NovelToon NovelToon
Setelah Benda-Benda Bicara, Seluruh Keluarga Berlutut Memohon Ampun

Setelah Benda-Benda Bicara, Seluruh Keluarga Berlutut Memohon Ampun

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri / Balas Dendam
Popularitas:25.9k
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Dibuang di tengah hujan oleh keluarganya sendiri, Keira Santoso nyaris mati — sampai sebuah lampu jalan BICARA padanya.

Sejak malam itu, dia bisa mendengar suara semua benda. Jantung yang mau mogok kerja. Kalung yang membisikkan rahasia. Berlian yang memanggilnya Tuan Putri.

Dan sentuhan seorang CEO tampan yang semua orang tak bisa menyentuhnya... adalah satu-satunya obat untuk keduanya.

Enam kakak yang dulu mengabaikannya? Sekarang rebutan memanjakannya.
Keluarga yang membuangnya? Berlutut memohon ampun.

Tapi Keira sudah menemukan rumahnya yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Bab 14

Sayangnya, ia belum tahu apakah ada yang bisa membeli satu malam tanpa suara.

Sabtu malam, pukul sebelas lewat, Keira turun ke dapur lantai satu dengan mata merah dan kepala yang terasa diisi kapas basah.

Kamar barunya terlalu ramai.

Lampu tidur curhat soal saklar yang gatal. Bantal mengeluh karena Keira bolak-balik terus. AC memperdebatkan filter dengan dirinya sendiri. Bahkan black card di meja sempat berbisik sombong tentang limit yang tidak praktis disebut manusia biasa.

Keira butuh air.

Begitu ia membuka pintu kulkas, suara berat yang malas menyambutnya.

"Eh, Nona. Nggak bisa tidur? Sama dong. Gue juga lembur dua puluh empat jam, cuma bedanya gue dibayar pakai listrik."

Keira mengambil botol air dingin. "Setidaknya kamu punya fungsi jelas."

"Pedas juga malam-malam."

Suara lain terdengar dari meja dapur.

"Kamu ngomong sama kulkas?"

Keira menoleh.

Pria berjaket jeans dari warung mie duduk di meja kecil, di depannya ada mangkuk mie instan setengah matang. Topinya sudah dilepas. Tanpa bayangan di wajah, kemiripan garis rahangnya dengan keluarga Tanuwijaya jadi jauh lebih jelas.

Keira menatapnya.

Pria itu juga menatapnya.

"Kamu tinggal di sini?" tanya mereka hampir bersamaan.

Keduanya terdiam.

Lalu pria itu tertawa lebih dulu. "Oke. Ini menarik."

Dari arah tangga, suara pelan Mei Lin terdengar. Ia muncul dengan cardigan tipis, mungkin terbangun karena mendengar suara di dapur.

"Kevin? Kamu pulang?"

Keira menoleh ke Mei Lin.

Kevin.

Pria itu mengangkat tangan santai. "Ma, cuma ambil mie. Kasus lagi ribet."

Mei Lin melihat Keira, lalu tersenyum lelah. "Kei, ini Ko Kevin. Anak kedua. Kevin, ini Keira."

Untuk sesaat, wajah Kevin berhenti pada satu ekspresi yang tidak main-main.

"Keira," ulangnya. "Gadis warung mie."

"Pria jaket jeans," balas Keira.

Mei Lin memandang mereka bergantian. "Kalian sudah bertemu?"

"Baru siang tadi," kata Kevin. "Dia bantu selamatkan nenek yang kolaps."

Mata Mei Lin melembut bangga. "Kei..."

Keira tiba-tiba merasa canggung. "Kebetulan saja."

Kevin menunjuk kursi. "Kalau kebetulanmu bisa menemukan obat di kantong dalam jaket orang lain, aku mau dengar versi lengkapnya."

Mei Lin melihat jam. "Jangan terlalu lama. Keira belum tidur."

"Siap, Ma."

Setelah Mei Lin kembali naik, Keira duduk di seberang Kevin. Kulkas menggumam, "Keluarga ini hobi kumpul tengah malam ya."

Kevin mengaduk mie instannya. Jaket jeans yang tergantung di sandaran kursi tiba-tiba berbicara, kali ini tidak bercanda.

"Bos stres berat. Kasus itu... tersangkanya mau cabut ke luar negeri jam empat pagi. Flight sudah di-booking. Kalau telat, korban bakal makin susah dapat keadilan."

Keira menatap jaket itu.

Kevin menangkap perubahan wajahnya. "Apa?"

Keira ragu setengah detik.

Lalu ia berkata, "Tersangka kasusmu mau kabur ke luar negeri jam empat pagi."

Sendok Kevin berhenti di udara.

Matanya berubah. Semua santai di wajahnya hilang, digantikan fokus tajam seorang detektif.

"Dari mana kamu tahu?"

Keira bersiap untuk pertanyaan lanjutan, curiga, dan tatapan seperti Dokter Jason pertama kali menatapnya.

Namun Kevin hanya melihat jaketnya, lalu kembali menatap Keira.

"Benda bicara padamu?"

Keira benar-benar diam.

Kevin mengangguk sendiri. "Oke."

"Oke?"

"Oke. Informasi diterima. Aku percaya."

Keira menatapnya, tidak yakin mendengar dengan benar.

Kevin menyuap mie, lalu berkata, "Dalam pekerjaanku, orang yang selamat sering tahu hal yang tidak masuk akal menurut laporan resmi. Intuisi, trauma, detail kecil, apa pun namanya. Kalau kamu bilang jaketku bicara, aku bisa panik nanti. Sekarang kita pakai informasinya dulu."

Ada sesuatu yang hangat dan tajam menusuk dada Keira.

Pertama kali, seseorang tidak memaksanya membuktikan kewarasan sebelum percaya pada kegentingan.

"Kasus apa?" tanyanya.

Wajah Kevin mengeras.

"Mahasiswi Universitas S. Namanya Wulan Puspitasari. Jawa, seni rupa. Dia punya prosopagnosia, sulit mengenali wajah. Selama dua minggu, seseorang menyamar sebagai pacarnya, Jovan Tjandra."

Keira mengenal nama Wulan. Mereka pernah satu kelas umum, gadis blak-blakan yang selalu membawa tote bag penuh cat.

Kevin melanjutkan, suaranya tetap terkendali. "Orang itu memanfaatkan kondisi Wulan. Bersikap lebih manis dari Jovan yang asli, menjemput, mengantar, membangun kepercayaan. Saat situasi menjadi tidak aman, Wulan sadar ada detail tubuh yang berbeda. Punggung pria itu tidak punya tahi lalat yang seharusnya ada pada Jovan. Dia melawan dan kabur."

Keira merasakan jarinya mengencang di botol air.

"Dia lapor?"

"Lapor. Tapi bukti minim. CCTV tempat itu rusak. Tidak ada saksi yang melihat jelas. Jovan asli malah memaksa dia mencabut laporan karena malu."

Kevin mengeluarkan ponsel. "Aku baru dapat info tersangka mungkin akan pergi jam empat pagi, tapi belum tahu siapa. Kami curiga lingkaran Tjandra. Aku perlu detail baru dari Wulan."

Ia menelepon.

Panggilan tersambung setelah beberapa nada. Suara perempuan terdengar serak, lelah, tetapi masih keras.

"Ko Kevin?"

"Wul, ini aku. Kamu aman?"

"Aman sih, kecuali pacar bodohku dari tadi nyuruh aku cabut laporan."

Di latar belakang, suara laki-laki terdengar emosi. "Wulan, ini bikin malu keluarga! Kamu nggak ngerti dampaknya!"

Wulan membentak, "Yang bikin malu itu pelaku, bukan aku!"

Keira langsung menyukai Wulan sedikit lebih banyak.

Kevin menutup speaker sebagian. "Wul, dengar. Ada kemungkinan pelaku mau keluar negeri jam empat pagi. Aku butuh detail apa pun yang kamu ingat. Bukan wajah. Benda, bau, suara, aksesori."

Wulan terdiam.

Napasnya terdengar gemetar. Lalu ia berkata, "Tangan kanan. Aku ingat waktu dia pegang stir. Ada cincin. Batu hijau tua. Aku pikir cincin Jovan baru, tapi waktu aku tanya Jovan asli, dia nggak punya cincin begitu."

Jaket Kevin berbisik cepat, "Cincin batu giok. Tangan kanan. Club malam. Grand Orchid. Bos sempat lihat foto lingkaran Tjandra minggu lalu."

Keira menutup mata sesaat, lalu berkata, "Cincin batu giok di tangan kanan. Grand Orchid Club."

Kevin menatapnya.

Di telepon, Wulan terdiam. "Siapa itu?"

"Keira," kata Keira. "Teman kampusmu. Wulan, jangan cabut laporan."

Ada jeda.

Lalu Wulan berkata, suaranya serak tapi tajam, "Aku nggak kenal dekat sama kamu, tapi kalimat itu lebih waras daripada semua yang kudengar hari ini."

Kevin sudah berdiri. "Wul, kunci pintu. Jangan pergi ke mana pun. Aku akan bergerak."

Ia memutus panggilan dan mengambil jaket.

"Grand Orchid Club," katanya. "Kalau info jaketku benar, salah satu orang di sana punya cincin itu dan flight jam empat."

Keira berdiri. "Aku ikut."

"Kamu belum tidur."

"Justru karena belum tidur, aku sudah telanjur menderita. Sekalian berguna."

Kevin menatapnya dua detik, lalu tersenyum tipis.

"Baik. Tapi di lapangan, dengar instruksiku."

"Kalau instruksimu masuk akal."

"Keluarga ini ternyata memang suka negosiasi."

Kulkas berbisik, "Bawa jaket. Malam dingin. Aku kulkas, aku paham dingin."

Keira mengambil cardigan dari kursi.

Lima jam sebelum pesawat itu berangkat, Keira dan Ko Kevin keluar dari Mansion Tanuwijaya menuju Grand Orchid Club.

1
lin sya
kluarga gk tahu malu, stlh tau kbnarannya ngomong ttg kluarga. pdhl dulu kei anak yg diabaikan dan disakitin. skrg dtg dgn tmpg gk brsalah🤭
Dey77
baru awal baca,
semangat thor💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!