Dua Remaja yang sama sekali tidak saling mengenal, yang harus di nikahkan secara paksa oleh kedua orang tua nya.
Kedua orang tua mereka menikahkan mereka berdua akibat perjanjian yang telah di sepakati orang tua mereka dulu.
Apakah mereka akan menerimanya? dan bagaimanakah takdir kisah mereka selanjutnya?
Ikuti terus takdir kisah mereka di dalam cerita ini.
Happy Reading❤️🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cillato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiap Hari tanpa berdebat
Mobil terus melaju di tengah hujan yang sangat lebat, hingga tak terasa mereka berdua telah sampai di rumah.
Mama Indah yang mendengar suara mobil Leon, langsung bergegas menghampiri mereka dengan raut wajah yang khawatir.
Wanita paruh baya itu semakin khawatir ketika melihat Lea menggigil kedinginan, dia langsung mengajak mereka berdua untuk masuk ke dalam rumah.
"Ya ampun, kenapa kalian basah basahan gini. Lea, kamu darimana nak baru pulang jam segini? Kamu gk apa apa kan?". Tanya Mama Indah bertubi tubi karena mengkhawatirkan keadaan gadis itu
Lea yang dalam kondisi saat ini tidak mampu menjawab semua pertanyaan dari Mama Indah, dia masih trauma akan kejadian tadi. Tubuh nya gemetaran karena kedinginan dan ketakutan.
Leon yang melihat ekspresi Lea seperti itu langsung menarik Lea dari Mama Indah dan merangkul gadis itu.
"Ma biar Lea ke kamar dulu ya buat istirahat, nanti Leon jelasin ke Mama". Ucap Leon kepada Mama Indah
"Iya sudah, Jangan lupa kalian berdua mandi ya biar gk masuk angin habis kehujanan". Perintah Mama Indah kepada mereka berdua
Leon pun hanya menganggukan kepala nya, pertanda mengiyakan perkataan dari Mama nya.
Laki laki itu langsung membawa Lea dengan cara memapah nya menuju kamar mereka, dia membukakan pintu kamar dan juga pintu kamar mandi untuk menyuruh wanita itu membersihkan badan nya terlebih dahulu.
Leon sangat telaten mengurusi Lea, sampai sampai ia mengisikan bathub dengan air hangat untuk membersihkan tubuh wanita itu.
Lalu Leon merangkul Lea kembali, namun wanita itu menepis tangan Leon di pundak nya. Dia menatap tajam ke arah Leon lalu bergantian menatap ke arah pintu kamar, wanita itu mengisyaratkan kepada Leon agar lelaki itu keluar dari dalam kamar.
Leon pun menuruti keinginan Lea, untuk sekarang yang terpenting mental Lea. Leon sangat merasa bersalah akibat diri nya wanita itu hampir saja di nodai oleh orang orang mabuk tadi, Leon tidak bisa membayangkan jika dirinya tidak pergi ke sana, apa yang akan terjadi pada Lea.
Leon masih tetap setia menunggu Lea di lur kamar nya, sudah beberapa menit lama nya dia menunggu hingga terdengar suara pintu kamar terbuka
Cekkleek..
Terlihat sosok Lea, dari aroma tubuh nya mengeluarkan wewangian sabun yang telah di pakai nya, dengan rambut yang masih basah seakan menambah kesan seksi natural membuat Leon terpaku beberapa detik.
"Ngapain Lo ngeliatin gue sebegitu nya, terpesona lo". Ujar Lea
"Ciihh najis, minggir gue juga mau mandi". Ucap Lea menyangkal ucapan dari wanita itu
Setelah mandi, Leon segera berjalan menuju di mana Mama nya berada. Setelah melihat jika Mama nya sudah menunggu di Ruang Tamu, Leon pun bergegas menghampiri Mama Indah.
Leon langsung menjelaskan semua nya dengan detail oleh Mama Indah, dia mengaku jika salah dan telah meninggalkan Lea di tempat kosong itu. Namun saat Mama Indah sudah emosi tinggi, tiba tiba Lea datang dan membantah ucapan dari Leon
"Maaf Ma, semua kata kak Leon itu tidak benar. Kak Leon gk salah kok Ma, jadi Mama jangan marahin kak Leon, karena memang Lea yang gk mau di bilangin". Ucap Lea menjelaskan
"Hah? Trus sebenar nya mana yang benar ini??". Tanya Mama Indah yang sedang kebingungan mendengar penjelasan dari mereka berdua yang tidak sama
"Lea Ma, Maafin Lea ya Ma, sudah buat Mama khawatir gini". Ucap Lea memelas
"Hemm, yaudah gk apa apa. Lain kali kabarin Mama dulu ya kalau pulang telat, biar Mama tahu dan gk khawatir gini". Ujar Mama Indah tersenyum kepada Menantu nya itu
Jujur saja Mama Indah sudah sangat menyayangi Lea seperti anak kandung nya sendiri, bahkan dulu wanita paruh baya itu sangat menginginkan Anak Perempuan. Namun takdir berkata lain sampai saat ini pun, Mama Indah dan Papa Herman belum di karuniai Anak Perempuan. Jadi setelah Leon menikah dengan Lea, Mama Indah menganggap Lea anak nya sendiri.
Lea pun menganggukan kepala nya, dan wanita itu pun langsung pamit ke kamar nya karena merasa sangat lelah dan kurang enak badan. Leon yang menyadari nya pun mengikuti dan menarik lengan wanita itu.
"Kenapa Lo bohongin Mama hah?". Tanya Leon bingung
"Ya trus kenapa? Emang ada masalah buat lo?". Ujar Lea malas
"Ya untuk apa lo lakuin itu semua, mau sok jadi pahlawan gitu? ciihh gue gk minta lo kasihani!". Ucap Leon Ketus
"Sorry, gue capek! Gue males sekarang berdebat sama lo". Ucap Lea dengan nada malas sambil menghela nafas nya dan menatap ke arah Leon
Lea langsung berjalan ke lantai dua, setelah sampai di depan kamar nya ia langsung masuk ke dalam kamar dan mengambil selimut dan juga bantal untuk mencari posisi nya ternyaman untuk merebahkan tubuh nya.
Bahkan sangking lelah nya tubuh Lea saat ini, wanita itu tertidur hanya memerlukan waktu beberapa detik saja.
Leon yang baru masuk juga ke dalam kamar, bisa melihat jika wanita itu sudah tidur dengan nyenyak. Ada rasa kasihan dan rasa penyesalan Leon saat melihat Lea yang sedang tertidur saat ini
Dengan perlahan Leon melangkahkan kaki nya menuju ranjang di mana wanita itu sedang tertidur, di tatap nya wanita yang sedang memejamkan mata nya itu.
Setelah beberapa menit menatap Lea yang sedang tertidur, Leon pun membalikkan tubuh nya dan berjalan menuju Sofa biasa nya yang ia gunakan untuk tidur.
Sebelum berjalan lengan Leon di tahan oleh tangan Lea, wanita itu mencekal pergelangan tangan Leon seolah olah tidak membiarkan lelaki itu beranjak pergi dari sana.
Tiba tiba Lea mengerang kedinginan, wanita itu tiba tiba menggigil dengan mata yang masih terpejam. Sontak saja Leon langsung mendekat dan segera mengecek keadan Lea.
Ternyata wanita itu sedang demam tinggi, suhu badan nya sangat terasa panas. Leon tentu saja panik, dia langsung bergegas mengambil handuk kecil dan air hangat di kamar mandi nya untuk mengompres wanita itu.
"Leaaa..". Lirih Leon yang tak tega melihat kondisi Lea yang masih menggigil
"Bapak, Ibu. Lea gk mau ada di sini". Erang Lea
Leon yang mendengar perkataan Lea hanya mampu menatap wanita itu dengan tatapan yang sangat sulit di artikan, setelah mengompres berulang kali. Dia langsung kembali tidur di bawah namun lagi lagi tangan Lea menahan nya.
"Ibu, jangan pergi. Temani Lea di sini ya". Lirih Lea yang masih mengigau
Lea saat ini enggan melepas tangan Leon dan semakin mengeratkan genggaman tangan nya pada Leon. Lelaki itu menghela nafas nya dan langsunh naik ke atas ranjang, lalu berbaring di sebelah wanita itu.
"Huuhh, jangan salahin gue ya besok pagi. Ini semua Lo yang mau bukan Gue!". Ujar Leon