Lima tahun lalu, Reihan Wijaya—pewaris konglomerat paling berkuasa di Jakarta—lenyap tepat di hari kontrak triliunannya diteken, meninggalkan Nathania yang tengah mengandung dan seluruh utang keluarga Lie yang mencekik.
Lima tahun kemudian, Nathania pulang. Bukan lagi gadis yang dulu terpuruk, tapi pendiri Astera Group yang berdiri di atas kakinya sendiri—dengan satu rahasia kecil bernama Meira, putrinya yang berusia lima tahun.
Di sebuah sudut jalan, Meira menarik tangan seorang pria gembel yang kehilangan ingatan. "Ma… itu Papa," katanya, sambil menggenggam sehelai foto lusuh.
Hasil DNA membuat tangan Nathania gemetar: 99,99%.
Pria "bodoh" yang ia bawa pulang, yang mencuci piring dan menjaga Meira, yang dijuluki "suami simpanan" oleh keluarganya sendiri—ternyata adalah taipan yang seluruh kota kira sudah mati. Dan di tangannya, tergenggam brankas, dendam lima tahun, serta satu Surat Perjanjian yang pernah mengunci Nathania dalam sangkar emas.
Saat topeng terbuka di depan seluruh Jakarta, saat kebohongan lima tahun terkuak… apakah Nathania akan memaafkan pria yang membiarkannya menyalakan dupa untuk "mendiang"-nya sendiri?
Dengan satu putri kecil sebagai mak comblang paling nekat, sang konglomerat siap menurunkan seluruh harga dirinya—demi merebut kembali istri dan anaknya.
"Berapa pun maharnya, akan kubayar. Asal kalian pulang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 24: Kantong Licin yang Disembunyikan
Meira menemukan benda itu saat mencari kaus kaki kelinci.
Ia membuka laci kecil di samping tempat tidur Nathania, mengacak tisu, minyak kayu putih, plester luka, lalu berhenti pada sebuah kotak yang belum pernah ia lihat.
"Papa?"
Han sedang memasang baterai remote AC di ruang tengah. "Iya, Mei?"
"Ini permen?"
Han menoleh.
Kotak di tangan Meira hampir jatuh.
"Jangan buka."
Karena Han terlalu cepat berdiri, Meira justru memeluk kotak itu erat-erat.
"Berarti permen mahal."
"Bukan."
"Obat?"
"Bukan."
"Mainan?"
"Bukan."
"Kalau bukan semua, kenapa Papa takut?"
Han berhenti dua langkah darinya. Ia tampak seperti menghadapi rapat komisaris yang jauh lebih sulit daripada biasanya.
"Itu barang orang dewasa."
Mata Meira membesar. "Barang orang dewasa bikin adik bayi tidak datang?"
Han membeku.
Dari dapur, Nathania menjatuhkan sendok.
"Meira Wijaya."
Meira langsung menoleh ke dapur. "Mama tahu?"
Nathania muncul dengan wajah merah yang ia paksa tenang. "Kamu dapat dari mana?"
"Laci Mama."
"Taruh."
"Kalau ditaruh, adik bayi tidak datang?"
Han menutup mata.
Nathania menarik napas panjang. "Siapa yang bicara soal adik bayi?"
"Bik Inah bilang kalau Papa Mama menikah, rumah bisa ramai."
"Bik Inah bilang begitu?"
"Bik Inah bilang rumah ramai itu bagus. Mei mau adik bayi. Tapi kalau ada benda ini, adik bayi takut?"
"Mei, itu bukan..."
Han batuk. "Nia, mungkin aku..."
"Kamu diam."
Han langsung diam.
Meira memandangi mereka bergantian. "Papa salah?"
"Tidak."
"Mama salah?"
"Tidak."
"Kalau tidak ada yang salah, kenapa semua muka seperti habis makan cabai?"
Nathania menyerah sebentar dan menutup wajah dengan telapak tangan.
Meira memanfaatkan celah itu.
Ia lari.
"Mei!"
Anak itu membawa kotak tersebut ke kamarnya, menutup pintu, lalu berbisik keras, "Kelinci, kita selamatkan adik bayi."
Han dan Nathania berdiri di depan pintu kamar dengan jarak canggung di antara mereka.
"Ini salahmu," kata Nathania pelan.
"Kenapa salahku?"
"Karena kamu terlihat bersalah."
"Aku memang..."
"Jangan lanjut."
"Baik."
Nathania mengetuk pintu. "Mei, buka."
"Tidak."
"Kenapa?"
"Nanti Mama ambil."
"Memang Mama harus ambil."
"Kalau Mama ambil, adik bayi gagal."
Han menatap langit-langit.
Nathania menggertakkan gigi. "Han, bantu bicara."
Han berdeham. "Mei."
"Iya, Papa."
"Adik bayi tidak datang dari kotak itu."
Pintu terbuka sedikit. Satu mata Meira muncul. "Dari mana?"
Han menatap Nathania.
Nathania menatap balik dengan ancaman jelas.
"Dari Tuhan," kata Han akhirnya.
Nathania hampir tertawa karena lega.
Meira berpikir keras. "Tapi Tuhan lihat kotak?"
"Tuhan lihat semua."
"Kalau Mei sembunyikan, Tuhan senang?"
"Tuhan lebih senang kalau Mei jujur pada Mama."
Pintu terbuka setengah. Meira memeluk kotak itu di dada. "Tapi Mei mau adik."
Nathania berjongkok. "Sayang, adik bayi bukan mainan. Tidak bisa diminta seperti boneka."
"Mei bisa berbagi boneka."
"Mama tahu."
"Mei bisa kasih susu."
"Kamu saja masih suka tumpah."
"Tumpah sedikit."
Han menahan senyum.
Nathania mengulurkan tangan. "Kasih Mama dulu."
Meira mundur. "Janji tidak marah?"
"Mama tidak marah."
"Janji Papa tidak dibuang?"
Han tertegun.
Nathania melembut. "Kenapa Papa dibuang?"
"Kalau tidak ada adik, nanti Papa pergi?"
Pertanyaan itu memukul dua orang dewasa sekaligus.
Han berlutut di depan Meira. "Papa tidak pergi karena tidak ada adik."
"Kalau Mama marah?"
"Papa tetap di sini."
"Kalau Mei nakal?"
"Tetap."
"Kalau kotak ini hilang?"
Nathania menoleh cepat pada Han.
Han menjawab tanpa tersenyum, "Tetap."
Meira menatap wajahnya lama, lalu menyerahkan kotak itu pada Nathania. "Mei cuma mau rumah ramai."
Nathania memeluknya. "Rumah sudah ramai karena kamu."
"Tapi kalau ada adik, lebih ramai."
"Nanti kita bicarakan kalau kamu sudah bisa tidur tanpa menendang Mama."
"Berarti lama?"
"Sangat lama."
Meira kecewa, tetapi tidak menangis. Ia hanya menarik Han dan Nathania agar mereka duduk di lantai kamarnya.
"Sekarang Papa Mama main keluarga."
"Kita memang keluarga," kata Han pelan.
Nathania menatapnya.
Meira tidak menangkap perubahan udara itu. Ia sibuk menyusun boneka. "Ini Mama, ini Papa, ini Mei, ini adik bayi pura-pura."
"Adik bayi pura-pura boleh," kata Nathania.
"Namanya siapa?"
"Kelinci saja."
"Tidak kreatif, Ma."
Han berkata, "Bara."
Nathania menyentuh kalung di balik bajunya. "Jangan pakai nama itu."
"Kenapa?"
"Terlalu panas."
Meira mengangkat boneka kecil. "Kalau begitu namanya Api Kecil."
Mereka tertawa.
Siang itu berlalu dengan cara yang hampir normal. Bik Inah pulang dari pasar, dimarahi Nathania karena komentarnya tentang rumah ramai, lalu membela diri sambil tertawa malu.
"Non, saya cuma bilang rumah kalau ada anak kecil itu lebih hidup."
"Bik, anak kecil di rumah ini sudah cukup hidup sampai bisa menyandera barang dewasa."
Bik Inah menutup mulut. "Aduh, Non Mei."
Meira bangga. "Mei pintar sembunyi."
"Jangan bangga," kata Nathania dan Han bersamaan.
Mereka saling pandang.
Untuk pertama kali setelah beberapa hari penuh rahasia, Nathania merasa seperti keluarga kecil ini bisa bertahan. Tidak sempurna. Tidak jelas. Tetapi hangat.
Malamnya, setelah Meira tidur, Nathania berdiri di depan laci.
"Aku pindahkan," katanya.
Han di ambang pintu tidak masuk. "Baik."
"Kamu tidak perlu terlihat seperti dihukum."
"Aku bingung harus berdiri di mana."
"Di sini."
Ia masuk dua langkah.
Nathania menutup laci. "Meira takut kamu pergi."
"Aku tahu."
"Kamu juga takut?"
Han tidak menjawab cepat. "Iya."
"Kalau begitu berhenti membuatku merasa kamu punya pintu keluar rahasia."
Ia memandang Nathania. "Aku sedang menutup beberapa pintu."
"Aku tidak suka jawaban teka-teki."
"Aku tahu."
"Tapi malam ini aku terlalu lelah untuk berdebat."
"Tidur."
"Kamu juga."
"Nanti."
Nathania melewati Han. Saat bahu mereka hampir bersentuhan, ia berhenti. "Han."
"Iya?"
"Terima kasih tadi tidak mempermalukan Meira."
"Dia anak kecil."
"Tidak semua orang ingat itu."
"Aku ingat."
Nathania menatapnya sebentar, lalu masuk kamar.
Sebelum pintu tertutup, ia kembali menoleh. "Besok Pak Karto antar jemput Mei. Tidak ada orang lain yang boleh dekat gerbang TK."
"Aku ikut."
"Kamu ada urusan?"
"Urusan itu bisa menunggu. Mei tidak."
Nathania menatapnya lebih lama. "Kalau kamu tahu ada bahaya, jangan jadikan aku penonton."
"Tidak."
"Janji yang jelas, Han."
"Aku janji."
Di luar apartemen, jauh di area parkir, seorang pria dengan kemeja abu-abu berdiri di dekat vending machine. Ia tampak seperti pengantar paket yang menunggu pesanan berikutnya.
Padahal sejak sore ia memotret pintu lobi, mobil Pak Karto, jadwal Bik Inah, dan anak kecil yang turun sebentar membeli roti bersama Han.
Ia mengirim foto Meira yang sedang tertawa memegang roti cokelat.
Anak itu mudah dilacak.
Balasan dari nomor Vania datang cepat.
Awasi terus. Jangan sentuh dulu.
Pria itu memasukkan ponsel ke saku.
Di lantai atas, Meira tidur sambil memeluk boneka kelinci dan kotak kecil kosong yang sudah diganti Nathania dengan plester bergambar.
Ia mengira berhasil menyelamatkan adik bayi.
Ia tidak tahu ada bahaya lain yang mulai menghafal jalan pulang mereka.