Semua orang bilang Laras sial.
Dibesarkan belasan tahun sebagai putri keluarga perwira, ia dicampakkan dalam semalam begitu putri kandung yang sesungguhnya—**Tiara**—pulang lewat tes DNA. Dan ketika Tiara menolak menikahi "duda tua beranak tiga dari kampung" yang lamarannya sudah diterima, keluarga memaksa Laras menggantikannya demi nama baik.
Sebuah desa asing. Seorang lelaki dingin dan pendiam. Tiga anak yatim yang kurus, waspada, dan salah satu balita yang bahkan belum bisa bicara. Semua menyangka Laras "menikah turun derajat" dan pasrah pada nasib.
Tak ada yang tahu—rumah termewah satu-satunya di desa itu adalah miliknya. Bahwa lelaki pendiam bernama **Arya** itu adalah **mantan perwira Kopassus** yang disegani para jenderal, seorang **konglomerat yang menyamar** di balik peternakan sapi.
Dan tak ada yang menyangka: duda "tua" yang katanya dingin itu justru **memanjakan istrinya setiap hari**—diam-diam, dengan tindakan, sampai membuat seluruh desa iri.
Sedikit demi sedikit, Laras membalik keadaan. Ia besarkan tiga anak terlantar itu menjadi anak-anak jenius. Ia permalukan satu per satu orang yang pernah memandangnya rendah. Ia bangkit dari "ibu tiri kampungan" menjadi mahasiswa UI dengan nilai tertinggi.
Tapi keluarga yang membuangnya belum menyerah. Tiara masih menginginkan segalanya yang "seharusnya" jadi miliknya. Dan rahasia asal-usul ketiga anak itu—darah keluarga konglomerat **Adiwangsa**—bisa mengubah segalanya…
*"Kamu menikahiku karena terpaksa," katanya suatu malam. "Tapi aku akan mencintaimu sampai kamu lupa pernah terpaksa."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raven Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16: Akad
Sejak azan Subuh, rumah kami tidak pernah benar-benar sunyi.
Bu Minah membantuku mengenakan kebaya putih yang dia jahit semalam. Sari merapikan kerudung, sementara Rian dan Rio dua kali salah membawa kotak hingga dimarahi Aan. Di luar kamar terdengar Bayu berlari, Raka menyuruhnya pelan-pelan, dan Sasa tertawa mengikuti keributan tanpa mengerti apa yang sedang terjadi.
Aku menyelipkan saputangan lama pemberian Bu Minah ke dalam tas kecil.
“Cantik,” bisik Ibu.
Tangannya gemetar saat membetulkan ujung kerudungku.
“Jangan menangis dulu,” kataku. “Nanti aku ikut.”
“Ibu tidak menangis.”
Sari menyerahkan tisu tanpa berkata apa-apa.
Akad dilaksanakan di ruang utama yang pintunya dibuka lebar menghadap tenda halaman. Penghulu dari KUA datang bersama petugas pencatat. Nama kami, wali, saksi, dan nilai mahar dibacakan ulang sebelum acara dimulai. Pak Sukri duduk di samping Aan dengan wajah setegang orang yang hendak menghadapi ujian.
Aku berada di ruang terpisah bersama para perempuan, mendengarkan dari pengeras suara kecil. Arya duduk di depan penghulu mengenakan beskap gelap dan peci hitam. Dari sela tirai, hanya punggungnya yang terlihat.
Penghulu mengingatkan makna pernikahan, tanggung jawab suami istri, serta amanah membangun keluarga. Setelah itu tangan Pak Sukri dan Arya bertemu di atas meja yang dilapisi kain putih.
Ijab diucapkan.
Arya menjawab dalam satu tarikan napas, jelas dan tanpa ragu.
Para saksi serentak mengatakan sah.
Suara itu menembus dadaku. Untuk beberapa detik aku tidak dapat bergerak. Bu Minah menggenggam tanganku, Sari memeluk bahuku, dan dari luar terdengar Bayu berseru terlalu keras sebelum seseorang menyuruhnya diam.
Aku tertawa di antara air mata.
Penghulu meminta doa dibacakan sebelum aku keluar. Dalam suara lirih orang-orang, aku menundukkan kepala dan mengingat pagi ketika aku turun dari bus dengan koper, takut memasuki rumah seorang lelaki yang bahkan belum kukenal. Saat itu aku hanya meminta diberi tempat bertahan. Kini di balik tirai ada seorang suami yang sudah membuktikan pilihannya sebelum mengucapkan janji apa pun.
Ketika doa selesai, Bayu menyelinap ke ruang perempuan. Ujung bajunya miring dan rambutnya basah oleh keringat.
“Sudah sah, kan?” tanyanya.
“Sudah.”
Dia menatap Bu Minah, lalu mendekat ke telingaku. “Kalau begitu Mbak Laras benar-benar jadi ibu kami?”
Aku menahan napas.
Raka muncul di pintu dan memarahi adiknya karena masuk tanpa izin, tetapi matanya juga menunggu jawabanku.
“Iya,” kataku.
Bayu memeluk pinggangku seketika. Dia belum memilih panggilan baru, tetapi pelukannya sudah memberikan jawaban.
Sasa yang berada di gendongan Sari ikut merentangkan tangan kepadaku. Dia belum mampu meniru panggilan itu, tetapi tawanya cukup membuat kerudungku kembali basah oleh air mata.
Raka tidak memeluk. Dia hanya mengangguk kecil, lalu berkata, “Selamat, Mbak Laras.”
Satu kata darinya terasa lebih berat daripada seluruh emas di meja akad.
Saat dipanggil keluar untuk penandatanganan, tatapan Arya langsung menemukanku. Wajahnya tetap tenang, tetapi jemarinya dua kali membetulkan posisi pulpen yang sudah lurus.
“Mas gugup?” bisikku.
“Tidak.”
Jawabannya sama cepatnya dengan semalam.
Kami menandatangani dokumen pernikahan di hadapan petugas KUA dan saksi. Buku nikah diserahkan setelah semua data diperiksa. Nama yang tercetak di sana adalah Laras Ayuningtyas, bukan nama yang diganti dengan coretan, bukan pengganti siapa pun.
Arya menyerahkan mahar sesuai yang disebut saat ijab kabul. Kotak perhiasan dan bukti transfer seserahan disaksikan Pak Sukri, Pak Kades, serta Pak RT. Aku menerima semuanya dengan kedua tangan.
“Terima kasih,” kataku.
Arya menatapku seolah ada banyak hal yang hendak diucapkan, tetapi akhirnya hanya menjawab, “Simpan baik-baik.”
Resepsi dimulai menjelang siang. Warga memenuhi tenda, anak-anak berlarian membawa makanan, dan ibu-ibu bergantian memotret pelaminan. Pak Sukri serta Bu Minah duduk di barisan keluarga dengan pakaian baru yang dibelikan Arya. Mereka tampak canggung menerima ucapan selamat, tetapi tidak berhenti tersenyum.
Bu Sumi datang bersama rombongan tetangga dan langsung mengatur antrean makan ketika panitia kewalahan. Bang Gino membawa seluruh pekerja peternakan, semuanya sudah mandi bersih dan mengenakan batik seragam. Mereka menyalami Arya dengan hormat, lalu berbisik-bisik karena belum pernah melihat bos mereka duduk di pelaminan.
“Pak Arya ternyata bisa tersenyum,” ujar salah satu pekerja.
“Dia tidak tersenyum,” sahut temannya. “Wajahnya cuma tidak segalak biasanya.”
Aku mendengarnya dan menahan tawa. Arya melirik, membuat kedua pekerja itu langsung berjalan lebih cepat.
Di meja keluarga, Pak Sukri berkali-kali berdiri setiap ada tamu yang menyalaminya. Aan akhirnya menarik lengan ayah kami dan menyuruhnya tetap duduk. Rian dan Rio bertugas mengantar air minum, tetapi dua gelas pertama justru diberikan kepada orang yang sama karena mereka saling mengira belum melayani.
Di tengah segala kekacauan kecil itu, rumah reyot di Tegalsari dan rumah besar di Rejosari tidak lagi terasa seperti dua dunia yang terpisah. Keluargaku duduk di tempat utama bukan karena dikasihani, melainkan karena memang itulah tempat mereka.
Bimo, Ratna, dan Tiara datang terlambat.
Mereka duduk di sisi paling ujung meja keluarga Jakarta. Tidak ada yang mengusir, tetapi setelah kejadian beberapa hari lalu, tak seorang pun memberi mereka hak mengatur. Ratna berkali-kali melihat susunan hadiah. Tiara mengenakan gaun mahal dan wajah yang seolah sedang menghadiri acara yang lebih rendah darinya.
“Hanya ramai karena satu desa datang mencari makan,” bisiknya kepada Ratna.
Aku mendengarnya saat lewat, tetapi memilih terus berjalan.
Menjelang pergantian pakaian untuk sesi resepsi berikutnya, suara kendaraan masuk ke jalan desa. Bukan satu atau dua. Deretan mobil hitam berhenti sampai ke dekat balai warga. Para lelaki yang turun mengenakan batik resmi, jas, dan beberapa seragam dinas. Petugas pengamanan bergerak lebih dulu memeriksa jalur masuk.
Pak Kades berdiri dari kursinya. “Siapa yang datang?”
Tak ada yang tahu.
Seorang lelaki berambut putih turun dari mobil pertama. Posturnya masih tegak meski usianya lewat enam puluh. Di belakangnya ada beberapa purnawirawan, perwira aktif, dan seorang pejabat kepolisian kabupaten yang langsung dikenali warga.
Tenda yang semula riuh perlahan menjadi sunyi.
Ratna melepas kacamatanya. Bimo mencondongkan tubuh, berusaha mengenali para tamu. Sebagai perwira yang lama bekerja di Jakarta, dia pasti memahami pangkat dan tanda kehormatan lebih cepat daripada orang desa.
Wajahnya berubah sebelum siapa pun menjelaskan.
“Mereka salah tempat,” kata Tiara, tetapi suaranya tidak lagi yakin.
Para tamu tidak menuju meja pejabat desa. Mereka bertanya langsung, “Di mana Mayor Arya?”
Aku yang berdiri dekat pintu ruang dalam membeku.
Mayor?
Bu Minah memegang lenganku. “Mereka mencari Nak Arya?”
Sebelum aku sempat menjawab, pintu ruang dalam terbuka.
Arya muncul.
Dia tidak lagi mengenakan beskap gelap. Tubuhnya dibungkus seragam upacara yang terawat sempurna. Tanda pangkat lama, tanda jasa, serta deretan pita penghargaan tersusun di dada. Rambutnya disisir rapi, punggungnya tegak, dan setiap langkahnya membawa wibawa yang tidak pernah terlihat ketika dia memeriksa pakan atau memperbaiki pagar kandang.
Lelaki itu tetap suamiku. Namun untuk sesaat, aku merasa sedang menatap orang yang baru kukenal.
Bisik-bisik meledak di seluruh tenda.
“Pak Arya tentara?”
“Katanya cuma punya peternakan.”
“Itu lambang Kopassus.”
“Kenapa seorang jenderal datang sendiri?”
Arya berjalan langsung kepadaku. Dia berhenti satu langkah di depan, meneliti wajahku seolah khawatir seragam itu akan membuatku mundur.
“Kamu kaget,” katanya.
“Sedikit?”
Telinganya memerah tipis, sama seperti ketika membalut jariku.
“Nanti aku jelaskan.”
“Mas sebaiknya menjelaskan banyak hal.”
Dia mengangguk dan mengulurkan tangan. Aku meletakkan tanganku di atas telapak tangannya. Genggamannya kokoh, tetapi tidak memaksa.
Kami kembali ke pelaminan bersama.
Dari tempat duduknya, Tiara menatap Arya seperti sedang melihat kesalahan terbesar dalam hidupnya berjalan di depan mata.
Dia teringat semua ejekan yang pernah dilontarkannya: lelaki desa, duda tua, peternak miskin, calon suami yang tidak pantas baginya. Kini para perwira berdiri saat Arya lewat. Pejabat kepolisian mendatanginya lebih dulu. Beberapa lelaki berusia lebih muda memberi hormat dengan mata yang jelas-jelas menyimpan rasa segan.
Bimo bahkan tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya.
“Mayor Purnawirawan Arya Wangsa Prawira,” gumamnya, membaca papan kecil yang baru diletakkan panitia di meja tamu kehormatan. “Kenapa tidak ada yang memberitahuku?”
Ratna mencengkeram tasnya. “Kamu sendiri bilang dia cuma peternak.”
“Catatan keluarga yang kuterima tidak menyebut satuannya.”
“Papa tidak memeriksa?” desis Tiara.
Bimo menoleh tajam. “Kamu yang menolak bahkan sebelum aku selesai bicara.”
Pertengkaran kecil mereka tenggelam oleh suara pembawa acara menyambut tamu kehormatan.
Pak Sukri berdiri dengan kikuk ketika beberapa purnawirawan menyalaminya sebagai mertua Arya. Bu Minah menangis lagi, kali ini sambil memegang tanganku dan berulang kali berbisik bahwa dia tak menyangka. Raka memandang seragam Arya tanpa berkedip. Bayu ingin menyentuh medali, tetapi menahan diri setelah ditegur kakaknya. Sasa hanya tertawa melihat benda-benda berkilau di dada lelaki yang dia panggil Ayah lewat gerak tubuh dan kedekatan, meski belum mampu mengucapkannya.
Arya memperkenalkan aku kepada setiap tamu sebagai istrinya.
Tidak ada kata pengganti. Tidak ada penjelasan tentang anak tertukar. Hanya namaku, pekerjaanku dulu, dan keluarga kandungku yang berasal dari Tegalsari.
Untuk pertama kalinya, masa laluku tidak dipakai sebagai tanda pengenal.
Ketika kami kembali berdiri di depan pelaminan, lelaki berambut putih tadi melangkah masuk. Semua perwira di dekat pintu merapikan sikap.
Arya melepaskan tanganku dan berdiri tegak.
Sang purnawirawan jenderal berhenti di hadapannya. Matanya sempat bergerak ke arahku, lalu kembali kepada Arya. Dengan gerakan yang masih tajam, dia mengangkat tangan dan memberi hormat militer.
“Komandan,” sapanya.
Seluruh tenda seketika senyap.
Di sudut ruangan, gelas di tangan Tiara jatuh dan pecah di lantai.