NovelToon NovelToon
BERMAIN API DENGAN CINTA

BERMAIN API DENGAN CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir / Obsesi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Park ha

Bagi Cinta (24 tahun), moralitas tidak ada harganya jika dibandingkan dengan uang. Menggunakan paras cantik dan tubuh indahnya, penipu ulung ini selalu berhasil meloloskan diri setelah mengeruk harta korbannya.

Hingga suatu hari, sebuah tawaran senilai 10 Miliar Rupiah datang dari Nyonya Valen, seorang wanita kalangan elit. Misinya terdengar mudah: goda Tuan Maxim, jadilah selingkuhannya, dan buat pria itu setuju untuk bercerai.

Cinta mengira ini hanyalah pekerjaan biasa di mana dia yang memegang kendali penuh sebagai pemburu. Namun, dia keliru. Begitu terjebak di dalam mansion mewah Maxim, Cinta baru menyadari bahwa dia bukan sedang memburu, melainkan sedang masuk ke dalam sangkar emas. Nyonya Valen tidak sedang menyewanya, melainkan menumbalkannya untuk melepaskan diri dari jeratan seorang pria posesif yang sangat berbahaya.

Ketika semua jalan keluar telah tertutup, akankah Cinta berhasil meloloskan diri, atau justru terbakar oleh api permainan yang dia nyalakan sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

_BERMAIN API DENGAN CINTA_ BAB 10_MURKA SANG PENGUASA

_BERMAIN API DENGAN CINTA_

BAB 10_MURKA SANG PENGUASA

Pagi itu, Cinta melangkah masuk ke dalam gedung pencakar langit Kencana Property Group dengan kepala tegak dan senyuman tipis yang penuh kemenangan. Penampilannya hari ini benar-benar memukau. Dia mengenakan kemeja sutra berwarna putih gading yang pas di tubuh, dipadukan dengan rok pensil abu-abu gelap yang mempertegas siluet pinggangnya. Langkah kakinya di atas stiletto Louboutin terdengar ritmis di koridor lantai teratas, memancarkan aura seorang wanita yang tahu persis pesonanya baru saja memenangkan sebuah pertempuran penting.

Cinta merasa berada di atas angin. Kejadian di pangkuan Tuan Maxim kemarin sore, ditambah konfirmasinya bahwa pria itu sepenuhnya normal, membuatnya sangat yakin bahwa dinding es yang dibangun bosnya itu sudah mulai retak. Apalagi, setelah dia dengan berani memotong hubungan eksklusifnya dengan Ethan tadi pagi, fokus mentalnya kini sudah kembali seratus persen. Baginya, Ethan hanyalah masa lalu yang menyenangkan, dan sekarang saatnya dia fokus memburu sang target utama demi sisa uang delapan miliar rupiah dari Nyonya Valen.

Tuan Maxim, bersiaplah. Hari ini aku akan membuatmu semakin tidak berkutik, batin Cinta penuh percaya diri saat merapikan beberapa berkas di meja sekretarisnya.

Namun, rasa percaya diri Cinta yang melambung tinggi itu seketika terhempas begitu pintu ruangan CEO terbuka. Suasana di lantai teratas yang biasanya tenang, mendadak terasa begitu mencekam seolah-olah seluruh oksigen di sana menguap habis.

"Nona Cinta, masuk ke ruangan saya sekarang," suara bariton Maxim terdengar dari interkom, namun nadanya tidak lagi sedingin es seperti biasanya. Suara itu terdengar berat, tajam, dan sarat akan emosi tertahan yang mematikan.

Cinta sedikit mengernyitkan alisnya samar. Jantungnya berdesir aneh mendengar nada bicara bosnya yang tidak biasa. Namun, dia segera menepis rasa herannya, menyunggingkan senyum manis andalannya, lalu mengambil sebuah agenda kerja sebelum melangkah masuk ke dalam ruangan.

Begitu pintu kayu mahoni besar itu tertutup di belakangnya, Cinta langsung membeku di tempat.

Tuan Maxim sedang berdiri membelakanginya di dekat dinding kaca besar, menatap pemandangan kota Jakarta di bawah sana. Jas kerjanya tersampir kasar di sandaran kursi eksekutif, dan kemeja hitam yang dia kenakan tampak sedikit kusut di bagian lengan yang digulung hingga ke siku. Postur tubuhnya yang tegap memancarkan aura dominasi mutlak yang sangat pekat, namun kali ini bercampur dengan gelombang kemarahan yang membara.

Maxim sedang berada dalam suasana hati yang sangat buruk. Kemarahannya yang meledak tadi pagi di hotel karena dicampakkan dan ditinggali uang kompensasi begitu saja oleh Cinta masih membakar dadanya. Harga diri besarnya terluka parah. Dan melihat wanita penipu kecil itu sekarang masuk ke dalam ruangannya dengan wajah polos, percaya diri, dan seolah tidak terjadi apa-apa, membuat hasrat Maxim untuk mencabik-cabik ketenangan wanita itu semakin tidak tertahankan.

"Selamat pagi, Tuan Maxim. Ini jadwal pertemuan Anda untuk hari ini—"

"Siapa yang mengizinkanmu tersenyum seperti itu di hadapanku, Nona Cinta?" potong Maxim dengan suara rendah yang sangat dingin.

Pria itu memutar tubuhnya perlahan, melangkah mendekat ke arah meja marmernya. Tatapan mata hitam Maxim begitu tajam dan menusuk, mengunci manik mata Cinta dengan intensitas yang mengerikan seolah-olah dia ingin menelanjangi seluruh isi kepala sekretarisnya saat itu juga.

Cinta tersentak pelan. Senyum profesional di bibirnya langsung memudar, digantikan oleh rasa bingung yang amat sangat. Otaknya yang cerdas mendadak macet total melihat perubahan drastis pada bosnya. Kenapa dia marah sekali? Apakah ada proyek yang gagal? Atau jangan-jangan dia tahu soal teleponku dengan Nyonya Valen? pikir Cinta mulai panik dalam hati. Dia sama sekali tidak tahu bahwa mood berantakan bosnya murni karena ulahnya sendiri yang mendepak "Ethan" tadi subuh.

"Maaf, Tuan Maxim... saya tidak bermaksud—"

"Letakkan agendamu," perintah Maxim mutlak, memotong kalimat Cinta untuk kedua kalinya. Pria itu menumpukan kedua tangannya di atas meja marmer, mencondongkan tubuhnya ke depan hingga jarak mereka terkikis. "Hari ini, saya tidak butuh sekretaris yang hanya bisa bersolek dan menebar senyuman murah. Saya butuh hasil kerja."

Maxim menarik sebuah laci di mejanya, lalu melemparkan tiga bundel dokumen tebal berkas audit proyek lima tahun lalu yang sudah berdebu ke atas meja hingga menimbulkan suara debuman yang keras.

"Periksa seluruh data laporan keuangan ini secara manual. Cari selisih angka sekecil apa pun, lalu serahkan draf analisisnya ke meja saya sebelum jam lima sore ini," ucap Maxim dengan seringai dingin yang mengerikan. "Jika ada satu angka saja yang salah... bersiaplah menerima konsekuensi yang tidak akan pernah kamu lupakan, Nona Cinta."

Cinta menatap tumpukan dokumen raksasa di hadapannya dengan mata melebar. Memeriksa berkas audit lima tahun lalu secara manual dalam waktu beberapa jam adalah hal yang mustahil dilakukan oleh satu orang normal. Ini murni sebuah siksaan dan pencarian kesalahan yang sengaja dirancang untuk menjatuhkan mentalnya.

Dinding es yang Cinta kira sudah mulai retak kemarin sore, kini justru berubah menjadi tembok raksasa yang siap runtuh dan melumat tubuhnya hidup-hidup.

Cinta berbalik dan melangkah keluar dari ruangan dengan perasaan campur aduk antara kesal, bingung, dan frustrasi yang luar biasa. Begitu pintu mahoni itu tertutup rapat di belakangnya, dia menghentakkan kakinya ke lantai karpet dengan geram.

Pria gila! Menyebalkan sekali! Kenapa dia mendadak bertingkah seperti monster kelaparan? Padahal kemarin dia membiarkanku duduk di pangkuannya dan kami hampir berciuman! rutuk Cinta habis-habisan dalam batinnya sambil membawa tumpukan dokumen raksasa itu kembali ke mejanya. Dia melempar berkas audit itu ke atas meja dengan napas memburu. Dasar bos aneh! Mood-nya berubah lebih cepat daripada ramalan cuaca. Apa dia sedang datang bulan? Benar-benar merusak hari baikku saja!

Meskipun batinnya tidak berhenti mengomel dan mengutuk Tuan Maxim dengan segala sumpah serapah, Cinta tetap duduk dan mulai membuka halaman pertama dokumen tersebut. Sebagai penipu profesional, dia tahu kapan harus menahan ego. Dia tidak boleh memberi celah bagi Maxim untuk memecatnya sebelum misinya selesai. Dengan draf yang tebal dan jemari yang menari di atas kalkulator, Cinta mulai memeriksa baris demi baris angka laporan keuangan lima tahun lalu secara manual.

Waktu berjalan lambat, dan tumpukan kertas itu seolah tidak berkurang sedikit pun. Memasuki jam makan siang, suasana di lantai teratas mulai sepi karena sebagian besar staf turun untuk beristirahat. Kepala Cinta rasanya mau pecah, dan matanya mulai perih karena terlalu lama menatap angka-angka kecil.

"Butuh bantuan, Nona Cinta?" sebuah suara ramah mendadak memecah keheningan di kubikel kerjanya.

Cinta mendongak dan mendapati seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun berdiri di samping mejanya dengan senyum menawan yang dipaksakan. Pria itu adalah Rudi, salah satu manajer senior di divisi pengembangan proyek. Sejak hari pertama Cinta bekerja, Rudi memang sudah terang-terangan tertarik pada penampilan Cinta yang berani, modis, dan selalu terlihat seksi dalam setiap balutan pakaian kerjanya.

Melihat Cinta yang sedang kewalahan sendirian di jam istirahat, Rudi merasa ini adalah kesempatan emas untuk mendekati sang sekretaris pribadi CEO yang baru. Rudi mencondongkan tubuhnya ke meja Cinta, sengaja mengikis jarak di antara mereka sambil memberikan tatapan mata yang penuh kekaguman.

"Tumpukan berkas itu kelihatan terlalu berat untuk diurus oleh jemari lentik sepertimu," ucap Rudi dengan nada suara yang sengaja dibuat lembut, matanya menyusuri kemeja sutra putih gading Cinta yang sedikit melonggar karena lelah. "Bagaimana kalau saya bantu merapikan draf analisisnya? Kebetulan saya sangat paham dengan sistem audit proyek lima tahun lalu ini. Setelah itu, kita bisa makan siang bersama di luar. Bagaimana?"

Cinta menatap Rudi dengan binar mata yang mendadak berubah licik di dalam hatinya. Ego pemburunya langsung membaca situasi ini dengan cepat. Rudi mungkin bermaksud menggoda, tetapi di mata Cinta, kehadiran pria senior ini bisa dia manfaatkan sebagai senjata ganda.

Pertama, bantuan Rudi akan menyelamatkan kepalanya dari tenggat waktu kejam yang diberikan Maxim. Kedua, jika Maxim melihat ada pria lain yang mencoba mendekatinya, ego kompetitif sang bos mungkin saja akan terusik. Cinta menyunggingkan senyum termanis dan paling menawan yang dia miliki, sengaja memiringkan kepalanya sedikit dengan manja ke arah Rudi.

"Benarkah Anda mau membantu saya, Pak Rudi?" ucap Cinta dengan nada suara yang mendayu, sengaja membuat Rudi semakin gemas. "Anda baik sekali. Saya benar-benar bingung dari tadi mencari selisih angka di laporan ini..."

Cinta tidak pernah tahu, bahwa dari balik dinding kaca satu arah di dalam ruangannya, Tuan Maxim sedang berdiri diam menatap pemandangan di area meja kerja sekretarisnya. Sepasang mata hitam Maxim menyipit tajam, menatap nanar ke arah jemari Rudi yang kini mulai menyentuh berkas di dekat tangan Cinta.

Gumpalan cemburu dan amarah yang pekat mendadak meledak di dalam dada sang CEO, membakar habis sisa kendali dirinya. Sifat posesif gila kendali yang dia pendam sejak tadi subuh kini mencapai puncaknya saat melihat milik eksklusifnya sedang tersenyum manis pada pria lain.

1
Lea
bagus GK ngebosenin ceritanya
Lea
lanjut
Lea
bagus..lanjut
Meysha Talitha Putri
bagus
Park ha: makasih 😍🙏🙏
total 1 replies
Fauzianurul 08
cepat² up yaaa
Park ha: 🤭🤭 aku usahain 2 bab sehari kak... gimnaa pendapat ceritanya? kalau berkenan kasih pendapat...
total 1 replies
the virtuso
izin mampir
Park ha: makasih udah mampir🙏🙏😍
total 1 replies
Abid Din
kak CPT update
Park ha: ok siap...tbw jangan lupa like kasih ulasan kritik saran... makasih😍🙏
total 1 replies
falea sezi
q kirim hadiah lanjut banyak thor
falea sezi
lanjutt
Park ha
moga suka wkkwkwk
falea sezi
nyimakk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!