Giwang gadis desa yang menikah dengan pujaan hatinya, tapi dia di tinggalkan suaminya setelah tujuh hari menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Rachman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Siti langsung berlari ke rumahnya untuk menghubungi suaminya. "Mas," ujarnya takut. "Ada apa?" sahut Paijo dari ujung ponselnya. "Agung tadi datang, dia ingin menceraikan Giwang," ujarnya lagi.
"Mas sudah menduga itu," sahut Paijo.
"Aku takut Mas," ujar Siti.
"Takut kenapa?" tanya Paijo.
"Agung menanyakan di mana Giwang, awalnya aku tidak mau mengatakan tapi dia mengancam akan memecat Mas Paijo," jelasnya.
Paijo mendengarkan semua penjelasan istrinya. "Kenapa dia sangat ingin tau keberadaan Giwang?" tanya Paijo.
"Aku enggak tau," sahut Siti.
"Kalau memang dia mau menceraikan tinggal ceraikan saja, atau jangan-jangan dia tidak bisa menceraikan istrinya kalau sosok Giwang tidak ada."
"Bisa jadi Mas," sahut Siti. "Terus bagaimana Mas?" tanyanya bingung.
"Kamu tenang saja, Giwang tidak ada menyebutkan alamat tinggalnya, dia hanya menyebutkan nomor telepon pemilik rumah, jadi Agung tetap tidak bisa menemukan Giwang, kecuali kamu menyebutkan nomor telepon tempat Giwang tinggal," ujar Paijo.
"Aku tidak ada menyebutkan nomor telepon, aku hanya bilang kalau Giwang menghubungiku dengan telepon umum."
"Ya sudah kalau begitu aman," sahut Paijo menenangkan istrinya.
"Apanya yang aman, aku sengaja menyebutkan keberadaan Giwang dengan alasan dia tidak akan memecat Mas paijo tapi nyatanya dia berbohong," ujar Siti cemas. Dia tidak bisa membayangkan jika suaminya menjadi pengangguran.
"Kamu tenang saja selama dia tidak menemukan Giwang, Mas yakin dia tidak akan bisa memecat," ujarnya menenangkan istrinya.
"Memangnya kenapa Mas?" tanya Siti penasaran.
"Menurut Mas, dia akan menikah dengan anak pemilik perusahaan."
"Apa!" Siti syok. "Pantas dia meninggalkan Giwang ternyata dia ingin menikah dengan orang kaya," gerutu Siti kesal.
"Tapi mengenai pernikahan Agung, sepertinya pemilik perusahaan tidak tau."
"Hemm aku tau, jadi dia mengejar Giwang agar cepat menikah dengan anak orang kaya, dasar pria licik!" Siti mengutuk Agung.
"Sekarang kamu hubungi Giwang katakan semuanya!" titah Paijo.
"Iya Mas."
Setelah itu panggilan terputus. Siti langsung menghubungi nomor Ibu Ima.
"Ya halo," sahut Ibu Ima.
"Maaf Bu mengganggu, saya Siti teman Giwang," ujarnya pelan.
"Tunggu ya," Ibu Ima menghampiri Giwang yang ada di teras sedang melayani pembeli.
"Giwang ada telepon dari Siti," ujar Ibu Ima sembari menyerahkan ponselnya. Giwang membawa ponsel Ibu Ima ke kamar. Wanita paruh baya itu menggantikan Giwang untuk melayani pembeli.
"Ya Siti ada apa?" tanya Giwang. Siti langsung menceritakan tentang kedatangan Agung ke kampung dan kehebohan di buat Agung juga diceritakannya tidak lupa dia menceritakan tentang rencana Agung menceraikan Giwang.
Perkataan Siti membuat hati Giwang sedih. "Giwang," ujar Siti dari ujung ponselnya.
"Iya," sahutnya menutupi rasa sedihnya. "Maafkan aku ya, karena aku, si Agung sialan tau keberadaan kamu," ujar Siti tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, aku tau kamu terdesak, aku mengucapkan terima kasih karena kamu dan Mas Paijo banyak membantuku," sahut Giwang.
"Ingat jangan sampai Agung menemukan keberadaan mu," ujar Siti sebelum menutup panggilannya.
Giwang menatap langit-langit kamar. "Di mana rasa sayangmu yang dulu," ujarnya sembari menangis. Giwang menangis terisak-isak. Ibu Ima mendengar suara tangisan Giwang, setelah tidak ada pembeli wanita paruh baya itu menghampiri Giwang ke kamar.
"Kenapa nak?" Ibu Ima langsung memeluk Giwang. "Dia mau menceraikan ku Bu," sahutnya menangis.
Ibu Ima mendekap Giwang dengan sangat erat, dia dapat merasakan kesedihan yang di rasakan Giwang.
"Tuhan tau mana yang terbaik untuk umatnya, menurut Ibu mulai sekarang lupakan Agung, karena dia bukan jodoh kamu sebenarnya, Ibu yakin Tuhan telah menyiapkan jodoh kamu yang sebenarnya dan akan datang pada waktunya, pria yang bertanggung jawab yang menyayangi kamu apa adanya," ujar Ibu Ima menyemangati Giwang.
Giwang masih tetap menangis. "Lupakan pria itu dan mulai sekarang pikirkan saja anak kamu, Ibu akan selalu ada di sisi kamu," ujar Ibu Ima.
"Terima kasih Bu," ujar Giwang sembari memeluk erat Ibu Ima. "Ibu adalah malaikat yang Tuhan kirimkan untukku, jika tidak ada Ibu mungkin aku sudah bunuh diri," ujarnya masih menangis.
"Semua ini sudah suratan takdir dan kita harus menjalani dengan ikhlas dan lapang dada," sahut Ibu Ima. "Jangan menangis lagi kasihan anak kamu."
Giwang menganggukkan kepalanya dan tersenyum sembari mengelus perutnya.
***
Empat bulan berikutnya di mana usia kandungan Giwang telah memasuki tujuh bulan lebih, dia merasa senang menyambut kelahiran bayinya.
Beda halnya dengan Agung sampai empat bulan lebih kasus perceraiannya belum juga ada titik terang. Pak Wahyu terus menanyakan tentang perceraiannya.
"Kenapa sampai sekarang belum ada kejelasan?" tanya Pak Wahyu. "Adlan tidak pernah menangani kasus selama ini," ujar Pak Wahyu lagi.
"Saya akan cek lagi ke sana Pak," sahut Agung segera berlalu. Di lobi dia bertemu dengan Paijo yang lagi membersihkan ruang tunggu.
Agung langsung menghampiri temannya. "Di mana Giwang?" tanyanya ke Paijo.
Paijo melirik sekilas dan kembali melanjutkan pekerjaannya tanpa mau menjawab pertanyaan Agung.
"Jawab aku!" Agung mencengkeram kerah kemeja Paijo.
"Seperti ini sikap bos yang baik," sindir Paijo sembari melihat orang-orang di lobi yang memperhatikan mereka. Agung langsung menurunkan tangannya dari kerah kemeja temannya. Dia pura-pura membetulkan kemeja temannya sembari tersenyum ke pegawai yang ada di lobi.
"Aku akan mengawasi kamu!" ancam Agung ke Paijo dengan cara berbisik dan tersenyum ke para pegawai.
"Silakan," sahut Paijo santai.
Agung keluar dari ruang tunggu dan langsung meninggalkan perusahaan itu. Menuju kantor pengacara.
Dengan berkacak pinggang dia menunggu Rose. Wanita paruh baya yang bernama Rose menemuinya.
"Kenapa sampai sekarang kasus saya belum masuk ke persidangan?" tanyanya ketus.
Rose mengerutkan dahinya. "Seharusnya saya yang bertanya, apa alamat yang Bapak berikan benar?" tanya Rose balik.
"Tentu benar," sahutnya sewot.
"Dan bukannya Bapak yang akan menyerahkan surat itu langsung ke istri Bapak?" pertanyaan dari Rose membuat Agung bingung.
Dia duduk di depan Rose yang tadinya berkacak pinggang sekarang sedikit melemah.
"Sebenarnya saya sudah ke sana beberapa bulan lalu tapi saya tidak menemukan istri saya, dia seperti hilang di telan bumi."
Rose hanya menatap Agung tanpa memberikan tanggapan. "Bisa tidak surat itu tidak di tanda tangani istri saya?" tanyanya pelan.
"Tidak bisa," sahut Rose tegas.
"Tapi sampai sekarang dia tidak ada, mungkin saja istri saya meninggal," ujarnya pelan.
"Jika istri Bapak meninggal harus ada surat keterangan dari rumah sakit perangkat desa dan terutama kepolisan dengan itu kami bisa proses," jelas Rose.
Agung diam, untuk meminta surat ke perangkat desa tidak mungkin karena dia sudah bersitegang dengan warga kampungnya, apalagi surat dari rumah sakit dan belum dari kantor Polisi membuatnya bingung.
"Pasti kalian tidak bisa menangani kasus saya dengan memberi alasan aneh-aneh."
Rose tersenyum. "Bapak bisa tanyakan ke pengacara lain tentang ini semua, dan saya yakin kasus Bapak akan tersendat seperti ini jika istri Bapak tidak menandatangani surat yang saya berikan beberapa bulan lalu," jelas Rose.
Tidak ada pilihan untuk Agung, akhirnya dia tetap menyerahkan kasusnya ke kantor pengacara Adlan dan dia tetap berusaha untuk mencari keberadaan istrinya.
Bersambung...
Bantu vote ya.
Follow Instagram : anita_rachman83
seputar novel hanya di info di instagram tidak ada di grup.
🌷🌷
Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014!