Dua tahun menjalani hubungan rahasia (backstreet) dengan Dimas—pria matang keturunan darah biru—Kirana rela mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya. Ia melepaskan masa lalu, melawan restu keluarganya sendiri, hingga meruntuhkan tembok perbedaan besar demi menyamakan arah masa depan dan bersiap melangkah ke jalan yang sama dengan sang kekasih.
Namun, tepat di hari saat ia siap menyerahkan seluruh hidupnya, takdir menghempaskannya tanpa belas kasihan. Di sebuah gedung pesta yang megah, dunia Kirana seolah runtuh. Di atas pelaminan mewah, Dimas justru bersanding dengan wanita lain yang merupakan atasannya sendiri. Tanpa ada kata putus, tanpa perpisahan hangat. Kirana ditinggalkan begitu saja dalam kehampaan oleh pria yang berjanji menjadi kompas hidupnya.
Sanggupkah Kirana bertahan dan menemukan kembali jati dirinya setelah pengorbanan tulusnya diinjak-injak? Dan bagaimanakah takdir menjemput penyesalan terdalam sang lelaki darah biru tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Bawah Langit Pesantren dan Restu yang Berbisik
Keputusan telah diambil, dan untuk pertama kalinya dalam hidup seorang dokter yang selalu menjunjung tinggi harga diri serta kewibawaannya, dr. Adrian memilih untuk melempar jauh-jauh rasa malunya ke dalam tong sampah.
Sore itu, tepat setelah mobil mewah Ibu Ratna melesat pergi dengan memalukan, dr. Adrian masih berdiri di ambang pintu ruko bersama Kirana. Alih-alih melanjutkan alibinya soal pesanan kain ibadah sutra sang Ibu, Adrian berdehem cukup keras, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya yang mendadak ciut.
"Kirana, Aisyah..." panggil dr. Adrian, nadanya sengaja dibuat selembut mungkin, walau kedua telinganya sudah memerah menahan malu.
"Mengenai undangan acara pertemuan akbar di pondok Gus Yusuf pekan depan... kalau boleh... apakah saya diizinkan untuk ikut serta bersama kalian?"
UHUK!
Aisyah yang sedang meneguk air mineral di dekat meja jahit langsung tersedak hebat. Matanya membelalak jenaka, menatap dr. Adrian seolah dokter di hadapannya itu baru saja ketiban bulan.
Sementara Kirana hanya mengerjabkan matanya beberapa kali, terkejut dengan permintaan yang teramat sangat tidak biasa dari seorang dokter umum rumah sakit yang biasanya sangat sibuk tersebut.
"Eh? Dokter Adrian mau ikut ke pondok?" tanya Kirana dengan kepolosannya yang sangat anggun.
"Bukannya jadwal praktik Dokter di rumah sakit biasanya sangat padat di akhir pekan?"
"Kebetulan... pekan depan saya sengaja mengambil cuti. Dan saya rasa, sebagai orang yang baru ingin memperdalam kedamaian batin, menghadiri pertemuan akbar di pondok akan sangat baik untuk saya," dusta dr. Adrian tanpa berkedip demi menutupi motif utamanya yang murni karena takut ditikung di sepertiga malam oleh sang pengajar muda itu.
Aisyah langsung menahan tawa di balik telapak tangannya. Dia tahu betul, ini bukan soal pertemuan akbar, tapi soal pak dokter kulkas yang sudah kebakaran jenggot dan tidak mau membiarkan Kirana berjalan sendirian ke kandang saingannya!
Satu pekan berlalu dengan sangat cepat, dan di sinilah dr. Adrian berakhir.
Di bawah gapura hijau megah bertuliskan nama sebuah pondok besar di pinggiran kota, dr. Adrian berjalan di sisi kanan Kirana, sementara Aisyah berada di sisi kiri.
Adrian sengaja mengenakan baju kurung katun terbaiknya, namun setibanya di sana, rasa percaya diri sang dokter tampan itu langsung diuji secara spartan.
Suasana pondok sore itu teramat sangat ramai oleh para pengunjung dan para murid yang berlalu-lalang bersiap menyambut acara pertemuan akbar tersebut.
Kirana yang berjalan dengan sangat anggun berbalut gaun panjang longgar berwarna moka, benar-benar memancarkan aura keanggunan yang teramat sangat alami. Wajah sendunya yang bersih tanpa riasan tebal justru menjadi pusat perhatian.
Sepanjang koridor menuju area utama pondok, dr. Adrian bisa menangkap dengan sangat jelas bagaimana beberapa pasang mata murid laki-laki muda—bahkan beberapa pengajar muda di sana—sempat mencuri pandang ke arah Kirana dengan tatapan mata yang dipenuhi oleh rasa kagum yang teramat mendalam.
Sebagai seorang lelaki dewasa, dr. Adrian sangat paham arti dari tatapan-tatapan tersebut. Itu adalah tatapan kekaguman seorang pria terhadap wanita berhati anggun yang ingin mereka jadikan pendamping hidup!
Dada dr. Adrian mendadak bergemuruh hebat sekujur tubuh. Perasaan cemburu dan posesif yang tak berhak ia miliki membuatnya berulangkali menggeser posisi berdirinya, sengaja sedikit pasang badan untuk menghalangi pandangan mata para murid muda yang mencoba menatap keanggunan Kirana.
Adrian merasa saingannya sore ini bukan cuma satu orang, melainkan satu kompi pasukan pondok!
Namun, ujian mental yang sesungguhnya untuk dr. Adrian baru saja dimulai ketika mereka tiba di area kediaman utama (ndalem) pengasuh pondok tersebut.
Dari arah pintu utama ndalem, Gus Yusuf berjalan keluar mendampingi dua sosok paruh baya yang teramat sangat bersahaja tapi memancarkan wibawa yang luar biasa tinggi.
Mereka adalah Abi dan Ummi dari Gus Yusuf, pemilik sekaligus pengasuh tertinggi pondok agung tersebut.
"Selamat sore dan selamat datang, Mbak Kirana, Mbak Aisyah... dan Dokter Adrian," sapa Gus Yusuf dengan senyuman teduhnya yang langsung membuat dr. Adrian kembali siaga satu.
Namun, yang membuat jantung dr. Adrian seperti mau copot dari tempatnya adalah respon dari kedua orang tua Gus Yusuf. Begitu melihat Kirana, wajah sang Ummi langsung berbinar-binar luar biasa hangat. Wanita sepuh itu melangkah maju mendahului suaminya, lalu dengan sangat lembut meraih kedua telapak tangan Kirana dan menggenggamnya erat.
"Ini toh yang namanya Nak Kirana yang sering diceritakan oleh Yusuf?" ucap sang Ummi dengan nada suara yang teramat sangat lembut, dipenuhi oleh binar kasih sayang seorang ibu kepada calon menantunya.
"Yusuf sering sekali bercerita tentang keteguhan prinsip hidup Nak Kirana yang baru. Wajahmu sangat adem dan anggun sekali, nduk."
Sang Abi pun ikut tersenyum bijak, mengangguk-angguk penuh restu yang tertulis jelas di wajah sepuhnya. "Selamat datang di pondok kami, Nak Kirana. Anggap saja rumah sendiri. Kalau ada waktu luang, sering-seringlah main ke sini untuk belajar bersama Ummi di dalam."
JLEB!!! PLAK!!! DUARRR!!!
Sepanjang sisa waktu sebelum acara pertemuan akbar dimulai, dr. Adrian hanya bisa duduk kaku di kursi tamu luar dengan perasaan yang teramat sangat gelisah tidak karuan. Jiwanya seperti diaduk-aduk oleh rasa cemburu, minder, dan panik tingkat akut sekujur tubuh.
Melihat bagaimana hangatnya sambutan dari Abi dan Ummi Gus Yusuf, Adrian sadar bahwa jalan Gus Yusuf untuk mendapatkan Kirana sudah mendapat restu takdir yang tak tergoyahkan secara mutlak! Sementara dirinya? Bergerak pun belum, tapi posisinya sudah terancam kalah telak sebelum berperang!
pasti ada kekecewaan disitu ,wajar sih kalau mereka marah
malahan Ratna lebih peduli kehilangan Dimas,kalau ayahnya Dimas koid,Dimas bebas haha,dsar otak nya 😄
dia yang salah tapi tidak mau disalahkan
hasil merebut itu ga awet bu, inget umur
kamu wanita kaya ,mandiri knp harus merebut hak orang lain. percuma hartamu😄
udah merebut malahan dia merasa korban😄
kan bisa dibicarakan baik" ,kalian sudah mendzolimi kirana
rasakan akibatnya sendiri
setidaknya harus ada omongan, Ratna juga ksian hasil merampas itu ga akan tenang
kalau kamu itu seorang yang tau agama
tidak akua menawarkan nikah siri ,padahal baru 3hari
ayo tetap semangat
tapi semoga ini bisa jadi pelajaran buat kamu iya
cinta beda agama apakah mereka akan bahagia