Hidup Evelina Lim hancur seketika saat ia menangkap kekasihnya Rangga berselingkuh dengan adik tirinya, Jesslyn Lim.
Di titik terendah, Eve berpapasan dengan Edric Kho, mantan prajurit TNI baru pulang dari misi Afrika Selatan.
“Kamu kurang apa sih, Mas?”
“Tidak kurang apa-apa. Cuma kurang istri.”
Dipicu amarah, Eve menerima tawaran itu dan menikah kilat.
Eve mengira suaminya hanya mantan tentara sederhana, tanpa tahu Edric adalah Direktur Utama Kho Group, pewaris konglomerat raksasa Jakarta. Ia merahasiakan identitasnya, ingin dicintai sebagai Edric, bukan pewaris keluarga Kho.
Rahasia besar itu akhirnya terbongkar. Ia berhadapan dengan saingan kekuasaan Valen Kho, pesaing cinta Calista Sia, serta misteri kematian ibu Eve.
Eve harus memilih: kabur, atau bertahan di samping pria misterius ini.
Edric Kho siap mempertaruhkan segalanya demi wanita yang dinikahinya dalam sekejap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 24: Perang Dingin dan Serigala di Balik Pintu
Edric sampai di Apartemen Menteng Park satu jam setelah Eve.
Kode pintu sudah berubah.
Ia berdiri di depan unit mereka, menatap panel angka yang menolak sidik jarinya seperti benda itu ikut marah. Untuk pertama kalinya, apartemen yang ia beli dengan satu tanda tangan terasa seperti tempat yang tidak punya hak ia masuki.
Ia menekan bel.
Lama.
Pintu terbuka sedikit. Eve berdiri di baliknya, masih memakai pakaian kerja, wajahnya pucat tetapi rapi. Ia tidak membiarkan pintu terbuka lebar.
"Aku salah," kata Edric sebelum ia sempat bicara. "Aku seharusnya jujur dari awal."
"Ya."
Satu kata itu membuat tenggorokannya kering.
"Boleh saya masuk?"
"Tidak."
Edric menerima pukulan itu tanpa bergerak.
Eve menatapnya. "Gelang GEMMA itu dari kamu?"
"Ya."
"Perusahaan Hartono Mulya yang tiba-tiba dibeli?"
"Saya yang atur."
"Restoran 1973?"
"Salah satu aset keluarga."
"Linguara dapat kontrak tahunan karena kamu?"
Edric diam satu detik terlalu lama.
Eve tersenyum tanpa bahagia. "Ya juga."
"Saya memastikan perusahaan yang bagus mendapat kesempatan."
"Jangan bungkus dengan bahasa korporat." Suara Eve tetap pelan. "Aku lebih suka kamu yang jujur, daripada kamu yang melindungiku dari belakang seperti aku ini anak kecil yang tidak bisa apa-apa."
Edric menunduk.
"Aku tidak pernah menganggapmu lemah."
"Tapi kamu memperlakukanku seolah aku tidak mampu menanggung kebenaran."
Kalimat itu tepat mengenai tempat yang paling ia takuti. Edric mengangkat wajah, dan untuk pertama kalinya semua kendali yang biasa ia pakai di ruang rapat tidak berguna.
"Saya takut," katanya. "Takut kalau kamu tahu, kamu akan pergi. Seperti Calista."
Eve diam.
Ia tidak marah lebih keras. Justru keheningan itu membuat Edric tahu ia telah memilih kata yang salah.
"Jadi selama ini," kata Eve, "di suatu tempat dalam pikiranmu, aku mungkin menjadi Calista kedua."
"Bukan begitu."
"Tapi itu yang kamu takutkan."
Edric tidak bisa membantah.
Eve memejamkan mata sebentar. "Aku butuh waktu."
Pintu tertutup.
Edric berdiri lama di koridor. Lalu ia duduk di lantai, punggung menempel ke dinding, seperti prajurit yang kehilangan markasnya.
Dari dalam, Eve berdiri di dekat pintu. Ia mendengar Edric menelepon Jerry, suaranya rendah, masih menangani laporan perusahaan. Ada rapat yang dipindahkan, dokumen yang harus ditandatangani, instruksi agar tidak ada media mendekati Linguara. Setelah itu, sunyi.
Ia menempelkan mata ke lubang pintu.
Pria yang seluruh Jakarta takuti duduk di lantai koridor apartemennya, kepala bersandar ke dinding, dasi longgar, wajah lelah.
Eve membenci kenyataan bahwa hatinya sakit melihat itu.
Tiga jam kemudian, Jerry datang.
"Bos, Anda harus kembali ke kantor."
"Tidak."
"Setidaknya ke mobil. Lantai ini bukan tempat untuk..."
Edric menatapnya.
Jerry menghela napas. "Baik. Saya akan menunggu di bawah."
Malam itu Brandon Ho dan Vincent Tan menyeret Edric ke bar privat setelah Jerry melapor bahwa bos mereka mungkin akan menjadi dekorasi permanen koridor.
Brandon memesan minuman, lalu langsung berkata, "Perempuan butuh waktu, bukan hadiah."
Edric menghabiskan gelas pertama. "Saya belum memberi hadiah."
"Wajahmu sudah berpikir ke arah itu."
Vincent duduk di sisi lain, lebih kejam. "Kamu memang salah. Terima saja."
"Saya tahu."
"Tidak. Kamu tahu secara teori. Sekarang kamu harus merasakan akibatnya tanpa membeli jalan keluar."
Edric minum lagi.
Antara pukul dua belas sampai tiga pagi, ia mengirim empat puluh tujuh pesan kepada Eve.
Aku salah.
Aku seharusnya percaya padamu.
Jangan matikan lampu balkon kalau kamu takut gelap.
Aku ingat kamu suka mie goreng dengan telur setengah matang.
Aku rindu kamu.
Pesan keempat puluh satu adalah foto dirinya di sudut bar, rambut berantakan, mata merah, wajah jauh dari Direktur Utama yang ditakuti rapat.
Eve menyalakan mode senyap, tetapi ia tidak tidur.
Ia membaca semuanya.
Saat melihat foto itu, ia menutup mata lama sekali.
Ia tahu mabuk tidak otomatis membuat permintaan maaf lebih berharga. Namun pesan-pesan itu tidak terdengar seperti strategi. Terlalu kacau, terlalu berulang, terlalu Edric yang biasanya rapi menjadi seseorang yang hanya takut kehilangan rumah. Eve meletakkan ponsel di dada dan membenci air mata yang akhirnya jatuh diam-diam. Malam terasa panjang sekali.
Pagi berikutnya, bunga datang.
Eve menolaknya.
Satu jam kemudian, tas LV datang.
Ia mengembalikannya.
Sore hari, kotak cokelat mewah datang.
Ia menaruhnya di depan pintu dan mengirim pesan singkat:
Aku bukan rapat yang bisa kamu menangkan dengan anggaran.
Jerry membaca pesan itu di layar Edric dan tidak berani bernapas terlalu keras.
"Batalkan semua pengiriman," kata Edric akhirnya.
"Termasuk berlian?"
Edric menatapnya.
"Saya belum pesan," tambah Jerry cepat. "Hanya menebak pola."
Malam berikutnya, Eve membuka pintu untuk membuang sampah.
Edric duduk di lantai lagi.
Kali ini ia tidak memakai setelan. Ia memakai kaus lama yang pernah Eve cuci sampai kainnya lembut, celana training, rambut berantakan, dan sedikit janggut di rahang. Di sampingnya ada botol air mineral dan map kerja yang belum dibuka.
Ia mengangkat wajah.
"Seperti serigala yang dibuang, ya?"
Eve memegang kantong sampah. Ia ingin marah. Ingin berkata jangan bercanda. Namun yang ia lihat bukan Direktur Utama, bukan miliarder, bukan pria yang mengatur hidup orang dari balik layar.
Ia melihat Edric yang memasak soto ayam dengan celemek merah muda. Edric yang mengupas udang. Edric yang duduk di karpet dan mengaku mencarinya selama dua tahun.
"Masuk," katanya akhirnya.
Edric berdiri terlalu cepat, lalu hampir kehilangan keseimbangan. Eve pura-pura tidak melihat.
Di dalam, mereka duduk di ujung sofa yang berbeda. Keheningan mereka tidak nyaman, tetapi tidak lagi setajam pintu tertutup.
Ponsel Edric berdering. Nama Mama muncul di layar.
Ia hendak menolak, tetapi Eve melihatnya. "Angkat saja."
Yuliana Kho muncul di layar video dengan wajah marah elegan.
"Edric Arya Kho," katanya, "kamu pura-pura miskin sampai istrimu marah?"
Eve yang sedang mengambil air di dapur berhenti.
Edric menutup mata. "Mama..."
"Jangan Mama-Mama. Kalau kamu tidak bisa membujuk menantuku, jangan pulang ke rumah ini."
Eve mendengar kata menantu.
Tangannya berhenti di keran.
Edric mematikan video beberapa detik kemudian, wajahnya lebih kacau daripada sebelumnya.
Eve kembali ke ruang tamu dan menunjuk sofa.
"Tidur di sana. Jangan banyak bicara."
"Baik."
Ia berbaring seperti orang yang diberi amnesti sementara. Tengah malam, Eve keluar dari kamar membawa selimut. Ia menaruhnya di atas tubuh Edric dengan gerakan hati-hati.
Mata Edric tetap tertutup.
Namun sudut bibirnya naik sedikit.
Di meja, ponsel Eve bergetar tanpa suara.
Panggilan tak terjawab dari Cirebon.