Alena dan Elio adalah musuh bebuyutan di sekolah. Setiap hari mereka tak pernah akur dan selalu saling adu mulut. Namun, hidup mereka berubah ketika kedua kakek mereka mengumumkan bahwa mereka telah dijodohkan sejak kecil.
Menolak bukanlah pilihan. Kini, mereka harus menjalani hari-hari sebagai calon pasangan, meski saling membenci.
Akankah kebencian itu berubah menjadi cinta? Atau perjodohan ini justru membuat mereka semakin menjauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yurisii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Pukul empat pagi, langit masih terbalut kegelapan dengan hanya sedikit cahaya samar yang mulai muncul di ufuk timur. Suasana rumah Alena sudah terasa sibuk namun tenang. Hari ini, orang tua Alena dan Kakek Wijaya akan berangkat ke luar negeri untuk urusan bisnis dan kunjungan kerja yang diperkirakan berlangsung selama dua minggu. Semua barang bawaan sudah dikemas rapi, dan tak lama lagi mereka akan berangkat menuju bandara.
Elio sudah tiba lebih awal, sesuai pesan yang diterimanya sehari sebelumnya. Ia mengenakan pakaian santai berwarna gelap, siap membantu mengangkat barang sekaligus mengantar rombongan ke bandara. Begitu masuk ke ruang tamu, ia disambut oleh Kakek Wijaya yang langsung menatapnya dengan tatapan serius namun penuh kepercayaan.
“Elio, Kakek panggil kamu pagi-pagi begini bukan tanpa alasan,” ujar Kakek Wijaya sambil menepuk bahu pemuda itu dengan lembut. “Selama kami tidak ada, Alena akan tinggal sendirian di rumah ini. Kakek tidak merasa tenang membiarkannya sendiri, jadi kami sudah sepakat dengan Kakek Baskara. Alena akan tinggal di rumahmu selama dua minggu ke depan. Kakek percaya kamu bisa menjaganya dengan baik, bukan?”
Mendengar perintah itu, mata Elio sedikit membesar karena terkejut. Ia menoleh ke arah Alena yang berdiri di samping kakeknya, wajah gadis itu juga terlihat sedikit kaget namun tidak menampakkan keberatan. Jantung Elio berdegup lebih kencang, bukan karena merasa terbebani, melainkan karena membayangkan tinggal serumah dengan Alena selama dua minggu penuh. Rasanya ini akan menjadi ujian tersendiri bagi pengendalian dirinya.
“Baik, Kek. Tenang saja, aku akan menjaga Alena dengan sebaik-baiknya. Tidak akan ada yang mengganggunya, dan aku pastikan dia tetap nyaman serta aman,” jawab Elio dengan nada tegas meskipun di dalam hatinya sudah mulai berkecamuk berbagai perasaan.
“Bagus. Kalau begitu, kita berangkat sekarang. Jangan sampai terlambat,” sambung ayah Alena sambil mengangkat tas koper besarnya.
Perjalanan menuju bandara berjalan lancar. Di dalam mobil, suasana terasa hangat. Kakek Wijaya terus berpesan kepada Alena untuk berperilaku baik, mendengarkan perkataan Elio, dan tidak berbuat sembarangan selama di rumah pemuda itu. Sementara itu, Elio hanya mendengarkan sambil sesekali menatap Alena dari kaca spion, dan setiap kali pandangan mereka bertemu, keduanya akan tersenyum malu-malu.
Sesampainya di area keberangkatan, setelah melewati serangkaian pemeriksaan dan berpamitan dengan penuh haru, akhirnya keluarga Alena melangkah masuk menuju ruang tunggu pesawat. Tinggalah Alena dan Elio yang berdiri di luar, menunggu hingga sosok mereka tidak terlihat lagi.
“Nah, sekarang tinggal kita berdua saja ya,” ujar Elio sambil tersenyum tipis, memecah keheningan. “Kita pulang dulu ke rumahmu untuk membereskan barang-barang yang akan dibawa.”
Alena mengangguk pelan, wajahnya terasa sedikit panas membayangkan dirinya akan tinggal di rumah Elio. Selama ini mereka memang sudah dekat, tapi belum pernah tidur dan tinggal serumah dalam waktu yang lama. Ada rasa gugup sekaligus rasa penasaran yang memenuhi hatinya.
Sesampainya kembali di rumah Alena, mereka langsung bergerak menuju kamar gadis itu untuk memilih dan mengemas barang-barang yang dibutuhkan. Saat berdiri di depan pintu kamar, Elio tiba-tiba berhenti melangkah. Tangannya tergantung di udara, ragu untuk membuka pintu dan masuk lebih dalam. Jantungnya berdegup kencang, dan pikirannya mulai melayang ke mana-mana.
“Ada apa? Kenapa berhenti?” tanya Alena yang sudah membuka pintu dan menoleh ke belakang, melihat Elio yang terlihat bingung.
Elio menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu menjawab dengan suara sedikit tergagap. “Eh… tidak apa-apa. Hanya saja… ini pertama kalinya aku masuk ke kamar pribadimu. Rasanya agak canggung dan takut… tidak bisa menjaga diri sendiri kalau sudah di dalam sini.”
Pengakuan jujur itu membuat Alena tertawa kecil, lalu menarik lengan Elio masuk dengan lembut. “Dasar kamu. Kita kan sudah saling mencintai, tidak perlu merasa segan lagi. Lagipula kita hanya akan membereskan barang, bukan melakukan hal aneh-aneh. Ayo masuk saja.”
Meskipun sudah ditarik masuk, Elio tetap berjalan dengan langkah hati-hati seolah takut menyentuh benda apa pun di dalam kamar itu. Ruangan itu terasa sangat khas milik Alena—beraroma wangi bunga yang lembut, dindingnya berwarna krem, dan dihiasi berbagai barang kesukaan gadis itu. Saat ia berdiri di tengah ruangan, aroma tubuh Alena yang khas tercium lebih jelas, membuat napasnya terasa sedikit memburu.
“Duduk saja di situ, aku ambilkan tas dan pakaian yang perlu dibawa,” ujar Alena sambil membuka lemari pakaiannya.
Namun, saat Alena membungkuk untuk mengambil baju-baju di bagian bawah lemari, Elio tidak bisa mengalihkan pandangannya. Postur tubuh gadis itu dan gerakannya yang alami membuat detak jantungnya semakin tidak teratur. Rasa rindu dan cinta yang sudah terpendam lama tiba-tiba meluap melebihi batas kendalinya. Tanpa sadar, langkah kakinya melangkah mendekat perlahan hingga berdiri tepat di belakang Alena.
Merasakan kehadiran yang sangat dekat, Alena menoleh kaget. Belum sempat ia mengucapkan sepatah kata pun, Elio sudah memeluk pinggangnya dari belakang, menarik tubuh gadis itu rapat menempel pada tubuhnya sendiri.
“Elio… apa yang kamu lakukan?” bisik Alena dengan suara bergetar, merasakan detak jantung Elio yang sama kencangnya dengan detak jantungnya sendiri.
“Maafkan aku… aku tidak bisa menahan diri lagi,” gumam Elio di telinga Alena, suaranya terdengar berat dan penuh hasrat. “Sejak tadi pagi, hanya memikirkan kamu saja. Dan sekarang, berada di kamarmu, dekat denganmu… rasanya ingin memelukmu dan menciummu sepuasnya.”
Alena tidak menjawab, ia hanya membalas pelukan itu dengan memutar tubuhnya menghadap Elio, lalu melingkarkan kedua lengannya di leher pemuda itu. Tatapan mata mereka saling bertemu, penuh dengan rasa cinta dan keinginan yang membara. Tanpa perlu kata-kata lagi, Elio menundukkan wajahnya perlahan, lalu mendaratkan bibirnya di atas bibir Alena dengan lembut namun penuh gairah.
Awalnya ciuman itu terasa perlahan dan lembut, namun seiring berjalannya waktu, rasa itu semakin membesar. Elio memegang pinggang Alena dengan kuat namun tetap lembut, lalu perlahan mendorong tubuh gadis itu mundur selangkah demi selangkah hingga akhirnya keduanya terjatuh dengan lembut ke atas permukaan ranjang yang empuk.
Alena terbaring di atas kasur, sementara Elio menyandarkan kedua tangannya di sisi tubuh gadis itu agar tidak menindihnya sepenuhnya. Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter, napas mereka terasa saling bertautan dan terasa panas.
“Bolehkah aku melanjutkannya?” bisik Elio dengan suara serak, matanya menatap mata Alena dalam-dalam mencari persetujuan.
Alena hanya mengangguk pelan sambil menutup matanya, wajahnya memerah padam namun senyum bahagia terukir jelas di bibirnya. “Lakukan saja… aku juga menginginkannya.”
Mendengar jawaban itu, Elio tidak menunggu lagi. Ia kembali mencium bibir Alena, kali ini lebih dalam dan lebih bernafsu dari sebelumnya. Bibirnya bergerak lembut namun penuh semangat, membuka sedikit celah bibir Alena hingga akhirnya lidah mereka bertemu dan saling menjalin lembut. Gerakan lidah Elio perlahan memainkan dan menjelajahi rongga mulut Alena, menggoda dan membuat gadis itu merasakan sensasi yang luar biasa yang membuat kakinya terasa lemas dan seluruh tubuhnya terasa panas.
Alena membalas ciuman itu dengan sama antusiasnya, tangannya meremas lembut punggung dan rambut Elio, menarik tubuh pemuda itu semakin dekat dengannya. Suara napas yang memburu dan suara kecupan lembut terdengar samar di dalam ruangan yang sunyi itu. Waktu seolah berhenti berputar, dunia di luar kamar itu seolah tidak ada lagi, hanya ada mereka berdua yang terhanyut dalam rasa cinta dan gairah yang meluap-luap.
Setelah beberapa menit yang terasa sangat panjang namun singkat sekaligus, Elio perlahan melepaskan ciuman itu untuk mengambil napas. Ia menempelkan dahinya di dahi Alena, matanya terpejam sambil mengatur napasnya yang terengah-engah. Wajah keduanya sama-sama memerah, dada mereka naik turun dengan cepat menandakan betapa hebatnya gejolak yang baru saja mereka lalui.
“Kamu… benar-benar membuatku hilang kendali,” bisik Elio sambil tersenyum malu namun puas, tangannya mengusap lembut pipi Alena yang terasa hangat.
Alena membuka matanya perlahan, menatap wajah Elio dengan pandangan yang sayu dan penuh cinta. “Kamu juga… membuatku merasa seperti terbang melayang. Rasanya indah sekali.”
Mereka berdua tetap berbaring di atas ranjang, saling memeluk dan menikmati kehangatan satu sama lain selama beberapa saat, sebelum akhirnya kesadaran kembali mengingatkan mereka bahwa tugas membereskan barang belum selesai.
“Kalau begini terus, kita tidak akan selesai mengemas barangnya,” ujar Elio sambil tertawa kecil, lalu mencoba bangkit dari posisinya namun malah ditarik kembali oleh Alena untuk dipeluk sebentar lagi.
“Tunggu sebentar saja… biarkan aku menikmati pelukanmu ini sedikit lebih lama,” kata Alena dengan suara lembut.
Setelah beberapa menit lagi, mereka akhirnya bangkit dan melanjutkan pekerjaan dengan suasana yang jauh lebih hangat dan akrab. Sesekali saat sedang melipat baju atau mengambil barang, tangan mereka akan bersentuhan secara tidak sengaja, lalu diikuti dengan tatapan dan senyum yang mengandung makna tersendiri. Kadang Elio juga tidak tahan untuk mencuri ciuman singkat di kening atau pipi Alena, membuat gadis itu terus tersenyum sepanjang waktu.
Dalam waktu kurang dari satu jam, semua barang yang dibutuhkan sudah terkemas rapi ke dalam dua koper dan satu tas ransel. Elio mengangkat barang-barang itu dengan mudah, sementara Alena memastikan tidak ada barang yang tertinggal dan mematikan semua lampu serta menutup jendela.
“Sudah siap? Kita berangkat ke rumahku sekarang,” kata Elio sambil memegang gagang koper.
Alena mengangguk sambil memegang tasnya sendiri, lalu menoleh sekilas ke sekeliling kamar yang akan ditinggalkannya selama dua minggu itu. Namun, rasa rindu pada rumah itu tergantikan seketika oleh rasa senang karena akan menghabiskan waktu bersama Elio.
Di dalam mobil menuju rumah Elio, suasana terasa sangat menyenangkan. Mereka duduk berdampingan, tangan mereka saling tergenggam erat di atas kursi, sesekali saling melirik dan tersenyum. Pikiran mereka sama-sama membayangkan bagaimana rasanya tinggal bersama, berbagi ruang, dan menghabiskan waktu berdua tanpa ada yang mengganggu.
Saat mobil memasuki halaman rumah Elio yang luas dan asri, Alena menatap bangunan itu dengan rasa penasaran. Ia sudah sering berkunjung ke sini, tapi kali ini rasanya terasa berbeda—seolah ia bukan lagi tamu, melainkan bagian dari penghuni rumah itu sendiri.
“Selamat datang di rumahmu untuk dua minggu ke depan,” kata Elio sambil membukakan pintu mobil dan tersenyum lebar. “Aku harap kamu merasa betah dan nyaman di sini.”
Alena melangkah keluar, lalu menatap Elio dengan tatapan penuh cinta. “Selama ada kamu di sini, aku pasti akan merasa betah. Terima kasih sudah menerimaku dan menjagaku, Elio.”
Elio mendekat, lalu memeluk bahu Alena dan mencium keningnya dengan lembut. “Terima kasih juga sudah bersedia tinggal bersamaku. Dua minggu ke depan pasti akan menjadi waktu yang tak terlupakan untuk kita berdua.”
Mereka berdua melangkah masuk ke dalam rumah, menyadari bahwa babak baru dalam hubungan mereka baru saja dimulai. Tinggal bersama ini akan membawa banyak momen lucu, canggung, hangat, dan tentu saja semakin mempererat ikatan cinta yang telah terjalin kuat di antara mereka.