Seorang gadis cantik bernama Arun yang memiliki kisah hidup rumit dan penuh lika-liku. Seorang anak tunggal yang dibesarkan oleh sang nenek yang sangat menyayanginya melebihi kasih sayang orang tuanya sendiri. Arun berpikir kehidupan pernikahan menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki cerita hidupnya. Bio, laki-laki yang lebih tua empat tahun dari dirinya menjadi suami Arun atas dasar sebuah perjodohan. Mungkin harusnya Arun sadar diri sejak awal, mereka bukan ditakdirkan tapi dipaksakan meski mereka merasa tidak ada perasaan keterpaksaan dalam mmenjalaninya. Akankah ada keajaiban dari sebuah rasa yang terasa dipaksakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon citaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PROLOG
Kuliah dan kerja paruh waktu, saat ini menjadi pilihan yang bisa Arun lakukan. Arun merupakan salah satu mahasiswa semester Lima, jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas yang ada di Bandung. Tak seperti temannya yang lain, Arun harus mengambil kerja paruh waktu setelah selesai kuliah.
Arun bekerja di salah satu cafe yang berada tak jauh dari kampusnya. Hampir empat tahun sudah Arun menjalani kehidupan seperti ini.
Arun tinggal bersama nenek Salma. Sejak Arun lulus SMP, dia memilih untuk tinggal bersama sang nenek karena perceraian yang terjadi antara orang tuanya. Arun lebih memilih sang nenek dibanding harus ikut dengan papa atau mamanya.
"Arun??" panggil nenek Salma, sang nenek.
"Iya nek" balas Arun, "Sebentar nek" lanjutnya lagi.
Arun membuka pintu kamarnya, "Tadi Arun lagi beresin meja belajar, soalnya berantakan banget. Nenek kenapa manggil Arun?" tanya Arun.
"Kita ngobrol di depan aja yuk" ajak Nenek Salma pada Arun.
Arun mengikuti langkah sang nenek dari belakang. Dalam hatinya Arun bingung, ada masalah apa sampai Salma harus mengajaknya berbicara.
"Kamu teh gak mau duduk?" tanya Salma saat melihat Arun berdiri tegap disamping kursi.
"Oh, iya ini mau duduk kok nek" jawab Arun sedikit salah tingkah.
"Nenek cuma mau nanya, gimana kuliah kamu?"
"Kuliah Arun lancar kok nek, baik-baik aja"
"Sampe kapan kamu mau kerja di cafe itu Run, emang kamu gak capek, selesai kuliah kamu langsung kerja lagi?"
"Nek, Arun gak capek kok. Itung-itung buat beli kebutuhan kampus yang lain. Kan Arun gak perlu nyusahin nenek" jelas Arun dengan senyum manisnya.
Perlu kalian tahu, Arun merupakan salah satu mahasiswa yang masuk dengan beasiswa. Seluruh pembayar kampus mulai dari UKT, buku dan lainnya ditanggung, tanpa harus Arun mengeluarkan uangnya. Paling Arun hanya mengeluarkan uangnya untuk fotocopy serta kebutuhan Arun sendiri.
"Kenapa kamu gak pernah mau pake uang kiriman dari orang tua kamu, Run?"
Arun menghela napasnya, "Uang itu simpen aja, itu buat nenek" balas Arun.
"Kamu masih belum maafin mereka?" tanya nenek Salma, membuat Arun memilin jari-jari tangannya.
"Gak ada yang perlu dimaafin nek, itu pilihan mereka. Arun gak bisa maksa" jelas Arun. "Lagipula, Arun nyaman sama kehidupan Arun yang kayak gini nek".
Nenek Salma menganggukkan kepala, "Ya sudah, kamu mau ke cafe kan?" tanya nenek Salma.
Arun menatap Salma lalu mengangguk, "Sok atuh, nanti telat" ujar nenek Salma sambil tersenyum.
"Kalo gitu, Arun ke dalem dulu nek, mau siap-siap" sahut Arun lalu pergi masuk ke dalam rumah.
Nenek Salma menatap punggung Arun sebelum menghilang dari balik pintu. Salma berharap Arun akan mendengarkannya suatu saat nanti. Hamparan sawah hijau menjadi pemandangannya saat ini.
.........
"DORRR!!" suara mengkagetkan itu berasal dari Arun.
"Kamu itu cewek, mojang. Masa kelakuan kaya gitu terus" ujar Akbar.
Akbar itu sahabat dekat dari Arun. Nenek Salma sangat mengenal dekat keluarga Akbar. Sejak pertama kali menginjakkan kaki disini, Akbar lah yang pertama kali mengajaknya untuk bermain. Rumah mereka pun tidak begitu jauh, hanya terlampau 4 rumah dari rumah nenek Salma.
"Maaf-maaf, kan bercanda" ujar Arun sambil mengangkat dua jarinya tanda perdamaian. "Oh iya, lo gak ke kampus tadi Bar?" tanya Arun sambik menyimpan tas kecil miliknya.
Akbar memang satu kampus dengan Arun, namun mereka beda jurusan. Akbar menggambil jurusan management, semester lima sama dengan Arun.
Iyalah sama, kan seumuran!! Gimanasih thor?!!
"Gak ada jam" balas Akbar.
Arun mengambil apron yang bertuliskan namanya tersebut lalu memakainya.
Fyi. Akbar itu asli bandung banget sih, jadi jangan kaget kalo dia itu sopan banget, kalo Arun beda ya, kan dari kecil sampai SMP di Jakarta. Jadi agak sedikit bar-bar. Harap maklum.
"Gue beresin meja depan dulu" ucap Arun pada Akbar.
"Okee" balas Akbar yang tengah sibuk menyiapkan pesanan para pelanggan.
Satu per satu orang memasuki cafe. Ada yang sendiri, ada yang bergandengan, ada yang berdua bahkan sampai lebih dari lima orang. Mereka sibuk dengan berbagai kegiatan yang mereka lakukan.
Hari ini sedikit berbeda dengan sebelumnya, cafe kedatangan pelanggan baru. Ini mungkin efek dari promosi yang dilakukan oleh pemilik cafe baru-baru ini.
Rasa lelah pun sudah terasa menyakitkan, dan untung saja saat ini sudah waktunya mereka untuk tutup cafe.
"Sosial media emang pengaruh banget ya Bar?" ujar Arun setelah selesai mengelap meja dan kursi untuk dirapihkan.
"Iya. Kayaknya cafe bakal banyak pelanggan baru" balas Akbar.
Setelah itu tidak ada yang bersuara lagi, Arun melihat Akbar yang sedang menatap kosong ke arah depan.
"Akbar??" panggil Arun.
Akbar melihat ke arah Arun tanpa menjawab satu kata apapun, "Lo gak papa kan?" tanya Arun dengan pandangan menelisik.
"Hah? Apaan sih kamu. Aku baik-baik aja, Run" sahut Akbar sambil tersenyum.
Arun melihat itu bukan senyum baik-baik saja, senyuman Akbar berbeda. "Yakin? Lo hari ini banyak ngelamun gue perhatiin" ujar Arun sambil memainkan lap yang ada ditangannya.
"Aku gak papa. Pulang aja yuk, nanti kamu dicariin nenek kalo telat" ujar Akbar seolah mengalihkan pembicaraan mereka.
Arun melepas apron miliknya, lalu berjalan untuk menyimpan di laci cafe. Akbar pun melakukan hal yang sama dengan Arun.
"Lo udah bosen temenan sama gue?" tanya Arun saat baru keluar dari cafe.
"Enggak. Kenapa bilang kayak gitu?" tanya Akbar balik.
"Sekarang lo kalo ada masalah jarang mau cerita sama gue"
Akbar menghela napasnya pelan, "Aku bingung Run, Bella bilang aku gak pernah ada waktu buat dia".
"Cuma gara-gara dia, lo ngelamun waktu kerja" ujar Arun dengan senyum yang dipaksakan.
"Apa aku berhenti dari cafe terus cari kerja yang waktunya fleksibel aja ya, Run?"
Arun tak habis pikir, semenjak Akbar berpacaran dengan Bella hampir satu tahun terakhir ini. Akbar seperti bukan orang yang Arun kenal selama ini. Ini mungkin yang namanya cinta itu buta.
"Terserah lo aja. Gue duluan" pamit Arun pada Akbar.
Arun menyalakan motor hitam merk scoopy, setelah menggunakan helm dikepalanya. Motor ini adalah satu-satunya yang Arun punya agar dia bisa dengan cepat untuk pergi ke kampus dan cafe. Motor ini merupakan pemberian sang nenek saat Arun akan memasuki kuliah dulu.
Akbar menatap Arun yang mulai menjauh dengan motornya, "Jadi dia yang kayak punya masalah" gumam Akbar kemudian berjalan ke arah motornya yang terparkir.
.........
Seorang laki-laki dengan badan tegap dan rahang yang tegas, menciptakan wajah yang sangat sempurna dan sayang untuk dilewatkan terutama oleh kaum hawa. Laki-laki ini merupakan anak terakhir dari pak Broto, seorang pengusaha terkenal.
"Darimana kamu? Gak liat ini jam berapa?" suara itu menghenti kan pergerakan laki-laki yang sedang berjalan mengendap didalam rumah tersebut.
"Papah?" sapa Bio, nama anak laki-laki tersebut. "Papah kok belum tidur?" tanya Bio mencoba tenang.
"Selesai kuliah bukannya buat bangga orang tua malah hobi keluyuran sampai tengah malam!" ujar sang ayah geram.
Bio memang baru dua bulan yang lalu menyelesaikan kuliahnya. Bio memang berbeda dengan dua kakak laki-lakinya yang lain. Bio lumayan susah diatur.
"Bio gak keluyuran, tadi cuma nongkrong di cafe" jelas Bio.
"Ya sudah, besok kamu pergi ke Bandung dan urus cafe papah yang ada disana. Dari pada nongkrong-nongkrong gak jelas kayak gitu!"
"Enggak! Bio mau di kantor papah. Sama kayak bang Adit dan bang Ilham" protes Bio.
"Setelah kamu mampu buat cafe itu lebih berkembang dari sekarang, baru kamu bisa duduk di kantor papah" jawab pak Broto dengan serius.
"Kalo misalnya papah benci sama Bio, coret aja sekalian nama Bio di kartu keluarga. Gak perlu susah-susah melempar Bio sampe Bandung!" ujar Bio kemudian pergi meninggalkan pak Broto sendiri.
"BIO!!" teriak pak Broto dengan nada keras.
"Mas kamu kenapa teriak-teriak tengah malam gini?" tanya Nita sang istri yang baru saja menghampirinya.
"Anak itu memang susah diatur!! Tingkahnya semakin hari semakin buat pusing!" ujar pak Broto yang terlanjur emosi.
"Mas jangan terlalu keras sama Bio, nanti dia malah makin menjauh dari mas" ucap Nita mencoba memberitahu.
"Biar saja! Besok aku kirim dia ke Bandung!" ucap pak Broto.
Nita terkejut mendengar ucapan suaminya, "Bandung mas? Mas udah lah mas, biarin Bio disini. Biarin dia dibimbing Adit sama Ilham di kantor kamu"
"Tidak bisa! Dulu Adit dan Ilham juga aku suruh mereka mencari kerja sendiri dulu di luar, baru bisa masuk ke kantor ku. Aku tidak akan membedakan perlakuan pada anak-anakku" jelas pak Broto lalu kembali menuju kamar tidurnya.
Nita hanya menghela napas sambil memandang kamar Bio dengan tatapan sendu. Suaminya memang sangat keras kepala dan tegas dalam hal mendidik anak-anaknya.
Tbc.