Kirana, seorang gadis yatim-piatu yang berakhir di bekerja di tempat seorang Tuan Muda dunia bawah yang terkenal dingin dan kejam, Derandra Arseto. Namun begitu, sebuah obsesi di hati Kirana seakan terpancing oleh sebuah tantangan baru...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan di Ambang Fajar
Proses medis darurat itu selesai tepat saat langit di luar jendela kaca besar mulai berubah warna menjadi biru keabu-abuan, menandakan fajar telah tiba. Dokter dan Hendra telah meninggalkan ruangan setelah memberikan obat bius dosis rendah dan antibiotik, meninggalkan keheningan yang pekat di dalam kamar utama lantai tiga.
Adrian kini berbaring di atas tempat tidur dengan dada yang terbalut perban putih bersih. Efek obat bius membuatnya tampak lebih rileks, menghilangkan sebagian besar topeng dingin yang selalu ia pakai di depan dunia luar.
Kirana tidak pergi ke kamarnya sendiri di paviliun bawah. Ia duduk di sebuah kursi kecil di samping tempat tidur Adrian, Dia menolak untuk meninggalkan pria itu sendirian di saat-saat rentan seperti ini.
Saat Kirana mengulurkan tangannya untuk merapikan selimut yang menutupi kaki Adrian, sebuah tangan besar yang hangat dan kokoh tiba-tiba menggenggam pergelangan tangannya.
Kirana tersentak kecil. Ia menatap ke arah tempat tidur dan mendapati Adrian telah membuka matanya kembali, menatapnya dengan pandangan yang tidak sedingin biasanya—pandangan yang jujur, lelah, dan penuh tanda tanya.
"Kenapa kamu belum kembali ke kamarmu, Kirana?" tanya Adrian, suaranya terdengar parau akibat efek obat. Cengkeramannya di tangan Kirana tidak kuat, namun cukup posesif untuk membuat Kirana tidak bisa menjauh.
Kirana tidak mencoba melepaskan tangannya. Ia justru memajukan kursinya, meletakkan tangan kirinya di atas punggung tangan Adrian yang sedang menggenggamnya. "Saya sudah berjanji untuk menunggu Anda di puncak tangga, Tuan Muda. Dan sekarang setelah Anda kembali, tugas saya adalah memastikan Anda tidak terbangun sendirian di tengah malam."
Adrian menatap jemari Kirana yang halus namun kuat di atas tangannya. "Hari ini kamu melihat siapa aku yang sebenarnya, Kirana. Aku bukan sekadar pengusaha yang duduk di balik meja kaca mewah. Aku adalah monster yang memerintah dengan darah dan kekerasan. Tanganku kotor. Hidupku dikelilingi oleh musuh yang siap menggorok leherku saat aku lengah. Apakah kamu... masih tidak merasa takut sedikit pun?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Adrian, sebuah kerentanan yang belum pernah ia perlihatkan kepada siapa pun sejak kematian ibunya bertahun-tahun lalu. Di dunia bawah yang kejam, memperlihatkan kelemahan adalah vonis mati. Namun di depan gadis yatim piatu ini, entah mengapa Adrian merasa aman untuk melepaskan pelindungnya sejenak.
Kirana menatap langsung ke dalam manik mata hitam Adrian yang terdalam. Wajah cantiknya memancarkan ketegasan seorang wanita yang telah ditempa oleh kerasnya jalanan kota besar.
"Saya adalah seorang anak yatim piatu yang dibesarkan oleh kerasnya nasib, Tuan Adrian," jawab Kirana dengan suara yang rendah namun sarat akan emosi yang kuat. "Saya pernah kelaparan, saya pernah diinjak-injak oleh orang-orang yang merasa diri mereka berkuasa, dan saya hampir kehilangan kehormatan saya di lorong gelap malam itu jika Anda tidak datang. Bagi dunia luar, Anda mungkin monster yang kejam. Tapi bagi saya... Anda adalah pahlawan yang membawa saya keluar dari kegelapan. Saya tidak peduli seberapa kotor tangan Anda, karena saya bersedia menjadi orang yang membersihkannya setiap malam."
Kirana menarik napas perlahan, lalu sedikit menundukkan tubuhnya, membisikkan kata-kata yang membuat jantung Adrian berdegup kencang melampaui batas pengaruh obat biusnya. "Saya tidak takut pada sosok monster Anda, Tuan Muda. Saya justru terobsesi untuk menjadi satu-satunya wanita yang bisa mendampingi monster itu menguasai kota ini."
Adrian terpaku mendengar pengakuan murni yang begitu berani dari Kirana. Perlahan, cengkeramannya di tangan Kirana mengerat, menarik gadis itu sedikit lebih dekat ke arahnya. Ia tidak mengucapkan kata-kata cinta—gengsinya yang setinggi langit tetap menolak untuk runtuh sepenuhnya—namun tindakan posesifnya malam itu adalah jawaban yang lebih dari cukup bagi Kirana.
"Tetaplah di sini, Kirana. Jangan pergi ke mana-mana malam ini," perintah Adrian dengan suara rendah sebelum matanya kembali terpejam, tertidur di bawah pengaruh obat yang mulai bekerja sepenuhnya.
Kirana tersenyum manis, mengusap dahi Adrian yang kini sudah tidak berkerut lagi dengan jemarinya yang lembut. "Saya tidak akan ke mana-mana, Adrian. Saya ada di sini," bisiknya pelan di keheningan fajar yang mulai menyingsing di Bukit Permai.