Area 21+, harap bijak dalam membaca.
Permaisuri yang terbuang,,
Demi Selir tercintanya, Sang Kaisar tega mengabaikan Permaisurinya...
Hingga pada suatu hari, Sang Permaisuri kembali ke istana untuk membalaskan dendamnya..
Bagaimanakah kisahnya, jika Sang Permaisuri balas dendam,,
Akankan ia kembali dengan Kaisar yang mencampakannya atau pergi meninggalkannya....
ig:@riiez.kha.37
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayonk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 : Kembali
"Cih, baiklah."
"Tabib Chen kamu akan ikut dengan Ling Hua dan tinggal di istana, bagaimanapun juga kamu telah merawat Permaisuri Ling Hua." ucap Kaisar Zhang Wey.
"Terimakasih, Yang Mulia atas kebaikan Yang Mulia." ucap Tabib Chen bersujud.
Kaisar Zhang Wey kemudian menatap Tabib Chen dan membantunya berdiri.
"Baiklah, pelayan bantu Permaisuri untuk bersiap - siap." perintah Kaisar Zhang Wey.
Ling Hua hanya menurutinya, ia tersenyum melirik Kaisar Zhang Wey kemudian masuk ke dalam gubuknya di ikuti para pelayan.
Selang beberapa saat Ling Hua telah selesai, ia pun keluar dalam dalam gubuk.
Kaisar Zhang Wey dan Jendral Li Juan tak mampu mengkedipkan matanya melihat Ling Hua tanpa riasan rambut, ia biarkan rambutnya terurai hanya ada dua kepangan di rambutnya.
"Ekhem,." Tabib Chen menyadarkan mereka berdua.
Kaisar Zhang Wey memalingkan wajahnya yang mulai memerah.
"Naiklah."
Kaisar Zhang Wey membantu Ling Hua menaiki kudanya.
Mereka pun berangkat ke istana meninggalkan gubuk tersebut.
Pada sore harinya mereka sampai di Istana..
Terlihat Permaisuri Rong, para pejabat dan para pelayan serta para prajurit, menunduk hormat.
Kaisar Zhang Wey turun dari kudanya membantu Ling Hua untuk turun.
Ling Hua menatap berbinar ketika melihat pemandangan di depannya, yang sangat nyata bagi dirinya.
"Ayo." ucap Kaisar Zhang Wey menggenggam tangan Ling Hua.
Ling Hua berjalan melewati para pelayan dan prajurit yang menunduk, sesekali para pelayan dan prajurit mencuri pandang melihat wajah Ling Hua.
"Hormat hamba, Yang Mulia." ucap Permaisuri Rong di ikuti para pejabat.
Pejabat Ling langsung memeluk Ling Hua.
"Putriku." ucap Pejabat Ling memeluk Ling Hua sangat erat.
"Ayah." sapa Ling Hua tersenyum di pelukan Pejabat Ling.
"Bagaimana kabar Ayah? apa Ayah sehat? kenapa Ayah kurus sekali?" cerocos Ling Hua memandang Pejabat Ling.
"Emm, Ayah ini Tabib Chen, dialah yang merawat Ling'er, jadi Ling'er menganggapnya sebagai Ayah."
Ling Hua menatap Tabib Chen.
"Termiaksih Tabib Chen, telah merawat putriku hingga sembuh, bahkan saya tidak sempat mengenali wajah putri saya." ucap Pejabat Ling menunduk hormat.
"Tidak apa - apa kita adalah orang tua Ling 'er." balas Tabib Chen tersenyum.
"Permaisuri, hamba sangat jika Permaisuri kembali, hamba sangat khawatir pada Permaisuri." ucap Permaisuri Rong memeluk Ling Hua menangis ter sedu sedu.
"Hah, apa kamu Permaisuri Rong? wah baguslah jika begitu aku memiliki teman." ucap Ling Hua.
Permaisuri Rong mengernyitkan dahinya.
"Sebenarnya Permaisuri Ling Hua lupa ingatan, jadi Permaisuri Rong aku ingin kamu membantunya untuk menjaga kesehatannya." ucap Kaisar Zhang Wey mengelus kepala Ling Hua.
Permaisuri Rong yang melihat kelembutan Kaisar Zhang Wey mulai menahan amarahnya.
harus secepatnya menyingkirkannya batin Permaisuri Rong.
"Baik, Yang Mulia." balas Permaisuri Rong tersenyum.
Huh, permainan baru di mulai batin Ling Hua.
"Yang Mulia, Permaisuri harus menempati pavilium mana?" tanya Kasim Yan.
Kaisar Zhang Wey bingung, sementara pavilium phoenix telah di tempati Permaisuri Rong.
"Yang Mulia, tidak usah bingung. Hamba akan pindah dari pavilium phoenix." ucap Permaisuri Rong.
Permaisuri Rong sangat yakin jika Kaisar Zhang Wey akan menolaknya.
Kaisar Zhang Wey menatap Ling Hua dan Permaisuri Rong, ia menimbang nimbang pikirannya.
"Tidak usah Permaisuri Rong, lagipula sekarang kamu adalah Permaisurinya jadi saya akan tinggal di kediaman lainnya." ucap Ling Hua.
Para pejabat saling menatap.
Sungguh baik hati Permaisuri Ling Hua, bahkan ia tidak mempermasalahkannya batin para pejabat menatap takjub.
"Lin Qi, tunjukkan kediaman lainnya, aku akan memilihnya." perintah Ling Hua ia menggandeng lengan Pejabat Ling dan Tabib Chen.
Sementara Kaisar Zhang Wey menatap punggung Ling Hua yang sudah mulai menjauh.
Para pejabat dan prajurit serta para pelayan menunduk hormat undur diri.
"Yang Mulia, maafkan hamba." ucap Permaisuri Rong.
"Tidak apa - apa, nanti aku akan membicarakannya pada Permaisuri Ling Hua, sekarang aku hanya ingin beristirahat." ucap Kaisar Zhang Wey meninggalkan Permaisuri Rong.
Yang Mulia sampai kapan pun, hanya aku yang pantas bersanding dengan Yang Mulia batin Permaisuri Rong menatap Kaisar Zhang Wey.
Yang mulai menjauh.
Ling Hua menatap semua kediaman, ia memilih pavilium paling jauh dari pavilium Naga.
"Ling'er kemanan disini kurang ketat, dan terlalu jauh." ucap Pejabat Ling.
"Tenang Ayah, tidak akan terjadi apa - apa." balas Ling Hua tersenyum.
Para pelayan pun membersihkan pavilium Melati, mereka juga menyiapkan makanan untuk junjungannya.
Selang beberapa saat, makanan telah tersedia. Ling Hua, pejabat Ling dan Tabib Chen makan dengan nikmatnya, Sesekali mereka bergurau.
Dari kejauhan Kaisar Zhang Wey menatap mereka.
Kaisar Zhang Wey penasaran apa yang dibahas mereka, hingga ia memilih menghampiri mereka daripada menghadiri rapat istana.
"Kasim Yan, tunggu aku beberapa menit lagi." perintah Kaisar Zhang Wey, ia melangkah kan kakinya menuju pavilium Melati.