NovelToon NovelToon
Sistem Mata Dewa Raja Fengshui

Sistem Mata Dewa Raja Fengshui

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: Cherlly

Di mata teman-temannya yang sombong, Saka hanyalah "si beban" yang lamban, miskin, dan tak punya masa depan, sering kali menjadi bahan rongsokan ejekan dan perundungan. Namun, di balik senyum polos dan sikapnya yang kelihatannya bodoh itu, Saka menyembunyikan rahasia besar: dia adalah pewaris tunggal kemampuan mistis Raja Fengshui yang mampu melihat aliran Qi, pendar aura barang antik tak ternilai, hingga nasib malang-mujur seseorang hanya dalam sekali tatap. Sambil membiarkan musuh-musuhnya tertawa di atas ketidaktahuan mereka, Saka diam-diam meraup keberuntungan dari barang-barang pusaka yang dianggap remeh, menunggu momen paling tepat di sebuah pelelangan elit untuk membongkar kedoknya, menghancurkan harga diri mereka, dan memaksa dunia berlutut di hadapan sang Raja Fengshui yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14

Tepat sebelum palu itu diketuk suara lembut namun sangat tegas membelah kesunyian ruangan dari barisan paling depan. "Dua miliar rupiah." Ucap Anya sambil mengangkat papan penawarannya tinggi-tinggi.

Ruangan yang tadinya hening langsung kembali riuh oleh bisikan-bisikan kaget dari para tamu undangan. Putri tunggal keluarga Adijaya akhirnya turun tangan langsung dalam pertempuran berdarah malam ini.

"Dua miliar rupiah dari Nona Anya, apakah ada yang berani melawannya." Seru Master Handoko dengan wajah yang memerah karena terlampau semangat.

Pria beruban tadi menelan ludahnya dan perlahan menurunkan papan penawarannya dengan wajah kecewa. Tidak ada satupun pengusaha di ruangan itu yang berani menyinggung keluarga Adijaya hanya demi sebuah piring antik.

"Nona Anya sepertinya sangat membutuhkan piring itu untuk koleksi pribadi ayahnya." Bisik salah satu nyonya besar kepada temannya.

"Tentu saja, siapa yang berani menantang kekayaan klan Adijaya di kota ini." Balas temannya itu sambil menggelengkan kepala.

Melihat tidak ada lagi yang mengangkat papan Master Handoko pun tersenyum lebar ke arah gadis cantik tersebut. "Dua miliar rupiah, satu, dua, tiga." Ucap Master Handoko bersiap mengetuk palunya.

Namun tiba-tiba sebuah suara berat yang sangat asing terdengar dari arah tangga masuk ruang VVIP di lantai dua. "Tiga miliar rupiah." Teriak suara itu dengan sangat lantang dan penuh percaya diri.

Semua orang di ruangan itu langsung menoleh ke atas menatap ke arah kaca gelap ruang VVIP yang misterius itu. Anya ikut mendongakkan kepalanya dengan raut wajah yang mulai dipenuhi oleh kepanikan luar biasa.

Saka yang sedang duduk santai di sofa VVIP nyaris menyemburkan air minumnya saat mendengar suara tawaran itu. Dia menoleh ke pintu ruangannya dan melihat seorang pria paruh baya berkumis tebal baru saja masuk dengan napas terengah-engah.

Pria itu mengenakan setelan jas putih mewah dan langsung berdiri di pinggir balkon VVIP menatap ke bawah. "Saya menawar tiga miliar rupiah untuk piring gaharu itu." Ulang pria berkumis itu ke arah panggung bawah.

[Mendeteksi kedatangan karakter baru di area VVIP.]

[Nama: Tuan Wijaya, Presiden Direktur Grup Farmasi Terbesar di Ibukota.]

[Status: Memiliki penyakit paru-paru kronis dan sangat membutuhkan energi penyembuhan dari pusaka Master.]

Saka memicingkan matanya membaca informasi dari sistem tersebut sambil tetap duduk tenang di sofanya. "Wah ternyata ada tamu tak diundang yang masuk ke ruanganku untuk ikut bermain perang harga." Batin Saka dengan senyum licik.

Tuan Wijaya menoleh ke arah Saka dan membungkuk sedikit dengan raut wajah meminta maaf. "Maafkan kelancangan saya anak muda, ruang VVIP saya ada di sebelah tapi saya butuh sudut pandang yang lebih baik untuk melihat barang itu." Ucap Tuan Wijaya sopan.

Saka hanya menganggukkan kepalanya pelan merestui kehadiran pria kaya raya itu di ruangannya. "Silakan saja Tuan, lagipula semakin tinggi tawarannya semakin saya merasa terhibur malam ini." Jawab Saka dengan nada santai.

Di bawah sana Anya terlihat sangat marah melihat ada orang yang berani memotong harga tawarannya dengan sangat brutal. Gadis itu tidak peduli siapa yang ada di atas sana karena dia benar-benar membutuhkan piring itu untuk menyambung nyawanya.

"Tiga koma lima miliar." Teriak Anya dengan suara yang mulai sedikit serak karena menahan gejolak emosi.

Tuan Wijaya di atas balkon VVIP langsung tertawa pelan mendengar tawaran balasan dari gadis muda tersebut. "Nona kecil dari keluarga Adijaya, maafkan pamanmu ini tapi paman benar-benar membutuhkan benda penyembuh itu." Ucap Tuan Wijaya dari atas.

"Empat miliar rupiah." Lanjut Tuan Wijaya melempar angka yang langsung membuat ratusan tamu di bawah berteriak histeris.

"Gila, empat miliar untuk sebuah piring kayu, ini sudah benar-benar gila." Umpat seorang pengusaha muda sambil memegangi kepalanya yang pusing.

Bahkan Master Handoko pun sampai harus berpegangan pada pinggiran mimbar agar tidak jatuh pingsan karena terlalu bahagia. Komisi yang akan dia dapatkan dari pelelangan malam ini akan membuatnya bisa pensiun dini dengan sangat tenang.

Anya menggigit bibir bawahnya hingga nyaris berdarah merasa sangat putus asa menghadapi kekayaan Tuan Wijaya. Ayahnya hanya membekalinya dana darurat maksimal sebesar lima miliar rupiah untuk acara lelang malam ini.

Gadis itu memejamkan matanya sejenak merasakan hawa dingin kutukan yang mulai perlahan kembali merayap di dadanya. Jika dia tidak mendapatkan piring ini dia yakin umurnya tidak akan bertahan lebih dari satu bulan lagi.

"Lima miliar rupiah." Teriak Anya dengan sisa tenaga terakhirnya memecah kebisingan aula.

Suasana ruangan benar-benar meledak layaknya stadion sepak bola yang baru saja mencetak gol kemenangan. Angka lima miliar adalah rekor tertinggi sepanjang sejarah pelelangan di Hotel Grand Mulia ini.

Saka yang mendengarnya langsung bersandar puas di sofanya sambil memutar-mutar gelas anggurnya. "Target tiga miliar tercapai dan malah terlampaui dengan sangat mudah, sistem ini benar-benar membawa hoki mutlak." Batin Saka kegirangan.

Tuan Wijaya terdiam sejenak mendengar angka lima miliar yang diteriakkan oleh Anya barusan. Pria paruh baya itu menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya dengan raut wajah penuh penyesalan.

"Lima miliar sudah melampaui batas anggaran kas perusahaanku bulan ini, aku menyerah Nona kecil." Ucap Tuan Wijaya dengan nada berat.

Tuan Wijaya kemudian menoleh ke arah Saka dan tersenyum ramah. "Terima kasih sudah menumpang anak muda, saya harus kembali ke ruangan saya sekarang." Ucapnya pamit dan langsung berjalan keluar.

Saka hanya membalasnya dengan anggukan kecil sementara perhatiannya kembali terfokus ke arah panggung utama. Di bawah sana Master Handoko sudah mengangkat palu kayunya tinggi-tinggi dengan wajah yang basah oleh keringat kebahagiaan.

"Lima miliar rupiah pertama." Teriak pria tua itu dengan suara bergetar.

"Lima miliar rupiah kedua." Lanjutnya sambil memutar pandangannya ke seluruh sudut ruangan memastikan tidak ada lagi yang menawar.

Rio yang duduk di sudut belakang terlihat seperti mayat hidup dengan mata melotot kosong ke arah panggung. Angka lima miliar itu seperti godam raksasa yang meremukkan seluruh tulang-tulang kesombongannya tanpa ampun.

"Lima miliar rupiah ketiga, sah." Master Handoko mengetuk palunya dengan sangat keras hingga suaranya bergema ke seluruh ruangan.

Tok tok tok.

"Piring Kayu Gaharu Berdarah resmi terjual kepada Nona Anya Adijaya dengan harga luar biasa lima miliar rupiah." Teriak Master Handoko menutup acara puncak pelelangan malam ini.

Tepuk tangan gemuruh langsung menggelegar dari seluruh tamu undangan menghormati kemenangan pewaris klan Adijaya tersebut. Anya akhirnya bisa bernapas lega dan langsung menjatuhkan tubuhnya bersandar ke kursi dengan wajah pucat karena kelelahan emosional.

"Selesai sudah pertunjukannya, sekarang saatnya mengambil uang bayaranku dan pulang melihat ibu." Gumam Saka sambil berdiri dari sofanya.

Dia merapikan kemeja kusamnya yang tidak sengaja sedikit kusut saat duduk di sofa tadi. Meskipun bajunya terlihat seperti gembel jalanan namun kini di dalam sakunya terdapat nilai lima miliar rupiah yang menunggunya.

Saka berjalan perlahan keluar dari ruang VVIP menuju ruang administrasi lelang di lantai dasar. Dia harus mencairkan uang itu secepatnya dan segera melunasi semua hutang rumah sakit ibunya malam ini juga.

Sambil menuruni tangga Saka teringat pada Rio dan Kevin yang pasti sedang dihadang oleh petugas keamanan di lobi depan. "Dua ratus lima puluh juta, aku harap ayahmu tidak kena serangan jantung mendadak malam ini Rio." Batin Saka menyeringai sangat kejam.

Malam ini adalah malam kelahiran kembali bagi seorang Saka Dirgantara dari jurang kemiskinan. Dan mulai besok tidak akan ada lagi badut tongkrongan yang bisa diinjak-injak harga dirinya oleh siapapun di kota ini.

1
yani
seru banget
pricilia
sangat seru alur certanya
Angel
cerita nya tidak membosan kan😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!