NovelToon NovelToon
(Not) Beautiful Marriage

(Not) Beautiful Marriage

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 4.8
Nama Author: Saras Arindu

Nikah muda sesungguhnya tidak begitu masalah buat Arin, tapi kenapa harus mendadak? Tanpa pesta dan terkesan buru-buru. Apalagi calon suaminya yang tidak dikenalnya, ralat, tidak ia ketahui sama sekali, bahkan hanya untuk nama.

Dihari H, ia dikejutkan dengan satu hal bahwa suaminya adalah kakak dari mantan terindahnya. Kenyataan itu membuatnya merasa aneh dan berpikir bahwa ia sedang dipermainkan.

Tapi tanpa Arin sadari seiring berjalannya waktu, tingkahnyalah yang seakan mempermainkan kakak beradik itu.

Penasaran bagaimana kisahnya? Bagaimana Arin mempertahankan pernikahannya dan menyatukan dua bersaudara yang bersitegang karenanya? Jika ingin tahu jawabannya, mari baca dari awal sampai akhir.
***

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saras Arindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16

Arin menuang setengah adonan puding di

atas cake yang masih berada dalam cetakan. Lalu ia menata beberapa potong

biskuit coklat diatasnya. Setelah itu ia menuang kembali sisa adonan puding

tadi diatasnya. Sembari menunggu puding setengah beku, Arin membuat adonan yang

lain. Setelah jadi ia menuangkannya diatas puding yang sebelumnya.

Zevana berdiri disamping Arin dengan

mata yang selalu serius menatap gerak-gerik Arin. Bahkan saat Arin menggosok

pipinya yang terasa gatal, Zevana tak juga melewatkan hal itu.

"Sudah jadi 'kan, boleh dimakan?" Tanya Zevana polos. Sudah sejak tadi ia terus menelan air

liurnya.

Arin terkekeh. "Tunggu beku dulu ya, mbak?"

Zevana mengangguk tak iklas. Matanya

lagi-lagi mengikuti pergerakan Arin yang membawa masuk puding buatannya ke dalam kulkas. Zevana mendesah kecewa dalam hati.

"Tunggu satu-dua jam lagi udah bisa dimakan kok." Kata Arin tak tega melihat Zevana yang terlihat tak

sabar.

"Tunggu apa?" Suara Hanna mengejutkan mereka.

Arin hendak menjawab saat Zevana

mebdahuluinya.

"Tunggu puding buatan Arin. Enak banget deh, Ma." Kata Zevana semangat.

Hanna mendengus. "Belum jadi sudah bilang enak." Katanya sambil berjalan mendekati kulkas.

"Zeva udah pernah rasa kok," Zevana memberengut tak suka dengan ucapan sang ibu. "Ya 'kan, Rin?"

Lanjutnya meminta persetujuan Arin.

Arin hanya mengangguk pelan. Matanya

fokus melihat gestur tubuh Hanna yang membelakanginya. Arin tidak mengerti

mengapa ibu mertuanya masih bersikap dingin terhadapnya.

"Ini yang kamu buat?"

Arin tak menjawab, bukan karena ia sengaja agar Zevana yang menjawab. Tapi ia tak mendengar pertanyaan yang Hanna lontarkan. Bahkan panggilan Zevana saja ia tak dengar.

"Melamun saja terus." Kata Hanna dingin sebelum meninggalkan dapur. Dan Arin masih belum sadar dari lamunannya.

Disisi lain, Kenzi memperhatikan dari jarak yang tak terlalu jauh. Ia tak tega melihat Arin yang diperlakukan seperti itu oleh ibunya, terlebih Arin adalah pribadi yang mudah meneteskan air mata

hanya karena bentakan kecil. Dan selama mereka tinggal bersama Kenzi belum sekali pun melihat Arin melamun.

***

Tak terasa sudah dua minggu Arin tinggal dirumah mertuanya. Dan sampai saat ini Hanna belum merubah sikap dinginnya pada Arin. Sedang Dika sudah bersikap welcome pada Arin sejak

hari pertama bertemu Arin.

Mereka tinggal disana karena permintaan Hanna. Dan pernah sekali Kenzi mengajak Arin untuk pergi kerumah mereka sendiri karena tak melihat wajah kecewa Arin dipagi hari saat mendengar ucapan bernada dingin dan ketus Hanna. Tapi Hanna menentang kemauan Kenzi dengan keras dan menuduh Arin yang mempengaruhi Kenzi agar pergi dari rumah itu.

Saat itu Arin kembali menangis mendengar ucapan pedis Hanna. Ia yang mulanya menerima ajakan Kenzi jadi menolak dengan keras. Dan sejak saat itu ia bertekat membuat Hanna menerimanya

dengan tangan terbuka dan tidak lagi berucap dingin padanya. Dan ia ingin itu bisa ia lakukan dalam waktu kurang dari satu bulan.

Malam ini seperti biasa Arin menyiapkan makan malam dibantu dengan Bi Muna serta Zevana yang kini selalu ingin berdekatan dengan Arin dibanyak kesempatan. Tepat jam tujuh malam, semua

hidangan sudah rapi diatas meja makan.

Arin bersiap memanggil kedua mertuanya

saat Hanna dan Dika muncul tak jauh didepannya. Selalu seperti ini. Pikirnya. Arin pun beralih untuk memanggil Kenzi sedang Devan dan Ryan, Zevana yang panggil.

"Masak apa?" Tanya Kenzi merangkul Arin dan menuruni anak tangga.

"Suka bakso?"

"Bakso?" Ulang Kenzi dan Arin mengangguk. "Kamu buat bakso?" Lagi-lagi Arin mengangguk. "Kamu mau buat aku gemuk ya?"

"Pertanyaannya salah." Protes Arin. "Harusnya gini 'kamu sedang program gemuk?'"

Kenzi tertawa pelan. Tidak salah kalau Arin berucap seperti itu tapi ia juga tak salah bukan. Pasalnya empat hari terakhir olahan daging tidak pernah absen dari menu makan mereka. Meski tidak banyak tapi tetap saja ada.

"Apa kamu ingin membuat saya cepat mati?"

Pertanyaan itu membuat Arin menoleh

cepat pada Hanna. Tatapan tajam Hanna tepat mengenai retina matanya.

"Apa maksudmu dengan memasak

olahan daging setiap hari?" Suara Hanna tak berubah. Masih dingin dan tajam. "Kamu ingin membuat saya cepat mati? Agar-"

"CUKUP, MA." Bentak Kenzi keras bersamaan dengan Ryan. Hanya bedanya Ryan tak sampai membentak.

Suasana jadi semakin tegang. Dan Dika

yang harusnya bisa menenangkan keadaan tak bisa berbuat apa-apa saat kakinya

diinjak dengan keras oleh Hanna.

"Jangan ikut campur kamu, Ryan." Desis Hanna.

Jika Arin sudah berurai air mata, Zevana malah sedang lahap memakan makanannya dan dilayani oleh Devan yang melirik takut-takut.

Kenzi menarik Arin untuk pergi dari

sana. Tapi Arin bertahan, ia hendak berucap ketika Hanna mendahuluinya.

"Berhenti bersikap baik didepan

saya dan keluarga saya. Saya tahu kamu han-"

"Cukup, Ma. CUKUP. Ken bilang

cukup." Kenzi menghela nafas kesal. "Ken ngga mau lagi denger Mama

bicara buruk dan kasar sama Arin."

Hanna mendengus. "Lihat! Kamu

memang membawa pengaruh buruk terhadap Kenzi."

Arin semakin terhisak mendengar ucapan

Hanna. Rasanya ia tak sanggup lagi mendengar ucapan pedas Hanna. Ia ingin

membela diri tapi pasti ia akan semakin terisak jika dipaksa untuk berbicara.

Hanna membalikkan badannya hendak

pergi dari ruang makan. Tapi suara Arin menginterupsinya.

"Tunggu! Tunggu, Ma!"

Melihat Hanna yang tidak jadi melangkah, Arin merasa semakin ragu untuk

melanjutkan ucapannya. Tapi ia tak tahan lagi. Ia menarik nafasnya pelan lalu

melanjutkan. "Apa.. apa yang bisa Arin lakukan agar Mama berhenti

berpikiran buruk terhadap Arin?" Arin menghembuskan nafasnya diakhir

kalimatnya.

Tanpa ragu Hanna menjawab.

"Tinggalkan Kenzi!" Ia berbalik untuk menatap Arin. "Ceraikan

dia, kalau dia tidak mau ceraikan kamu."

Semua mata menatap Hanna dengan

pandangan terkejut dan tidak percaya, kecuali Zevana yang masih asik makan dan

tidak terganggu dengan keadaan sekitarnya.

"Kenapa diam?" Pancing

Hanna. "Ayo jawab!"

Arin menelan ludahnya keluh. Ia

bingung harus menjawab apa. Ditatapnya Kenzi yang juga tengah menatapnya.

"Iya," suaranya tercekat ditenggorokan. Dan bisa ia lihat gurat kecewa diwajah Kenzi. "Arin akan lakukan kemauan Mama. Biar kak Ken bisa kembali seperti kak Ken sebelum Arin datang." Lanjutnya dengan menunduk.

"Arin!"

***

Aku terharu banget buat orang orang yang ngasih like dan vote, nggak nyangka aku tuh 😭

1
💝🧚SHA_QUANDRA 😇
Kenzi pergi selama itu psti karena merasa sakit hati liat bininya yg msh bermanja2 ke mantan. Lagian si bini jg gk bs menempatkan diri dgn sewajarnya. Gak tahu batasan. Polos sih polos tp ini terkesan bodoh si arin. Mending kenzi cari bini aja lg.
fifid dwi ariani
trus bersyukur
fifid dwi ariani
trus sabar
fifid dwi ariani
trus berkarya
fifid dwi ariani
trus bahagia
fifid dwi ariani
trus sabar
fifid dwi ariani
trus ceria
fifid dwi ariani
trus sehat
Fitriyani Puji
ini crita nya galih sembuh dan menikah ama risda ato bagemana ini
Fitriyani Puji
kamu ngak tau aja di hamil pertama arin tidak tkut kluar mlm untuk cari makn ,jangn bilang erin di culik galih lagi
Fitriyani Puji
ini ank ngak ada dwasa nya ya ya jelas emosi kalo kerj d gangu mndeng kalo di sayang ini kaya ayam di cabuyi bulu nya kalo aku udah tk tendang
Fitriyani Puji
kenapa ngak lngsong aja ngak usah seassn 2
Fitriyani Puji
jangan lagi ada konflik ya seasen 2 biar kn mereka bahagia jangan ada lagi kemelut
Fitriyani Puji
trnyata kenzi suami pengertian semoga slalu tentram dan bahagia amiin
Fitriyani Puji
hhhhh gokil mereka
Fitriyani Puji
lsnjut thor jangan ada konflik baru lagi
Fitriyani Puji
kenapa mati thor dia belum menyesali perbuatan jahat nya pada ank sendiri hadeeeeh
Fitriyani Puji
bagemana bisa ank kandong berasa ank tiri ternyata kenzi sudah menderita sejk balita semoga kedepanya dia bahagia dengan kluarga kecil nya amiin
Fitriyani Puji
oalah ibu macam apa itu msak ngak merasa dia ank sendiri anh deh
Fitriyani Puji
ah rahasia apa lagi thor kenapa bnyak sekali teka teki nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!