NovelToon NovelToon
Dihina di Depan Umum, Bangkit Jadi Pengacara Terkuat

Dihina di Depan Umum, Bangkit Jadi Pengacara Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Galaxy

Alexander Wijaya hanyalah pengacara magang berpenghasilan pas-pasan, menanggung uang kos dan biaya kuliah adiknya sendirian — sampai malam ia dipermalukan habis-habisan oleh mantan kekasihnya, Priscilla Salim, di depan umum. Amarah dan keterhinaan itu justru membangunkan Sistem Pengacara Terkuat: panel status rahasia, kemampuan membaca pikiran, dan analisis bukti secepat kilat yang hanya bisa dilihat olehnya sendiri.

Sejak saat itu, setiap lawan yang meremehkannya berakhir mati sosial di ruang sidang. Namun di balik kebangkitannya, tersimpan luka lama: kematian ayahnya 27 tahun silam yang penuh kejanggalan, dan sebilah golok berdarah warisan keluarga yang menyimpan rahasia kelam.

Ketika seorang profesor dijatuhi vonis mati atas tuduhan yang tidak pernah ia lakukan, dan waktu eksekusi tinggal menghitung hari, Alexander harus membuktikan satu hal yang bisa mengubah segalanya — bahwa keadilan yang tak terlihat, lebih berharga untuk diperjuangkan daripada nyawanya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galaxy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 011: Papan Catur di Rumah Salim

"Bang, kalau nanti mereka tanya kita naik apa, jawab jujur saja, ya?"

Nathan berdiri di depan gerbang Vila Keluarga Salim dengan tas sekolah di punggung. Sepatunya bersih, tetapi solnya sudah mulai tipis. Di belakang gerbang, halaman rumah itu cukup luas untuk menelan seluruh gang kos mereka.

Alexander menatap adiknya. "Kita memang naik angkot. Itu bukan kejahatan."

Satpam vila menurunkan kaca pos. "Nama?"

"Nathan Wijaya. Diundang untuk bermain catur dengan Kevin Salim Jr. Saya kakaknya, Alexander Wijaya."

Satpam memeriksa daftar. Matanya sempat turun ke sepatu Nathan, lalu ke kemeja Alexander yang disetrika rapi tetapi bukan merek mahal.

Alexander tidak menunduk.

Beberapa detik kemudian, gerbang terbuka.

Di dalam, Nathan berjalan pelan sambil menghitung jarak antara kolam ikan, patung batu, dan pintu utama seperti menghitung papan catur yang terlalu besar.

"Jangan hitung harga rumah orang," kata Alexander.

Nathan berbisik, "Aku sedang hitung berapa langkah dari gerbang ke pintu. Kalau ada lomba lari, Kevin pasti menang karena latihan setiap hari."

Alexander hampir tertawa.

Seorang pelayan membawa mereka ke ruang keluarga. Di sana, papan catur kayu sudah siap di meja rendah. Kevin Salim Jr., anak lelaki berusia sekitar sepuluh tahun, duduk dengan dagu terangkat. Rambutnya rapi, bajunya mahal, dan di sampingnya ada pelatih catur yang wajahnya tampak terlalu yakin.

"Kamu Nathan?" tanya Kevin.

"Iya."

"Kata kakek, kamu pintar."

"Kadang."

"Kalau kalah jangan nangis."

Nathan meletakkan tasnya di lantai. "Kalau menang juga jangan nangis."

Pelatih Kevin batuk kecil. Alexander menahan senyum.

Dari sisi ruangan, seorang pria tua berjalan masuk dengan tongkat hitam berujung perak. Hartono Salim tidak perlu bicara keras untuk membuat semua orang sadar siapa pemilik rumah. Tatapannya tenang, rambutnya putih rapi, jas rumahnya sederhana tetapi jatuh di badan seperti dibuat khusus.

"Pak Alexander Wijaya?" katanya.

Alexander berdiri. "Betul, Pak Hartono. Terima kasih sudah mengundang adik saya."

"Gurunya mengatakan Nathan punya pola pikir tidak biasa. Saya ingin cucu saya bertemu lawan yang tidak selalu bisa dibeli dengan fasilitas."

Kalimat itu membuat pelatih Kevin sedikit kaku.

Alexander menjawab tanpa merendah berlebihan. "Nathan masih anak sekolah, Pak. Kalau ada yang kurang sopan, saya tegur."

"Kalau dia jujur, biarkan saja."

Permainan dimulai.

Kevin memilih putih. Ia membuka dengan cepat, dua langkah pertama seperti hafalan turnamen. Pelatihnya mengangguk puas.

Nathan tidak langsung bergerak. Ia menatap papan selama sembilan detik, lalu menggeser bidak hitam satu petak.

"Lambat," gumam Kevin.

"Kalau terburu-buru, papan jadi berisik," jawab Nathan.

Langkah kelima, Kevin menyerang kuda hitam. Langkah ketujuh, ia mengambil pion tengah. Langkah kesembilan, wajah pelatihnya mulai berubah.

Alexander tidak paham catur sedalam Nathan, tetapi ia paham ekspresi orang yang baru sadar jebakannya sendiri berubah menjadi kandang.

Hartono berdiri di belakang Kevin. Matanya yang tua menyipit.

"Kevin," kata pelatihnya pelan, "jangan ambil benteng itu."

Kevin sudah mengambilnya.

Nathan mengangkat menteri hitam dan meletakkannya di diagonal panjang.

"Skak."

Kevin mengerutkan dahi. Ia memindahkan raja.

Nathan menggerakkan kuda.

"Skak lagi."

Pelatih Kevin maju setengah langkah. Kevin mulai menggigit bibir. Tiga langkah kemudian, papan sunyi.

Nathan meletakkan benteng terakhir.

"Mat."

Kevin menatap papan seperti papan itu mengkhianatinya.

"Tidak mungkin. Aku unggul benteng."

Nathan menunjuk tiga kotak. "Iya. Tapi rajamu tidak punya rumah."

Ruangan itu diam.

Lalu Hartono tertawa pendek, seperti orang yang sudah lama tidak melihat sesuatu yang segar.

"Ulang," kata Kevin keras.

Pelatihnya hendak menegur, tetapi Hartono mengangkat tangan. "Boleh. Tapi kali ini, Kevin, kamu dengarkan kenapa kamu kalah."

Nathan menoleh ke Alexander, meminta izin tanpa kata.

Alexander mengangguk. "Jelaskan baik-baik."

Nathan menyusun ulang beberapa bidak. "Di sini, Kak Kevin mengejar nilai bidak. Aku mengejar jalan pulang raja. Kalau yang dilindungi cuma benda yang terlihat mahal, bagian paling penting bisa kosong."

Ucapan itu terlalu sederhana untuk anak kecil dan terlalu tepat untuk orang dewasa.

Hartono melirik Alexander. "Adikmu belajar dari siapa?"

"Dari buku bekas, aplikasi gratis, dan kalah berkali-kali," jawab Alexander.

"Bukan dari pelatih?"

"Kami belum punya uang untuk pelatih."

Pelatih Kevin menunduk sedikit. Kevin, yang tadinya merah karena kalah, justru menatap Nathan dengan penasaran.

"Kalau aku bayar, kamu mau ajari aku?" tanya Kevin.

Nathan ragu.

Alexander menjawab lebih dulu. "Kalau belajar bersama sebagai teman, boleh. Kalau dibayar, harus jelas izin sekolah, waktu belajar, dan tidak mengganggu pelajaran Nathan."

Hartono tersenyum.

"Kamu pengacara?"

"Advokat Magang di Kantor Hukum Adiwangsa."

"Pantas. Bahkan urusan anak main catur kamu ubah menjadi syarat tertulis."

"Bukan karena tidak percaya, Pak. Justru supaya hubungan baik tidak rusak oleh hal kecil."

Hartono mengetukkan tongkat ke lantai sekali. "Jawaban bagus."

Pelayan datang membawa minuman dan piring kue. Nathan menatap kue itu sebentar, lalu hanya mengambil satu. Kevin mendorong piring lebih dekat.

"Ambil lagi. Di rumah ini kalau kue sisa, besok tetap diganti baru."

Nathan mengambil satu lagi, lalu berkata pelan, "Di rumahku kalau kue sisa, besok jadi sarapan. Jadi aku ambil secukupnya."

Kevin terdiam. Kali ini ia tidak mengejek.

Alexander melihatnya dan merasa dada yang sejak pagi tegang oleh MakanYuk sedikit melonggar. Nathan tidak punya vila, pelatih, atau mobil jemputan. Tetapi di depan papan catur dan piring kue, adiknya tidak kehilangan harga diri.

Hartono mengajak Alexander berjalan ke teras.

"Saya mendengar nama Wijaya beberapa hari ini," katanya.

Alexander tetap tenang. "Karena kasus kecil di pengadilan?"

"Karena kamu menang tanpa berisik. Orang tua seperti saya menyukai hal seperti itu."

Nama Salim di gerbang tadi sempat mengingatkannya pada Robert Salim. Tetapi Alexander menahan diri. Dalam hukum, nama keluarga bukan bukti. Asumsi yang terlalu cepat bisa menjadi kesalahan pertama.

"Pak Hartono terlalu baik menilai saya," jawabnya.

"Belum. Saya baru tertarik." Hartono memandang ke ruang keluarga, tempat Nathan mulai menjelaskan variasi pembukaan kepada Kevin. "Keluargamu tidak banyak bicara soal susah, tapi kelihatan pernah menanggungnya."

Alexander tidak menjawab.

"Datang lagi minggu depan," kata Hartono. "Biarkan Nathan bermain dengan Kevin. Saya juga ingin berbicara lebih banyak denganmu."

"Tentang apa, Pak?"

"Tentang orang yang tetap berdiri lurus meski masuk rumah orang kaya dengan sepatu tua."

Alexander menatap pria tua itu. Ia tidak merasa dihina. Justru sebaliknya, Hartono melihat detail yang kebanyakan orang pakai untuk merendahkan, lalu memilih memakainya untuk mengukur.

Dari ruang keluarga, suara Kevin terdengar, lebih kecil dari sebelumnya.

"Nathan, kalau aku tidak ambil benteng tadi, aku masih bisa selamat?"

"Bisa," jawab Nathan. "Tapi harus berani mundur satu langkah."

Hartono tersenyum tipis.

"Anak-anak kadang menjelaskan hidup lebih baik daripada orang dewasa."

Alexander menatap papan catur di dalam rumah besar itu.

Di luar, perang dengan MakanYuk belum berhenti. Dokumen belum datang. Anwar masih di rumah sakit. Ancaman Bagas masih menggantung.

Tapi hari ini, di rumah keluarga Salim yang bukan musuh dan belum tentu sekutu, Alexander mendapatkan satu hal penting.

Orang besar pertama yang melihat keluarga Wijaya tanpa menyuruh mereka menunduk.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!