cepat bersatu
Tri Septi
Kevin mau pdkt apa menyelidik? 🤣🤣🤣
Tri Septi
seperti induk ayam yang melindungi anak2nya, keira semangat 💪💪💪
Tri Septi
musuh dalam selimut 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!