Mengerahkan segenap kekuatannya, Arya menyerang Alam Dewa!
Awalnya Arya ditugaskan para dewa untuk memburu Pangeran Kegelapan yang telah menciptakan berbagai teror di dunia. Namun, di balik tugas ini, ada konspirasi yang busuk!
Para dewa rupanya berusaha melenyapkan keabadian dan kekuatan sang ayah yang ada di dalam dirinya. Kelak Arya akan memimpin perang melawan para dewa. Di perang besar ini dia akan menunjukkan kehebatan dan kesaktiannya yang tiada tara!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SPK 1
"Arya, cepat bersihkan kandang kuda. Setelah itu kuras bak mandi, lalu isi kembali sampai penuh!" perintah seorang lelaki berumur 22 tahun, dengan muka terangkat dan kedua tangan berkacak pinggang.
Di belakang lelaki muda tersebut, dua orang yang sepantaran dengannya juga menunjukkan sikap tak kalah sombongnya. Mereka tertawa menyeringai memberikan ejekan yang begitu menghina.
Di depan mereka bertiga, seorang pemuda berusia sekitar 21 tahun sedang berlutut sambil memegangi perutnya yang terasa sedikit nyeri. Pakaian putih yang dikenakannya penuh dengan kotoran tanah di bagian depan, dan ada bekas noda berbentuk tapak kaki di bagian punggungnya.
Pemuda bernama Arya itu hanya menunduk diam. Rahangnya mengeras dan tangannya terkepal kuat meremas pakaiannya. Ingin dia membalas perlakuan yang diberikan lelaki di depannya itu, tapi dia langsung teringat pesan dari kedua orang tuanya.
"Apa kau tidak bisa menyuruhku tanpa harus memukul atau menendang, Teja!?"
"Hahaha ...! Apa kau tidak terima karena kuhajar?" Lelaki bernama Teja itu semakin mengangkat tinggi pandangannya. "Perlu kau ingat, Arya ... kau adalah aib bagi perguruan Elang Putih! Ayahmu yang cacat dan ibumu yang memiliki wajah berbeda dengan kebanyakan, semakin membuat wibawa perguruan ini jatuh," sahut lelaki muda bernama Teja tersebut.
Arya terbakar amarah. Matanya memerah menahan emosi yang memenuhi pikirannya. Ketika dia hendak bangkit untuk menghajar Teja, bayangan wajah kedua orang tuanya langsung meluluhkan hatinya. Emosinya yang membara seketika padam seperti tersiram air.
"Cepat laksanakan perintahku!" teriak Teja seraya melepaskan tendangan yang mengenai perut Arya untuk kedua kalinya.
Pemuda itu terguling di tanah dengan tubuh tertekuk. Kedua tangannya memegang perutnya yang terkena sepakan keras Teja. Dia terpaksa melakukan itu agar Teja tidak terus menghajarnya. Arya tidak ingin melanggar sumpah yang sudah diucapkannya kepada kedua orang tuanya untuk tidak melawan jika ada yang menghinanya.
"Ba-baik, Teja. Aku akan melaksanakan perintahmu," ucap Arya lirih.
"Ingat Arya! Perguruan Elang putih ini adalah milik ayahku. Jika sampai ayahku tahu tentang kejadian ini atau kejadian sebelum-sebelumnya, aku pastikan kau tidak akan selamat!" ancam Teja.
"Ba-baik, Teja ... aku tidak akan melaporkannya kepada ayahmu."
Seakan tidak puas dengan tendangan yang sudah tiga kali dilepaskannya ke tubuh Arya, Teja kembali menendang pemuda itu untuk keempat kalinya. Dan yang terakhir ini mengenai ulu hati pemuda itu, sampai dia mengeluarkan darah segar dari sudut bibirnya.
"Ayo kita pergi!" ajak Teja.
Teja dan kedua temannya berjalan meninggalkan Arya dengan senyum kepuasan tersungging di bibirnya. Entah untuk keberapa kalinya mereka memberikan tendangan dan pukulan kepada Arya, mereka tidak peduli. Teja berpikir, Selama tendangan dan pukulannya tidak mengenai wajah Arya, maka ayahnya tidak akan mengetahui kelakuannya.
"Ayah, Ibu, sampai kapan aku harus berpura-pura menjadi manusia lemah? Sampai kapan!?" teriaknya dalam hati.
Pemuda tersebut bangkit berdiri, setelah mengalirkan tenaga dalamnya untuk memulihkan luka-lukanya. Pandangan matanya terarah kepada Teja dan kedua temannya yang pergi menjauhinya.
Setelah menghela nafas panjang, Arya berjalan menuju kandang kuda yang letaknya berada di bagian belakang perguruan tersebut.
Sudah menjadi tugasnya sehari-hari untuk membersihkan kandang kuda, dan juga mengisi bak mandi yang ukurannya cukup besar untuk mandi murid lainnya. Dua pekerjaan itu dilakukannya dalam dua tahun terakhir menimba ilmu di perguruan tersebut, atau lebih tepatnya sejak didaftarkan kedua orang tuanya untuk menjadi murid perguruan Elang Putih.
Arya tidak mengeluh dengan pekerjaan berat yang harus dilakukannya setiap hari. Dia dengan ikhlas melakukannya karena demi kepentingan murid lainnya.
Tapi yang membuatnya bertanya-tanya, kenapa selama dua tahun berada di dalam perguruan itu, tak sekalipun Ki Sambernyawa mau melatihnya, padahal dia didaftarkan menjadi murid di perguruan Elang putih adalah untuk berlatih ilmu kanuragan.
Dua hari berselang, Ki Sambernyawa memanggilnya ke dalam ruangan pribadinya. Kesempatan itu dimanfaatkan Arya untuk bertanya tentang kelanjutan nasibnya di perguruan yang diampu oleh lelaki berumur setengah baya tersebut.
"Arya, sekarang kau tidak perlu mengurus kandang kuda dan mengisi bak mandi lagi. Mulai besok kau bertugas mencari kayu bakar di hutan!" kata Ki Sambernyawa.
Arya tersenyum kecut. Harapannya untuk bisa ikut berlatih akhirnya buyar seketika. Padahal dia tadi sempat mendapat harapan, ketika Ki Sambernyawa bilang tugas mengurus kandang kuda dan mengisi bak mandi bukan lagi menjadi bagiannya.
"Baik, Guru. Oh, ya ... Kalau boleh, aku ingin bertanya bertanya sesuatu kepada Guru.
"Katakanlah apa yang hendak kau tanyakan!"
"Begini, Guru. Aku sudah dua tahun berada di perguruan ini, tapi kenapa tidak sekalipun guru mengajariku ilmu kanuragan?" tanya Arya.
Ki Sambernyawa tersenyum mendengar pertanyaan Arya. Dia sudah menduga jika pemuda berambut kemerahan itu akan bertanya kepadanya tentang hal itu.
"Arya, sebenarnya aku bingung harus bagaimana mengajarimu? Sedangkan secara kemampuan ilmu kanuragan, kau berada di atasku."
Arya mengernyit menaikkan kedua alisnya sedikit ke atas. Dia bingung bagaimana Ki Sambernyawa bisa mengetahui jika dirinya memiliki kanuragan. Padahal selama di perguruan Elang Putih, dia tidak pernah sekalipun menunjukkan kemampuannya.
"Kau tidak perlu tahu bagaimana aku bisa mengetahuinya, tapi yang pasti aku tidak akan pernah mengajarimu apapun."
"Pasti ayah dan ibu yang bilang! Benar, kan, Guru?" desak Arya.
"Sekarang pergilah mencari kayu bakar di hutan!" Ki Sambernyawa mengalihkan pembicaraan
Arya menghela nafas panjang. Dia mengangguk lalu berjalan keluar menuju pintu dengan perasaan sedikit dongkol. Tanpa sengaja, dia berpapasan dengan Teja yang baru memasuki ruangan tersebut.
Teja penasaran kenapa Arya berada di ruangan ayahnya. Dia kuatir jika pemuda berambut kemerahan itu melaporkan apa yang sudah dilakukannya. Dan jika itu sampai terjadi, maka sudah pasti hukuman akan ditimpakan kepadanya.
Tiga jam berlalu, pemuda berumur 21 tahun berkulit kuning, bermata sipit dan berambut kemerahan, namun memiliki wajah khas daratan Jawadwipa itu, berlari dengan nafas terengah-engah membelah hutan lebat yang seperti tak berujung.
Pakaian yang dikenakannya kotor di beberapa bagian terkena lumpur. Tubuhnya yang kekar karena terbentuk alami oleh pekerjaan sehari-hari, juga terlihat lebam-lebam seperti habis terkena hajaran.
Arya terus berlari dan berlari tanpa menghiraukan telapak kakinya yang mulai mengeluarkan darah. Rasa sakit terus ditahannya agar tidak mengganggu kecepatannya dalam berlari.
Di belakangnya, Teja dan dua orang temannya berlari mengejar sambil terus meneriakkan nama pemuda tersebut.
"Berhenti kau, Arya! Jangan lari kau manusia lemah!" teriak Teja.
Arya tidak memperdulikan teriakan Teja. Pemuda itu terus berlari tanpa menoleh ke belakang sedikitpun. Dikarenakan kurang awas, kakinya tersandung sebuah akar pohon yang melintang. Tubuhnya jatuh bergulingan tidak karuan dan kemudian terjerembab ke dalam sebuah kubangan kecil berlumpur.