Pada hari ia terbangun kembali tujuh tahun lalu, Wulan Ardani sadar bahwa pernikahannya dengan Panglima Senja, Nalendra, akan menimbulkan tragedi. Dalam hidup sebelumnya, ia menolak, keluarga hancur, dan sang pria yang menolongnya gugur di Lembah Sigar. Kini ia menerima takdir itu, menyimpan rahasia sebagai putri malam dari Paguyuban Niskala. Saat intrik istana, racun mematikan, dan perebutan takhta mengejar, Wulan harus memilih: menebus masa lalu atau menulis takdir baru bersama lelaki yang pernah mati demi menyelamatkannya.
note : support para pembaca sangat berarti bagi penulis untuk tetap berkarya dan upload minimal 3 bab per hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5 - DENYUT NADI YANG LEMBUT
Nalendra berdiri di ambang pintu, diam seperti patung di tengah cahaya obor yang berkelip-kelip. Wulan menatapnya tanpa sadar mengencangkan ujung pakaiannya, lalu memanggilnya dengan suara yang lebih tenang daripada yang ia kira, "Nalendra..." Namun setelah itu, ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia hanya bisa berdiri diam, membiarkan pria itu mengisi ambang pintu dengan kehadirannya yang tenang.
Mata Nalendra berhenti di tubuhnya beberapa saat lamanya, menelusuri setiap jengkal seperti sedang memastikan tidak ada yang terluka. Setelah yakin ia baik-baik saja, pria itu menurunkan pandangannya dan mengalihkan mata ke belakang. Meski wajahnya masih tampak dingin seperti biasanya, Wulan dapat dengan jelas melihat bahwa jauh di dalam matanya tersembunyi sentuhan kekhawatiran yang tak pernah ia lihat pada orang lain.
Mata Wulan sedikit berkedip, dan warna yang rumit muncul di dalamnya. Semua peristiwa kehidupan masa lalu kembali membanjiri benaknya — saat ia berdiri di pesta, saat ia menolak, saat ia tenggelam di danau, saat ia dibuang ke dasar laut. Untuk sesaat, ia tidak tahu bagaimana harus memperlakukan pria di hadapannya ini: sebagai tamu, sebagai musuh, atau sebagai pria yang pernah ia sakiti dengan begitu kejam.
Ia ingat, di kehidupan sebelumnya, setelah ia menceburkan diri ke air Danau Rinai karena dihasut, Nalendra yang sedang berada di luar kota mengkhawatirkan kesehatannya, meninggalkan segala urusan, dan mengabaikan semua orang hanya untuk datang menemuinya.
Namun saat itu ia tidak tahu mana yang baik dan mana yang salah. Ia bukan hanya kehilangan kesabaran pada pria yang datang menengoknya, tetapi juga bersikap manja dengan mengandalkan rasa sayang Nalendra dan mulai berkelahi dengannya. Bekas luka panjang di pergelangan tangan Nalendra pun masih tersisa hingga saat ini — luka yang ia sendiri penyebabnya.
Karena itu, setelah berita skandal itu tersebar melalui Aryati, Sultan Kanaka tidak menyambutnya pada hari pernikahan. Peristiwa itu menjadi aib yang ia bawa ke dalam istana, dan menjadi salah satu dari sekian banyak luka yang baru ia sadari setelah segalanya terlambat.
---
Setelah menatapnya dengan saksama beberapa saat lamanya, Nalendra berbalik tanpa banyak bicara dan sepertinya hendak pergi. Wulan merasa cemas dan tidak bisa berpikir lebih jauh. Ia membuang jubah yang melingkar di tangannya dan ingin berlari memegangnya. "Nalendra!"
Begitu jari kakinya menyentuh lantai yang dingin, tungkai dan kakinya terasa lemas. Cuaca di awal musim dingin sudah sangat dingin, dan meskipun tubuhnya tidak terluka parah, air Danau Rinai yang terlalu dingin masih membuat tubuhnya terasa beku. Kedinginan yang menyerangnya bukan berasal dari udara, melainkan dari air danau itu yang masih terasa menyusup ke setiap celah tulang.
Sebelum ia sadari, lengan Nalendra telah menopangnya, membawanya melayang dari lantai dingin itu kembali ke kehangatan pembaringan. "Ah!" Begitu seruan itu keluar dari bibirnya, sebuah tangan dengan jari-jari yang tegas mencapai pinggangnya dan memeluk seluruh tubuhnya, menahannya sebelum ia sempat jatuh.
Aroma dingin yang samar namun familier masih melekat di hidungnya. Mata Wulan terasa panas dan ia nyaris menitikkan air mata. Sudah lama sekali ia tidak mencium aroma dingin seperti ini dari tubuh Nalendra — aroma yang di kehidupan lalu justru selalu ia hindari. Kini aroma itu terasa hangat, seolah menutup semua jarak yang selama ini ia ciptakan sendiri. Di dalam pelukan itu, sempit bagi tubuhnya, tetapi luas bagi hatinya.
Nalendra membaringkannya kembali dengan hati-hati, mengambil jubah yang tadi jatuh ke tanah, lalu menyelimuti tubuhnya. Setelah itu ia menatapnya lekat-lekat. "Apakah ada luka?"
Wulan menggelengkan kepalanya. Sejak kecil ia berlatih ilmu bela diri bersama ayah dan saudara-saudaranya, jadi tubuhnya selalu lebih kuat daripada gadis biasa. Kesehatannya tidak terlalu serius; ia hanya masuk angin setelah jatuh ke air kemarin lusa. Beberapa hari ini ia hanya merasa sedikit pusing dan lemas, bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan.
Nalendra memeriksa denyut nadinya dengan sedikit cemas, lalu menarik tangannya dengan tenang. Suaranya masih dingin seperti biasanya, tetapi setelah didengarkan dengan saksama, masih bisa tertangkap dua titik kelembutan di dalamnya. "Kondisi nadimu tidak buruk. Jaga diri baik-baik, jangan sampai masuk angin." Ia mengucapkannya tanpa banyak kata, tetapi setiap suku katanya membuat dada Wulan menghangat. Namun ia tidak berani menatap pria itu terlalu lama, takut seluruh kelemahannya terbaca.
"Ya." Wulan menjawab dengan lembut, masih belum tahu harus berkata apa di hadapan pria ini. Sekali lagi ia menyadari betapa sepinya percakapan di antara mereka — dulu ia selalu yang banyak bicara, tetapi kini lidahnya terasa kelu.
Nalendra bukanlah orang yang banyak bicara. Melihat Wulan tidak berbicara, ia pun ikut diam dan menatapnya dalam hening beberapa saat. Lalu ia mengangkat matanya ke arah jendela, berdiri, dan menutup rapat jendela kayu yang setengah tertutup itu. Tidak ada kata-kata yang terucap, tetapi keheningan itu tidak terasa canggung — anehnya, justru menenangkan. Wulan memperhatikan punggungnya yang tegak dan mengikuti setiap gerakannya dengan rasa syukur yang tidak bisa ia ungkapkan.
Wulan melihat gerakannya yang tanpa banyak perhitungan itu dan merasakan kehangatan menjalar di dadanya. Di kehidupan lalu ia selalu menganggap semua perhatian ini biasa saja; kini setiap hal kecil terasa seperti emas yang dulu ia buang. Ia menarik napas dan berjanji dalam hati, jika ia bisa menjaga pria ini kali ini, ia tidak akan menyia-nyiakan satu pun perhatian kecil yang dulu ia abaikan.
Sebelum beranjak, Nalendra menoleh ke arahnya sekali lagi. "Selamat istirahat."
"Nalendra!" Melihatnya seperti akan pergi, tanpa berpikir panjang Wulan melepaskan selimut brokat yang menyelimuti tubuhnya dan ingin mengejarnya.
Nalendra bergerak lebih cepat darinya. Ia mengambil satu langkah di depannya dan langsung menekan Wulan kembali ke atas pembaringan. "Lantainya dingin." Tangannya begitu ringan tetapi tegas, dan untuk sesaat Wulan merasakan jantungnya berdetak lebih cepat di balik diamnya.
Wulan sedikit mengernyit dan menatap pria itu, bertanya-tanya apa yang hendak ia lakukan sekarang.
Setelah jeda singkat, Nalendra bertanya, "Apakah kau merasa tidak nyaman di suatu tempat?"
"Ugh—punggungku sakit." Wulan mendengus dengan ekspresi kesakitan yang seolah tidak tertahankan, meskipun sebenarnya punggungnya baik-baik saja. Ia hanya ingin pria itu tinggal lebih lama, memandangnya dengan perhatian yang dulu selalu ia tolak.
Nalendra menatapnya dari tempatnya yang lebih tinggi, lalu berkata datar, "Kau menindih rambutmu."
Wulan membeku sebentar, kehabisan argumen.
Ah, Nalendra memang orang yang lugu dan jujur. Di antara semua hal yang bisa ia lakukan untuk merawatnya, pilihannya justru membongkar kebohongan kecil itu dengan datar, tanpa sadar bahwa bibir Wulan kini menyembunyikan senyum yang tidak bisa dibendungnya.