"Mungkin aku memang pemain wanita, tapi aku tidak akan menelantarkanmu karena kamu sedang mengandung anakku." Adrian.
"Jika aku tidak mengandung anakmu, apakah kamu tetap akan bertanggung jawab padaku?" Amira.
Sebuah kecerobohan yang dilakukan Amira membuatnya harus kehilangan kesuciannya dan mengandung benih dari Adrian, pria yang terkenal dengan julukan casanova. Amira harus menjadi selir rahasia dari Adrian sampai ia melahirkan bayinya.
Follow ig : Siran_rhmwtii6
facebook : Siran Ran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Rahmawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehilangan Hal Penting
"Dimana tasku?!" Tasya merogoh tasnya dengan kepanikan yang melanda.
"Ini bukan tas milikku!" Desisnya sambil memperhatikan baik-baik tas yang berada di tangannya.
Ia terus saja mengubek-ubek isi tasnya dengan wajah yang amat sangat panik. Seperti telah kehilangan sebuah hal penting.
"Itu tasmu, cantik! Tidak ada yang menukarnya ataupun menyentuhnya dari tadi! Mungkin saja apa yang kau cari tertinggal!" Mike yang baru selesai membersihkan dirinya setelah olahraga panas mereka tadi menghampiri Tasya dengan tubuh yang masih terbalut handuk menutupi pinggang hingga sedikit pahanya.
"Jelas aku membawanya!" Tasya mulai seperti orang linglung.
Mike yang tahu apa yang sedang Tasya cari hanya tersenyum tipis menyeringai.
Ia berlalu menuju arah lemari, membuka lemarinya kemudian mengambil satu tablet pil berisi 30 butir yang berjejer.
"Kenapa kau begitu panik hanya karena hal seperti itu?!" Ucapnya sambil melempar pil itu pada Tasya. Pil yang masih utuh, sepertinya baru saja dibeli.
"Kau mengambilnya?!" Bentak Tasya dengan wajah marah.
Mike hanya tersenyum menyeringai.
"Aku tahu apa yang j*lang cari jika sudah dipakai. Aku menyimpannya untuk persediaan, karena aku tidak akan mau menikahi wanita sepertimu!" Kata-kata pedas yang Mike ucapkan seketika membuat hati Tasya geram.
Plak...
Satu tamparan mendarat di pipi Mike. Menyisakan bekas warna merah di pipinya.
"Wow, hebat sekali! Sudah j*lang tapi masih berani menamparku!" Mike terus mendekati Tasya, kini bahkan punggung Tasya sudah terbentur ke dinding. Tepat saat itu, Mike mencengkeram dagu Tasya dan memberikan kecupan lembut.
Ia tak memberikan tindakan apapun lagi setelah itu.
Tasya yang merasa bebas segera membenahi dan memakai kembali pakaiannya. Lalu bergegas meninggalkan Mike yang sedang memakai pakaiannya.
"Ya, ya! Pergilah!" Seru Mike saat mendengar bantingan pintu yang sangat keras.
...************...
Adrian kini tengah memegang sebuah benda yang seperti tablet obat, ia membolak-balikan benda itu dengan dahi berkerut dan wajah penasaran.
"Jika ini obat, maka ini obat apa?" Ia terus melihat benda itu, sesekali ia melirik ponselnya yang tergeletak di atas meja. Sekilas ia berpikir untuk mencari tahu. Setelah berpikir sampai yakin, akhirnya Adrian meraih ponselnya dan membuka internetnya.
Ia terus membaca kata demi kata, setelah memasukan apa kegunaan obat yang dipegangnya tersebut. Hingga ia menemukan hal mengejutkan tentang obat itu.
"Jadi ini adalah obat pencegah kehamilan?! Pantas saja Tasya tidak pernah hamil meskipun kami dinyatakan tidak bermasalah! Tapi tunggu, bukankah kemarin dia bilang kalau dia sedang hamil?!" Adrian terus bermonolog sendiri, ia mulai merencanakan misi untuk mengetahui kebenaran Tasya yang mengaku sedang hamil.
Tepat pada saat itu, pintu rumah terbuka menampilkan Tasya yang datang dengan gaun sedikit kusut. Gaun yang memiliki panjang hingga dibawah lutut itu juga memiliki sedikit sobekan di bagian punggung.
Dengan langkah tertatih, ia menaiki tangga menuju kamarnya dan Adrian.
Adrian yang melihat Tasya datang langsung memeluk Tasya dari belakang. Membuat Tasya sedikit kewalahan dan hampir saja terjatuh karena tubuhnya yang lemas.
"Kau kenapa?" Tanya Adrian dengan nada suara dingin, terkesan memperlihatkan kecurigaannya pada Tasya.
Tasya benar-benar tak merasa nyaman dengan pelukan Adrian, ia melepaskan pelukan pelan itu. Tak peduli semakin kuatnya rasa curiga dalam diri Adrian. Saat ini ia hanya ingin bisa istirahat, meski hanya sekejap.
"Tasya, kau darimana saja?" Adrian kembali melontarkan pertanyaan yang membuat Tasya meliriknya tajam.
"Aku lelah, jangan banyak tanya!" Ia merebahkan diri di atas tempat tidur. Sebelum terlelap, Adrian merebahkan dirinya di samping Tasya dan menunjukan apa yang tadi pagi ia temukan.
"Apa ini milikmu?"
Tasya membuka matanya, memperhatikan dan memfokuskan diri baik-baik pada benda yang diperlihatkan Adrian.
"Hah?!" Ia mendudukan dirinya dengan sangat tegak.
"Hei, kenapa kau terkejut?" Adrian ikut menegakkan tubuhnya dalam posisi duduk.
"Darimana kau dapatkan ini?" Tentunya Tasya bertanya dengan wajah yang nampak sangat sekali terkejut.
Adrian tidak menjawab, ia menangkap sesuatu dalam raut wajah Tasya.
"Jawab dulu, ini milikmu bukan?" Adrian meletakan benda itu di tangan Tasya.
"Bukan! Sama sekali bukan milikku, lagipula untuk apa aku meminum obat seperti itu?" Elak Tasya yang justru memancing rasa curiga yang semakin tinggi dalam benak Adrian.
Sialan! Darimana dia menemukan itu?
"Kau menemukannya dimana, Sayang?" Tanya Tasya dengan suara tergagap, namun berusaha menutupi ketegangan itu dengan seulas senyuman canggung.
Adrian bisa melihat kegugupan dan rasa takut yang sangat besar di wajah Tasya.
"Aku menemukannya dalam lemari pakaianmu tadi, saat aku akan mencari berkasku." Adrian menunjuk lemari berwarna merah muda yang terletak di ujung ruangan kamar berukuran besar tersebut.
"Ada berapa yang kau temukan?"
"Hah?!"
Bersambung...
hai apa kabar para pembaca? Apa kalian masih menunggu dan mau membaca cerita author gabut ini? Mohon maaf ya, di karenakan sibuk jadi up tertunda. semoga mulai besok bisa up rutin lagi.
apa bedanya dengan Adrian yang celup sana sini, alias Casanova 🤦🏻♀️
g punya kaca X Adrian 🤣🤣🤣🤣
mira.....liat apa an?????