NovelToon NovelToon
RESEP RAHASIA MANTAN ISTRI

RESEP RAHASIA MANTAN ISTRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

"Hana mengorbankan kariernya sebagai otak di balik kesuksesan 3 cabang Rumah Makan demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Namun, pengorbanannya dibalas dengan siksaan mental dari mertua cerewet dan perubahan sikap Adrian, suaminya yang perlahan kembali ke tabiat aslinya sebagai playboy.

​Semuanya menjadi makin runyam saat mereka membawa pulang seorang baby sitter muda nan cantik dari kampung halaman. Di depan Hana dia adalah pengasuh yang lugu, namun di depan Adrian, dia adalah penggoda yang siap merebut semua yang telah Hana bangun dengan tetesan keringat. Saat Hana sadar dia dikhianati di rumahnya sendiri, haruskah dia tetap bertahan, atau mengambil kembali 3 rumah makan yang merupakan haknya dan meninggalkan mereka dalam kemiskinan?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Secangkir Kopi dan Duri yang Merayap

Bab 7: Secangkir Kopi dan Duri yang Merayap

​Aroma pekat kopi hitam bercampur sedikit bubuk kayu manis menguar dari arah dapur harian, menembus lorong-lorong rumah mewah yang masih sepi. Siang itu, Adrian sengaja pulang lebih cepat untuk mengambil beberapa dokumen penting yang tertinggal di ruang kerja lantai atas. Wajahnya tampak kusut, guratan lelah tercetak jelas di keningnya akibat mengurus komplain penurunan kualitas masakan dari para pelanggan setia di Cabang Dua.

​Begitu Adrian melangkah masuk ke ruang tengah, sosok Santi sudah berdiri di sana, seolah-olah dia memang telah memprediksi jam kedatangan sang majikan. Siang ini, Santi tidak mengenakan daster tidurnya yang minim, melainkan sebuah kaos ketat berwarna putih yang membungkus lekuk tubuh mudanya dengan sempurna, dipadukan dengan celana pendek di atas lutut. Rambutnya yang biasa dikepang dua kini dibiarkan tergerai acak-alakan, memberikan kesan sensual yang berantakan.

​"Mas Adrian sudah pulang?" sapa Santi dengan suara serak-serak basah yang mendayu, matanya berbinar penuh binar kekaguman. "Santi tahu Mas Adrian pasti sedang pusing memikirkan restoran. Ini... Santi sudah buatkan kopi hitam kesukaan Mas. Takaran gulanya pas, seperti yang Mas Adrian suka waktu di kampung kemarin."

​Santi melangkah mendekat, menyodorkan cangkir keramik putih itu dengan gerakan tangan yang sengaja dibuat gemetar lembut. Ketika Adrian mengulurkan tangan untuk menerima cangkir tersebut, jemari Santi dengan berani mengusap punggung tangan Adrian secara perlahan—sebuah sentuhan kulit yang sengaja dibuat tampak tidak sengaja, namun berhasil mengirimkan sengatan gairah yang instan ke dalam darah Adrian.

​Adrian menatap manik mata Santi yang lekat, lalu menyesap kopi itu perlahan. Matanya sedikit memejam menikmati kehangatan cairan hitam tersebut. "Rasanya... pas sekali, Santi. Pas rasanya, tidak terlalu manis," puji Adrian dengan suara rendah yang berat, matanya kini mulai liar menjelajahi leher jenjang Santi yang terekspos bebas karena rambutnya yang sengaja disibakkan ke samping.

​Santi tersenyum manja, tubuhnya bergerak maju setengah langkah, mempersempit jarak di antara mereka hingga aroma parfum buah murah miliknya mulai berbaur dengan bau parfum maskulin Adrian. "Kalau Mas Adrian suka, Santi bersedia membuatkannya setiap hari... setiap kali Mas Adrian merasa lelah atau butuh teman untuk berbagi cerita."

​Ketegangan sensual di antara mereka berdua di siang bolong itu mendadak terinterupsi oleh suara langkah kaki yang diseret dari arah tangga. Hana berjalan turun dengan sangat perlahan, memegangi perutnya yang kerap terasa kencang. Wajahnya pucat tanpa riasan, kontras sekali dengan kesegaran tubuh Santi yang berdiri menantang di bawah pencahayaan lampu ruang tengah.

​Melihat kehadiran Hana, Santi dengan cepat menarik tubuhnya mundur, memasang wajah polos yang ketakutan seketika. "E-eh, Mbak Hana... maaf, Santi hanya membuatkan kopi untuk Mas Adrian," cicit Santi sembari menundukkan kepala dalam-dalam.

​Hana menatap cangkir kopi di tangan Adrian, lalu beralih menatap wajah suaminya dengan pandangan mata yang kosong namun menusuk. "Mas, sejak kapan kamu suka kopi dengan campuran kayu manis? Bukankah selama lima tahun ini kamu selalu meminta aku membuatkan kopi hitam murni tanpa campuran apa pun karena lambungmu tidak kuat?" tanya Hana tenang, datar, namun penuh penekanan.

​Adrian yang tertangkap basah mendadak merasa risih dan jengkel. Ia meletakkan cangkir kopi itu ke atas meja kaca dengan dentingan keras. "Hana! Kamu ini kenapa sih, setiap kali pulang ke rumah selalu saja merusak suasana? Santi ini niatnya baik, dia perhatian pada suamimu yang lelah bekerja mencari uang untuk membiayai kehamilanmu! Kenapa kamu selalu sinis dan mempermasalahkan hal-hal kecil?!"

​Hana mengepalkan tangannya di balik daster longgarnya. Hal kecil? Suaminya membiarkan seorang pelayan muda menyentuh tangannya dan merayunya di ruang tengah rumah mereka sendiri, dan sekarang dia disebut mempermasalahkan hal kecil.

​Sebelum Hana sempat membalas, Ibu Broto keluar dari arah kamarnya dengan wajah yang langsung berkerut masam begitu melihat menantunya. "Ada apa ini ribut-ribut?! Astaga, Hana! Kamu ini benar-benar tidak tahu diuntung ya! Sudah bagus ada Santi yang mau repot-repot mengurus kebutuhan Adrian di rumah ini. Kamu itu tugasnya cuma diam di kamar, menjaga kandunganmu agar tidak keguguran lagi seperti kemarin! Jangan hobi membuat keributan yang bikin anakku pusing!"

​Ibu Broto berjalan mendekati Santi, lalu mengusap bahu gadis desa itu dengan lembut di depan Hana. "Santi, kamu tidak usah takut ya. Di rumah ini yang memegang kendali adalah Ibu dan Mas Adrian. Kamu tidak usah mendengarkan omongan orang yang tidak tahu cara menghargai kebaikan orang lain."

​Santi mendongak sedikit, memberikan tatapan mata yang berkaca-kaca pada Ibu Broto dan Adrian, seolah dia adalah malaikat tertindas yang sedang dilindungi dari kekejaman Hana. "Terima kasih, Ibu... Terima kasih, Mas Adrian. Santi... Santi hanya ingin membantu."

​Hana menarik napas dalam-dalam, menekan rasa perih yang teramat sangat di hatinya. Ia menatap aliansi tiga orang di depannya dengan pandangan yang dingin. Nikmatilah pembelaan kalian sekarang, bisik Hana dalam hati. Ia berbalik, melangkah kembali ke lantai atas tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Hana tahu, berdebat dengan orang-orang yang sudah dibutakan oleh gairah murah dan keserakahan hanya akan membuang energinya yang berharga. Di dalam kamarnya, Hana langsung membuka ponselnya, mengirimkan sebuah pesan rahasia kepada Joko, sang koki setia di Cabang Satu, untuk mulai memantau pergerakan keuangan harian dari dalam dapur secara diam-diam.

​Sore harinya, saat Adrian sudah kembali ke restoran dan Ibu Broto sedang pergi keluar untuk menghadiri arisan mewah, Santi mulai melancarkan intrik berikutnya yang jauh lebih berani dan licik.

​Hana sedang berbaring di dalam kamarnya yang sepi ketika ia mendengar suara tangisan bayi palsu dari arah lantai bawah, diikuti oleh suara gaduh barang pecah belah di area dapur. Hana yang mengkhawatirkan ada sesuatu yang buruk terjadi, terpaksa menguatkan tubuhnya untuk turun ke bawah.

​Begitu sampai di dapur harian, Hana melihat sebotol susu formula untuk bayi yang sudah pecah berantakan di atas lantai marmer, sementara Santi berdiri di sudut ruangan dengan wajah yang sengaja dibuat panik.

​"Ada apa ini, Santi?" tanya Hana tegas.

​Tepat saat itu, suara pintu depan terbuka menandakan Ibu Broto baru saja pulang dari arisannya. Mendengar suara langkah kaki Ibu Broto yang mendekat, Santi seketika menjatuhkan dirinya ke atas lantai yang basah oleh tumpahan susu, lalu menangis tersedu-sedu dengan sangat histeris.

​"Ampun, Mbak Hana! Ampun! Santi tidak sengaja memecahkan botol ini... Santi tadi hanya ingin membersihkan dapur," jerit Santi dengan suara melengking, berpura-pura ketakutan seolah-olah dia baru saja mendapatkan kekerasan fisik dari Hana.

​Ibu Broto yang baru saja melangkah masuk ke dapur langsung terbelalak lebar melihat pemandangan di depannya. Ia melihat Santi yang menangis di lantai dan Hana yang berdiri di dekatnya dengan wajah dingin.

​"Astaga! Hana! Apa yang kamu lakukan pada Santi?!" teriak Ibu Broto histeris, langsung berlari membantu Santi untuk berdiri. "Kamu ini benar-benar keterlaluan ya! Kamu melampiaskan kemarahanmu pada Santi hanya karena Adrian membelanya siang tadi?! Kamu menindas anak orang sampai seperti ini, hah?!"

​"Ibu, saya bahkan tidak menyentuhnya. Dia menjatuhkan dirinya sendiri begitu mendengar suara Ibu datang," jawab Hana dengan nada suara yang teramat tenang, menatap Santi dengan pandangan mata yang sarat akan kejijikan.

​"Bohong, Ibu! Mbak Hana tadi membentak Santi... Mbak Hana bilang Santi tidak becus kerja dan mau mengusir Santi kembali ke kampung!" fitnah Santi di sela-sela tangis palsunya, menyembunyikan wajahnya di balik bahu Ibu Broto sembari memberikan senyuman sinis kemenangan yang teramat tipis ke arah Hana yang berdiri membeku.

​Ibu Broto menunjuk wajah Hana dengan jarinya yang dipenuhi cincin emas dengan penuh amarah. "Kurang ajar kamu, Hana! Rumah ini milik anakku, bisnis itu milik anakku! Kamu tidak punya hak sepeser pun untuk mengusir siapa pun dari rumah ini! Tunggu saja sampai Adrian pulang malam nanti, Ibu akan pastikan kamu menerima akibat dari kelakuan kejammu ini!"

​Hana tidak membalas. Ia hanya menatap lekat wajah mertuanya dan wajah licik Santi yang masih berpura-pura sesenggukan. Duri itu kini benar-benar telah menusuk ke dalam dagingnya, menghadirkan rasa sakit yang luar biasa. Namun bagi Hana, setiap fitnah dan setiap air mata palsu yang Santi tumpahkan hari ini adalah bahan bakar yang akan ia gunakan untuk membakar habis seluruh kebahagiaan mereka di masa depan. Hana berbalik melangkah pergi, membiarkan badai fitnah itu bersiap menggulung dirinya malam nanti, karena di dalam kepasrahannya yang dingin, Hana tahu ia sedang menyusun sebuah skenario pembalasan yang tidak akan menyisakan ampun bagi mereka bertiga.

1
THE GIRL COOL😑
good jop 👍👍👍👍 lanjut kan😍😍😍
gendiz: terimakasih 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!