NovelToon NovelToon
Dijodohkan, Malah Dimanja Tuan Muda

Dijodohkan, Malah Dimanja Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cinta Terlarang
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: Awan

**Naila Kinanti Prasetya** baru delapan belas tahun ketika kedua orang tuanya terbang ke Amerika demi bisnis, lalu menitipkannya di rumah keluarga **Adiwangsa** — keluarga konglomerat yang sudah menjodohkannya dengan putra mereka sejak Naila masih kecil.

Tapi sebelum mereka sempat bertemu, sang tuan muda, **Radhika Arya Adiwangsa**, lebih dulu mengirim tiga aturan lewat WhatsApp:

> 1. Perjodohan ini tidak aku akui.
> 2. Jangan naik ke lantai tiga.
> 3. Jangan dekat-dekat aku.

Naila cuma membalas satu kata: *"oke."*

Enam tahun lebih tua, dingin, dan menyebalkan — Naila pikir "Mas" yang satu ini benar-benar membencinya. Sampai ia sadar: pria yang katanya cuma menganggapnya adik itu diam-diam menanam empat pohon lemon di balkon khusus untuknya, menyimpan diam-diam setiap fotonya sejak kecil, dan menghajar siapa pun yang berani menyakitinya.

*"Katanya jaga jarak,"* Naila mengadu, matanya berkaca-kaca. *"Katanya aku cuma adik…"*

Radhika menyudutkannya ke daun pintu, suaranya rendah dan berbahaya. *"Lari kenapa? Emang Mas bakal makan kamu?"*

…tapi malam itu, Mas ingkar janji.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 16: Pohon Lemon di Balkon

Sore berikutnya, Radhika sudah terbang ke Singapura ketika Naila kembali ke rumah Adiwangsa di Menteng.

Di meja dekat pintu masuk, ada satu buah lemon segar dengan kertas kecil di bawahnya.

Buat air hangat malam ini. Jangan kebanyakan es.

Tidak ada nama pengirim. Tulisan tegak dan tegas itu sudah cukup menjadi tanda tangan.

Naila membawa lemon tersebut ke meja makan. Larasati langsung tersenyum saat melihatnya, lalu semakin rajin mengisi piring Naila dengan lauk.

"Radhika berangkat terburu-buru sekali," katanya. "Pagi rapat di kantor, siang ke bandara. Anak itu kalau kerja memang serius."

"Katanya cuma pegawai biasa," gumam Naila.

"Pegawai biasa yang bagaimana dulu." Larasati tertawa kecil. "Dia mandiri, nggak suka pamer, bisa masak kalau terpaksa, nggak merokok di dalam rumah. Tingginya juga lumayan. Menurutmu Mas Radhika gimana?"

Naila berhenti mengunyah.

"Gimana apanya?"

"Ya, sebagai laki-laki."

"Sombong. Suka mengatur. Kalau marah wajahnya seperti petugas pajak." Naila menunjuk lemon. "Tapi belakangan lumayan baik. Sedikit."

Larasati mengangguk dengan antusias. "Dia juga belum pernah membawa perempuan pulang. Kerjanya jelas, keluarganya kamu sudah kenal."

Pertanyaan itu terdengar seperti permintaan bantuan. Larasati pasti mulai khawatir putranya terlalu sibuk hingga tidak sempat mencari pasangan.

"Sebenarnya banyak mahasiswi baik di kampus, Tante. Ada yang pintar, cantik, keluarganya juga bagus." Naila mulai menghitung dengan jari. "Kalau Tante mau, nanti aku kenalkan. Teman dari fakultas hukum juga ada."

Senyum Larasati membeku. "Bukan begitu maksud Tante, Nai."

"Oh, maunya yang sudah kerja? Aku bisa tanya Mama."

Wirya yang duduk di ujung meja terbatuk dan menutup mulut dengan serbet. Bahunya bergerak seperti menahan tawa.

"Makan dulu saja," kata Larasati akhirnya. "Nanti Tante jelaskan kalau waktunya tepat."

Suasana meja makan menjadi aneh. Naila memilih mengoleskan sambal ke tempe dan tidak bertanya lagi.

Wirya akhirnya menyerah dan tertawa pelan. Larasati menendang kaki suaminya di bawah meja, membuat sendoknya berdenting. Naila berpura-pura tidak melihat. Dalam hati ia sudah menyusun daftar mahasiswi yang mungkin cocok dengan Radhika, termasuk Vania, meski lelaki itu sudah menolak terlalu cepat semalam.

Setelah makan, ia mengangkat lemon pemberian Radhika. Kulitnya kuning cerah tanpa satu pun bercak.

"Tante, ini beli di mana? Segar banget."

Larasati yang tadi masih kecewa seketika memperoleh semangat baru. "Ikut Tante."

Mereka naik ke lantai tiga. Larasati membuka pintu kaca di sisi ruang kerja Radhika, lalu menyalakan deretan lampu balkon.

Empat pohon lemon berdiri dalam wadah tanah besar. Dedaunannya bergerak ditiup angin malam, menebarkan aroma hijau yang lembut. Buah-buah kuning muncul di antara cabang, sebagian hampir sebesar telapak tangan Naila.

Lampu kecil tertanam di lantai kayu, menyorot batang-batang yang dirawat rapi. Tidak ada daun kering berserakan. Di sisi setiap wadah terpasang alat pengukur kelembapan dan selang irigasi tipis. Ini bukan hobi yang diingat sesekali. Seseorang menjaga keempat pohon ini dengan kesabaran bertahun-tahun.

Naila berhenti di ambang pintu. "Ada kebun di sini?"

"Cuma empat pohon. Radhika yang menanamnya lebih dari sepuluh tahun lalu."

"Mas Radhika?"

"Dia yang merawat. Waktu pohonnya sakit, dia yang paling panik. Kami pindah dari Dago ke Menteng pun keempatnya ikut dibawa." Larasati menyentuh satu daun. "Setiap tahun berbuah banyak, tapi orang rumah minta satu saja susahnya bukan main."

"Kenapa pelit banget?"

Larasati memandang lemon di tangan Naila. "Karena katanya semua cuma buat kamu. Stoples yang dia buat, buah yang kamu pegang, semuanya dipetik dari sini."

"Cuma buat aku?" Naila mengulang, tidak yakin.

"Sejak dulu. Damar pernah memetik satu tanpa izin. Radhika mengejarnya sampai lantai bawah dan mengambil buah itu kembali." Larasati tersenyum mengenang. "Bunda kira dia pelit. Baru tadi malam dia mengaku pohon ini memang dibuat untukmu."

"Tapi aku bahkan nggak tahu pohon ini ada."

"Mungkin dia menunggu sampai kamu mengingatnya sendiri."

Angin malam seakan berhenti.

Naila menatap empat batang itu. Tiba-tiba cahaya balkon mengabur, digantikan matahari pucat di halaman rumah lama Dago. Sebuah mobil menunggu dengan bagasi terbuka. Anak lelaki berkemeja putih berjongkok di depannya.

Kalau kangen, telepon Mas, ya.

Waktu libur, Mas datang jenguk kamu.

Nanti Mas tanam pohon lemon. Kalau berbuah, semuanya Mas kirim buat kamu.

Suara itu pecah menjadi dengung. Naila mencengkeram lemon begitu kuat hingga kukunya menekan kulit buah.

"Nai?"

Ia tersentak. Larasati memegang sikunya.

"Kamu pucat. Pusing?"

"Nggak." Naila menarik napas. Aroma lemon terasa jauh lebih tajam. "Tante, waktu kecil aku dekat sama Mas Radhika?"

Larasati menatapnya hati-hati. "Dekat sekali. Kenapa tanya begitu?"

"Aku cuma ingat dia suka mengganggu."

"Dia memang suka menggodamu. Tapi kalau dia benar-benar jahat, kamu nggak mungkin menangis tiap kali dia pulang sekolah terlambat."

Naila menunduk. Selama bertahun-tahun, ia yakin Radhika adalah anak lelaki menyebalkan yang membuat masa kecilnya buruk. Namun, bekas gigitan di tangan Radhika, empat pohon ini, dan janji yang baru muncul di kepalanya menyampaikan hal berbeda.

Mungkin ingatannya sendiri yang salah.

Naila berjalan mengitari wadah pertama. Ada goresan kecil pada bagian bawahnya, mungkin bekas perjalanan panjang dari Bandung ke Jakarta. Ujung jarinya menyentuh batang yang dingin. Sekejap, ia melihat tangan anak lelaki menutupi tangan kecilnya saat mengajari cara menyiram tanaman. Gambarnya lenyap sebelum wajah lelaki itu terlihat.

Ia buru-buru menarik tangan.

"Aku mau istirahat dulu, Tante."

Larasati tidak menahan. "Kalau kepalamu sakit, panggil Bi Rohmah atau Tante."

Di kamar, Naila meletakkan lemon di meja dan mengambil ponsel. Tanpa tahu sebabnya, sebuah rangkaian angka muncul di pikirannya. Ia mengucapkannya pelan, satu demi satu, lalu mengetik di layar.

Nomor itu terasa akrab seperti lirik lagu lama.

Naila membuka kontak Mas Radhika.

Angkanya sama persis.

Ia memeriksa sekali lagi. Tidak ada satu digit pun yang salah. Padahal ia bahkan sering lupa nomor ponselnya sendiri. Nomor Bagas dan Wulan harus ia cari di daftar kontak kalau hendak mengisi formulir.

Naila mencoba menuliskan angka itu dari belakang. Tetap bisa. Ia menutup daftar kontak, menunggu satu menit, lalu mengulang tanpa melihat. Hasilnya tidak berubah. Nomor tersebut seperti ditanam jauh di bawah ingatan yang selama ini terkunci.

Namun, nomor Radhika tersimpan utuh di tempat yang tidak bisa ia jelaskan.

Jantung Naila berdebar semakin cepat. Ia menekan panggilan video untuk Wulan.

Nada sambung terdengar panjang. Naila hampir mematikannya dua kali. Ia takut ibunya akan menertawakan pertanyaan aneh itu, tetapi lebih takut lagi jika jawaban Wulan membuktikan seluruh keyakinannya selama ini keliru.

Ibunya menjawab dari New York beberapa saat kemudian. Cahaya pagi masuk melalui jendela di belakangnya.

"Hai, Sayang. Kok malam-malam belum tidur?"

"Ma, aku mau tanya."

Wulan tersenyum. "Tanya apa?"

Naila menatap lemon di meja, lalu empat bayangan pohon yang masih tertinggal di kepalanya.

"Waktu aku kecil, Mas Radhika tuh gimana sih sama aku?"

Senyum Wulan menghilang. Ia terdiam satu detik terlalu lama sebelum balik bertanya, "Kenapa tiba-tiba nanya begitu?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!