Arga Mahendra dikenal sebagai CEO termuda sekaligus paling menyebalkan di kota. Wajahnya tampan, hartanya melimpah, tetapi sifatnya dingin, arogan, dan perfeksionis. Semua orang takut padanya… kecuali satu orang. Namanya Nayla Pramesti. Gadis pemberani yang mulutnya lebih cepat daripada otaknya. Saat pertama kali bertemu, Nayla tanpa sengaja menyiram kopi ke jas mahal Arga. Bukannya minta maaf, ia malah berkata, “Kalau jalan jangan kayak punya trotoar sendiri, Pak CEO.” Sejak hari itu, Arga bersumpah akan membuat hidup Nayla sengsara. Takdir justru mempertemukan mereka lagi ketika Nayla diterima bekerja di perusahaan Arga. Setiap hari kantor berubah menjadi medan perang. Mereka saling mengejek, saling menjahili, dan tak ada yang mau mengalah. Namun di balik pertengkaran itu, Arga mulai melihat sisi lembut Nayla yang selalu disembunyikan di balik sikap bar-barnya. Sementara Nayla mulai menyadari bahwa di balik wajah dingin CEO itu, ada luka masa lalu yang belum sembuh. Saat cinta mulai tumbuh, muncul seorang tunangan pilihan keluarga Arga dan mantan kekasih Nayla yang berniat merebutnya kembali. Akankah dua orang keras kepala ini akhirnya mengakui perasaan mereka, atau justru kehilangan satu sama lain karena gengsi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syah_runi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CEO Mulai Terang-Terengan
Mereka bertiga akhirnya duduk di meja yang sama.
Vanessa sesekali mengajak Arga mengenang masa lalu.
“Ingat waktu kita menghadiri gala dinner di Singapura?”
Arga menjawab singkat.
“Ingat.”
“Masih sama seperti dulu ya.”
“Jawabanmu tetap pendek.”
Nayla yang sedang memotong steak hanya diam.
Ia tidak ingin ikut campur.
Namun dalam hati, muncul rasa yang aneh.
Bukan marah.
Bukan kesal.
Lebih seperti…
Tidak nyaman.
Beberapa menit kemudian, MC mengumumkan permainan berpasangan.
“Setiap tamu yang datang berdua dipersilakan naik ke panggung!”
Seluruh ballroom langsung riuh.
Rina, yang juga hadir sebagai panitia, tersenyum jahil dari kejauhan.
“Pak Arga! Mbak Nayla! Ayo!”
Nayla langsung menggeleng cepat.
“Nggak! Saya malu.”
Arga justru berdiri.
“Ayo.”
“Lho?”
“Kita sudah dipanggil.”
Sebelum Nayla sempat menolak, Arga sudah lebih dulu menggenggam pergelangan tangannya dengan lembut dan mengajaknya naik ke panggung.
Vanessa memperhatikan mereka sambil tersenyum tipis.
Namun di balik senyumnya, ada tatapan yang sulit diartikan.
Permainan pertama sangat sederhana.
Pasangan diminta menjawab beberapa pertanyaan tentang satu sama lain.
MC tersenyum lebar.
“Pertanyaan pertama!”
“Siapa yang lebih sering mengalah?”
Nayla langsung menunjuk Arga.
Arga justru menunjuk Nayla.
Seluruh tamu tertawa.
MC ikut tertawa.
“Jawabannya berbeda!”
Nayla langsung protes.
“Pak, jelas Bapak yang sering mengalah.”
Arga mengangkat alis.
“Sejak kapan?”
“Sejak ketemu saya.”
“Lho?”
“Iya.”
“Dulu Bapak galak terus.”
“Sekarang kalau saya ngomel, Bapak paling cuma geleng-geleng kepala.”
Ballroom kembali dipenuhi tawa.
Bahkan komisaris perusahaan sampai ikut tersenyum.
Arga hanya bisa menghela napas.
“Baiklah.”
“Kali ini kamu menang.”
Sorakan langsung terdengar.
“Woooh!”
“Nah kan!”
Nayla mengangkat kedua tangannya penuh kemenangan.
Pertanyaan kedua.
“Siapa yang paling keras kepala?”
Kali ini mereka berdua serempak menunjuk satu sama lain.
“Hahaha!”
MC sampai tertawa terpingkal-pingkal.
“Kalian kompak juga ternyata.”
Nayla menoleh ke Arga.
“Bapak.”
“Kenapa?”
“Ngaku aja.”
“Bapak keras kepala.”
Arga balas menatap.
“Kamu juga.”
“Saya mah tegas.”
“Itu namanya keras kepala.”
“Itu namanya berprinsip.”
“Bahasanya saja yang diperhalus.”
Tawa kembali pecah.
Semua orang menikmati adu mulut mereka.
Setelah permainan selesai, mereka turun dari panggung.
Di dekat meja prasmanan, Vanessa kembali menghampiri Nayla.
“Kamu memang berbeda.”
Nayla tersenyum sopan.
“Maksudnya?”
“Dulu tidak ada yang berani membantah Arga.”
“Tapi kamu…”
“…malah membuatnya tersenyum.”
Nayla terdiam.
Vanessa melanjutkan,
“Jaga dia baik-baik.”
“Dia memang sulit mengungkapkan perasaan.”
“Tapi kalau sudah menyayangi seseorang…”
“…dia akan menjaga orang itu sepenuh hati.”
Nayla memandang Vanessa dengan bingung.
“Mbak…”
“Kenapa Mbak bilang begitu?”
Vanessa tersenyum kecil.
“Karena aku pernah mengenalnya.”
“Lalu kenapa hubungan Mbak dan Pak Arga berakhir?”
Vanessa menarik napas pelan.
“Kami tidak pernah benar-benar saling mencintai.”
“Pertunangan itu dijodohkan keluarga.”
“Dan kami sama-sama memilih mengakhirinya.”
Nayla mengangguk pelan.
Entah mengapa, dadanya terasa jauh lebih ringan setelah mendengar penjelasan itu.
Tak lama kemudian, Arga datang membawa dua gelas jus.
“Nih.”
“Buat kamu.”
“Terima kasih.”
Vanessa melihat pemandangan itu sambil tersenyum.
“Arga.”
“Hm?”
“Aku ikut senang.”
Arga menatap mantan tunangannya.
“Untuk apa?”
“Akhirnya kamu menemukan seseorang yang bisa membuatmu hidup.”
Arga tidak menjawab.
Namun tanpa sadar ia melirik ke arah Nayla yang sedang sibuk menikmati jusnya.
Tatapan itu cukup menjadi jawaban.
Menjelang akhir acara, lampu ballroom diredupkan.
MC kembali naik ke atas panggung.
“Sebagai penutup…”
“Kami mengundang CEO Mahendra Group untuk memberikan sambutan.”
Seluruh tamu bertepuk tangan.
Arga berdiri lalu berjalan menuju podium.
Pidatonya singkat, seperti biasanya.
Namun di akhir sambutan, ia berkata,
“Keberhasilan perusahaan ini bukan hanya karena saya.”
“Melainkan karena seluruh karyawan yang bekerja dengan sepenuh hati.”
Tatapannya perlahan mengarah ke arah Nayla.
“Dan…”
“Karena ada orang-orang yang mengajarkan saya…”
“…bahwa bekerja tidak harus selalu dilakukan dengan wajah serius.”
Nayla yang menyadari tatapan itu langsung menundukkan kepala sambil tersenyum malu.
Seluruh ballroom kembali bertepuk tangan.
Rina yang duduk di meja belakang berbisik pelan,
“Itu bukan pidato perusahaan.”
“Itu kode keras.”
Nayla hanya menggigit bibir menahan senyum.
Malam itu…
Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa jarak antara dirinya dan Arga tidak lagi sejauh hubungan CEO dan karyawan.
Namun di sudut ballroom…
Seseorang diam-diam memotret mereka dari kejauhan.
Wajahnya tidak terlihat jelas.
Yang pasti, tatapannya menunjukkan bahwa ia tidak senang melihat kedekatan Arga dan Nayla.
Pagi setelah gala dinner, suasana Mahendra Group benar-benar tidak kondusif.
Bukan karena pekerjaan.
Melainkan karena satu foto yang beredar di grup kantor.
Foto Arga sedang menatap Nayla saat memberikan pidato semalam.
Di bawah foto itu tertulis:
“Tatapan CEO lebih romantis daripada isi pidatonya.”
Komentarnya sudah mencapai ratusan.
“Fix, Pak Arga jatuh cinta.”
“Nggak mungkin cuma bos dan karyawan.”
“Tatapan itu nggak bisa bohong.”
Nayla baru saja duduk ketika Rina menyodorkan ponselnya.
“Nih.”
“Lagi viral.”
Nayla langsung memegang kepalanya.
“Ya Allah…”
“Siapa sih yang hobi motret?”
Rina tertawa.
“Kalau aku jadi kamu…”
“…udah kuterima aja.”
“Terima apa?”
“Jadi pacar CEO.”
Nayla melempar gulungan kertas ke arah Rina.
“Ih!”
“Kamu tuh!”
Di ruang CEO…
Dimas juga sedang memperlihatkan foto yang sama kepada Arga.
“Pak.”
“Hm?”
“Menurut saya…”
“Bapak sebaiknya belajar menyembunyikan ekspresi.”
Arga mengangkat sebelah alis.
“Kenapa?”
“Karena seluruh dunia tahu Bapak lagi jatuh cinta.”
“Aku tidak sejelas itu.”
Dimas memperbesar foto tersebut.
Tatapan Arga kepada Nayla terlihat begitu lembut.
Bahkan berbeda jauh dari tatapannya kepada tamu lain.
Dimas tersenyum.
“Kalau ini masih dibilang biasa…”
“…berarti saya yang butuh kacamata.”
Arga hanya mengembuskan napas.
Kali ini ia tidak membantah.
Siang harinya…
Mahendra Group menerima tamu penting dari luar negeri.
Semua divisi sibuk mempersiapkan ruang rapat.
Nayla membawa beberapa dokumen menuju ruang meeting.
Di tengah perjalanan…
Seorang pria asing menghampirinya.
“Excuse me.”
“Can you help me?”
Nayla tersenyum ramah.
“Of course.”
Pria itu memperkenalkan diri sebagai Kevin Lee, konsultan dari Singapura.
Ia cukup ramah dan mudah diajak berbincang.
Tanpa sadar mereka mengobrol sambil berjalan menuju ruang rapat.
Dari kejauhan…
Arga melihat semuanya.
Dimas yang berdiri di sampingnya langsung menoleh.
“Pak…”
“Tarik napas dulu.”
“Aku tenang.”
“Iya.”
“Tapi tangan Bapak sampai meremas map.”
Arga baru sadar map di tangannya hampir penyok.
Rapat berlangsung hampir dua jam.
Setelah selesai…
Kevin menghampiri Nayla.
“Miss Nayla.”
“I want to thank you.”
“You explained everything very clearly.”
Nayla tersenyum.
“Thank you.”
Kevin kemudian mengeluarkan kartu nama.
“If you ever visit Singapore…”
“Please contact me.”
Belum sempat Nayla mengambil kartu itu…
Arga muncul di sampingnya.
“Mr. Kevin.”
Kevin menoleh.
“Yes?”
“Nayla is one of our best employees.”
“She is very busy.”
Kevin tertawa kecil.
“I only gave her my business card.”
“I know.”
Suasana mendadak sedikit canggung.
Nayla menahan senyum.
“Pak Arga lagi…”
Setelah tamu pulang…
Nayla mengikuti Arga ke ruangannya.
Begitu pintu tertutup…
Ia langsung tertawa.
“Pak.”
“Hm?”
“Bapak sadar nggak?”
“Sadar apa?”
“Bapak lagi cemburu lagi.”
“Aku?”
“Iya.”
“Bukan.”
“Terus kenapa kartu nama orang aja dihalang-halangi?”
Arga duduk di kursinya.
“Aku hanya menjaga karyawan.”
“Halah.”
“Kemarin Pak Rafael.”
“Hari ini Pak Kevin.”
“Besok siapa lagi?”
Arga menatap Nayla beberapa detik.
“Nggak lucu.”
“Nah.”
“Itu tandanya cemburu.”
Arga menghela napas panjang.
“Nayla.”
“Iya?”
“Aku mau bertanya.”
“Tanya apa?”
“Kalau ada pria yang mendekatimu…”
“…apa kamu akan menerimanya?”
Pertanyaan itu membuat Nayla terdiam.
Ia tidak menyangka Arga akan bertanya seperti itu.
“Hmm…”
“Bisa jadi.”
Arga langsung mengernyit.
“Bisa jadi?”
“Iya.”
“Kalau orangnya baik.”
“Perhatian.”
“Lucu.”
“Dan…”
Nayla sengaja menggantung kalimatnya.
“Dan?”
“Yang pasti bukan orang jutek.”
Arga langsung menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Berarti aku gagal.”
Nayla tidak bisa lagi menahan tawanya.
“Bapak sadar juga?”
“Ya.”
“Aku memang jutek.”
“Tapi…”
Arga berdiri.
Lalu berjalan mendekati Nayla.
Jarak mereka kini hanya beberapa langkah.
“Kalau orang itu…”
“…berusaha berubah?”
Nayla mendongak.
Tatapan mereka bertemu.
Ruangan terasa mendadak sunyi.
“Apa masih ada kesempatan?”
Jantung Nayla berdegup semakin cepat.
Belum sempat ia menjawab…
Tok… tok…
Pintu diketuk.
“Pak.”
Suara Dimas terdengar dari luar.
“Rapat direksi dimulai lima menit lagi.”
Arga memejamkan mata sejenak.
“Waktu yang tidak tepat.”
Nayla tersenyum geli.
“Diselamatkan Pak Dimas.”
Arga menggeleng pelan.
“Kamu selalu beruntung.”
Sore harinya…
Nayla hendak pulang menggunakan ojek online.
Namun hujan kembali turun.
Ia berdiri di lobi sambil menunggu.
Tak lama kemudian, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depannya.
Kaca mobil perlahan terbuka.
Arga menatapnya dari balik kemudi.
“Masuk.”
Nayla menggeleng.
“Nggak usah, Pak.”
“Kenapa?”
“Nanti digosipin lagi.”
Arga turun dari mobil.
Lalu berjalan menghampiri Nayla.
Di depan puluhan karyawan yang masih berada di lobi, ia berkata dengan tenang,
“Kalau mereka mau bergosip…”
“…biarkan saja.”
“Yang penting aku mengantarmu pulang dengan selamat.”
Suasana lobi langsung hening.
Rina yang melihat dari kejauhan sampai menutup mulutnya.
“Ya ampun…”
“Itu Pak Arga?”
Nayla sendiri hanya mampu menatap Arga tanpa berkata-kata.
Untuk pertama kalinya…
CEO dingin itu tidak lagi berusaha menyembunyikan rasa perhatiannya.
Dan untuk pertama kalinya pula…
Nayla merasa, mungkin memang sudah waktunya berhenti berpura-pura bahwa semua ini hanyalah hubungan antara atasan dan bawahan.
jd senam jantung🤧