Teddy Briand Wijaya, adalah pria yang setia. Mencintai 1 wanita semenjak SMA, sampai di usia 34 tahun kenyataan yang membentur dan hampir tidak bisa dipercaya wanita bernama Zarisha Allova, memilih pria lain.
Teddy sempat hancur, pekerjaan tidak fokus, dan memilih berdiri di pinggir dermaga mencoba menenangkan hati.
Ternyata di dermaga, malah menemukan gadis yang sedang menangis sejadi-jadinya. Gara-gara tugas dari konsulernya di rumah sakit jiwa tempat dia magang, ga pernah benar.
"Aku mau bunuh diri!" Teriak gadis Aira Permata Salmi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Munculnya Saingan Baru
Tiga jam kemudian, setelah dipindahkan ke ruang rawat inap VIP berkat kuasa uang keluarga Wijaya, Teddy akhirnya ditinggalkan sendirian karena orang tuanya sibuk mengurus administrasi sekaligus "mengecek" jadwal dinas Aira melalui direktur rumah sakit.
Pintu kamar rawat inap diketuk dua kali dengan formal. Jantung Teddy mendadak berdegup dua kali lebih cepat.
Pintu terbuka, dan sosok Aira masuk membawa baki berisi obat dan segelas air. Wajahnya tampak datar dan kaku. Ia melangkah mendekati ranjang tanpa mengeluarkan suara. Kali ini Aira benar-benar menunjukkan jati diri seorang perawat yang profesional.
Teddy berdehem, mencoba mencairkan atmosfer. "Anak kecil," gumamnya, masih memanggil gadis itu dengan sebutan yang sama.
Kepala Aira meneng dan kedua alisnya tertaut. Namun, sejenak bibirnya menajam dan terdengar helaan nalas berat.
"... terima kasih sudah menjagaku semalam," ucap Teddy melanjutkan ucapannya yang masih menggantung.
Aira tidak membalas ucapan itu. Dengan gerakan kaku, ia menaruh baki di nakas samping ranjang, lalu mengambil segelas air dan beberapa butir pil obat.
"Jadwal minum obat Anda, Pak Teddy," ucap Aira datar, menyodorkan obat tersebut. "Silakan diminum sendiri karena tangan kanan Anda tidak cedera."
Teddy mengernyitkan dahi. Panggilan 'Pak Teddy' itu benar-benar menggores hatinya. "Bisa kah kamu tidak memanggilku seperti itu? Dari pada kamu memanggilku 'Pak' aku lebih senang mendengarmu memanggilku seperti biasa ... maksudku, kita ini tidak seasing itu, Aira."
Aira menaikkan satu alisnya. Ia paham kemana arah ucapan pria itu, dan menatap Teddy dengan rasa kesal yang semakin membuncah.
"Oh, maaf ya, Pak. Sesuai kode etik keperawatan, perawat dilarang memanggil pasien dengan sebutan 'Om', apalagi kalau pasiennya punya riwayat hobi memberi harapan palsu," sindir Aira telak.
"Nanti kalau saya panggil Om, dikira saya sedang menjalin aliansi bodong lagi dengan pasien hampir lapuk karena usia seperti kata Nyonya Mirna, ibu dari Tuan yang tak Muda lagi."
Teddy nyaris tersedak ludahnya sendiri. "Aira, kamu masih sempat bercanda?!"
Bibir Aira sedikit terangkat karena jengkel. Namun, seragam yang ia kenakan saat ini membuatnya harus menekan urusan pribadinya.
"Lebih baik, Anda segera meminum obatnya dan kembali lah beristirahat," cetus Aira sembari merapikan selang infus Teddy dengan sentakan yang sedikit disengaja, membuat Teddy refleks meringis.
"Aira, pelan-pelan... ini sakit," keluh Teddy, menatap Aira dengan harapan mendapat perhatian.
"Udah, buruan minum obatnya. Jangan manja! Kalau masih tidak mau minum, biar saya cari kembali Ibu Anda. Biar Bapak sekalian dijodohkan dengan suster kepala yang umurnya lima puluh tahun yang baru menjanda. Mau?" ancam Aira dengan mata bulatnya yang melotot.
Teddy hanya bisa mengembuskan napas pasrah, menerima pil obat dari tangan Aira. Meski demikian, hatinya kini terasa hangat. Meskipun ucapan Aira ketus dan penuh sindiran, Teddy tahu... di balik benteng ini, ada satu hal yang ia rindukan dan kembali ia rasakan.
'Aira, setelah aku sembuh, kamu tak akan kubiarkan lolos kembali,' batinnya.
.
.
.
Kabar mengenai keluarga Wijaya yang mendadak sibuk mengorek informasi tentang latar belakang Aira menyebar begitu cepat di antara staf administrasi. Rupanya, desas-desus itu sampai juga ke telinga Dokter Weri, seorang dokter residen yang sedang menempuh praktik spesialis di rumah sakit tersebut.
Begitu mendengar nama Aira disebut-sebut oleh direktur rumah sakit atas permintaan Nyonya Mirna, raut wajah Weri langsung berubah tegang. Ada rasa khawatir yang mendadak menyergap dalam hatinya.
Aira adalah gadis incaran Weri selama beberapa bulan terakhir, yakni semenjak ia harus menjalani praktik di rumah sakit ini.
Bukan karena Weri mencintai gadis ekspresif itu, melainkan karena sebuah rahasia besar yang sengaja ia simpan rapat-rapat. Sebagai orang yang berasal dari daerah yang sama, Weri diam-diam mengetahui latar belakang keluarga Aira yang sebenarnya.
Di balik penampilannya yang sederhana dan tingkahnya itu, keluarga Aira di kampung halaman ternyata telah menjadi orang terpandang. Weri yang berambisi besar ingin mendompleng karier dan finansialnya pasca-lulus spesialis tentu saja melihat Aira sebagai tiket emas menuju masa depan cerah secara instan.
Namun, mendekati Aira ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Selama praktik beberapa waktu terakhir, Aira selalu memasang tembok tinggi dan sama sekali tidak terlihat tertarik pada pesona Weri.
Hanya saja, Weri tidak tahu, bagaimana isi kepala Aira saat ini sudah seperti gudang trauma. Gadis itu masih menyimpan luka ganda: trauma masa lalu akibat cintanya yang kandas ditinggal nikah oleh Mas Beni, ditambah lagi luka dalam setahun lalu akibat ulah Om Teddy yang menjadikannya pelarian dari bayang-bayang Bu Lova. Bagi Aira, laki-laki mapan berwajah rapi itu semuanya mencurigakan.
"Sial, siapa sebenarnya pasien VIP di kamar 401 itu? Kenapa orang tuanya sampai turun tangan mencari info tentang Aira?" gumam Weri gusar sembari meremas pulpen di tangannya di meja perawat.
Mengetahui ada "hiu besar" yang tiba-tiba ikut mengincar mangsanya, Weri tidak bisa tinggal diam. Ia harus bergerak lebih cepat dan lebih gencar sebelum posisinya ditikung oleh keluarga kaya raya tersebut.
*bersambung*
sepadan lah juragan dan boss besar besanan,,si Jovan dan keluarga nya bakalan kebakaran jenggot
kerjain sekalian si bujang lapuk,,biar kamu puasss🤭🤭🤭
jiaaah ada yg pengen jadi mokondo ternyata,,wes mending sama om2 bujang lapuk Aya Ra
pasti nanti kamu di ratukan sama bujang lapuk dan orang tuanya
bikin ted2 merana dulu 😁
calon mertua langsung gercep ga tuh
inikah novel tentang dia. biar Aira makin klepek2 dan nahan Teddy dekat dia. jadi sama-sama move on😍😍
Yakin kamu bisa ngalahin Arnold si dokter gemulai, jadi deg"an aku 🤣🤣🤣 memangnya kamu ngerti di bidang kejiwaan 🥺 awas entar salah revisi habislah Aira di marahi lagi 🤣🤣