NovelToon NovelToon
Headline 29

Headline 29

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Lindra Ifana

"Kapan kamu nikah? Temen temen kamu bahkan udah ada yang punya dua anak. Ibu udah pengen gendong cucu."

Kata kata itu terdengar sederhana tapi selalu terngiang di otak Aurel. Dia hanya ingin mencari yang terbaik untuk hidupnya, karena baginya seorang suami adalah partner seumur hidupnya.

Seperti kisahnya lima tahun yang lalu, yang sudah terlalu yakin dengan pilihan hatinya. Tapi nyatanya hanya pengkhianatan yang ia dapat. Pria itu lebih memilih wanita yang lebih seksi dan bisa dibanggakan untuk di bawa.

Aurel hanya masih mencari, apa itu salah? Tapi bagaimana jika pemujanya sekarang adalah CEO kaya raya yang umurnya jauh lebih muda darinya? Apa itu akan menjadi cinta sejatinya? Atau hanya angin lalu yang akan lewat begitu saja?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lindra Ifana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

lnterogasi Calon Mertua

Sarwina duduk di sofa teras kos putrinya sejak jam setengah lima sore tadi. Dia datang karena ada sesuatu yang ingin ia bicarakan. Duduknya tidak tenang, tangannya meremas tas bahu di pangkuan dengan mata sesekali melirik ke ujung jalan. Sudah satu jam ia menunggu.

Kalimat Aurel beberapa hari yang lalu masih terngiang, Bu Aurel sudah di lamar

Kalimat itu terlalu cepat. Terlalu mendadak. Setahu Sarwina status putrinya sedang sendirian. Tidak ada cerita kencan, tak ada seorang pria pun yang pernah di bawa ke rumah untuk dikenalkan padanya.

Tepat ketika suara adzan magrib berkumandang, Avanza warna silver datang dan berhenti di depan kos. Sarwina tahu itu mobil putrinya, dia berdiri tak sabar.

Aurel turun dengan wajah lelah. Blazernya masih rapi, tapi matanya sembab karena seharian meeting. Ia terkejut melihat sosok yang berdiri menunggunya di teras.

"Bu?" Aurel cepat menghampiri, mencium tangan Sarwina. "Kok Ibu duduk di sini? Kan bisa langsung masuk ke kamar Aurel. Ibu kan punya kunci cadangannya," ujar Aurel salam takzim pada ibunya.

Sarwina mengusap pipi Aurel. "Ibu kangen. Sekalian... Ibu mau bicara."

Aurel mengangguk, tahu benar apa yang nantinya akan ibunya bicarakan.

Akhirnya mereka masuk ke kamar kos.

Setelah selesai sholat Maghrib Sarwina langsung to the point. Ia duduk di tepi ranjang, menepuk sisi ranjang sebelahnya.

"Duduk sini Rel."

Aurel menuruti permintaan ibunya, ia duduk tepat di samping Sarwina. Jantungnya berdegup tidak karuan. Siap tidak siap dia harus menceritakan kebenarannya.

Sarwina menatap mata putrinya dalam-dalam. "Jujur sama Ibu. Siapa yang melamar kamu? Kapan kamu kenal dia? Kenapa kamu bilang sudah dilamar, padahal Ibu tahu kamu belum punya pacar?"

Nada Sarwina tidak marah, tapi tegas.

Sebelum menjawab Aurel terlihat beberapa kali menghela nafasnya. "Dia pria yang baik Bu," hanya itu jawaban yang keluar dari bibirnya.

"Namanya siapa, Rel?" desak Sarwina pelan.

Aurel terdiam. Belum sempat menjawab, dan terdengar bunyi suara pintu yang diketuk.

TOKK...TOKKK

Pintu diketuk pelan.

"Rel, di depan ada tamu buat kamu," suara teman kos terdengar.

"Dita?"

"Bukan, yang tempo hari jemput kamu buat sarapan," jawab tenan kosnya mengangguk sopan ketika melihat keberadaan Sarwina.

Aurel langsung membeku, Adrian. Sepertinya semua memang harus terbuka sekarang, mungkin sudah saatnya ibunya bertemu dengan pria itu.

Sarwina menoleh cepat. "Pacar kamu ya?"

Sebelum mendengar jawaban dari putrinya Sarwina beranjak. "Ya sudah ibu yang akan menemui dia, kamu mandi dulu terus sholat. Sudah jam setengah tujuh lebih, waktunya mepet bentar lagi udah isya. Kalau sudah selesai nanti nyusul ke depan."

Aurel hanya mengangguk, membiarkan ibunya keluar kamar dan pergi ke teras depan.

Sampai di teras depan mata Sarwina mengernyit, melihat pria muda dengan badan tinggi tegap duduk dan tersenyum ramah ketika melihat dirinya datang. Hanya mengenakan kaos putih berpadu celana jeans. Di tangannya membawa plastik transparan berisi dua kotak nasi box dan dua cup es teh jumbo.

"Selamat malam, Bu. Saya Adrian."

Sarwina menatap dari ujung rambut sampai ujung kaki. Penampilan sederhana. Tapi aura wibawa pria muda itu tidak bisa disembunyikan.

"Kamu Adrian?" tanya Sarwina. "Pacar Aurel yang katanya sudah melamar dia?"

Adrian mengangguk. "Benar Bu," jawab Adrian mantap. Sudah atau belum bukan menjadi masalah karena niatnya memang membawa hubungan ini ke jenjang lebih serius. Pernikahan.

Sarwina menyilangkan tangan di dada, sepertinya Interogasinya kini berpindah target. "Kalau kamu pacarnya, kenapa baru sekarang muncul? Kenapa Aurel tidak pernah cerita? Kamu kerja apa?"

Pertanyaan beruntun, pertanyaan yang wajar dari seorang ibu yang melindungi putrinya.

Adrian sedikit gugup, bagaimanapun ini pertama kalinya dia bertemu dengan calon ibu mertuanya.

"Bu, saya bekerja di perusahaan...."

"Di bagian kantor apa di lapangan?" sahut Sarwina tak sabar bahkan sebelum Adrian selesai menjawab pertanyaannya.

"Di kantor Bu, tapi sesekali saya turun ke lapangan untuk memastikan semua pekerjaan berjalan dengan baik," jawab Adrian jujur. Dia memang tak selalu duduk di kantor, ada kalanya dia dan Dimas ataupun Dion harus keluar memastikan semua pekerjaan selesai dengan sempurna.

"Oooo jadi kamu orang penting di perusahaan ya," lirih Sarwina lega, setidaknya pria yang dekat dengan putrinya mempunyai pekerjaan cukup baik. "Dan orang tua kamu? Kamu bener bener punya niat nikahin Aurel?"

"Ibu di rumah, beliau senang berkebun dan suka sekali merajut. Kalau ayah sekarang lagi bekerja di luar negeri, Australia Bu," jawab Adrian jujur. Ayahnya, Wibowo Dirgantara sedang membangun anak perusahaan Dirgantara di negara kangguru itu." Dari awal bertemu putri lbu saya sudah punya niat serius."

Sarwina mengangguk, Adrian terlihat masih sangat muda tapi sorot mata pria itu sangat tulus. Bayu tetap menjadi kandidat terbaik, tapi ia tak bisa memaksa Aurel untuk menerimanya. Setidaknya Adrian sudah bekerja dan berniat baik pada putrinya.

Adrian melihat nasi box dan es teh yang ia letakan di meja, dia tahu mata calon ibu mertuanya sekilas melihat apa yang dibawanya tadi.

"Maaf saya tadi tidak tahu jika ibu datang, saya hanya bawa...."

"Tidak apa apa Nak, tadi ibu juga bawa nasi dari rumah. Ada Pete goreng cah kangkung sama ikan asin. Kita makan sama sama saja, ibu bawa banyak," sahut Sarwina, dia tahu Adrian pasti tidak enak karena hanya membawa dua porsi makanan.

Tidak apa apa jika putrinya mencintai pria sederhana yang hanya mampu membeli dua bungkus nasi box. Tapi perhatian dan ketulusan Adrian mampu membuktikan jika pria itu pantas diberi kesempatan.

"Terima kasih Bu," ucap Adrian, sedikit jeda. "Jika Ibu meminta saya menikahi Aurel secepatnya... saya siap. Saya tidak akan menundanya karena putri lbu adalah masa depan saya."

Hening.

Sarwina terdiam. Pria di depannya tidak bicara banyak. Tapi setiap kata yang keluar... berbobot.

Sementara di dalam kamar Aurel baru saja selesai sholat, hatinya tenang. Dia yakin Adrian bisa menghadapi ibunya. Jikapun nantinya batu sandungan itu berasal dari ibunya maka mereka akan menghadapinya bersama.

1
Nur Ahmad
ceritanya ringan, CEO tapi merakyat
Mida
lanjut kak 💪
Nur Ahmad
uhuy jadian
Nur Ahmad
cemburu sama dengan cinta
lia juliati
🤭😄
Mida
lanjut kak jadi penasaran 🤭
Lindra: dukung terus yaaa🙏
total 1 replies
Rian Moontero
mampiiiirrr😍
Lindra: tengkiuuhhh sayangkuhh🙏🙏
total 1 replies
Mira Hastati
bagus
Lindra: terimakasih dukungannya 🙏
total 1 replies
Nur Ahmad
🤣🤣🤣
Nur Ahmad
Adrian 😍😍😍
Nur Ahmad
co cuiittt
Nur Ahmad
uhuy kencan nih double A
Nur Ahmad
menunggu memang tak enak
Nur Ahmad
ceritanya lebih ringan dari novel emak kmrn yg aku baca
🦋⃞⃟𝓬🧸𝓩𝓮𝓵𝓵𝔂𝓷
/Applaud/
T.N
sempurna .... semangat kaka suka sekali sama karya-karyanya
Lindra: Terimakasih sudah ikut meramaikan karya emak🙏🙏
total 1 replies
Nur Ahmad
start disinii
Zul Denayu
Lanjut kak 💪💪🌹🌹🌹
lia juliati
itulah bila hati berkehendak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!