NovelToon NovelToon
Suamiku, Dosen Killer Kamar Sebelah

Suamiku, Dosen Killer Kamar Sebelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Dosen
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak tii

Bagi Karin, dosen pembimbingnya yang bernama Pak Arkan adalah monster nyata di dunia perkuliahan. Dingin, kaku, dan tidak segan mencoret draf skripsinya sampai penuh tinta merah. Karin bertekad untuk segera lulus agar bisa terbebas dari pria menyebalkan itu.

Namun takdir berkata lain. Demi melunasi utang pengobatan ibunya yang menumpuk, Karin terpaksa menyetujui pernikahan kontrak selama satu tahun dengan Pak Arkan sebuah rencana perjodohan rahasia yang diatur oleh keluarga mereka.

Kini, Karin tidak hanya harus berhadapan dengan Pak Arkan di ruang dosen yang menegangkan, tapi juga harus berbagi atap di apartemen yang kamarnya saling bersebelahan. Di kampus mereka harus pura-pura tidak kenal, sementara di rumah, Karin perlahan menemukan sisi lain sang dosen.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak tii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tanda tangan di atas materai

"Bagaimana, Karin? Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang kalau memang merasa terbebani," suara lembut Pak Danu memecah keheningan yang sempat membekukan ruang tamu kosan Mbak Rika.

Aku menatap lembaran kertas putih tebal yang diletakkan Pak Danu di atas meja kayu. Di sana, tertulis judul dengan huruf tebal yang membuat mataku pedih: SURAT PERJANJIAN PERNIKAHAN KONTRAK.

Di samping dokumen itu, ada dua buah meterai sepuluh ribu yang masih baru, siap untuk direkatkan.

Aku melirik Pak Arkan. Dosen killer-ku itu masih setia dengan posisi lipat tangannya. Tatapan matanya lurus ke depan, dingin, seolah-olah dia sedang tidak membahas pernikahan dirinya sendiri, melainkan sedang mengawasi ujian semester yang membosankan.

"Saya... saya boleh baca detail kontraknya dulu, Pak? Maksud saya, Pak Danu," ujarku terbata-bata, membetulkan posisi dudukku yang mendadak terasa sangat tidak nyaman.

"Tentu, Nak. Silakan dibaca dengan teliti. Arkan sendiri yang menyusun poin-poinnya agar tidak ada pihak yang dirugikan," jawab Pak Danu dengan senyum kebapakan yang sangat menenangkan.

Dengan tangan yang masih agak gemetar, aku meraih kertas tersebut. Mataku langsung tertuju pada poin-poin yang diketik rapi dengan fon standar laporan ilmiah khas gaya Pak Arkan sekali.

Poin 1: Pernikahan ini berstatus rahasia. Tidak ada satu orang pun di lingkungan kampus, baik mahasiswa maupun staf dosen, yang boleh mengetahui status hubungan pihak pertama Arkan dan pihak kedua Karin.

Poin 2: Pernikahan berlangsung selama tepat 12 bulan 1 tahun terhitung sejak tanggal akad nikah dilaksanakan secara siri/agama.

Poin 3: Pihak kedua wajib tinggal di unit apartemen milik pihak pertama, namun menempati kamar yang berbeda kamar tamu.

Poin 4: Selama masa kontrak, pihak pertama akan menanggung seluruh biaya rumah sakit ibu pihak kedua, biaya kuliah pihak kedua hingga lulus, serta uang saku bulanan.

Poin 5: Tidak boleh ada kontak fisik secara sengaja yang melibatkan perasaan, kecuali dalam keadaan darurat untuk menjaga kerahasiaan status.

Aku membaca poin kelima dua kali. Kontak fisik secara sengaja? Heh, yang benar saja. Membayangkan harus berpegangan tangan dengan dosen yang hobi mencoret skripsiku saja sudah membuat bulu kudukku merinding disko.

"Gimana? Ada poin yang keberatan?" tanya Pak Arkan tiba-tiba. Suaranya yang ketus langsung membuyarkan konsentrasiku.

Aku mendongak, menatapnya dengan berani. "Poin nomor empat, Pak. Masalah uang saku bulanan, saya rasa itu tidak perlu. Biaya rumah sakit Ibu dan uang kuliah saya sudah lebih dari cukup. Saya tidak mau terkesan memanfaatkan situasi ini."

Pak Arkan menaikkan satu alisnya, menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan meremehkan yang khas. "Uang saku itu bagian dari kesepakatan dengan Kakek agar kamu tidak perlu bekerja paruh waktu lagi. Saya tidak mau fokus skripsi kamu terganggu hanya karena kamu sibuk mencari uang jajan. Kalau skripsi kamu telat, kontrak ini juga akan terhambat."

"Arkan, jaga bicaramu," tegur Pak Danu dengan nada memperingatkan. Beliau lalu menoleh ke arahku. "Karin, Arkan benar. Terimalah itu sebagai bentuk tanggung jawab Arkan selama kamu menjadi istrinya secara hukum agama. Bapak hanya ingin kamu fokus belajar dan merawat ibumu."

Aku menunduk kembali menatap dokumen di tanganku. Bayangan wajah Ibu yang pucat di ranjang rumah sakit kembali melintas di kepalaku. Mesin pendeteksi jantung yang berbunyi teratur, tagihan apotek yang terus menumpuk di atas meja nakas, dan rasa cemas setiap kali ada perawat yang mengantarkan rincian biaya baru.

Maafkan Karin, Bu. Karin harus mengambil jalan pintas ini demi Ibu, bisikku dalam hati dengan mata yang mulai terasa panas.

Aku menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan untuk mengusir rasa ragu yang tersisa di dadaku. "Baik. Saya setuju dengan semua poinnya."

Pak Danu tersenyum sangat lega. Beliau langsung mengeluarkan sebuah pulpen hitam mewah dari saku bajunya dan menyodorkannya kepadaku. "Terima kasih, Karin. Kamu sudah menyelamatkan keinginan terbesar orang tua ini."

Aku menerima pulpen itu. Dengan tangan yang sedikit dingin, aku membubuhkan tanda tanganku tepat di atas meterai sepuluh ribu yang sudah ditempel. Setelah selesai, aku menggeser kertas itu ke hadapan Pak Arkan.

Tanpa ragu sedikit pun, Pak Arkan meraih pulpen tersebut dan menandatanganinya dengan gerakan cepat dan tegas.

Sret!

Selesai. Dalam waktu kurang dari tiga puluh menit di ruang tamu kosan yang sempit ini, takdir hidupku sebagai mahasiswi biasa resmi berubah arah.

"Pernikahan akan dilaksanakan secara sederhana dan tertutup hari Sabtu ini di Jakarta, di rumah Bapak. Hanya ada keluarga inti saja yang hadir," ujar Pak Danu sambil merapikan dokumen kontrak yang sudah sah tersebut. "Hari Jumat sore, Arkan yang akan mengurus tiket keberangkatanmu ke Jakarta."

"Hari Jumat, Pak? Tapi saya ada kelas pagi..." ujarku kaget.

"Saya yang akan mengurus izin absensi kamu ke dosen pengampu kelas itu. Kamu cukup siapkan barang-barang penting yang mau dibawa ke apartemen nanti," potong Pak Arkan dengan nada memerintah yang mutlak. "Hari Jumat jam dua siang, saya jemput kamu di depan gerbang kosan ini. Jangan terlambat satu menit pun."

Aku hanya bisa mengangguk pasrah.

Setelah berpamitan dengan sopan, Pak Danu dan Pak Arkan akhirnya melangkah keluar menuju mobil sedan hitam mewah mereka yang terparkir di depan pagar. Mbak Rika, yang sejak tadi menguping dari balik tirai dapur, langsung berlari menghampiriku dengan mata yang nyaris keluar dari kelopaknya.

"Karin!!! Kamu beneran mau nikah sama Pak Arkan?!" pekik Mbak Rika histeris, mengguncang-guncang bahuku dengan kencang.

"Mbak, stop! Kepala Karin pusing banget!" keluhku, melepaskan cengkeraman tangannya. Aku berjalan gontai menuju tangga, menyeret langkahku yang terasa seberat timbal.

Malam itu, di dalam kamarku yang sunyi, aku menatap draf proposal skripsiku yang berantakan di atas meja. Di depanku kini ada dua masalah besar yang harus kuhadapi: pertama, merevisi latar belakang bab satu yang penuh coretan merah, dan kedua... bersiap menjadi istri dari pria killer yang membuat coretan merah tersebut.

1
Rian Moontero
mampiiir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!