Zia Clarissa Humaira, seorang santriwati cerdas dan cantik, setia pada janji perjodohan yang diatur oleh sang kiai dengan seorang santri senior kepercayaan pesantren. Zia percaya perjodohan ini akan berakhir indah. Namun, janji itu runtuh saat ia mendapati sang lelaki diam-diam mencintai wanita lain yang ternyata sahabat dekatnya sendiri. Tanpa pernah ada kata selesai, Zia dibuang dalam keheningan dan digantung tanpa kepastian.
Saat ia mengira dunianya telah usai, takdir menuntunnya pada sosok yang tak pernah ia perhitungkan sebelumnya. Seorang lelaki yang selama ini memendam rasa dalam senyap, kini maju memasang badan untuk membalut luka Zia.
Akankah kehadiran lelaki misterius ini mampu meruntuhkan trauma masa lalu Zia dan mengembalikan senyumnya yang sempat hilang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Alhabsyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DZ~01
Suasana ramai dan damai terdengar di sekeliling kompleks pesantren. Suara para santri yang sedang tikroran terdengar jelas dari aula depan, bersahutan dengan suara para ustad yang sedang menjelaskan pelajaran di aula sebelah.
Tangan perempuan bermata teduh itu memeluk kitab Risalatul Mahid. Zia Clarissa Humaira namanya. Di pondok ini, ia bukan santri biasa. Abah dan Umi memberikan kepercayaan besar padanya untuk memimpin kepengurusan pondok. Zia memang cerdas, lihai mengatur strategi, dan yang paling penting ia santun. Tak heran jika semua rekan santri bahkan teman sekelasnya menaruh simpati yang besar pada gadis manis itu."
Zia berjalan sambil tersenyum ramah ke arah kota santri itu. Menikmati indahnya lantunan tikroran adik-adik kelas.
Pagi itu, Zia diminta Umi untuk mengantarkan barang terlebih dahulu ke area depan kompleks ndalem. Setelah selesai, ia bersiap melangkah menuju aula asrama putri untuk mengajar para santri.
Di tengah perjalanan, ia berpapasan dengan beberapa ibu-ibu tetangga pondok yang sedang berjalan. Dengan takzim, Zia menyapa sambil sedikit menundukkan kepalanya.
"Ibu..." Zia mengulurkan tangan, menyalami ketiga ibu tersebut satu per satu.
"Dari mana, Ibu?" tanya Zia lembut.
"Habis beli sayur, Mbak," jawab salah satu dari mereka, membalas dengan senyum yang tak kalah hangat. "Mau mengajar, Mbak?"
"Iya, Ibu. Tadi diminta mengantarkan barang dulu ke depan, jadinya lewat jalur sini."
"Oh, iya, Mbak. Ya sudah, silakan dilanjutkan."
"Mari, Ibu. Permisi." Zia melangkah mundur dengan penuh hormat, tetap menundukkan kepala sampai jarak memisahkan mereka.
Begitu sampai di kelas, ia menarik napas dalam-dalam.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh!" jawab para santri putri serentak.
"Bismillahirrahmanirrahim..." Zia membuka kitabnya, memulai pelajaran dengan takzim.
***
"Res, kitabku di mana, ya?!" tanya Zizan, suaranya sudah naik lebih tinggi karena panik.
Ares, yang sedang terkapar tak berdaya di lantai akibat kelelahan setelah kerja bakti membersihkan halaman asrama, menjawab dengan nada lemas.
"Ya, mana kutahu. Kemarin habis ngaji kamu taruh di mana?"
"Aku lupa! Perasaan di sini, deh." Zizan mengacak-acak tumpukan kitab di lemari. Lemari yang tadinya tertata rapi dan estetis, dalam sekejap berubah wujud menyerupai gunung setelah erupsi akibat ulahnya.
"Coba diingat-ingat lagi. Kemarin habis gajar langsung pulang ke kamar nggak?" tanya Andi tetangga kamarnya yang sedang dengan posisi yang sama-sama tergeletak di lantai bersama Ares. Matanya merem, tetapi suaranya sudah mulai terdengar jelas, tidak mengelantur lagi seperti orang baru bangun tidur.
Zizan mengetuk-ngetuk dahinya, mencoba memeras otak. "Perasaan habis ngajar, aku..." Matanya tiba-tiba melotot. Bayangan kejadian kemarin siang di depan ndalem Abah mendadak berputar di kepalanya.
"Oh, iya! Ndi, Res! Kemarin setelah selesai mengajar, aku dipanggil Abah ke ndalem. Terus kitabnya aku taruh di meja teras depan! Aku cari ke sana dulu, deh!"
Sambil tergesa-gesa, Zizan menyambar pulpen dan peci yang berada di gantungan baju. "Makasih ya, Res, Ndi! Aku berangkat ngaji dulu. Assalamu'alaikum!"
Zizan berjalan dengan tergesa-gesa karena jam pelajaran hampir dimulai.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Ares lemas tanpa membuka mata. "Dasar manusia labil," gerutunya pelan, kembali menikmati dinginnya lantai asrama.
***
Sesampainya di teras ndalem, keringat dingin mulai mengalir di dahi Zizan. "Kok tidak ada? Di mana, sih?" Ia melihat setiap sudut meja dan kursi, namun tidak ada hasil.
Ia melirik jam tangan digitalnya.
"Hah?! Sudah jam 08.45!
Waduh, bisa habis aku kalau telat!" batinnya.
"Mau tanya siapa, coba? Enggak ada orang lewat lagi." Zizan menoleh ke kanan dan ke kiri. "Ke dapur ndalem saja, deh. Tanya mbak-mbak khadimah, siapa tahu mereka yang beresin." Zizan pun memutar arah lewat jalur samping.
Sebelum melangkah lebih jauh, Zizan mengambil napas dalam-dalam. "Bismillah, Zizan. Tenang! Jaga image-mu yang cool itu. Jangan kelihatan gugup, jangan panik, dan jangan senyum-senyum sendiri," ia membatin, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Zizan adalah tipe santri putra yang terkenal dingin, cuek, irit bicara, dan sangat menjaga jarak dengan santri putri. Istilahnya jual mahal demi harga diri.
Ia sampai di depan pintu dapur yang terbuka lebar. Setelah menata debaran jantung dan mengatur ekspresi wajahnya agar kembali sedingin es kutub Utara, ia melangkah masuk.
"Huuufft... Bismillah."
Zizan memberanikan diri melangkah melewati koridor dapur yang sangat bersih. Tiba-tiba, hidungnya mencium aroma masakan yang sangat tidak ramah untuk perutnya yang belum sarapan.
"Masak apa, sih? Enak banget wanginya. Duh, gulai ayam pula!" batin Zizan meronta, meruntuhkan sedikit pertahanan cool-nya.
Begitu sampai di ambang pintu dapur utama, terdengar suara tawa dan gurauan dari para santri putri yang sedang bertugas. Namun, begitu bayangan Zizan muncul, suasana mendadak hening seketika.
"Assalamu'alaikum, Mbak," ucap Zizan datar, mengalihkan pandangannya ke arah dinding samping agar tidak menatap langsung ke arah kerumunan santri putri.
"Wa'alaikumussalam, Kang," jawab para santri putri dengan suara berbisik, terkesima sekaligus tegang melihat "pangeran es" pesantren mendadak muncul di wilayah kekuasaan mereka.
Zizan mendadak kaku. Ia bingung harus bicara apa di depan beberapa pasang mata yang kini beralih fokus menatapnya. Beruntung, matanya menangkap sosok Rara, keponakannya yang seumuran dan menjadi abdi ndalem di sana. Zizan langsung melangkah mundur, bersembunyi di balik pilar pembatas agar tubuhnya tidak terlihat oleh santri putri yang lain. Tersisa Rara dan satu santri putri lagi yang berada di dekat jangkauan pandangnya.
"Oke, aman. Posisi strategis," batin Zizan lega.
"Mbak, tolong panggilkan Rara," pinta Zizan setengah berbisik kepada Sinta yang kebetulan sedang memotong sayur di dekat situ.
"Oh, iya, Kang," jawab Sinta canggung.
"Ra, dipanggil tuh."
"Eh, iya?"
Rara melangkah maju menemui pamannya. Sambil berjalan, ia mencuci tangannya yang kotor terkena getah sayur di wastafel tepat di samping Zizan.
Crat!
Karena terlalu bersemangat, Rara mengibaskan tangannya dan membuat airnya jatuh di wajah manis Zizan. Zizan terkejut. "Rara!"
tegur Zizan sedikit berbisik kesal, menahan diri agar tidak berteriak.
Rara kaget, baru menyadari kecerobohannya. "Astaghfirullah! Maaf, Kak!" Ia menyengir tanpa dosa. Meskipun status mereka adalah paman dan keponakan, Zizan dengan keras melarang Rara memanggilnya "Paman" atau "Om" di area pondok. Alasan utamanya adalah gengsi. Dipanggil "Om" di depan santri putri akan merusak reputasinya sebagai santri muda yang karismatik.
"Hih, cepat ke sini!" bisik Zizan sewot.
Zizan boleh saja terlihat sedingin kulkas dua pintu di depan santri putri lain, tetapi kalau sudah berhadapan dengan keluarganya sendiri, mode "jaim"-nya langsung hilang tanpa sisa.
"Iya, iya, sebentar." Rara mengambil lap handuk. "Ada apa, Kak?"
"Kamu lihat kitabku di meja teras kemarin nggak?" tanya Zizan lirih, celingukan takut ada yang menguping.
"Kitab? Kitab apa?"
"Kitab shorof! Kemarin sore aku taruh di depan setelah mengajar karena dipanggil Abah."
"Aku tidak lihat. Sebentar, aku tanyain ke yang lain." Rara berbalik badan.
"Mbak, ada yang lihat kitab shorof di meja teras depan kemarin sore nggak?"
"Tidak ada yang lihat, Ra!" sahut suara dari dalam dapur.
Rara kembali menatap pamannya sambil mengedikkan bahu.
"Enggak ada yang lihat, Kak."
"Aduh, gimana ini bentar lagi jam ngajinya dimulai," gumam Zizan frustrasi. Kebijaksanaan dan ketenangannya hilang entah ke mana.
Di tengah kepanikan Zizan, seorang gadis cantik, putih dan tinggi, muncul dari arah pintu belakang. Gadis itu adalah Zia. Langkah Zia terhenti mendadak. Ia terkejut melihat seorang santri putra yang terkenal anti-santri putri sedang berdiri di area dapur ndalem. Mata mereka tidak sengaja bertemu. Tiga detik penuh ketegangan, sebelum akhirnya kedua pasang mata itu kompak menunduk ke arah lantai, menjaga pandangan.
"Oh, maaf... Permisi, boleh lewat?" tanya Zia halus, memecah kecanggungan.
"Oh, iya, Mbak Zia. Silakan," jawab Rara ramah sambil menggeser tubuhnya memberi ruang.
Zia melangkah cepat dengan kepala menunduk melewati Zizan. Sementara Zizan terdiam di tempat, mendadak kembali ke mode patung es demi menjaga image nya yang hampir retak.
"Udahlah, Kakak pinjam punya temannya aja dulu," usul Karin memberi solusi. "Daripada nanti Kakak telat lalu dihukum Abah, berabe kan?"
"Enggak bisa, Ra! Di dalam kitab itu ada lembaran daftar nilai santri!" bisik Zizan frustrasi.
Zia yang belum berjalan terlalu jauh tak sengaja mendengar potongan obrolan panik tersebut. Jalannya sedikit melambat. "Kitab shorof? Di meja teras kemarin sore? batin Zia menyambungkan benang merah.
Zia membalikkan badannya sedikit, tanpa menatap langsung ke arah Zizan.
"Maaf... Apakah yang sedang dicari adalah kitab shorof bersampul cokelat yang ada di meja teras kemarin?"
Zizan refleks mendongak, matanya berbinar. "Ah, iya! Benar! Kamu lihat, Mbak?!" tanya Zizan, hampir saja melompat kegirangan dan melupakan seluruh kata "jaga image" yang ia bangun bertahun-tahun. Sadar dirinya terlalu senang, Zizan berdeham berat, merapikan kerah bajunya, dan mengubah suaranya agar terdengar berat dan dingin. "Maksud saya...
Ehem, maaf, Mbak. Kamu tahu di mana kitab itu sekarang?" tanya Zizan sok-cool, sedingin detektif di film-film.
Rara yang melihat perubahan drastis pamannya langsung menyenggol lengan Zizan dengan gemas. Ia berbisik sangat lirih, "Ih, Kak! Jangan sok-galak gitu sama Mbak Zia. Dia itu ustazah senior di sini, jangan sok-jaim, nggak sopan tahu!"
"Hust! Diam kamu, bocil," bisik Zizan.
Rara mendengus sebal.
"Hih!"
Zia menahan senyum tipis melihat tingkah paman dan keponakan itu. "Kemarin waktu saya sedang membersihkan meja depan, saya melihat kitab itu dan tertera nama kamu, karena khawatir kitabnya hilang atau terkena hujan, jadi saya amankan dulu. Dan tadi pagi jam tujuh sudah saya titipin ke Kang Ares yang sedang menyapu halaman depan."
Mendengar nama itu disebut, mata Zizan mendadak melotot. Rasa paniknya berganti menjadi rasa kesal.
"Apa?! Ares?!"
Zizan mengepalkan tangannya. "Muhammad Areskha Khalif!!! Awas kamu ya, habis kamu sama aku!" gumamnya lirih. Zizan pun buru-buru berpamitan sedikit berbisik lalu pergi kembali ke asrama putra untuk membalas dendam kepada Ares.
Ini buku pertama author Emma Alhabsy yng aq baca