Nuna, gadis cantik berhidung mancung dengan kulitnya yang putih bersih, diam diam menyukai seorang laki laki yang biasa ditemuinya di cafe langganannya, dalam diam nuna hanya bisa memperhatikan pujaan hatinya tersebut,
Tanpa berusaha untuk mengenalnya lebih dalam, tak jarang Nuna mencuri curi foto dengan kamera ponselnya...
Dimas, laki laki yang dcintai nuna dalam diam, seorang pengusaha di bidang properti, tampan, kaya dan arogan dan dia tak mudah jatuh cinta.
Akankah mereka bisa slaing mengenal dan jatuh cinta satu sama lain????
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gek Nanie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bag.17
"Nuna... bangun sayang..." rintih mamanya Nuna di samping ranjang, setelah mendapat penanganan pertama, kini Nuna sudah di pindahkan ke ruang rawat inap.
"tante tenang yaa.. Nuna sudah melewati masa kritisnya" kataku berusaha menenangkan Mama Aisyah, mamanya Nuna.
"tante tidak bisa tenang sebelum melihat Nuna sadar" jawab Mama Aisyah sambil terus memegangi tangan Nuna.
"Kita doakan saja semoga Nuna lekas sadar" jawabku lagi.
"maaf, kau siapa? apa kau teman kantornya Nuna?" tanya Mama Asiyah.
"oh iya saya hampir lupa, perkenalkan nama saya Dimas Tante, saya Direktur di tempat Nuna bekerja"
Mama Aisyah mengernyitkan dahinya, "kalau begitu terimakasih telah perhatian pada Nuna"
"sama sama Tante, lebih tante pulang dan istirahat, biar saya yang menjaga Nuna, nanti saya akan terus mengabari tante jika ada perkembangan dengan kondisi Nuna"
"heh....." Mama Aisyah masih bingung dengan prhatian berlebihan yang diberikan oleh Dimas yang notabene adalah atasan anaknya tersebut.
"maaf kalo tante lancang, apakah nak Dimas ada hubungan spesial dengan Nuna??" tanya mama dengan sangat hati hati.
"saya mencintai Nuna tante... tapi Nuna masih marah kepada saya" jawabku malu malu.
"ohhh begitu, Nuna memang orangnya sensitif sekali, jadi kalo nak Dimas benar benar mencintai Nuna, nak Dimas harus siap menerima segala sifatnya yang negatif"
"saya akan berusaha tante...terimakasih"
"ya sudah, tante titip Nuna yaa.. besok pagi tante akan kembali lagi" pamit Mama Aisyah.
"iya tante, nanti sopir saya akan mengantar tante pulang dan sekarang dia sudah menunggu diluar"
🍑🍑🍑🍑🍑🍑
"lihatlah Nun, mamamu saja merestui hubungan kita, cepat lah sadar dan aku akan berusaha untuk meluluhkan hatimu yang beku" lirihku sambil mengusap kepala Nuna dengan lembut lalu aku mencium keningnya.
Karena kelelahan, Dimas akhirnya tertidur berpangku tangannya sendiri di samping ranjang Nuna.
Hingga pagi menjelang, kondisi Nuna masih tetap sama dengan kemarin, Dimas melepas jasnya dan membuka dua kancing teratas kemejanya serta menggulung lengannya sebatas siku. dia menyeka tangan dan kaki Nuna dengan handuk basah.
"cepatlah sadar sayang... aku akan menebus semua kesalahanku di masa lalu" lirih Dimas.
"assalamualaikum.." Mama aisyah datang dengan orang yang sama, katanya namanya Lita, salah satu karyawannya di butik.
"waalaikumsalam tante..." jawabku sambil mencium punggung tangannya.
"apa Nuna belum sadar?"
"belum tante.. ".
Mama Aisyah kembali menangis disamping tubuh Nuna yang kaku,
"Nuna... Anak kesayangan mama, segera sadar nak, mama ga bisa hidup sendiri tanpa kamu nak..." ratap Mamanya.
"sabar ya tante, Nuna gadis yang kuat, saya yakin dia akan segera sadar" kataku menenangkan mama yang sangat terpukul dengan keadaan Nuna sekarang.
"oya tante ..."
"Mama nak... kamu boleh memanggilku mama... terimakasih kamu sudaha menjaga Nuna"
"iya tan... eh iya maa... sama sama..."
"maa.. saya mau pulang sebentar untuk ganti baju , apa mama baik bail saja kalo saya tinggal disini?"
"mama baik baik aja nak, disini juga ada Lita yang menemani" sahut mama.
"baiklaah.. saya hanya pulang sebentar lalu akan segera kembali secepat mungkin dan kamu Lita, saya titip mama dan Nuna ya.. kalo ada apa apa segera hubungi saya" kataku sambil menyodorkan kartu namaku kepada Lita.
"baikk kak...." jawab Lita.
"sayang... aku pulang dulu ya, nanti aku balik lagi..." bisikku di telinga Nuna lalu mencium keningnya.
🍈🍈🍈🍈🍈🍈
Sudah seminggu Nuna terbujur kaku di ranjang rumah sakit, tak ada kemajuan apapun semenjak dia di pindahkan ke ruangan ini.
Dan seminggu juga aku menjaganya siang dan malam, aku mengabaikan urusan perusahaan dan menyuruh Sendi untuk menghandlenya.
"Sayaang... sampai kapan kau akan menyiksaku seperti ini?? aku rindu kau marah padaku" ucapku sambil menciumi tangannya.
Dimas tampak terus terusan berusaha berkomunikasi dengan Nuna yang bahkan tak meresponnya sama sekali. memang dokter menganjurkan untuk sesering mungkin mengajaknya berbicara agar memori alam bawah sadarnya tetap bekerja dan dapat memancing kesadarannya.
Dan hari ini tepat dua minggu Nuna di rumah sakit, tampak Dimas dengan penampilan yang acak acakan, rambut yang mulai memanjang dan kumis kecil yang mulai bertumbuhan di wajah mulusnya, sangat jauh dari penampilannya yang selalu rapi, rambut di pomade dan wajah yang bersih bebas bulu.
Dimas seakan tak ingin jauh dari Nuna, sehingga dia tak peduli lagi dengan penampilannya sekarang.
"bos.. sebaiknya bos istirahat dan merapihkan diri, nanti jika Nuna sadar dia akan sangat sedih melihat penampilan bos yang mengenaskan seperti sekarang"
"aku sudah tidak mood memperhatikan penampilanku, toh Nuna juga tak akan melihatku" jawabku dengan lesu.
"apa bos berharap Nuna seperti ini selamanya?" tanya Sendi.
"jaga ucapanmu Sen, aku bahkan tak bisa berbuat apa apa untuk membuatnya segera sadar" sahut Dimas dengan suara serak, sekuat tenaga menahan tangisnya.
"menangislah bos jika itu bisa membuatmu lega..."
Dimas akhirnya menangis sesenggukan di hadapan Sendi, tak pernah Sendi melihat bosnya se rapuh sekarang. sungguh besar pengaruh Nuna untuk hidup Dimas, terbukti Dimas yang sekarang bak macan ompong dihadapan Nuna jauh dari penampilan luarnya yang terkesan tegas dan arogan.
semangat Thor dgn karya selanjutnya 💪💪
terimakasih banyak Thor dah buat kami terhibur 🙏🙏🙏