NovelToon NovelToon
Menimbun Perbekalan, Aku Santai Menonton Kiamat Es Turun

Menimbun Perbekalan, Aku Santai Menonton Kiamat Es Turun

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Hari Kiamat
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: Surya Mandala

Hendra Wijaya bertahan empat tahun di neraka beku pasca-kiamat, hingga orang terdekat meracuninya. Ia terlahir kembali tiga bulan sebelum bencana—kini hafal jadwal gelombang panas, banjir, dan badai −50°C.

Kali ini ia bersiap di bunker mewah, sambil menyaksikan dunia saling bunuh. Cincin tembaganya mampu menyimpan kapal tanker, mengawetkan makanan, dan naik level via Lima Unsur. Ia borong logistik, bangun benteng, dan balas dendam pada perampas perusahaan serta pembunuh orang tuanya.
Namun kiamat ini bukan alamiah—ada konspirasi, Bestia, dan ras kuno dari Antartika. Hendra menjelma jadi senjata pamungkas umat manusia.

Pertanyaan: apa sebenarnya cincin itu, dan sejauh mana ia bisa naik—hingga jadi penguasa dunia baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16

Bab 016: Bar Tepi Laut

Bar Kayu tidak punya papan nama besar.

Hanya lampu kuning kusam, pintu setengah terbuka, dan bau asin laut yang menempel di dindingnya.

Dua malam setelah gudang Bandung kosong masuk Ruang Penyimpanan, Hendra kembali ke pesisir Surabaya. Di belakang bar, pelabuhan kecil tampak seperti garis lampu yang patah-patah. Truk tangki lewat perlahan di jalan jauh. Dari dermaga, suara rantai kapal sesekali beradu dengan besi.

BBM.

Senjata.

Jalur laut.

Tiga kata itu lebih penting daripada semua komentar viral tentang Handoko.

Hendra masuk sendirian.

Di dalam, kipas angin tua berputar malas. Meja kayu penuh bekas rokok. Beberapa pria menoleh, lalu pura-pura tidak melihat. Mereka bukan pekerja pelabuhan biasa. Terlalu tenang. Terlalu cepat membaca sepatu, jam, dan saku jas orang asing.

Seorang pria beruban di balik meja bar mengangkat dagu.

"Cari siapa?"

"Bang Kunto."

Pria itu menatapnya dari atas ke bawah. "Siapa yang kirim?"

Hendra meletakkan kartu nama distributor Bandung di meja, lalu menaruh satu amplop tipis di atasnya.

"Orang yang butuh solar banyak."

Bang Kunto tidak langsung menyentuh amplop.

Ia memanggil seorang pemuda dengan dagu bercodet kecil. "Lihat luar."

Pemuda itu berjalan ke pintu, memeriksa jalan, lalu kembali sambil menggeleng.

Bang Kunto baru mengambil amplop.

Ujung jarinya menghitung isi tanpa mengeluarkan semuanya.

Matanya berubah sedikit.

"Solar banyak itu bisa beli dari depo resmi."

"Kalau resmi cukup, saya tidak datang ke sini."

"Berapa banyak?"

"Cukup untuk membuat orang resmi geleng kepala."

Beberapa pria di meja pojok tertawa pelan.

Salah satu dari mereka, pria kurus bertato di leher, menatap Hendra dengan mata menantang. "Orang kantor datang ke tempat begini biasanya cuma dua macam. Polisi atau orang bodoh."

Hendra menoleh.

"Ada macam ketiga."

"Apa?"

"Orang yang membayar."

Tawa berhenti setengah.

Bang Kunto menyipitkan mata. "Membayar apa?"

"Informasi. Jalur. Pertemuan. Nanti barang."

"Barang apa?"

"Solar. Mesin. Senjata ringan kalau ada."

Kata terakhir membuat ruangan menjadi lebih dingin.

Tidak ada yang mengangkat suara.

Justru itu tandanya Hendra masuk ke tempat yang benar.

Di Indonesia, senjata bukan barang pasar malam. Faksi kecil tidak bisa mendapatkannya seperti membeli beras. Jalur seperti ini ada karena ada kapal gelap, beking kotor, gudang transit, dan orang yang berani mati demi komisi.

Hendra membutuhkan mereka.

Lalu, pada waktunya, ia akan mengambil lebih dari yang mereka kira bisa dijual.

Bang Kunto menaruh amplop ke bawah meja.

"Nama Bang Macan tidak dijual murah."

"Saya tidak beli namanya."

"Lalu?"

"Saya beli waktu orangnya."

Pria bertato di leher berdiri.

"Bos tidak ketemu orang baru."

Hendra tidak bergerak.

"Maka cari orang yang bisa menilai apakah saya layak."

Pintu belakang bar terbuka.

Seorang pria berbadan sedang masuk dengan jaket hitam tipis. Wajahnya biasa, tapi matanya tidak. Di belakangnya berdiri pemuda bercodet yang tadi memeriksa luar.

Bang Kunto langsung lebih sopan.

"Bang Hantu."

Jadi ini tangan kanan.

Hendra mengingat nama itu.

Bang Hantu mengambil gelas dari meja, tidak minum, lalu duduk di depan Hendra.

"Kau cari Bang Macan?"

"Ya."

"Untuk solar?"

"Solar volume besar. Jalur aman. Pengiriman cepat."

"Uang?"

Hendra membuka ponsel, memperlihatkan bukti saldo dan transaksi perusahaan yang sudah ia siapkan. Tidak semua angka. Cukup untuk membuat orang di ruangan itu paham bahwa ia bukan pembual.

Bang Hantu melihat layar hanya dua detik.

"Kau pengusaha?"

"Pedagang logistik."

"Kenapa butuh senjata?"

"Untuk mengamankan logistik."

Si Codet tertawa pendek. "Jawaban licin."

Hendra menatapnya. "Jawaban mahal."

Bang Hantu mengetuk meja dua kali.

Si Codet keluar lewat pintu belakang. Beberapa menit kemudian, ia kembali membawa kertas kecil berbau solar. Di atasnya ada angka, nomor truk, dan tulisan gudang yang tampak seperti catatan bongkar-muat biasa.

Gudang 0321B.

Hendra hanya melirik sekilas.

Tapi cukup.

Di kehidupan sebelumnya, ia pernah belajar membaca pola logistik dari sisa dunia yang runtuh. Barang legal selalu punya jalur bersih, meteran, tanda tangan, pajak, dan kamera. Barang gelap punya jalur yang lebih sederhana: malam, orang lapar uang, dan gudang yang namanya tidak muncul di dokumen resmi.

Di catatan itu, ada tiga truk tangki masuk dalam satu jam.

Terlalu rapat untuk operasi kecil.

Ada satu nama kapal dipotong setengah.

Ada angka muatan yang tidak ditulis lengkap.

Dan ada satu kolom kosong di samping kata `khusus`.

Kolom kosong sering lebih jujur daripada kolom penuh.

"Kau bisa baca?" tanya Bang Hantu.

"Cukup untuk tahu kalian bukan penjual jeriken."

Pria-pria di ruangan saling pandang.

Hendra mengembalikan kertas itu tanpa mengambil foto.

Ia tidak perlu foto.

Ingatan yang ditempa dua kehidupan jauh lebih sulit digeledah.

Bang Hantu tidak tertawa.

"Orang yang datang membeli solar satu-dua truk masih masuk akal. Kau datang mencari volume yang membuat depo resmi menolak. Itu artinya kau mau menimbun."

"Benar."

Ruangan kembali sunyi.

Kejujuran kadang lebih membingungkan daripada kebohongan.

"Untuk apa?"

"Harga akan naik."

"Semua orang bilang begitu."

"Tidak semua orang membawa uang cukup untuk membuktikannya."

Bang Hantu menyandarkan punggung. "Bang Macan tidak suka orang yang sok tahu pasar."

"Saya tidak sok tahu pasar."

"Lalu?"

"Saya tahu waktu."

Kali ini Bang Hantu memandangnya lebih lama.

Hendra membiarkan tatapan itu bekerja.

Ia tidak perlu membongkar kiamat. Tidak perlu menyebut panas, hujan, es, atau kota yang akan tenggelam. Cukup memberi kesan bahwa ia punya informasi yang belum dimiliki orang lain.

Orang gelap hidup dari informasi.

Mereka akan mencium kemungkinan untung sebelum mencium bahaya.

"Ada kapal masuk tiga malam lagi," kata Bang Hantu akhirnya. "Kapal besar. Barang kotor. Kalau kau cuma mau beli solar, besok datang ke Gudang 0321B. Kalau kau banyak tanya, kau tidak pulang."

"Saya datang."

"Sendiri."

"Saya selalu lebih suka sendiri."

Si Codet mendengus. "Orang sendiri biasanya gampang hilang."

Hendra berdiri.

Kursinya bergeser pelan.

"Kalau saya gampang hilang, kalian tidak akan rugi."

Bang Hantu menatapnya, lalu menyeringai tipis.

Untuk pertama kalinya malam itu, rasa tertarik muncul di matanya.

Saat Hendra keluar dari Bar Kayu, angin laut membawa bau solar, garam, dan besi basah.

Di belakangnya, pintu bar belum tertutup penuh.

Sebuah suara berat terdengar dari ruang belakang. Tidak keras, tapi semua orang di dalam langsung diam.

"Orang itu?"

Bang Hantu menjawab, "Punya uang. Punya nyali. Mungkin punya rahasia."

Suara berat itu tertawa pelan.

"Besok, bawa dia ke gudang."

Hendra tidak menoleh.

Ia berjalan ke mobil, menatap lampu kapal di kejauhan.

Kapal besar.

Solar.

Mungkin senjata.

Mungkin emas.

Orang-orang ini mengira ia datang untuk membeli muatan.

Padahal di kepala Hendra, satu rencana yang lebih rakus mulai terbentuk.

Kalau jalur laut bisa membawa dunia gelap ke daratan...

Maka Ruang Penyimpanan bisa membuat seluruh kapal lenyap dari laut.

1
Alia Chans
Hadir ni... semangat nulis nya😉/Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!