"Raka Laksana — yatim piatu, detektif gagal, ditertawakan semua orang. Sampai malam itu, sebuah sistem bangkit dalam dirinya: “Sistem Penghakiman”. Mata Dosa yang bisa membaca dosa siapa pun. Buku Penghakiman yang bisa menjatuhkan hukuman di hadapan seluruh negeri. Kekuatan yang tak dimiliki polisi, jaksa, atau hakim mana pun.
Menyamar sebagai konsultan biasa di Satreskrim Kota Elang Biru, Raka membongkar kasus demi kasus — pembunuhan, sindikat perdagangan manusia, konspirasi elite — sambil menyembunyikan identitas aslinya sebagai eksekutor bayangan. Sistem terus naik level, skill terus bertambah, dan setiap penjahat yang lolos dari hukum biasa... tidak akan lolos dari tangannya.
Tapi ada satu kasus yang tak pernah bisa ia lupakan: dua puluh tahun lalu, kedua orangtuanya difitnah dan dihancurkan oleh **Keluarga Halim** — konglomerat paling berkuasa di kota ini. Setiap kasus yang ia selesaikan membawanya selangkah lebih dekat pada kebenaran itu.
Dan pada hari penghakiman tiba, seluruh bangsa akan menyaksikan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 7: Polisi yang Berbeda
Bagus Saputra tiba di Desa Batu Giok saat matahari baru naik.
Ia turun dari ojek dengan langkah goyah. Tubuhnya kurus, kemejanya kusut, dan matanya merah seperti orang yang menangis sepanjang perjalanan. Begitu melihat rumah Ratih dari kejauhan, wajahnya berubah, seolah setiap meter tanah di desa itu menamparnya dengan penyesalan baru.
Raka menemuinya di depan pos polisi kecamatan.
"Pak Bagus."
Bagus menggenggam tangan Raka terlalu kuat. "Saya terlambat, ya?"
Tidak ada jawaban yang baik untuk itu.
"Anda masih bisa membantu Dewi mendapat keadilan," kata Raka.
Bagus mengangguk, tapi matanya kosong.
Pagi itu Raka dan Kribo menyerahkan semua yang mereka punya ke petugas kecamatan: foto lubang septik, foto kamar mandi bawah, sampel noda, rekaman dari Boneka Teddy Bear Dewi, dan catatan kronologi. Petugas kecamatan tampak kewalahan. Mereka bisa mencatat, bisa menelepon, bisa mengangguk. Tapi kasus ini sudah melewati batas kemampuan mereka.
Akhirnya satu panggilan dibuat ke Polres Distrik Surya.
Menjelang siang, mobil polisi hitam berhenti di depan balai desa.
Pria berseragam rapi turun lebih dulu. Wajahnya keras, matanya tenang, gerakannya tidak terburu-buru. Di belakangnya, seorang anggota lebih muda membawa map dan kamera kecil.
Ratih berdiri di beranda rumah, Bagus di sampingnya. Wisnu muncul dari jalan arah kota, berhenti saat melihat mobil itu. Marlina yang sedang duduk di ruang depan langsung berdiri.
"Kompol Yudha Zulkarnain," kata pria itu kepada petugas kecamatan. "Kasat Reskrim Polres Distrik Surya. Mulai sekarang, semua bukti diserahkan ke tim kami."
Suasana langsung berubah.
Bukan karena ia berteriak. Justru karena ia tidak perlu berteriak.
Raka menatapnya, dan Mata Dosa menyala.
【KOMPOL YUDHA ZULKARNAIN】
【INDEKS DOSA: 3/100】
【KETERKAITAN DENGAN KASUS AKTIF: PENYIDIK RESMI】
Tiga.
Angka itu hampir bersih.
Untuk pertama kalinya sejak masuk Desa Batu Giok, Raka merasa ada orang dari sistem hukum yang benar-benar berdiri di sisi yang sama dengannya.
Yudha mendekat. "Kamu Raka Laksana?"
"Iya, Pak."
"Kamu tanpa lencana, tanpa kantor hukum, tanpa lisensi detektif." Mata Yudha menyapu wajahnya. "Dalam tiga hari kamu menemukan jasad, mengamankan barang bukti, menghubungkan jelly, kamar mandi, dan perekam suara. Bagaimana?"
Kribo, di belakang Raka, pura-pura batuk.
Raka menjawab hati-hati. "Saya mengikuti petunjuk, Pak. Dan mendengar orang yang tidak didengar."
Yudha menatapnya beberapa detik lebih lama.
"Petunjuk tidak membuat orang biasa menemukan jasad di lubang septik dalam dua hari. Tapi kita bahas itu nanti." Ia menoleh kepada anggota muda di belakangnya. "Dimas, dokumentasikan ulang semua bukti. Chain of custody mulai dari sekarang."
"Siap, Komandan," jawab Dimas Kurniawan.
Dimas tersenyum singkat kepada Raka. "Bang, nanti jelaskan urutan temuan satu per satu. Jangan ada yang lompat. Kalau lompat, laporan saya ikut sakit kepala."
Yudha tidak membuang waktu. Ia memerintahkan garis polisi dipasang ulang, meminta petugas kecamatan menyerahkan buku laporan, lalu menyuruh satu anggota lokal menuliskan nama semua orang yang sempat memegang Boneka Teddy Bear Dewi.
"Mulai sekarang," katanya datar, "tidak ada barang bukti yang pindah tangan tanpa tanda tangan. Kalau ada yang hilang lagi, saya anggap penghalangan penyidikan."
Petugas kecamatan yang semalam banyak alasan langsung menunduk. Untuk pertama kalinya, prosedur tidak terdengar seperti tembok. Ia terdengar seperti senjata.
Kribo langsung berbisik, "Gue suka orang ini. Dia menghormati sakit kepala administratif."
Di ruang kecil pos kecamatan, Yudha memutar rekaman satu per satu. Wajahnya tidak berubah saat Wisnu membentak Dewi. Tapi tangan Dimas yang memegang pena berhenti sesaat.
Rekaman kedua diputar.
"Anak ini cuma beban. Kalau bukan karena uang Bagus, sudah dari dulu aku..."
Yudha menekan pause.
"Secara hukum, rekaman ini zona abu-abu," katanya. "Dipasang tanpa izin di rumah orang. Pengacara bagus bisa menyerang cara perolehannya. Tapi sebagai petunjuk investigasi, ini emas. Kita gunakan untuk mengarahkan penyidikan, bukan sebagai satu-satunya tiang dakwaan."
Raka mengangguk. Ini bedanya polisi malas dan polisi serius. Yang satu mencari alasan berhenti. Yang satu mencari jalan agar kebenaran bisa masuk lewat prosedur.
Bagus diminta masuk.
Pria itu mengakui semuanya: ia memasang perekam di Boneka Teddy Bear Dewi karena curiga Wisnu kasar, karena Dewi selalu tegang saat nama Wisnu disebut, karena Ratih menolak percaya. Ia datang diam-diam tiap beberapa minggu, memberi uang, memberi susu, dan terakhir memberi boneka itu.
"Saya pikir kalau ada bukti, saya bisa lapor," kata Bagus. "Tapi saya takut Ratih marah. Takut dia bilang saya mau merusak rumah tangganya. Saya menunda. Saya terus menunda."
Di luar ruangan, Ratih mendengar sebagian. Saat Bagus keluar, keduanya bertemu di bawah pohon depan pos.
Ratih menamparnya.
Tidak keras, tapi cukup membuat semua orang diam.
"Kenapa kamu tidak bilang?" suaranya pecah. "Kalau kamu curiga, kenapa tidak bilang?"
Bagus menunduk. "Karena aku takut kamu tidak percaya. Karena aku cuma mantan suami yang gagal."
Ratih menangis. Kali ini tangisnya juga membawa semua keputusan buruk orang dewasa sebelum seorang bayi membayar harganya.
Bagus tidak membela diri. Ia hanya mengeluarkan foto kecil dari dompet: Dewi tertawa dengan dua gigi mungil, memegang telinga boneka beruang. Foto itu kusut karena terlalu sering disentuh.
"Aku pikir masih ada waktu," katanya. "Aku pikir kalau aku sabar sedikit lagi, aku bisa bawa dia keluar dengan cara baik-baik."
Ratih menutup wajahnya. "Kita semua pikir masih ada waktu."
Raka tidak mendekat. Ada luka yang tidak boleh diganggu bahkan oleh orang yang ingin membantu.
Sore itu, Yudha memerintahkan interogasi formal terhadap Wisnu dan Marlina untuk besok pagi. Tim forensik dari kota juga dikabarkan sudah membawa hasil awal.
Wisnu melihat Raka dari halaman rumah. Senyumnya hilang.
"Kamu puas sekarang?" katanya pelan saat lewat di samping Raka. "Membuat keluarga orang jadi tontonan?"
Raka menatapnya. "Keluarga orang atau tempat kejadian perkara?"
Mata Wisnu menajam.
Sebelum ia menjawab, Yudha keluar dari pos sambil menelepon.
"Ya, Pak AKBP. Ini bukan kasus anak hilang biasa. Ada indikasi pembunuhan berencana, manipulasi saksi rentan, dan penghilangan barang bukti. Saya ambil alih penuh."
Nama atasan itu lewat singkat, tapi cukup membuat petugas kecamatan berdiri lebih tegak.
Malam turun.
Kribo masih menunduk di depan laptop, headphone menempel di satu telinga. File ketiga berkali-kali gagal, lalu tiba-tiba gelombang audio di layar bergerak stabil.
Wajah Kribo memucat.
"Raka."
Raka mendekat. "Berhasil?"
Kribo tidak menjawab. Ia menekan play.
Suara Wisnu terdengar, pelan dan terengah, seperti bicara di telepon sambil menahan panik.
"Sudah beres. Anak itu tidak akan menangis lagi."
Ruangan kecil itu membeku.
Di audio, ada jeda. Lalu suara Wisnu muncul lagi.
"Ibu, bersihkan kamar mandi bawah. Jangan biarkan Ratih masuk."
Kribo menatap Raka.
"Bro," suaranya kering, "ini bukan cuma bukti. Ini pisau."