🔥✨ Update Minggu, Rabu, dan Jumat✨🔥
Seorang gadis hypertymesia yang dapat mengingat apapun yang dilihatnya hanya ingin hidup biasa saja, namun setelah kematian mendadaknya ia reinkarnasi ke tubuh budak yang tiba-tiba diangkat selir oleh seorang pangeran. Tubuh yang ditinggalinya ternyata bukanlah budak biasa, ia sangat cantik dan seksi karena milik assassin yang sedang menyamar!
Raymond adalah pangeran licik yang memanfaatkan kemampuan hyperthymesia Alice untuk membangun kerajaan melawan kekaisaran Procyon yang selalu menyerang kerajaannya. namun setelah menjadi raja ia terpikat oleh Alice dan ingin mengangkatnya menjadi ratu!
Apakah seorang selir rendahan dapat menjadi ratu?
mau kenalan atau ngewibu bareng author?
follow ✨anichan21✨ aja di Instagram ฅ^•ﻌ•^ฅ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anichan21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16# Beauty of Alice
Colosseum megah yang terbuat dari bangunan batu dan patung batu menawan menghiasi sudutnya. Pemusik jalanan menampilkan lagu sambutan di luar Colosseum. Lorong panjang penuh dengan gambar kekar para petarung. Orang-orang yang meramalkan pertandingan, memakai kostum, membawa bendera, menjual makanan. Pengunjung semakin ramai yang berdatangan, mulai dari bangsawan yang turun dari kereta kuda, sekelompok pelajar dengan jas hitamnya, gadis-gadis yang berdandan centil, para pekerja yang masih dalam seragam kerja atau membawa peralatan kerjanya, hingga pria berambut hitam dari perpustakaan yang kini sudah memakai kostum bersama gadis cantik yang membawa bendera.
“Waw ini spektakuler.” Jawabku dengan nafas terengah karena terlalu banyak yang terlihat.
“Alice tutup matamu, ini bukan informasi yang butuh kita ingat.” Raymond memegang pundakku dan menuntunku berjalan.
Aku menutup mataku, sesekali membuka karna tertabrak pengunjung lainnya yang mulai berdesak-desakan. Kami tak kebagian kursi, namun berhasil mendapatkan tempat strategis untuk melihat para gladiator. Arlo berdiri disana, dengan topeng peraknya. Memakai jubah berwarna merah yang membuatnya nampak semakin gagah. Dihadapannya adalah lawan yang memakai pakaian serba hitam namun detailnya cukup mencolok. Topeng hitamnya berbentuk seperti mata kucing dengan bulu ungu di bagian kanannya.
“Kita sambut pertarungan terakhir kita Silver Mask dan Phantom!” Pembawa Acara berteriak sangat
lantang.
Siutan yang disusul teriakan melengking para gadis berpadu harmonis dengan teriakan dan raungan para pria. Teriakan semakin kencang saat pembawa acara memulai pertarungan tersebut. Raymond memegang bahuku dengan erat dari belakang dan berbisik,
“Alice, fokus pada pertandingannya saja, penonton bukanlah informasi yang harus kau ingat.” Raymond berbisik lembut namun genggamannya semakin kuat.
“Aku mengerti.” Jawabku mengangguk.
“Katakan padaku kalau kau merasa tidak enak badan atau kelelahan.” Raymond mengelus pundakku dan aku hanya mengangguk.
Arlo melempar jubahnya sembarang. Jeritan para gadis nyaring terdengar. Dia tidak membawa pedang peraknya. Ia mengambil kuda-kuda untuk bertarung dengan tangan kosong. Lawannya, Phantom, melambaikan tangan ke para gadis dan membuat mereka berteriak lengking. Ia menarik pedangnya dan menyuruh Arlo maju. Pertarungan mereka sangat sengit. Arlo berusaha menghindari pedang tersebut, hingga akhirnya berhasil melepaskannya dari genggaman sang Phantom. Mereka adu bela diri dengan seimbang.
“Mustahil, ada orang yang dapat seimbang bertarung dengan Arlo!” Raymond cukup terbelalak.
“Arlo tidak apa-apa kan?” Tanyaku khawatir karena Arlo terpukul dan terbanting beberapa kali.
Phantom menendang Arlo hingga merusak meja pembawa acara. Arlo membalas dengan pukulan dan merusak podium pembawa acara. Tidak lama Arlo terbanting sekian meter namun berhasil menedang Phantom hingga terpental. Pertarungan sengit. Pengunjung berteriak, calo judi berkeliling berusaha mengambil keuntungan sebanyaknya. Arlo terbanting ketanah hingga terlihat retakan di sekitarnya, Phantom mencekiknya.
“ARLOO!” Aku berteriak, Raymond memegang pundakku erat.
“Hitungan Mundur!” Pembawa acara berteriak dan pengunjung mulai menghitung mundur.
“10… 9… 8…”
“Raymond! Arlo kalah!” Ucapku panik, Raymond hanya menarik nafas panjang.
“2…1… Phantom pemenangnya!” Pembawa acara menangkat tangan Phantom dan sorak pengunjung pecah.
“Arlo!” Aku dan Raymond berusaha memecah kerumunan untuk menggapai Arlo yang masih tak bergerak di tanah.
Phantom mengulurkan tangannya dan Arlo meraihnya. Arlo bangun dengan terkekeh, lalu mereka berpelukan. Suara pengunjung semakin ramai meneriaki nama mereka. Mengakui mereka adalah petarung yang kuat. Aku dan Raymond memasuki arena, berusaha berlari ke arah Arlo.
“Syukurlah kau baik-baik saja.” Aku Berlari dan melompat memeluk Arlo dengan khawatir.
“Lepaskan wanita penggoda!” Arlo melepaskan rangkulanku
“Kalau dia pingsan kau yang menggotongnya pulang!” Raymond memukul perut Arlo dengan cukup kencang.
Mataku bertatapan dengan Phantom, cukup lama, saling membalas tatapan. Ditengah riuhnya suara penonton waktu seakan berhenti. Walau gadis-gadis meneriaki namanya, berlari kearahnya memberikan buket bunga atau makanan buatan rumah atau bahkan dirinya. Matanya tetap memandangiku. Menggigit bibirnya sendiri dan memandangi mataku yang lentik berkedip. Merasakan nafas panjangku yang kukeluarkan dari bibir setelah lelah berlari. Turun memandangi Uraian rambut keemasanku ke tubuhku yang seksi.
“Hai…” Phantom tersenyum menyapaku.
Aku dan Raymond berlalu, tanpa membalas sapaannya. Menggotong tubuh kekar Arlo yang cukup berat itu ke ruangan khusus peserta. Teriakan pengunjung masih ramai. Namun terlihat tidak cocok dengan sang pemenang yang berusaha mengikuti kami. Phantom menerima buket dan makanan terburu-buru, lalu pergi ke ruangan peserta bersama kami.
“Tenang, aku tidak apa-apa” Jawab Arlo dengan santai saat tiba di ruangan peserta.
“Ha?! Tidak apa-apa? Kau terbanting hingga tak bisa bergerak, bodoh!” Jawabku panik sambil mencoba mengecek kelengkapan tubuhnya.
“Arlo, sebelum Alice melucuti bajumu aku butuh penjelasan.” Tegas Raymond.
“Yang Mulia…” Jawaban Arlo terputus.
“Praang….” Suara Vas pecah membuyarkan kami.
“Melucuti… Pakaian…” Phantom berdiri di pintu masuk dengan mulut besar menganga. Ia berjalan cepat ke arah Arlo dan menarik kerahnya kasar.
“Ini cuma settingan…” Arlo melanjutkan perkataannya kepada Raymond dan melotot ke arah Phantom.
“Aku memberimu kemenangan, apa masalahmu.” Jawabnya tegas kepada Phantom.
“Kau… Kau… sengaja mengalah agar gadis cantik dan super seksi ini khawatir padamu kan… Kau menghasutku dengan kesepakatan ini untuk mengambil hati gadis yang aku inginkan, HAH?!” Phantom melotot dan bertanya dengan tensi tinggi.
Arlo melotot menatapku, menggerakkan jari-jari tangannya dengan aneh. Menuliskan kode isyarat yang hanya diketahui kami berempat. Kode isyarat buatan Darick, untuk Aku, Raymond dan Arlo. Aku menatap Raymond. Ia mengangguk. Tanda Misi baru telah diberikan kepadaku.
“Tu.. Tuan Phantom… A.. Aku tidak menyangka bisa berdiri sedekat ini dengan anda.” Aku melengkingkan suaraku seakan berada dalam kebahagiaan yang tak terduga.
“Ma.. Maafkan ketidak sopananku, wahai bidadariku… ini… hanya cara kami..... menyemangati…” Phantom melepaskan kerah baju Arlo dan memandangku.
“Ini keajaiban, aku tak menyangka tuan Phantom yang sangat kuat juga sangat peduli dengan lawannya.” Aku menggenggam tanganya dengan wajah semanis mungkin.
“Sebuah keajaiban juga untukku bila kau mau merayakan kemenangan ini bersamaku.” Suara lembutnya dan bibirnya yang basah kuakui cukup menggoda.
“Tuan sangan menawan.” Aku mendekatkan tubuh seksiku kepadanya.
“Selamat beristirahat sahabat baikku.” Phantom berpamitan dengan Arlo sambil menggigit bibirnya dan mengedipkan mata.
Tak ada balasan dari Arlo dan Raymond selain tatapan melotot padaku. Raymond menatapku dengan tajam dengan arti yang susah tertebak, sedangkan Arlo menatapku dengan arti yang pasti, jijik!
Raymond POV
Orang yang disebut Phantom itu merangkul Alice. Aku memberikan tatapan dingin untuk Alice, memperingatinya, kalau dia adalah milikku. Mereka berlalu dengan badan yang berjarak sangat dekat. Aku beralih menatap Arlo, meminta penjelasan dari bahasa isyarat kami yang berarti ‘ikuti dia’.
“Jadi?” Tanyaku tegas.
“Ini kesepakatan kami, bertarung dengan sangat sengit, dan aku kalah. Dia mau memenangkan uang hasil taruhannya. Pertukarannya adalah dia akan memberikan kita informasi mengenai mesin yang Anda cari.” Jawab Arlo datar.
“Jadi?” Tanyaku sekali lagi.
“Tadi pagi aku memasuki ruang kerjanya, dia punya sesuatu yang lebih, kita butuh Alice untuk mengingat semua itu.” Jawab Arlo, tetap datar.
“Arlo, kawal Alice, Dia sudah terlalu banyak melihat hari ini.” Tegasku.
“Baik, Yang Mulia.” Sigap Arlo.
siapakah Alice sesungguhx thorr
tetap semangat yach
jangan lupa mampir,
makasih
menenangkan orang yg panik itu ternyata lebih susah yaa (´°̥̥̥̥̥̥̥̥ω°̥̥̥̥̥̥̥̥`) tetap patuhi 3M yaw ( ´◡‿ゝ◡`)
selamat menikmati crazy upnyaa ฅ^•ﻌ•^ฅ
salam hangat dari ADA APA DENGAN JODOHKU ❤️❤️. dan Janda Muda ..
Ku tunggu Feedback mu..