Di dunia Murim yang dikuasai oleh sekte-sekte besar dan tipu daya, Mu Jin hanyalah seorang tukang kayu dari desa terpencil. Hidupnya berubah total ketika desanya dibantai dalam satu malam oleh pasukan yang tak dikenal.
Tanpa tenaga dalam dan tanpa latar belakang beladiri, Mu Jin memulai perjalanan panjang ke utara. Di tengah perjalanan, dia berhadapan dengan kenyataan kejam dunia Murim: orang kuat menindas yang lemah, keadilan hanyalah topeng, dan dendam adalah satu-satunya hal yang membuatnya terus melangkah.
Sementara itu, di Puncak Awan Putih, Lu Chen, sosok yang dipuja sebagai pelindung keadilan, menggerakkan pengaruhnya di balik layar. Di utara, pemberontakan perlahan menguat di bawah pimpinan Lin Yu, anak haram yang ditolak oleh dunianya sendiri.
Di antara salju, darah, dan konspirasi, seorang tukang kayu biasa terus berjalan. Tanpa mengetahui apakah dia akan menjadi pahlawan, monster, atau hanya satu lagi mayat di jalanan Murim.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Jauh dari salju utara yang ternoda darah dan abu Desa Lemah Salju, terdapat sebuah gubuk bambu yang berdiri anggun di atas Puncak Cermin Udara. Tempat itu selalu diliputi harum daun teh segar, hembusan angin sepoi-sepoi, dan gemercik air pancuran batu yang jernih.
Di dalam ruangan yang diterangi pendar cahaya lilin beraroma kayu cendana, seorang pria bergaun hijau lumut duduk bersila di hadapan meja kayu jati yang panjang.
Matanya tertutup oleh kain sutra putih tipis berukir benang emas. Meskipun kedua matanya terlindung dari dunia luar, jemarinya yang lentik dan bersih menari dengan sangat lincah di atas lembaran kertas jerami tebal, menggoreskan tinta hitam menggunakan kuas bulu rubah.
Dia adalah Yan Wu, sang Cendekiawan Buta, seorang peramal dan penafsir takdir yang keberadaannya selalu dicari sekaligus ditakuti oleh klan-klan besar di Murim.
Di samping mejanya, seorang murid muda berdiri membisu sambil menumbuk tinta hitam di atas batu asah.
“Guru,” bisik murid muda itu pelan, takut memecah hembusan napas sang guru. “Bintang Merah di arah utara mendadak meredup, namun garis getarannya makin menusuk ke dalam tanah.”
Yan Wu tidak menghentikan goresan kuasnya. Setiap sapuan tintanya membentuk bait-bait puisi yang mengalir anggun, namun mengandung bobot ramalan yang teramat pekat.
“Bunga pualam tersenyum di atas takhta,” gumam Yan Wu, suaranya halus seperti desir angin malam, namun bergema bening di dalam ruangan.
“Menenun kain putih bertinta darah murni.
Namun di balik jurang yang tak tersentuh cahaya,
Besi tanpa mata melangkah, menggali kuburannya sendiri.”
Yan Wu mengangkat kuasnya sejenak, membiarkan tetesan tinta jatuh membentuk pola bulatan di tepi kertas. Dia mendongakkan kepalanya yang terbalut kain sutra ke arah jendela yang terbuka, menatap kegelapan utara dengan penglihatan jiwanya.
“Guru,” tanya sang murid lagi dengan rasa ingin tahu yang mendalam. “Apakah Pahlawan Suci Lu Chen akan berhasil menyatukan seluruh tanah Murim di bawah panji Puncak Awan Putih?”
Yan Wu terkekeh pelan. Sebuah ukiran senyum tipis yang misterius mengembang di bibirnya.
“Dunia hanya melihat pahlawan yang bersinar dalam gaun putihnya,” kata Yan Wu serak namun merdu. “Mereka lupa bahwa semakin terang cahaya yang dipancarkan sebuah lilin, semakin pekat bayangan yang tercipta di bawah kakinya.”
Jemari Yan Wu kembali menggoreskan kuasnya, menuliskan dua baris puisi terakhir sebagai penutup ramalannya malam itu.
“Takdir bukanlah sungai yang mengalir lurus,
Melainkan benang kaku yang ditarik oleh dendam.
Siapakah yang akan runtuh saat masa lalu bertabrakan?
Sang Pemegang Cahaya... atau sang Cacing yang tak lagi punya jiwa?”
Yan Wu meletakkan kuasnya di atas tatakan batu. Dia mengusap permukaan kertas jerami yang masih basah oleh tinta hitam dengan ujung jarinya, merasakan getaran takdir yang kian mendingin di tanah utara.
“Tutup pintunya, Anakku,” bisik Yan Wu pelan, menyandarkan tubuhnya pada kursi bambu. “Badai yang sesungguhnya telah lepas dari dasar jurang. Dan tidak ada satu pun ilmu beladiri di dunia ini yang sanggup menghentikan besi yang bergerak tanpa rasa takut mati.”
****
Kabar kematian Feng Xiao tiba di Puncak Awan Putih bersamaan dengan turunnya hujan es pertama di akhir musim.
Di aula utama yang megah, udara membeku bukan hanya karena cuaca luar, melainkan karena keheningan yang terpancar dari takhta kayu cendana. Lu Chen duduk bersandar anggun, memperlihatkan jemari tangannya yang halus sedang memutar porselen berisi arak beras tua campuran darah murni, minuman segar yang baru saja disiapkan para tabibnya.
Di hadapannya, dua pengawal bertopeng tembaga berlutut hingga dahi mereka menempel ke lantai marmer yang dingin. Di antara mereka, tergeletak sebuah kotak kayu berisi pedang giok milik Feng Xiao yang telah patah menjadi dua bagian, beserta laporan dari sisa-sisa pasukan utara.
“Feng Xiao... tewas?” suara Lu Chen terdengar sangat lembut, hampir menyerupai bisikan penuh kasih sayang.
“B-benar, Ketua,” jawab pengawal di sebelah kiri dengan suara bergetar menahan ketakutan. “Desa Lemah Salju telah rata dengan tanah, namun jasad Tuan Feng Xiao ditemukan di antara abu dengan leher dan bahu yang hancur total.”
Lu Chen meletakkan cangkir porselennya tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Senyum hangat yang biasanya mengukir wajah rupawannya mendadak memudar, berganti dengan tatapan mata yang teramat dingin dan hampa.
“Siapa yang melakukannya?” tanya Lu Chen datar. “Apakah anak haram Lin Yu telah keluar dari Benteng Serigala Hitam? Atau Lu Xian yang datang membawa pedang keadilannya?”
Pengawal itu menelan ludah secara paksa, tenggorokannya terasa kering. “Bukan mereka berdua, Ketua. Berdasarkan laporan sisa prajurit... penyerangnya adalah seorang pria berpakaian bulu hitam yang membawa besi kaku bersegi empat tanpa mata tajam.”
Keheningan kembali melingkupi aula.
Lu Chen diam sejenak. Jari-jarinya mengetuk pegangan takhta cendana secara teratur. Dalam benaknya, bayangan seorang tukang kayu kusam dari Lembah Nian melintas, seorang cacing tanah yang tiga tahun lalu hanya bisa menangis di atas abu desanya, seorang manusia tanpa qi yang dua bulan lalu dilemparkan oleh Feng Xiao ke dasar jurang mematikan Lembah Taring Merah.
“Cacing tanah itu...” bisik Lu Chen pelan, lalu perlahan sebuah tawa kecil keluar dari bibirnya.
Tawa itu makin lama makin keras, bergema bening dan merdu menembus pilar-pilar batu aula utama. Tidak ada amarah di dalam tawa itu, melainkan kepuasan murni dari seorang iblis yang melihat permainan kecilnya mendadak menjadi jauh lebih menarik.
“Luar biasa,” gumam Lu Chen sambil mengusap sudut matanya yang berair karena tertawa. “Dia merayap keluar dari dasar jurang, bertahan hidup dengan menggigit daging mentah, hanya untuk mengayunkan besinya padaku?”
Lu Chen berdiri dari takhtanya, menyapu gaun sutra putihnya yang megah. Dia melangkah mendekati kotak kayu berisi patahan pedang giok Feng Xiao, menatapnya dengan pandangan jijik.
“Feng Xiao memang tidak berguna. Mampu ditumbangkan oleh manusia biasa tanpa tenaga dalam adalah hinaan bagi Puncak Awan Putih,” kata Lu Chen dingin. Dia menendak kotak kayu itu hingga terlempar dan hancur di sudut ruangan.
Dia berbalik menatap ke arah jendela aula yang mengarah lurus ke dataran utara.
“Biarkan cacing itu melangkah mendekat,” perintah Lu Chen pada para pengawalnya dengan senyuman anggun yang kembali terukir di wajahnya. “Jangan cegah langkahnya. Aku ingin melihat seberapa keras besi kaku yang dia bawa sebelum aku meremukkannya sendiri di depan matanya.”