Aku membenci Damar Wijaya sejak hari pertama bekerja. Bagiku, dia adalah atasan paling menyebalkan yang pernah ada—dingin, arogan, dan selalu mengkritik setiap pekerjaanku.
Sayangnya, sebuah proyek besar memaksa kami lembur bersama setiap malam.
Semakin sering kami bertemu, semakin sulit bagiku mempertahankan kebencian itu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, ada sisi Damar yang tidak pernah kulihat sebelumnya.
Namun saat aku mulai membuka hati, sebuah rahasia besar terungkap dan mengubah segalanya.
Bagaimana jika pria yang paling kubenci justru menjadi orang yang paling kucintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Satisuci Ituaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 :Surat Rahasia dari Masa Lalu
Damar berdiri membeku di depan lemari arsip.
Tangannya masih menggenggam surat tua yang baru saja ditemukan.
Kertas itu sudah menguning dimakan usia.
Beberapa bagian tintanya bahkan mulai memudar.
Namun isi surat tersebut masih bisa dibaca dengan jelas.
Dan setiap kalimat yang tertulis di sana membuat dadanya terasa semakin berat.
---
> Jika sesuatu terjadi padaku, tolong lindungi keluargaku.
Aku tidak tahu siapa yang bisa dipercaya lagi.
Mereka mulai bergerak lebih cepat dari yang kita duga.
Jika aku gagal menghentikan mereka, setidaknya jangan biarkan Nara menanggung akibatnya.
— Arman
---
Nara.
Nama itu tertulis jelas di sana.
Damar membaca ulang surat tersebut untuk ketiga kalinya.
Tetap saja hasilnya sama.
Tidak masuk akal.
Mengapa ayah Nara mengirim surat kepada ayahnya?
Dan siapa yang dimaksud dengan "mereka"?
---
Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun, Damar merasa tidak mengenal masa lalu keluarganya sendiri.
---
Di sisi lain kota, Nara juga tidak bisa memejamkan mata.
Ucapan Adrian terus berputar di kepalanya.
Orang yang menghancurkan kehidupan ayahnya ternyata masih memiliki hubungan dengan keluarga Wijaya.
Kalimat itu terasa seperti bom waktu.
Ia ingin mempercayai Damar.
Namun bagaimana jika keluarga pria itu memang terlibat?
---
Pukul dua dini hari.
Nara masih duduk di ruang tamu.
Foto lama berada di atas meja.
Matanya terus menatap dua pria yang tersenyum dalam foto tersebut.
Ayahnya.
Dan ayah Damar.
---
"Mengapa semuanya menjadi serumit ini?"
gumamnya pelan.
---
Keesokan paginya.
Kantor kembali dipenuhi kesibukan.
Namun ada sesuatu yang berbeda.
Suasana terasa lebih tegang.
Lebih sibuk dari biasanya.
---
"Ada apa?"
tanya Nara kepada Siska.
---
Siska langsung mendekat.
"Kamu belum dengar?"
---
"Dengar apa?"
---
"Akan ada audit besar."
---
Nara mengernyit.
"Audit?"
---
Siska mengangguk.
"Katanya investor baru meminta pemeriksaan beberapa proyek lama."
---
Jantung Nara langsung berdetak lebih cepat.
Investor baru.
Berarti Adrian.
---
Apakah ini ada hubungannya dengan penyelidikannya?
---
Belum sempat ia berpikir lebih jauh, seorang staf datang menghampiri.
"Mbak Nara, Pak Damar memanggil."
---
Siska langsung memasang ekspresi jahil.
"Semangat."
---
Nara memutar mata.
Namun tetap berjalan menuju lantai atas.
---
Begitu memasuki ruang kerja Damar, suasana langsung terasa berbeda.
Pria itu berdiri di dekat jendela.
Dengan wajah yang jauh lebih serius dari biasanya.
---
"Kau memanggilku?"
tanya Nara.
---
Damar menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Dan untuk sesaat tidak ada yang berbicara.
---
"Aku menemukan sesuatu."
ucap Damar akhirnya.
---
Jantung Nara langsung berdebar.
---
"Sesuatu apa?"
---
Damar mengambil sebuah map dari meja.
Namun sebelum menyerahkannya, ia terlihat ragu.
Seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.
---
"Ini berhubungan dengan ayahmu."
---
Tubuh Nara langsung menegang.
---
"Apa maksudmu?"
---
Damar membuka map tersebut.
Lalu mengeluarkan surat yang ditemukan semalam.
---
Begitu melihat tanda tangan di bagian bawah surat, napas Nara langsung tercekat.
---
"Itu..."
---
"Ayahmu."
jawab Damar.
---
Ruangan mendadak sunyi.
---
Perlahan Nara menerima surat itu.
Tangannya mulai gemetar saat membaca setiap kata yang tertulis.
---
Semakin lama ia membaca, semakin sulit baginya bernapas.
---
Karena itu benar-benar tulisan ayahnya.
Ia mengenali cara ayahnya menulis huruf tertentu.
Mengenali gaya bahasa yang digunakan.
---
Tidak mungkin salah.
---
"Di mana kamu menemukannya?"
suaranya bergetar.
---
"Di arsip ayahku."
jawab Damar jujur.
---
Nara menutup mata sesaat.
---
Tiba-tiba semuanya terasa semakin nyata.
---
Ayah mereka memang saling mengenal.
Bukan sekadar kenal.
Mereka menyimpan rahasia bersama.
---
"Aku tidak mengerti."
ucap Nara lirih.
---
"Begitu juga aku."
jawab Damar.
---
Keheningan kembali memenuhi ruangan.
Namun kali ini tidak terasa canggung.
Melainkan berat.
Sangat berat.
---
"Aku bertemu Adrian semalam."
ucap Nara akhirnya.
---
Damar langsung menatapnya.
---
"Dan?"
---
Nara menarik napas panjang.
Lalu menceritakan semuanya.
Tentang foto lama.
Tentang persahabatan kedua ayah mereka.
Tentang dokumen yang ditemukan Adrian.
---
Semakin lama mendengar, ekspresi Damar semakin serius.
---
"Jadi dia curiga ayahku terlibat?"
---
"Aku tidak tahu."
jawab Nara cepat.
"Dia bilang belum ada bukti pasti."
---
Damar mengangguk pelan.
Namun sorot matanya berubah.
---
Karena meski tidak mengatakannya, keraguan mulai muncul dalam dirinya.
---
Bagaimana jika ayahnya memang menyembunyikan sesuatu?
---
Siang harinya.
Bianca kembali mencoba mencari tahu hubungan Nara dan Adrian.
---
Ia bahkan meminta seseorang memeriksa latar belakang investor tersebut.
Namun hasil yang didapat justru membuatnya bingung.
---
Adrian memiliki reputasi bersih.
Tidak ada skandal.
Tidak ada masalah hukum.
---
Lalu mengapa pria seperti itu begitu tertarik pada Nara?
---
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
gumam Bianca.
---
Di tempat lain.
Adrian sedang memeriksa beberapa dokumen lama bersama seorang pengacara senior.
---
"Berkas ini belum lengkap."
kata pengacara tersebut.
---
"Aku tahu."
jawab Adrian.
---
"Tapi seseorang sudah mulai menghapus jejak."
---
Pria tua itu mengangguk.
---
"Kalau begitu kita harus bergerak cepat."
---
Adrian menatap keluar jendela.
---
Wajah Nara terlintas di benaknya.
Diikuti wajah sahabat lamanya.
Arman.
---
"Aku gagal melindungimu dulu."
gumamnya.
---
"Tapi kali ini tidak."
---
Menjelang malam.
Nara bersiap pulang.
Namun saat keluar dari gedung, hujan turun dengan sangat deras.
---
"Aduh."
gumamnya.
---
Ia lupa membawa payung.
---
Saat sedang mempertimbangkan apakah harus menunggu hujan reda, sebuah suara terdengar dari belakang.
---
"Masih di sini?"
---
Nara menoleh.
Damar.
---
Pria itu memegang payung hitam.
---
"Aku menunggu hujan reda."
jawab Nara.
---
Damar melihat langit.
Lalu kembali menatapnya.
---
"Hujan seperti ini bisa sampai tengah malam."
---
"Itu yang kutakutkan."
---
Untuk pertama kalinya hari itu, sudut bibir Damar sedikit terangkat.
---
"Pulanglah."
---
"Bagaimana?"
---
Sebagai jawaban, Damar membuka payungnya.
---
"Aku antar."
---
Nara berkedip.
---
"Kita hanya punya satu payung."
---
"Aku tahu."
---
"Itu akan terlihat aneh."
---
Damar menatapnya datar.
---
"Setelah semua gosip yang beredar, menurutmu satu payung masih masalah terbesar kita?"
---
Nara langsung terdiam.
---
Beberapa detik kemudian ia tertawa kecil.
Dan tanpa sadar, ketegangan yang selama ini memenuhi pikirannya sedikit berkurang.
---
Mereka akhirnya berjalan berdampingan di bawah satu payung.
---
Jarak mereka sangat dekat.
Terlalu dekat.
---
Sesekali bahu mereka bersentuhan.
Membuat jantung Nara berdetak lebih cepat.
---
Begitu pula Damar.
Meski pria itu berusaha terlihat tenang.
---
Di tengah hujan yang turun deras.
Untuk sesaat mereka melupakan semua rahasia.
Semua konflik.
Dan semua masalah yang sedang mengelilingi mereka.
---
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
---
Karena dari dalam mobil yang terparkir di seberang jalan.
Seseorang sedang memperhatikan mereka.
---
Pria yang sama yang beberapa hari lalu membakar dokumen penting.
---
Matanya menyipit saat melihat Nara dan Damar berjalan bersama.
---
"Lebih cepat dari perkiraanku."
gumamnya.
---
Ia lalu mengambil ponsel.
Dan menghubungi seseorang.
---
"Mereka mulai menemukan petunjuk."
---
Suara berat terdengar dari seberang telepon.
---
"Lalu?"
---
Pria itu tersenyum dingin.
---
"Kalau begitu kita harus menghentikan mereka sebelum semuanya terlambat."
---
Panggilan berakhir.
---
Dan malam itu.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun.
Orang-orang yang menyimpan rahasia masa lalu mulai merasa terancam.
---
Karena kebenaran yang selama ini terkubur perlahan mulai muncul ke permukaan.
Dan ketika kebenaran itu akhirnya terungkap...
Bukan hanya kehidupan Nara yang akan berubah.
Tetapi juga kehidupan Damar.
Bersambung ke Bab 25