Demi rasa iba, Arhan menikahi Dira, seorang gadis yatim piatu yang baru kehilangan kedua orang tuanya. Dira mengira pernikahan itu adalah awal dari kehidupan yang penuh kasih sayang. Nyatanya, ia hanya dijadikan istri untuk mengurus rumah, melayani suami, dan merawat ibu mertuanya.
Lima tahun berlalu tanpa kehadiran buah hati. Dira terus menyalahkan dirinya karena dianggap mandul. Ia tak pernah tahu bahwa setiap hari Arhan memberinya pil KB yang dikemas sebagai obat penyubur agar ia tak pernah mengandung.
Ketika alasan "mandul" itu digunakan Arhan untuk menikahi wanita yang sejak dulu dicintainya, hati Dira hancur. Lebih menyakitkan lagi, ia tak sengaja mendengar percakapan yang mengungkap bahwa selama ini dirinya hanyalah seorang babu yang sengaja dipertahankan sampai wanita pujaan Arhan kembali.
Namun, semua kebohongan memiliki waktunya untuk terbongkar. Saat rahasia pil KB akhirnya terungkap, penyesalan mulai menghantui Arhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tragedi Heels nyangkut
"Sayang, badan mas pegel. Tolong pijit dulu sebentar." Arhan meminta Ayu untuk memijat punggungnya, hari ini Arhan tidak bisa masuk kerja. Kondisi tubuhnya tidak bisa diajak berkompromi lagi, suhu tubuh yang panas dan rasa ngilu dibagian tulang membuat tubuh Arya terasa lemah.
Ayu yang sedang bersantai diatas sofa kamar sambil menonton televisi itu sontak mendengus kesal. Camilan yang berada dipangkuannya ia simpan dengan suara keras diatas meja. Baginya Arhan sakit, sangat membuatnya repot.
"Kenapa belum sembuh-sembuh si mas, padahal udah pergi ke dokter." Ayu memijat keras punggung Arhan, gerakan itu sangat menggambarkan keterpaksaan.
Bukannya berkurang rasa pegal itu, tubuh Arhan malah terasa lebih sakit lagi. Jari jemari milik Ayu ia rasa bagai kayu yang menekan-nekan punggungnya membuat Arhan makin tidak nyaman.
Pijatan itu sangat jauh dibanding dengan pijatan lembut milik Dira. Arhan jadi membayangkan bagaimana wajah Dira yang lembut saat bertanya:
Bagian mana lagi mas yang terasa pegal.
Mau Dira bikinkan jamu buat ngilangin nyeri nya.
Mas badannya udah enakan atau belum, kalau belum nanti biar Dira pijat lagi.
Mas jangan capek-capeknya, jangan terlalu memaksakan diri. Kalau udah merasa capek istirahat dulu aja.
Kini kalimat itu tidak akan Arhan dengar lagi, kini rumah tangganya dengan Ayu makin hari makin terasa hambar. Ayu yang selalu menyuruhnya dibanding memperhatikannya, bahkan hal kecil yang selalu Dira lakukan pada Arhan, seperti membetulkan dasi kerja tidak pernah Ayu lakukan sama sekali.
Apalagi menyiapkan baju kerja, tidak pernah Ayu lakukan. Semuanya Arhan yang urus. Bahkan Arhan menjadi lebih sering terlambat masuk kerja karena harus menyetrika terlebih dahulu kemeja kerjanya.
"Sudah sayang, mas udah enakan." dalih Arhan padahal pijatan Ayu terasa nyeri di punggungnya.
Sementara itu, di sisi lain, Sorang wanita yang bayangannya hinggap sejenak dibenak mantan suaminya itu kini telah berdandan cantik.
Dira mengenakan kebaya kutu baru berwarna krem yang dipadukan dengan rok batik bernuansa cokelat keemasan. Rambut hitamnya yang panjang dibiarkan terurai dengan gelombang lembut di bagian ujung, membingkai wajah cantiknya yang dirias tipis. Sebuah jepit mutiara kecil menghiasi salah satu sisi rambutnya, menambah kesan anggun tanpa terlihat berlebihan. Penampilannya sederhana, namun cukup untuk menarik perhatian beberapa pasang mata yang berdiri diruang tengah rumah mewah itu.
Langkah anggun disertai suara yang dipantulkan oleh sandal hak tinggi, membuat Bu Mira, Arya, pak Malik serta Lara menoleh kearah Dira. Semua pasang mata itu melihat takjub dengan kecantikan Dira. wanita berusia dua puluh lima tahun itu sangat jarang sekali memakai riasan yang ramai. Tapi hari ini atas paksaan dari Bu Mira akhirnya Dira mau didandani dengan makeup sehingga membuat wajahnya makin pangling.
Arya, sorot matanya menatap Dira sampai tidak berkedip beberapa detik.
Cantik.
Begitulah batin Arya, dengan rahang menegas dan sorot mata yang lebar, seolah tidak ingin melewatkan kecantikan wanita yang melangkah mendekatinya.
"Udah Ra?" satu pertanyaan basa-basi meluncur begitu saja dari mulut Arya.
Dira tersenyum lembut seraya menganggukkan kepalanya, "Sudah mas, maaf lama nunggu."
"Bu, ayah. Arya berangkat dulu."
"Iya tante, om. Dira juga pamit." sambung Dira menyalami Bu Mira dan pak Malik.
"Bye Oma..." wajah dengan binar bahagia sangat terlihat pada anak kecil itu, Lara sedari tadi sudah menggenggam erat tangan Arya dan Dira kemudian memposisikan dirinya diantara dua orang dewasa yang sedang merasakan debaran aneh didalam dadanya.
"Ra..." Arya yang tampak gagah sedang mengemudikan mobil hitam nya, jam tangan melingkar pada pergelangan tangannya menambah kesan maskulin dan tampan yang tak terbantahkan. Kacamata hitam bertengger manja dengan hidung Bangir sebagai penyangga. Sorot matanya tegas menatap jalanan yang mulai dipadati oleh kendaraan.
"Iya mas?" Dira menoleh sekilas pada pria yang duduk disebelahnya, bukan pertama kalinya ia duduk sebelahan bersama Arya seperti ini. Dulu Dira sangat sering diantar jemput oleh Arya pergi sekolah, tapi hari ini terasa berbeda.
"Mas harap kamu tidak tersinggung dengan perkataan ibu kemarin." Arya, tetap fokus dengan kemudinya. Sorot matanya yang dingin membuat atmosfer didalam mobil ini kian terasa begitu mencekam.
"Perkataan yang mana mas?" Dira masih menebak, jarinya memilin rok batik yang sangat pas pada lekukan tubuhnya.
Arya menoleh sekilas, ada senyuman tipis yang ia berikan pada Dira. " Soal perkataan ibu yang mengatakan, kamu sebagai calon ibu dari Lara."
Ada denyutan yang lebih keras didalam rongga dada Dira, pagi ini jantungnya terasa sangat aktif sekali. "Oh... gapapa mass, santai aja. Dira paham apa yang dimaksud tante Mira, agar Lara tidak merasa sedih hari ini."
Arya mengangguk, "Syukurlah kalau kamu tidak merasa tersinggung Ra."
*
"Cantik banget Lara mas, beruntung banget bisa memiliki putri secantik Lara." sorot mata Dira tertuju pada Lara yang tengah bersiap diatas panggung.
"He em.. Mas bersyukur sekali, hadirnya Lara bisa membuat hari-hari mas kian berwarna." timpal Arya.
Beberapa pertanyaan masih memenuhi benak Dira, tapi ia tidak berani untuk menanyakan menurutnya pertanyaan itu terlalu sensitif untuk ditanyakan pada Arya. Satu bulan tinggal di kediaman Winata Dira belum pernah sekalipun melihat sosok ibu dari Lara.
Sebelum tampil Lara sempat melirik ke arah tribun penonton, melihat keberadaan Arya dan Dira yang duduk sebelahan disana, kemudian senyum mengembang pada wajah Lara, ia merasa sangat bahagia hari ini.
Lara tampil paling ceria dengan gerakan tari yang paling luwes dan lincah. Senyum tetap terukir pada wajahnya yang cantik.
Dira dan Arya bertepuk tangan meriah, senyum mengembang pada wajah keduanya. Terlebih Arya, ia sangat bahagia melihat putrinya yang tampil sempurna diatas panggung.
Acara demi acara sudah selesai, para penonton di tribun mulai turun. Ada yang langsung pulang ada pula yang akan menjemput anaknya yang selesai tampil dibelakang panggung.
"Ayok kita jemput Lara mas" ajak Dira ia sudah menegakkan tubuh.
Arya tampak mengangguk tanpa kata, ia menegakkan tubuh menyusul Dira yang sudah terlebih dulu. Area penonton memang gelap, dan hal itu mampu membuat Dira kehilangan fokus untuk berjalan. Beberapa kali kakinya menabrak bangku penonton saking gelapnya.
"Ayok.." Arya mengulurkan tangannya, tujuannya untuk menuntun Dira agar bisa turun lebih mudah.
Dengan ragu Dira memegang tangan Arya sebagai tumpuannya untuk berjalan, tapi tiba-tiba heels nya malah tersangkut pada lubang kursi. Membuat Dira hampir saja terjatuh jika saja Arya tidak menahan bahunya.
"Kenapa?"
"Heels nya nyangkut mas..." Dira berusaha menggerak-gerakan kakinya, sementara tangannya masih dipegang erat oleh tangan lebar milik Arya. Gerakan kakinya percuma, heelnya nyangkut dan sulit untuk di cabut.
Arya melepaskan tangannya, pria dengan balutan batik coklat itu membungkukkan tubuhnya perlahan, tangannya mulai menyentuh pelan kaki Dira yang yang masih tersangkut.
Dira ikut menunduk, ia pandangi bahu lebar milik Arya. lagi-lagi debaran kencang itu terasa kembali.
Ya Allah, rasa apa ini.
Batin Dira, sementara pipinya mulai memanas.
Dengan gerakan lembut, dengan mudah Arya dapat melepaskan heels Dira yang tersangkut diantara kursi tribun. Setelah itu, Arya kembali menegakkan tubuhnya serta dengan entengnya kembali meraih jemari lentik itu untuk menuruni tribun dengan hati-hati.
"Makasih mas." ucap Dira, yang kemudian direspon dengan anggukan dan senyum tipis pada wajah tampan Arya.
Bersambung
Jangan lupa like ya readers 🤩