Satu jalan keluar dari balik jeruji besi, namun berujung pada labirin tanpa pintu keluar.
Ketika Dorris Gate menawarkan kunci kebebasan, La Bonna De Luca tidak pernah menduga bahwa harga yang harus dibayar adalah jiwanya sendiri.
Terlempar ke dalam gemerlap remang Velvet Noir, Bonna dipaksa menari di atas benang tipis antara penyamaran dan kehancuran. Targetnya adalah Ezequiel Nolan Ashford—pria dingin bernapas racun yang tak pernah terpeleset oleh hukum.
Bonna menyadari satu hal: ini bukanlah misi penyelidikan, ini adalah eksekusi yang tertunda.
Ezequiel tidak hanya sulit dibaca; ia memegang kendali atas hidup dan mati siapa pun di wilayah kekuasaannya. Bagi Ezequiel, Bonna hanyalah mainan baru yang sewaktu-waktu bisa dihancurkan.
Untuk bertahan hidup di tangan pria yang memperlakukan manusia tak ubahnya properti, Bonna hanya punya satu senjata tersisa: memainkan sandiwara paling berbahaya. Berpura-pura menyerahkan hatinya pada sang iblis, atau menjadi bidak yang ditumbalkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#15
Di dalam ruangan nomor 101 yang bernuansa mencekam itu, setelah benar-benar mendapatkan kenikmatan hingga dua kali dari pelayanan paksa Bonna, Nolan sama sekali tidak berniat membiarkan malam ini berakhir begitu saja. Rasa lapar akan dominasi dan penderitaan belum terpuaskan sepenuhnya.
Dengan gerakan kasar tanpa peringatan, Nolan mencengkeram erat helai-helai rambut Bonna dari belakang. Pria itu menariknya kuat hingga Bonna meringis pasrah, lalu memutar tubuh telanjang gadis itu dan mendorongnya hingga terhempas keras di atas ranjang berseprai hitam yang berada di sudut ruangan.
Bonna tersungkur di atas kasur, namun sebelum ia sempat mengumpulkan kembali sisa kesadarannya, Nolan sudah berada di atas tubuhnya.
Pria monster itu langsung memaksakan sebuah penyatuan—sebuah invasi tanpa belas kasihan, tanpa kehangatan, dan tanpa rasa kemanusiaan sedikit pun.
Penyatuan itu terasa begitu brutal hingga rasa sakit yang menusuk tajam membuat Bonna merasa tidak akan sanggup menelannya hidup-hidup.
Rasa perih dan robekan yang menyiksa menjalar di seluruh tubuhnya. Di tengah benturan yang menghancurkan itu, ingatan Bonna secara tak sengaja terlempar ke masa lalu.
Bayangan mantan kekasihnya yang bersikap lembut tiba-tiba saja terlintas di benaknya. Betapa kontrasnya perlakuan lembut masa lalu dengan neraka yang ia jalani detik ini.
Bonna menutup matanya rapat-rapat, meremas jemarinya sendiri saat menyadari bahwa pria monster di atasnya benar-benar melakukan hal ini murni tanpa perasaan, hanya dilandasi kejelekan dan nafsu kekuasaan.
"Lihat ke depan!"
Suara berat Nolan menggelegar di sela-sela embusan napasnya yang memburu, membuyarkan bayangan lamunan masa lalu Bonna seketika.
Jemari Bonna meremas kain seprai hitam itu kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Belum sempat Bonna mematuhi perintah itu, collar kulit yang masih terpasang ketat di lehernya tiba-tiba digerakkan dan ditarik keras oleh Nolan dari belakang.
Tarikannya membuat leher Bonna tertarik kencang ke belakang. Bonna terpaksa mendongakkan kepala dengan napas tersengal-sengal, menatap lurus ke depan di mana sebuah cermin besar terpasang memanjang menghadap langsung ke arah ranjang.
Di dalam pantulan cermin transparan itu, Bonna dipaksa menyaksikan penderitaannya sendiri. Terlihat jelas bagaimana dirinya berada dalam keadaan yang teramat mengenaskan—rambutnya acak-acakan berantakan, sudut bibirnya meneteskan darah tipis, dan tubuh telanjangnya terkunci rapat bersama pria monster yang tak tersentuh ini.
Hatinya terasa tercubit hebat dan hancur berkeping-keping saat menyaksikan betapa hina dan menyedihkannya sosok La Bonna De Luca di dalam pantulan kaca tersebut.
Walaupun penyatuan kasar itu terus berulang berkali-kali tanpa henti, sama sekali tidak ada kenikmatan yang dirasakan oleh Bonna. Yang ada hanyalah rasa sakit fisik yang membakar dan kelelahan batin yang tak tertahankan.
"Argh...!"
Bonna kembali berteriak menahan kepedihan. Namun, suara yang keluar dari tenggorokannya bukanlah desahan kepuasan, melainkan teriakan penuh siksaan dari seorang wanita yang belum terbiasa—dan tak akan pernah terbiasa—dengan cara brutal pria ini memperlakukannya.
Tiba-tiba, gerak hentakan Nolan tertahan sejenak. Suaranya terdengar dingin dan tajam menusuk dari belakang telinga Bonna.
"Kau tidak mau mendesah? Kau justru memasang ekspresi menyedihkan di depan cermin," desis Nolan, nada suaranya berubah menjadi ancaman penuh amarah. "Mendesah! Kubilang desahkan namaku, sialan!"
Bonna tetap menggelengkan kepalanya pelan di atas bantal. Bagaimana caranya ia bisa mendesah nikmat, sedangkan rasa sakit yang menjalar di tubuhnya bahkan membuat suara napasnya saja hampir putus?
Di dalam dadanya, Bonna justru ingin mengumpat, berteriak, dan mencekik leher pria ini sampai mati.
Nolan yang melihat penolakan terselubung itu mencondongkan tubuhnya lebih rapat. Bibirnya menempel di daun telinga Bonna, membisikkan kata-kata yang amat menyeramkan di sela-sela hentakan kasarnya yang kembali menghentak tanpa ampun.
"Jika kau tidak mendesah, aku akan benar-benar membuatmu menangis darah malam ini. Pasang ekspresi terbaikmu."
Ancaman itu diucapkan dengan nada yang begitu dingin hingga membuat Bonna seketika merinding hebat. Bulu kuduknya berdiri, dan rasa takut akan kematian melumpuhkan pertahannya.
Tiba-tiba, di tengah rasa sakit luar biasa yang terus menghantamnya, Bonna menarik sudut bibirnya secara paksa. Ia tersenyum—sebuah senyuman palsu yang mengerikan, memaksa wajahnya menampilkan ekspresi nikmat yang diinginkan pria monster ini.
"Ah... Nolan... N-Nolan..."
Bonna mendesah, menyebut nama Nolan berkali-kali dengan nada yang dipaksakan melengking. Namun, apa yang terpancar di wajahnya bertolak belakang seratus–seratus persen dengan gejolak di dalam hatinya.
Aku akan membunuhmu... aku bersumpah demi Tuhan aku akan membunuhmu! jerit Bonna dalam hati di balik topeng ekspresi kenikmatan palsu itu. Padahal kenyataannya, tiap kali tubuhnya dihantam, ia hanya merasa hampa dan tersiksa. Ia hanya ingin neraka ini segera selesai.
Pupil matanya bergerak ke atas, bibirnya terbuka lebar menghembuskan napas panas, kedua alisnya menukik turun menahan perih, dan Bonna mendesahkan nama pria itu untuk kesekian kalinya.
Namun, Nolan rupanya belum juga puas. Pria itu menyipitkan mata menatap pantulan Bonna di cermin.
"Kau masih belum terdengar menikmatinya sama sekali. Kau harus bertindak lebih baik lagi," kata Nolan dingin di tengah gerakannya yang terus menekan. "Aku begitu penasaran dengan pria pertama yang menyentuhmu... apa dia dulu juga mendesah saat melihat bagaimana ekspresi menyebalkanmu itu?"
Bonna terdiam. Bibirnya mengatup sejenak di tengah senyum mewahnya yang retak. Pertanyaan dari pria brengsek ini ia rasakan murni sebagai pertanyaan menjebak yang dirancang hanya untuk menertawakan dan menginjak-injak harga dirinya untuk kesekian kalinya. Bonna memilih untuk tidak menjawab kata-kata itu.
Pandangan mata Bonna kembali tertuju lurus pada pantulan cermin besar di hadapan mereka. Di sana, ia melihat betapa mengenaskan dan hancurnya bayangan dirinya sendiri—sangat berbanding terbalik dengan sosok pria Gila di belakangnya.
Bonna bisa merasakan dan melihatnya dengan jelas: pria itu memang begitu menikmati momentum ini. Namun, Nolan bukan menikmati penyatuan fisik itu sendiri, melainkan menikmati kepuasan sadis saat menyaksikan ketakutan, rasa sakit, dan kehancuran harga diri yang terpancar dari mata La Bonna De Luca.
****
La Bonna terbangun dari kegelapan mimpi buruknya saat sinar matahari pagi mulai menyelusup tipis dari balik celah tirai ruangan bernomor 101.
Ketika kesadarannya berangsur pulih, hal pertama yang menyambutnya adalah rasa sakit yang luar biasa hebat di sekujur tubuhnya. Dari pangkal leher hingga ujung kakinya, setiap sel saraf di kulit dan ototnya seakan menjeritkan kepedihan yang tiada tara.
Bonna mencoba menggerakkan kakinya untuk turun dari atas kasur, namun niatnya langsung terhenti secara mendadak. Kepala Bonna tersentak ke belakang akibat adanya tarikan keras di area lehernya.
Pria iblis itu ternyata tidak melepaskan collar kulit yang melekat di leher Bonna; rantai besi panjang yang terhubung pada kalung tersebut kini dalam keadaan terkunci rapat pada tiang besi kepala ranjang.
Bonna tidak bisa turun dari ranjang lantaran rantai kalung yang terpasang pada lehernya terkunci ketat di sana.
Dengan napas tersengal-sengal dan dada yang bergemuruh, Bonna terduduk pasrah di atas kasur berseprai kusut sembari kedua tangannya memegangi lehernya yang terasa tercekik dan panas. Lingkaran kulit di balik collar itu pasti telah lebam memerah akibat gesekan keras sepanjang malam.
Bonna memindahkan pandangannya lurus ke depan, di mana terdapat sebuah cermin besar yang terpajang menghadap tepat ke arah ranjang.
Bonna menatap pantulan dirinya sendiri di balik permukaan kaca jernih itu dengan tatapan yang amat miris dan hampa. Sosok wanita berusia 28 tahun yang ada di dalam cermin itu kini tampak begitu asing dan hancur.
Tubuhnya penuh lebam kebiruan dan kemerahan akibat ulah pria iblis itu yang memperlakukannya dengan teramat kasar. Sundutan cerutu di tulang selangkanya telah mengering menjadi luka bakar yang menghitam, sementara sudut bibirnya yang robek menyisakan bekas darah kering yang samar.
Semalam, Bonna diperlakukan seperti bukan makhluk hidup yang memiliki perasaan dan nyawa oleh pria kejam bernama Ezequiel Nolan Ashford itu.
Ia benar-benar dilempar begitu saja ke atas ranjang dan dihentak secara paksa olehnya tanpa ada sedikit pun empati, kehangatan, ataupun belas kasihan.
Bonna sadar betul bahwa dirinya memang bukan lagi seorang perawan yang suci, namun rasa sakit yang melumpuhkan ini adalah bukti nyata betapa pria itu begitu tidak menganggapnya seperti manusia seutuhnya. Di mata Nolan, Bonna tak lebih dari sekadar karung pasir untuk melampiaskan dendam, kekuasaan, dan amarah yang pekat.
Bonna melepaskan pelukan tangannya di leher, lalu menyandarkan punggungnya yang lebam pada kepala ranjang. Rasanya, di ruangan inilah ia benar-benar merasakan apa arti neraka yang sesungguhnya di dunia nyata.
Usai dinikmati berkali-kali tanpa ampun sepanjang malam, pria itu meninggalkannya begitu saja seperti sampah yang tak berguna. Nolan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun, meninggalkan Bonna dalam kondisi yang mengenaskan hingga pandangan matanya perlahan menggelap dan menghilang. Ya, bisa dipastikan bahwa Bonna pingsan semalam akibat kepayahan dan rasa sakit yang melewati batas kemampuannya.
Tentu saja Bonna tidak bisa mengimbangi daya tahan dan kebrutalan pria itu. Kondisi fisiknya memang sudah sangat menyedihkan bahkan sebelum ia dibawa kemari—setelah menjalani hukuman penjara berbulan-bulan yang menguras habis kesehatannya—dan perlakuan kasar semalam tentu saja secara telak merobohkan seluruh pertahanan fisik serta mentalnya hingga tak tersisa.
Jemari Bonna yang memucat meremas ujung kain seprai dengan amat erat. Rasa perih di leher dan selangkangannya terus menyiksa, namun ketakutan di dalam dadanya jauh lebih besar daripada rasa sakit fisik tersebut.
Demi Tuhan, Bonna benar-benar takut jika pria itu merasa kecewa atas pelayanannya semalam, lalu mengeksekusi ancamannya dengan mengirim anak buahnya kemari untuk menggilir dan membunuhnya secara perlahan.
Dalam keheningan kamar 101 yang dingin, setiap derap langkah di luar pintu membuat jantung Bonna bertolak keras, bersiap menantikan apakah takdir berikutnya adalah kelangsungan hidup yang hina atau kematian yang mengenaskan.