NovelToon NovelToon
Cemara Juga Punya Luka

Cemara Juga Punya Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah / Teen / Balas Dendam
Popularitas:425
Nilai: 5
Nama Author: Sifanursiami

Di balik rumah yang hangat, semua orang memakai topeng paling rapi
Bagi dunia luar, Haseena adalah remaja berprestasi kebanggaan Abah. Namun di balik tawanya, Haseena menderita gangguan kecemasan dan terpaksa meminum obat penenang secara sembunyi-sembunyi selama lima tahun lalu.
Haseena mengira hanya dia yang punya rahasia. Sampai suatu malam, dia menemukan botol obat misterius di saku jaket abangnya, melihat kode lampu senter berkedip tiga kali di kegelapan sawah belakang rumah, dan kakak perempuannya yang bersikeras ingin pergi jauh
"Kini, Haseena terjebak dalam sandiwara sempurnanya. Berpura-pura menjadi gadis ceria untuk menutupi paranoia, sambil diam-diam mengumpulkan kepingan teka-teki yang mungkin akan menghancurkan hidupnya selamanya. Haseena harus memilih: tetap menjadi 'Ahli Ngeles' yang dicintai publik, atau membuka kotak Pandora tentang hilangnya sang kakak—meskipun itu berarti ia harus kehilangan segalanya, termasuk pria yang baru saja ia percayai."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sifanursiami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

rumah yang berubah 1

Mentari pagi baru saja menyelinap masuk melalui jendela dapur.

Aroma bawang yang ditumis memenuhi seluruh ruangan, bercampur dengan wangi nasi yang baru matang.

Rumah itu masih sama.

Masih sederhana.

Masih dipenuhi suara peralatan dapur yang saling beradu.

Hanya saja...

Orang yang berdiri di depan kompor kini telah berbeda.

Tidak ada lagi Syafa yang sibuk memasak sambil sesekali mengingatkan anak-anaknya untuk segera mandi.

Tidak ada pula Husna yang membantu mencuci sayur sambil bercanda.

Kini, semua pekerjaan itu dilakukan oleh Haseena seorang diri.

Sesekali ia menyeka keringat di dahinya menggunakan punggung tangan, lalu melanjutkan mengaduk sayur bening yang hampir matang.

Setelah itu, ia berpindah ke halaman belakang.

Di sana, sebuah kebun kecil masih tumbuh rapi.

Bunga melati, mawar, cabai, tomat, dan beberapa tanaman obat berjajar di sepanjang pagar bambu.

Kebun itu adalah tempat favorit almarhum ibunya.

Setiap pagi, Syafa selalu menyempatkan diri menyiram tanaman-tanaman itu sebelum memulai aktivitas lain.

Kini...

Kebiasaan itu diteruskan oleh Haseena.

Ia menyiram satu per satu tanaman dengan hati-hati.

Tatapannya berhenti pada setangkai mawar putih yang mulai bermekaran.

Senyum tipis terukir di wajahnya.

"Ibu pasti senang kalau lihat bunganya masih hidup..." batinnya.

"Haseena!"

Suara Rayyan terdengar dari dalam rumah.

"Iya, Bah!"

Haseena segera meletakkan selang, lalu berlari kecil masuk ke dapur.

Rayyan ternyata sudah selesai mencuci piring yang tadi mereka gunakan untuk sarapan.

"Bah..."

Haseena menghela napas kecil.

"Kan Haseena yang nanti nyuci."

Rayyan hanya tersenyum.

"Masa Abah cuma makan doang."

"Abah masih bisa bantu yang ringan-ringan."

Mendengar itu, Haseena ikut tersenyum.

"Iya deh."

Tak lama kemudian, ponsel yang diletakkan di atas meja bergetar.

Wafiza

> Seen, jadwal live kita hari ini jadi, kan?

Haseena segera membalas.

> Jadi. Tunggu bentar ya, aku beresin kerjaan rumah dulu.

Tak lama kemudian balasan kembali masuk.

> Oke. Nanti langsung ke rumah Aretha aja.

> Sip.

Haseena mengunci layar ponselnya.

Masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan.

Ia menyapu ruang tamu, melipat pakaian yang sudah kering, lalu memastikan seluruh rumah kembali rapi sebelum akhirnya mandi dan berganti pakaian.

---

Menjelang siang...

Haseena dan Rayyan duduk berhadapan di meja makan.

Hanya mereka berdua.

Pemandangan yang dulu terasa asing...

Kini menjadi kebiasaan.

Sesekali keduanya saling melempar senyum, meski keheningan masih sering mengisi sela-sela percakapan mereka.

"Bah..."

Haseena memecah suasana.

"Hari ini Haseena izin live ya sama Wafiza dan Aretha."

Rayyan mengangguk pelan.

"Mau di rumah siapa?"

"Di rumah Aretha."

"Berangkat sama siapa?"

"Nanti dijemput Wafiza."

"Ya sudah."

Rayyan kembali menyuapkan nasi ke mulutnya.

Namun beberapa saat kemudian...

Gerakannya berhenti.

Ia meletakkan sendok perlahan.

"Haseena."

"Iya, Bah?"

Rayyan menatap putrinya cukup lama.

Sorot matanya dipenuhi keraguan.

"Sebenarnya..."

"Abah kurang suka kamu sering muncul di media sosial."

Haseena terdiam.

Rayyan segera melanjutkan sebelum putrinya salah paham.

"Bukan karena Abah nggak percaya sama kamu."

"Abah cuma..."

"...nggak siap kalau banyak orang melihat putri Abah."

"Takut ada yang menyakiti."

Suasana kembali hening.

Rayyan tersenyum tipis.

"Tapi Abah juga sadar..."

"Ini pekerjaan kamu sekarang."

"Dan..."

Ia menarik napas panjang.

"Harusnya di umur kamu sekarang..."

"...Abah yang masih bekerja buat memenuhi kebutuhan kamu. tak ada kewajiban bagi perempuan untuk mencari nafkah, sebelum menikah jadi tanggung jawab orang tua, setelah menikah jadi tanggung jawab suami"

"Bukan malah kamu yang ikut memikirkan biaya rumah. maafin abah ya nak, di masa depan semoga kamu jadi orang yang beruntung"

Sendok di tangan Haseena perlahan terlepas.

Matanya mulai memanas.

"Bah..."

Rayyan menatap putrinya dengan senyum yang dipaksakan.

"Terima kasih ya."

"Karena sudah tetap bertahan sama Abah."

Kalimat itu seperti menghantam dada Haseena.

Ia bangkit dari kursinya.

Berjalan mengitari meja makan.

Lalu memeluk ayahnya erat-erat.

"Abah..."

Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

"Jangan pernah ngomong begitu lagi."

Suaranya bergetar.

"Haseena nggak pernah merasa terbebani."

"Dari kecil..."

"Abah sama Ibu yang selalu menjaga Haseena."

"Sekarang..."

"Giliran Haseena yang jagain Abah."

Rayyan perlahan mengusap kepala putrinya.

Tangannya yang mulai dipenuhi keriput bergerak lembut seperti dulu, ketika Haseena masih kecil.

"Anak Abah udah besar, ya."

Haseena menggeleng sambil tersenyum di sela tangisnya.

"Mau sebesar apa pun..."

"Haseena tetap anak kecilnya Abah haseenaa gamau jadi orang dewasa bah."

Rayyan terkekeh pelan.

"Alhamdulillah."

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama...

Rumah itu kembali dipenuhi tawa.

Meski hanya sebentar.

Namun cukup untuk membuat luka di hati mereka terasa sedikit lebih ringan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!