Setelah rencana Mugen Tsukuyomi hancur, Madara Uchiha menemui ajalnya di Perang Dunia Ninja Keempat. Namun, bukannya pergi ke alam baka, ia justru terbangun di pesisir Grand Line yang ganas dalam wujud remajanya yang berusia 16 tahun. Kehilangan ambisi lamanya, sang "Hantu Uchiha" kini hanya ingin hidup bebas dan terlepas dari pertumpahan darah yang tak berarti.
Berbekal sebuah Sistem misterius yang memulihkan kekuatan dewanya secara bertahap, Madara memulai perjalanan barunya. Ironisnya, sikap Madara yang arogan, dingin, dan selalu menolak membunuh musuh lemah malah memicu rentetan kesalahpahaman yang konyol. Dunia dan para pengikutnya—mulai dari Nico Robin, Boa Hancock, hingga Enel—menyanjungnya sebagai sosok penyelamat agung sekaligus penguasa mutlak yang tak tertandingi.
Bersama Bajak Laut "Mugen", eksistensi Madara perlahan meruntuhkan alur takdir lautan. Mulai dari mempermalukan Angkatan Laut, membelah langit melawan Yonko, hingga diakui sebagai "Kaisar Kelima".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Mundur Taktis dan Kesombongan yang Disalahartikan
Angin dingin dari perairan utara menyapu geladak utama kapal kerajaan Germa Enam Puluh Enam.
Asap tipis sisa benturan perlahan terbawa udara. Suara derak logam yang patah dan korsleting kabel listrik menjadi satu-satunya nada yang memecah kesunyian. Ratusan prajurit klon berseragam putih terkapar tanpa daya di atas lantai baja.
Di sudut menara komunikasi, Vinsmoke Judge, sang Raja North Blue, terpuruk di antara tumpukan kabel yang putus. Mahkota garuda kebanggaannya telah hancur berkeping-keping. Darah segar menetes dari sudut bibirnya, menodai jubah kuning cerahnya.
Uchiha Madara berdiri beberapa meter dari raja yang tumbang itu.
Wajah remajanya terlihat sangat tenang. Tidak ada emosi yang terpancar dari mata hitamnya yang baru saja menonaktifkan Sharingan. Postur tubuhnya tegak, memancarkan aura seorang pemenang yang bahkan tidak perlu merayakan kemenangannya.
Namun di balik ketenangan absolut tersebut, sebuah realitas yang berbeda sedang terjadi di dalam tubuhnya.
Madara menarik napas secara perlahan. Dia memastikan pergerakan dadanya tidak terlihat berlebihan. Paru-parunya menyerap udara dingin sebanyak mungkin untuk mendinginkan suhu tubuhnya yang melonjak.
Tangan kanannya yang dibiarkan menggantung bebas di sisi tubuh terasa sedikit kebas.
Madara memfokuskan pikirannya ke arah kepalan tangan kanannya. Otot-otot di sekitar buku jarinya berdenyut pelan. Ada sedikit rasa nyeri yang merambat hingga ke pergelangan tangannya.
'Luar biasa keras,' batin Madara mengevaluasi pukulannya tadi.
Dia mengingat kembali momen ketika tinjunya menghantam helm baja milik Judge. Logam pelindung itu bukan sekadar besi biasa. Ada kepadatan molekul yang tidak wajar di dalamnya, sebuah hasil dari rekayasa ilmu pengetahuan yang sangat mutakhir.
Untuk bisa menembus dan menghancurkan helm tersebut dalam satu pukulan, Madara harus memusatkan jumlah chakra yang sangat besar. Dia mengalirkan hampir sebagian besar dari pasokan chakra level Jonin Elit yang baru saja dia dapatkan dari Sistem.
Chakra itu bertindak sebagai pelindung sekaligus penghancur. Jika dia tidak memadatkan energinya hingga batas maksimal, tulang tangannya sendiri yang mungkin akan retak saat beradu dengan teknologi Germa.
Kini, akibat dari pengeluaran energi yang mendadak dan sangat masif itu, aliran tenaga di dalam jalur tenketsu tubuhnya mulai terasa menipis.
Napas Madara terasa sedikit lebih berat dari biasanya. Ini adalah kelemahan dari tubuh remajanya. Wadah fisiknya belum terbiasa menampung dan menyalurkan ledakan chakra dalam skala besar secara beruntun.
Tiba-tiba, suara mekanis bergema di dalam kepalanya.
[Peringatan. Kapasitas Chakra saat ini menurun mendekati batas ambang pemulihan.]
[Disarankan untuk menghentikan kontak fisik skala besar dan memulihkan energi.]
Madara tidak membutuhkan Sistem tak kasatmata itu untuk memberitahunya kondisi tubuhnya sendiri. Dia sudah menyadarinya.
Sebagai seorang veteran perang yang telah selamat dari ribuan pertarungan mematikan, Madara tahu betul kapan harus maju dan kapan harus menahan diri. Kesombongan yang buta adalah jalan cepat menuju kematian. Keangkuhan sejati selalu diimbangi oleh perhitungan taktis yang sangat matang.
Madara mengaktifkan kembali Kenbunshoku Haki tingkat dasarnya. Dia memperluas jangkauan radarnya menembus dinding-dinding logam kastil siput di depannya.
Tebakannya benar.
Jauh di dalam kastil, dia merasakan beberapa fluktuasi energi yang mulai bergerak. Ada tiga atau empat keberadaan yang memancarkan niat membunuh yang tajam. Energi mereka mirip dengan pria paruh baya yang terkapar di depannya, diwarnai oleh teknologi eksoskeleton yang serupa.
'Sisa keluarganya sudah menyadari keributan ini,' batin Madara.
Mereka bergerak cepat menuju geladak utama. Jika Madara tetap berdiri di sini, dia harus menghadapi sisa komandan Germa Enam Puluh Enam. Bertarung melawan musuh-musuh berlapis baja super keras dengan sisa chakra yang menipis adalah tindakan yang sangat tidak efisien.
Tubuh fisiknya akan dipaksa melampaui batas, dan itu bisa menyebabkan kerusakan permanen pada jalur energinya yang baru saja terbuka.
Keputusan telah diambil. Tarian ini harus diakhiri sekarang.
Namun, seorang Uchiha tidak pernah melarikan diri. Seorang Uchiha meninggalkan medan pertempuran karena mereka sendiri yang memutuskan bahwa pertarungan itu sudah tidak lagi layak untuk dilanjutkan.
Madara mengubah ekspresi wajahnya. Dia menghapus sisa-sisa ketegangan dari otot wajahnya, menggantinya dengan raut kebosanan yang sangat mendalam.
Dia mengangkat tangan kanannya perlahan. Dia membalikkan telapak tangannya, menatapnya sejenak, lalu mengibaskan tangannya ke udara. Sebuah gerakan santai yang mengisyaratkan bahwa dia baru saja menyentuh sesuatu yang sangat menjijikkan.
Gerakan itu dilakukan dengan sengaja untuk menghancurkan sisa-sisa harga diri lawannya.
Madara menundukkan pandangannya, menatap Judge yang masih bersandar pada dinding menara komunikasi.
Raja Germa itu sedang berusaha keras menahan rasa sakit. Napasnya terdengar berderak. Mata Judge menatap Madara dengan campuran antara kemarahan dan kebingungan.
“Membunuh raja boneka sepertimu hanya akan mengotori tanganku,” ucap Madara. Suaranya datar, dingin, dan memotong udara kabut bagaikan pedang es.
Judge melebarkan matanya. Mulutnya terbuka sedikit, namun tidak ada kata yang berhasil keluar. Darah kembali menetes dari dagunya.
Madara memutar tubuhnya setengah bagian. Dia tidak lagi memedulikan keberadaan Judge, seolah-olah pria itu benar-benar tidak lebih dari sebuah batu kerikil di pinggir jalan.
“Perbaiki mainanmu,” lanjut Madara tanpa menoleh. “Lalu kembali temui aku jika kau sudah belajar cara memukul.”
Kata-kata itu adalah pukulan mental yang jauh lebih mematikan daripada hantaman fisiknya tadi. Madara menolak untuk memberikan kematian seorang prajurit kepada lawannya. Dia merendahkan seluruh eksistensi Judge, kerajaannya, dan teknologinya menjadi sebatas permainan anak-anak yang membosankan.
Tanpa memberikan kesempatan bagi Judge untuk mencerna kalimat tersebut, Madara mulai bergerak.
Dia memusatkan sisa chakra yang ada di dalam tubuhnya ke arah kedua telapak kakinya. Dia tidak menggunakan gerakan persiapan yang panjang. Dia hanya menekuk sedikit kedua lututnya.
Duarr.
Suara ledakan udara kembali terdengar di atas geladak baja.
Lantai logam tempat Madara berdiri penyok ke dalam. Tubuh pemuda berarmor merah itu melesat mundur ke udara. Dia bergerak dengan sangat anggun, menolak gaya gravitasi dunia ini dengan kebebasan yang mutlak.
Dia terbang membelah udara yang dipenuhi kabut putih, melintasi jarak puluhan meter kembali menuju lautan lepas.
Jubah merahnya berkibar tertiup angin. Madara mempertahankan postur tubuhnya yang tegak di udara, meluncur turun dengan lintasan parabola yang sangat presisi.
Di ujung pandangannya, kapal kayu bajak laut tanpa bendera masih terombang-ambing di atas ombak.
Madara mengendalikan jatuhnya. Dia mendarat tepat di atas ujung haluan kapalnya sendiri. Kakinya menyentuh sisa-sisa kayu yang sebelumnya hancur akibat tolakannya. Kali ini pendaratannya sama sekali tidak menghasilkan suara. Dia menyerap seluruh energi kinetik pendaratannya ke dalam persendian lututnya dengan sangat sempurna.
Madara berdiri tegak. Dia melipat kembali kedua tangannya di depan dada.
Nico Robin, yang sedari tadi berdiri mematung di dekat ruang kemudi, langsung tersentak sadar. Dia menatap pemuda yang baru saja kembali dari sarang monster dengan keadaan tanpa luka sedikit pun.
Mata biru Robin dipenuhi oleh rasa lega dan kekaguman yang semakin tidak terbendung.
Madara tidak menatap Robin. Dia menatap lurus ke arah kabut tebal yang menyelimuti armada siput raksasa di kejauhan.
“Berlayar,” perintah Madara. Suaranya terdengar tegas melintasi geladak kapalnya.
Para kru bajak laut yang bersembunyi di balik tong kayu buru-buru melompat bangun. Mereka langsung bergerak tanpa perlu disuruh dua kali.
“Aku sudah bosan dengan pemandangan siput jelek ini,” tambah Madara dingin.
Mantan kapten bajak laut yang gemuk berteriak memberikan komando kepada anak buahnya. Layar utama langsung dibentangkan penuh. Kemudi kapal diputar tajam. Kapal kayu itu berderit keras, berbalik arah membelah ombak, bergerak menjauhi formasi armada Germa Enam Puluh Enam.
Madara menutup matanya. Dia membiarkan suara angin dan deburan ombak menenangkan jalur energinya yang tegang. Mundur taktis ini berjalan tanpa hambatan. Tidak ada yang akan mengejarnya, dan dia bisa memulihkan chakranya dengan tenang.
Sementara itu, di atas geladak utama kapal siput kerajaan Germa.
Keheningan perlahan tergantikan oleh suara langkah kaki tergesa-gesa. Beberapa pintu baja terbuka dengan keras. Puluhan prajurit medis dan prajurit cadangan berlari keluar dari dalam kastil.
Mereka menyebar ke seluruh geladak, memeriksa kondisi ratusan rekan mereka yang terkapar pingsan.
Dua orang komandan prajurit segera berlari menghampiri menara komunikasi. Mereka berlutut di depan Vinsmoke Judge yang masih bersandar lemas pada dinding logam.
“Paduka Raja!” seru salah satu komandan dengan nada panik. Dia segera mengeluarkan kotak medis darurat. “Apakah Anda bisa mendengar kami? Tim medis sedang menuju ke sini!”
Judge mengangkat tangan kirinya dengan susah payah. Dia memberikan isyarat agar prajurit itu berhenti bicara.
Raja Germa itu terbatuk keras. Setiap kali dadanya bergerak, rasa sakit yang luar biasa menusuk tulang rusuknya yang retak. Dia memalingkan wajahnya, meludahkan gumpalan darah ke atas lantai baja di sampingnya.
Prajurit medis mulai bekerja, menyuntikkan obat pereda nyeri dan menstabilkan bagian tubuh Judge yang terluka.
Judge tidak memedulikan rasa sakit fisik tersebut. Mata di balik sisa-sisa helmnya yang hancur menatap lurus menembus kabut putih.
Dia menatap ke arah lautan kosong tempat kapal kayu kecil itu sebelumnya berada. Kapal itu kini telah menghilang, tertelan oleh jarak dan kabut tebal North Blue. Remaja berarmor merah itu telah pergi.
Napas Judge berangsur-angsur menjadi lebih teratur berkat obat yang disuntikkan. Otaknya yang jenius mulai berputar, mencoba memproses seluruh kejadian yang baru saja menimpa dirinya dan kerajaannya.
Seorang remaja tak dikenal melompat dari kapal kayu kecil. Menghancurkan dua ratus prajurit elit dalam hitungan menit. Mematahkan teknik serangan terbaiknya hanya dengan satu pukulan tangan kosong. Lalu... remaja itu pergi begitu saja.
Kenapa?
Pertanyaan itu berputar liar di dalam kepala Judge.
Jika remaja itu benar-benar seorang monster yang tidak memiliki rasa takut, mengapa dia tidak mengakhiri nyawa Judge? Mengapa dia tidak terus merangsek masuk ke dalam kastil dan menghancurkan seluruh laboratorium Germa?
Judge adalah seorang narsisis sejati. Seorang pria yang membangun kerajaannya di atas fondasi kesombongan dan keyakinan akan supremasi ilmu pengetahuan.
Pikiran bawah sadarnya menolak keras fakta bahwa dia baru saja diampuni karena dia dianggap lemah dan membosankan. Menerima kenyataan itu sama saja dengan menghancurkan seluruh ideologi yang dia anut selama puluhan tahun. Akal sehatnya mencari rasionalisasi untuk menyelamatkan sisa-sisa harga dirinya yang hancur.
Lalu, sebuah kesimpulan yang sangat menyesatkan terbentuk di dalam pikiran sang Raja.
Judge melebarkan matanya. Mulutnya yang berlumuran darah menyeringai kecil.
'Tentu saja,' batin Judge. Logikanya yang terdistorsi mulai merangkai cerita.
'Dia melarikan diri. Pemuda itu mengemas kepergiannya dengan kata-kata yang arogan, tetapi pada kenyataannya, dia memilih untuk mundur.'
Judge menumpukan tangannya pada dinding logam, memaksa tubuhnya yang terluka untuk berdiri. Dua prajurit dengan sigap memapah kedua lengannya, menahan berat tubuh raja mereka.
Judge berdiri dengan napas terengah. Dia menatap kabut di depannya dengan perasaan menang yang sangat palsu.
'Dia mengampuniku,' pikir Judge semakin yakin. 'Tidak. Dia bukan mengampuniku. Dia menyadari siapa diriku yang sebenarnya.'
Ego Vinsmoke Judge mulai mengambil alih realitas. Dia mengabaikan fakta bahwa helm kebanggaannya baru saja dihancurkan oleh satu pukulan. Dia mengabaikan rasa sakit di rahangnya.
'Dia tahu bahwa jika dia membunuhku di sini, seluruh armada Germa Enam Puluh Enam akan mengejarnya sampai ke ujung dunia,' analisis Judge di dalam kepalanya. 'Dia tahu bahwa dunia bawah tanah akan memburunya. Dia menyadari bahwa membunuh seorang Vinsmoke akan memicu perang besar berskala global yang belum siap ia hadapi.'
Judge tertawa pelan. Tawanya terdengar serak dan diakhiri dengan ringisan kesakitan, tetapi itu adalah tawa kepuasan.
'Dia tahu aku adalah Raja North Blue. Dia mengakui otoritas dan kekuatan militer yang aku miliki. Karena itulah dia menahan diri dan memilih mundur secara taktis.'
Kesombongan memang merupakan obat penawar yang paling mujarab bagi orang-orang bodoh.
Judge berhasil meyakinkan dirinya sendiri bahwa Uchiha Madara melarikan diri karena takut pada konsekuensi politik. Dia percaya bahwa kata-kata terakhir Madara bukanlah hinaan, melainkan sebuah pengakuan atas kekuatan Germa di masa depan.
Kenyataan bahwa Madara mundur semata-mata karena kehabisan chakra dan bosan memukul besi tua, benar-benar tidak pernah terlintas di dalam otak sang ilmuwan jenius tersebut.
“Paduka, apakah kita harus mengirim pasukan pengejar?” tanya komandan prajurit di sebelahnya. “Kapal selam kita bisa menyusul kapal kayu mereka dalam waktu singkat.”
Judge mengangkat tangannya, memberikan perintah mutlak.
“Biarkan mereka pergi,” ucap Judge dengan suara berat.
Dia menghapus sisa darah dari dagunya. Wajahnya kembali memancarkan keangkuhan seorang pemimpin.
“Pemuda itu cukup pintar untuk mengetahui kapan harus mundur. Mengejarnya sekarang hanya akan menunda misi utama kita. Lagipula, dia tidak mengambil apa pun dari kita selain menghancurkan beberapa prajurit yang bisa diproduksi ulang.”
Judge memutar tubuhnya perlahan, dituntun oleh prajurit medis untuk kembali ke dalam fasilitas penyembuhan di dalam kastil.
“Dunia akan mendengar tentang hari ini,” gumam Judge pada dirinya sendiri. “Dan mereka akan tahu bahwa bahkan monster sekuat dia, tidak berani mencari masalah lebih jauh dengan Kerajaan Germa.”
Raja North Blue itu masuk ke dalam lorong kastil dengan kepala tegak. Dia berhasil menipu dirinya sendiri dan mengubah kekalahan telak menjadi sebuah kemenangan politik di dalam kepalanya yang sempit.
Namun, tidak semua orang di atas kapal itu buta terhadap kenyataan.
Jauh di atas mereka, di balkon lantai dua yang tersembunyi oleh bayangan atap menara.
Vinsmoke Reiju masih berdiri bersandar pada pagar logam. Angin dingin meniup rambut merah mudanya yang berkibar halus. Matanya yang berwarna biru jernih menatap sisa-sisa ombak yang ditinggalkan oleh kapal kayu kecil tersebut.
Gadis remaja itu telah mendengar semua kata-kata ayahnya. Dengan pendengarannya yang tajam berkat modifikasi genetik, dia mendengar perintah ayahnya untuk membiarkan kapal itu pergi. Dia juga sangat paham dengan cara berpikir ayahnya.
Reiju menghela napas panjang. Sebuah senyuman miris dan penuh ejekan terbentuk di bibirnya.
'Ayah benar-benar bodoh,' batin Reiju.
Rasa hormat yang selama ini dipaksakan kepadanya kini benar-benar telah menguap tanpa sisa. Melihat ayahnya merasionalisasi kekalahan yang begitu memalukan membuat Reiju merasa muak.
Dia berada di sana. Dia melihat pertarungan itu dari awal hingga akhir.
Dia melihat tatapan mata merah pemuda itu. Tatapan yang tidak memiliki sedikit pun keraguan, apalagi ketakutan terhadap konsekuensi politik. Pemuda itu tidak peduli pada nama Germa Enam Puluh Enam. Pemuda itu mundur murni karena pertarungan itu sudah tidak lagi menarik baginya.
Ayahnya tidak diampuni karena dia penting. Ayahnya diampuni karena dia terlalu tidak berharga untuk dibunuh.
Reiju memejamkan mata. Ingatan tentang bagaimana pemuda berarmor merah itu menepis tombak listrik, bagaimana dia menghancurkan helm mahkota ayahnya dengan satu pukulan murni, dan bagaimana dia secara halus membelokkan serangannya untuk melindungi seorang pelayan biasa, terus berputar di dalam kepalanya.
Jantung Reiju kembali berdebar dengan ritme yang tidak wajar.
Selama ini, dia hidup dalam sangkar emas. Dia percaya bahwa dia tidak memiliki tempat lain untuk pergi selain mengikuti aturan tak berperasaan dari keluarganya. Dia percaya bahwa dunia di luar sana terlalu lemah untuk melindunginya dari kemarahan ayahnya.
Tetapi hari ini, dia telah melihat kekuatan yang sebenarnya. Kekuatan yang bisa meruntuhkan sangkar emasnya hanya dengan satu jentikan jari.
Sebuah benih pemberontakan yang telah lama terkubur di dasar jiwanya, kini mulai tumbuh subur. Disirami oleh kekaguman yang luar biasa besar terhadap sosok dewa perang yang baru saja turun dari langit.
Reiju membuka matanya kembali. Mata birunya berbinar terang, memancarkan sebuah tekad yang baru.
Dia tidak ingin lagi hidup di tengah-tengah manusia tanpa jiwa. Dia tidak ingin lagi tertawa melihat orang lemah disiksa. Dia ingin mengikuti kekuatan sejati itu. Dia ingin melihat dunia dari sudut pandang pria yang berani menantang segala hal tanpa rasa takut.
'Aku harus pergi dari tempat ini,' tekad Reiju dalam hati.
Matanya mengunci arah ke mana kapal kayu kecil itu menghilang di balik kabut.
Sebagai seorang putri Germa, dia memiliki akses penuh ke segala informasi militer dan navigasi. Dia bisa melacak pergerakan kapal mana pun di perairan ini. Dia hanya perlu mencari waktu yang tepat. Sebuah momen di mana dia bisa melepaskan semua rantai masa lalunya.
Reiju melepaskan cengkeramannya dari pagar logam balkon. Dia merapikan gaun kerajaannya dengan gerakan yang sangat elegan.
Senyum dingin yang biasanya menjadi topengnya kembali terpasang sempurna di wajahnya. Namun di balik topeng itu, seorang gadis remaja baru saja merencanakan pelariannya menuju sebuah kebebasan.
Di bawah lautan berkabut North Blue, takdir kembali mempererat benangnya. Kesombongan yang disalahartikan oleh seorang raja telah membuka jalan bagi sang Hantu Uchiha untuk melangkah pergi tanpa gangguan. Sementara itu, kekaguman yang murni dari seorang putri perlahan menarik gadis itu untuk masuk ke dalam pusaran legenda Madara yang baru saja dimulai.