Dunia berubah dalam semalam. Langit di atas tanah perbatasan Amerika berubah warna, bumi terbelah, dan makhluk-makhluk yang dulunya manusia atau ternak kini bangkit sebagai monster haus darah. Di tengah kekacauan itu, Elena Cross — janda pemilik Rocking Spur Ranch yang tengah hamil delapan bulan — berjuang sendirian mempertahankan tanahnya dari serangan pertama gerombolan ternak yang bermutasi.
Di saat paling genting, sebuah kekuatan misterius bangkit dalam dirinya: **Gudang Tanpa Batas**, sebuah sistem ajaib yang bisa memunculkan senjata, makanan, obat-obatan, dan perbekalan apa pun dari udara kosong — aktif hanya karena satu syarat: melindungi kehidupan baru di tengah kehancuran dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miichi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Enam Bulan Kemudian
Musim dingin pertama sejak kiamat telah berlalu, dan Rocking Spur Ranch kini tak lagi menyerupai ranch kecil yang dulu hanya dihuni Elena dan beberapa pekerja. Kini, deretan rumah kayu baru berdiri di sepanjang area yang dulunya padang kosong, menampung lebih dari tujuh puluh jiwa—gabungan pengungsi Redcliff, beberapa keluarga dari Prescott yang memilih pindah lebih dekat ke "Nyonya Cross yang legendaris," dan bahkan beberapa mantan prajurit Fase Tiga yang telah pulih sepenuhnya, memilih untuk memulai hidup baru jauh dari kenangan pahit masa lalu mereka.
Grace, kini berusia hampir tujuh bulan, tumbuh menjadi bayi yang ceria meski dunia di sekelilingnya masih jauh dari normal. Ia sering ditemukan tertawa riang menatap kotak cahaya kecil yang kadang muncul di dekatnya—seolah Gudang milik ibunya juga mengenali dan menyayangi kehadirannya.
"Dia akan tumbuh jadi anak yang kuat," kata Sarah suatu pagi, membantu Elena menjemur pakaian sambil mengawasi Grace yang merangkak riang di rerumputan. Sarah sendiri kini menggendong bayinya yang lahir dua bulan setelah Grace—seorang putra yang diberi nama Abel, sebagai penghormatan untuk Whitlock.
"Kuharap begitu," jawab Elena, tersenyum menyaksikan putrinya. "Dunia ini masih penuh bahaya, tapi setidaknya sekarang ada lebih banyak harapan dibanding waktu dia lahir."
Sejak insiden Prometheus enam bulan lalu, kehidupan di wilayah Aliansi Padang Barat—nama yang kini resmi digunakan untuk menyebut jaringan pemukiman yang dipimpin bersama oleh Dewan Prescott dan Rocking Spur Ranch—perlahan mulai stabil. Dr. Voss, yang memilih menetap di Prescott, bekerja tanpa lelah mempelajari sisa-sisa data Prometheus untuk memahami lebih jauh fenomena fragmen yang telah mengubah dunia.
Namun kedamaian itu, seperti yang selalu diperingatkan Whitlock, tidak pernah benar-benar bertahan lama.
Sore itu, saat Elena sedang mengajari beberapa anak muda cara memanfaatkan Gudang untuk mengeluarkan benih dan alat pertanian—kemampuan yang perlahan ia pelajari bisa ia bagikan sebagian kecil pengetahuannya, meski Gudang itu sendiri tetap terikat khusus padanya—seorang pengendara berdebu tiba dengan tergesa dari arah selatan, jauh lebih jauh dari wilayah yang biasa mereka kenal.
"Nyonya Cross!" serunya, hampir jatuh dari kudanya saking lelahnya. "Aku datang dari pemukiman Ashford, tiga hari perjalanan ke selatan. Kami butuh bantuanmu—ada seseorang di sana yang juga memiliki kekuatan seperti dirimu, tapi dia... dia menggunakannya untuk hal yang sangat berbeda."
Elena, yang sejak insiden dengan Voss telah merasakan gema samar dari fragmen-fragmen lain sesekali—seperti bisikan jauh yang kadang membangunkannya di tengah malam—merasakan firasat dingin menjalar di dadanya. Janjinya pada kesadaran di dalam inti Prometheus kembali terngiang jelas di benaknya.
*Kalau suatu hari nanti kau merasakan fragmen lain jatuh ke tangan yang salah...*
"Ceritakan semuanya," katanya, meletakkan alat berkebun yang tadi ia pegang, ekspresi wajahnya berubah serius. "Dari awal."
Pengendara itu—seorang pemuda kurus bernama Jedediah—menarik napas dalam, wajahnya dipenuhi ketakutan yang jelas terlihat. "Namanya Cornelius Grimes, Nyonya Cross. Dulu dia pedagang kaya sebelum kiamat. Sekarang dia menyebut dirinya 'Raja Ashford'—dan dia menggunakan kekuatan yang sama sepertimu untuk memperbudak seluruh pemukiman kami."
---
Ruang pertemuan darurat di Rocking Spur dipenuhi wajah-wajah tegang—Whitlock, Sarah, Margaret Doyle yang datang dari Prescott begitu mendengar kabar itu, dan Dr. Voss yang membawa beberapa catatan dari penelitiannya. Jedediah duduk di tengah, masih dipenuhi debu perjalanan panjangnya, menceritakan detail yang lebih mengerikan dari yang bisa dibayangkan siapa pun.
"Grimes dulu pedagang senjata dan perbekalan sebelum dunia berubah," jelas Jedediah, suaranya bergetar mengingat kembali. "Saat kiamat terjadi, ia salah satu yang paling cepat mengumpulkan kekuatan dan sumber daya. Entah bagaimana caranya, ia mendapatkan fragmen seperti yang dimiliki Nyonya Cross—tapi Gudangnya berbeda. Ia menyebutnya 'Perbendaharaan Tak Terbatas', dan ia menggunakannya bukan untuk melindungi, melainkan untuk mengontrol."
"Mengontrol bagaimana?" tanya Whitlock tajam.
"Ia mengeluarkan makanan dan air hanya untuk mereka yang patuh penuh padanya," lanjut Jedediah, matanya berkaca-kaca. "Siapa pun yang menolak, atau bahkan hanya mempertanyakan perintahnya, diusir dari pemukiman—dilempar begitu saja ke padang yang penuh makhluk mutan tanpa perlindungan apa pun. Ia punya pasukan bayaran yang dipersenjatai dengan senjata-senjata aneh yang juga ia keluarkan dari Gudangnya sendiri, jauh lebih canggih dari apa pun yang pernah kami lihat."
Dr. Voss, yang mendengarkan dengan seksama, akhirnya angkat bicara. "Ini konsisten dengan apa yang selalu kukhawatirkan sejak insiden Prometheus. Fragmen itu meresonansi dengan niat penampungnya—tapi niat itu sendiri bisa berkembang, bisa terkorupsi seiring waktu, terutama jika orang itu mulai menggunakan kekuatan untuk keuntungan pribadi daripada perlindungan bersama."
"Bagaimana caranya dia mendapat fragmen itu?" tanya Elena, pikirannya berputar mengingat kata-kata kesadaran Prometheus tentang fragmen yang mencari 'jiwa yang layak'.
"Aku tidak tahu pasti," jawab Voss, "tapi ada kemungkinan tidak semua fragmen benar-benar memilih dengan sempurna. Beberapa mungkin jatuh ke tangan yang salah karena keadaan darurat, sama seperti caramu mendapatkan fragmenmu saat menghadapi bahaya pertama kali. Niat awal Grimes mungkin tampak seperti keinginan melindungi diri dan keluarganya di tengah kekacauan—tapi power seperti itu, tanpa kendali moral yang kuat, bisa dengan mudah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap."
Margaret Doyle, wajahnya keras memikirkan implikasi lebih luas, akhirnya bersuara. "Kalau Grimes ini benar punya kekuatan setara dengan Nyonya Cross, dan pasukan bersenjata canggih pula, ini bukan lagi masalah satu pemukiman. Ini ancaman bagi seluruh Aliansi."
Elena menatap Jedediah, yang masih gemetar mengingat kengerian yang ia tinggalkan di Ashford. "Berapa banyak orang yang masih tertahan di sana?"
"Ratusan, Nyonya Cross," jawab Jedediah lirih. "Termasuk keluargaku sendiri—istriku, dan putri kecilku yang baru berusia empat tahun. Aku hanya berhasil kabur karena ditugaskan mengawal kereta dagang keluar kota, dan aku memilih untuk tidak pernah kembali ke arah yang sama."
Ruangan itu hening berat, semua orang memahami beban keputusan yang harus mereka ambil. Whitlock, yang sejak awal ekspedisi ke Prometheus selalu menjadi suara kehati-hatian, kali ini menatap Elena dengan sorot mata yang berbeda—bukan lagi keraguan, melainkan tekad yang sama seperti yang pernah ia tunjukkan malam Rourke menyerang ranch mereka.
"Kita tidak bisa membiarkan ini terus berlangsung," katanya tegas. "Tapi kita juga tidak bisa gegabah. Grimes bukan Rourke yang hanya mengandalkan jumlah dan intimidasi kasar. Kalau dia punya kekuatan setara Gudang, kita butuh strategi yang jauh lebih matang."
Elena menatap ke arah jendela, ke arah Grace yang tertidur tenang di boks kayu sederhana di sudut ruangan, dijaga oleh salah satu perempuan pengungsi yang telah menjadi bagian keluarga besar ranch. Ia memikirkan janjinya pada kesadaran Prometheus, memikirkan ratusan nyawa yang tertahan di Ashford, memikirkan tanggung jawab baru yang kini melekat padanya sebagai—entah bagaimana menyebutnya—penjaga keseimbangan fragmen yang tersebar di dunia.
"Kita akan pergi ke Ashford," katanya akhirnya, suaranya tegas meski hatinya dipenuhi kekhawatiran akan meninggalkan Grace lagi begitu cepat. "Tapi kali ini, kita tidak akan pergi hanya berempat seperti ke Prometheus. Kita butuh rencana yang melibatkan seluruh Aliansi—dan mungkin, cara untuk bicara dengan Grimes sebelum semuanya berubah menjadi pertumpahan darah lagi."
"Kau masih berharap bisa bernegosiasi dengannya?" tanya Margaret skeptis.
Elena menghela napas panjang, mengingat kembali momen dengan kesadaran Prometheus, tentang niat yang bisa terkorupsi namun mungkin juga bisa disadarkan kembali. "Aku berharap, Margaret. Tapi aku juga siap untuk kemungkinan bahwa harapan itu tidak akan cukup."
---
ajaib kenapa tidak rahsia kan saja
gila !!