Di usianya yang masih belia, Amara dipaksa menghadapi kehilangan, penolakan, dan kenyataan pahit, bahwa terkadang dosa orang tua meninggalkan luka bagi anak-anaknya.
Menjadi anak dari seorang yang bersalah, bukan berarti ia harus menanggung hukuman yang sama. Mampukah Amara meyakinkan dunia tentang itu? ketika perempuan yang paling ia cintai, yang dipanggilnya mama telah lebih dulu menjauhinya. Dan di saat hatinya masih porak poranda, Amara dipaksa menikah dengan laki-laki yang berusia lebih dari dua kali usianya.
Yuk ikuti kisahnya, Akad Tanpa Cinta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐈𝐩𝐞𝐫'𝐒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 13
Starla melepaskan pelukannya, remaja itu mengerutkan kening menatap Amara. "Om siapa?" Tanya nya kemudian menoleh ke belakang mengikuti arah tatapan Amara. "Itu om kamu? Kok aku baru lihat.
Amara tersenyum tipis, ia hanya mengangguk kecil kemudian menggandeng Starla mendekati teman-temannya yang masih berkumpul dan bercengkrama. Namun sesaat ekor matanya melirik ke arah Abimanyu yang terlihat menggerakkan bibir, sepertinya tengah mengobrol dengan pak Rusdan.
"Mara... Apa kabar?" Seorang siswa berparas tampan yang sedari tadi paling sibuk tiba-tiba menghampiri Amara.
Amara tersenyum kemudian bersuara. "Alhamdulillah baik." Ucapnya pendek. Rasa getir kembali menyeruak, teman-teman yang dulu dianggapnya begitu hangat ternyata tak ada satu pun yang mendatanginya dan mengucapkan dukacita secara langsung. Entah karena mereka sudah mendengar kronologi kecelakaan sang papa yang tengah bersama perempuan lain, atau memang rasa kepedulian teman-temannya yang kurang tinggi.
Amara menghela napas pelan. "Guys, aku duluan ya." Pamit Amara kemudian menyalami satu persatu teman-temannya, termasuk Erik.
"Mara, kok buru-buru? Padahal aku ingin bicara sama kamu, kita juga belum foto berdua." Ucap Erik seraya melangkah mendekati Amara. "Bisa kan kita bicara empat mata?" Tanya Erik penuh harap.
"Sorry Rik, aku mau jalan! Keluarga sudah nunggu." Jawab Amara tanpa ekspresi. Ia melangkah meninggalkan Erik yang berdiri menatapnya tak percaya, seolah merasakan perubahan sikap Amara yang terlihat datar.
Sedangkan Amara tetap melangkah, tak menghiraukan Erik yang masih berdiri di belakangnya. Ia melenggang mengayunkan kaki, menghampiri mertua dan suaminya.
"Om, kok bisa ke sini? Bukannya hari ini om sibuk?" Amara menatap Abimanyu dari atas sampai bawah. Tak ada kemeja biru navy atau putih, dua warna yang hampir setiap hari di pakainya, tak ada dasi yang mengikat di leher, hanya kemeja batik lengan panjang yang dipakai Abimanyu. Bahkan kemeja batik itu ia yang cari dan pilihkan di butik atas permintaan bu Halimah.
"Berarti om enggak kerja ya hari ini? Wow... ternyata muat, pas malah." Cerocos Amara menelengkan kepala ke kiri dan ke kanan, melihat penampilan Abimanyu.
Abimanyu tak menyahut, pria itu lebih tertarik pada map yang di peluk Amara. Tanpa bersuara, ia pun mengambil benda itu, bersamaan dengan munculnya Erik yang langsung menggandeng tangan Amara.
"Om, pak.. Bu, kenalin... Saya Erik, teman dekatnya Amara." Ucapnya penuh percaya diri. Erik meraih tangan Abimanyu, kemudian menciumnya dengan takzim. Setelah itu, ia beralih pada sepasang paruh baya dan mencium tangannya bergantian.
Tangan Abimanyu yang sudah hampir membuka map, seketika berhenti. Pria berusia empat puluh tahun itu segera bangkit dari duduknya, dan berdiri sejajar dengan Erik. "Amara harus segera pulang bersama kami, ada acara penting keluarga yang harus kami hadiri." Ucapnya datar, kemudian menatap Amara sekilas tanpa ekspresi.
Melihat itu, bibir pak Rusdan berkedut menahan senyum. Sedangkan bu Halimah memalingkan wajah, menyembunyikan senyum di bibirnya karena sikap Abimanyu. Sedangkan Amara terlihat mengerutkan kening, matanya lurus pada Abimanyu dengan sorot penuh tanya namun tak berani bersuara.
"Oh maaf om... Kirain enggak ada acara keluarga, makanya berani ngajak Amara." Ucap Erik sembari tersenyum kemudian remaja itu berpamitan. "Mara, nanti kalau kamu free kabarin ya!" Lanjut Erik kemudian beralih pada bu Halimah. "Boleh kan bu?"
"Boleh, tapi harus rame-rame." Jawab bu Halimah cepat, ekor matanya melirik Abimanyu.
Untuk sementara maaf ya babnya pendek-pendek dulu, rl masih mengsibuk sehingga nulisnya hanya bisa malam dan itupun keburu dilanda kantuk🙏🏼