NovelToon NovelToon
Takdir Baru di Malam Lamaran

Takdir Baru di Malam Lamaran

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Cinta setelah menikah / Wanita perkasa / Pengantin Pengganti / Pengantin Pengganti Konglomerat / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Chicklit / Tamat
Popularitas:67.8k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Nadia terbangun kembali di malam lamarannya, tepat saat Bella, adik tirinya, ketahuan bersama Arman, calon suaminya. Semua orang memintanya mengalah demi nama baik keluarga. Namun kali ini Nadia tidak mau menjadi korban lagi.
Ia tahu masa depan Arman: pengkhianatan, kekerasan, dan rahasia kelam yang akan menghancurkan siapa pun yang menikah dengannya. Maka saat Bella merebut Arman, Nadia justru tersenyum dan memilih Raka, paman Arman yang sakit-sakitan tapi berhati teguh.
Bella mengira ia mencuri takdir terbaik. Ia tidak tahu, yang ia rebut adalah awal dari neraka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 29 - Suara Mesin Baru

Mesin jahit baru mengubah suara rumah.

Sebelumnya, rumah kecil Raka dipenuhi bunyi ringan: gelas diletakkan, halaman disapu, batuk kecil yang ditahan, air mendidih. Sekarang ada suara tak-tak-tak yang lebih stabil, lebih percaya diri, seperti langkah kaki yang tidak lagi ragu.

Nadia menyukai suara itu.

Raka juga, meski ia pura-pura membaca setiap kali Nadia mulai menjahit. Halaman bukunya tidak banyak berpindah. Matanya lebih sering mengikuti gerakan tangan Nadia.

"Mas Raka," kata Nadia tanpa menoleh.

"Ya?"

"Kalau terus melihat, jahitannya bisa malu."

"Saya tidak melihat jahitannya."

"Lalu?"

Raka diam.

Nadia menahan senyum.

"Mas?"

"Saya melihat istriku bekerja."

Kaki Nadia hampir salah menginjak pedal.

"Jangan bicara begitu saat aku memegang jarum."

"Maaf."

Tapi Raka tersenyum.

Pesanan bertambah menjadi tujuh potong dalam dua hari. Sari membantu menerima pesanan di warung. Rani menggambar desain bunga yang katanya harus dipasang di semua baju, meski Nadia menjelaskan pelanggan belum tentu mau bunga sebesar piring. Joko membantu membuat rak kecil di warung untuk menggantung contoh kain.

Hal kecil itu membuat warung Sari lebih ramai.

Orang datang membeli gorengan, lalu bertanya kain. Orang datang melihat kain, lalu membeli teh. Sari mulai mencatat pemasukan warung dan pesanan baju secara terpisah.

"Aku merasa seperti punya usaha lain," kata Sari suatu sore.

"Memang."

"Tapi ini usahamu."

"Mbak yang menerima orang di warung. Itu kerja."

Sari menatap buku catatan.

"Aku boleh dapat bagian?"

Nadia menatap kakaknya.

"Mbak harus dapat bagian."

Sari tampak malu.

"Aku cuma tanya."

"Tanya yang benar. Bukan boleh atau tidak, tapi berapa."

Joko yang sedang memasang paku di rak tersenyum kecil.

"Aku setuju."

Sari menoleh cepat. "Mas?"

Joko mengangkat bahu.

"Kalau kamu kerja, ya harus dihitung. Jangan seperti bantu keluarga terus dianggap gratis."

Sari diam.

Nadia melihat mata kakaknya berkaca-kaca.

Kemajuan kecil lagi.

Malam itu, Nadia bercerita pada Raka. Raka mencatat pembagian komisi sederhana untuk Sari: setiap pesanan yang masuk melalui warung mendapat bagian tertentu. Tidak besar, tapi jelas.

"Mbak Sari akan senang," kata Raka.

"Dia akan takut menerima."

"Kenapa?"

"Karena terlalu lama diajari bahwa kerja perempuan di keluarga tidak perlu dibayar."

Raka berhenti menulis.

"Kamu juga?"

Nadia tersenyum tipis.

"Aku dulu bahkan harus berterima kasih saat tenagaku dipakai."

Raka meletakkan pulpen.

"Di rumah ini, kalau kamu bekerja, kita hitung. Kalau kamu lelah, kamu istirahat. Kalau kamu tidak mau menerima tamu, pintu ditutup."

Nadia menatapnya.

"Mas Raka membuat aturan rumah?"

"Kita membuat."

Ia menggeser buku ke Nadia.

Di halaman kosong, ia menulis judul: Aturan Rumah.

Nadia tertawa, tapi menulis juga.

1. Tidak ada yang masuk tanpa izin.

2. Uang pribadi tidak disentuh.

3. Orang sakit harus bilang kalau dingin.

Raka membaca poin ketiga.

"Kenapa saya merasa disindir?"

"Karena benar."

Raka mengambil pulpen dan menulis poin keempat.

4. Penjahit tidak boleh lupa makan.

Nadia menunjuknya.

"Itu juga sindiran."

"Karena benar."

Mereka tertawa bersama.

Keesokan harinya, Bu Lilis datang. Kali ini ia menelepon lebih dulu.

Nadia menghargai itu.

Bu Lilis masuk membawa buah dan obat herbal. Ia berhenti di ruang tamu saat melihat mesin jahit dan kain-kain tertata.

"Kamu menjahit di sini?"

"Iya, Bu."

"Pesanan?"

"Beberapa."

Bu Lilis menyentuh salah satu kain.

"Warnanya lembut."

Nadia menunggu komentar berikutnya. Ia siap kalau Bu Lilis menyindir istri baru tidak fokus mengurus suami.

Namun Bu Lilis berkata, "Dulu saya suka menjahit waktu muda."

Raka menoleh kaget.

"Ibu?"

"Apa? Kamu pikir Ibu lahir langsung jadi orang tua?"

Raka terdiam.

Nadia hampir tertawa melihat wajahnya.

Bu Lilis duduk, masih memegang kain.

"Setelah menikah, tidak sempat. Anak-anak, rumah, urusan keluarga. Mesin jahit saya dulu dijual waktu pindah."

Ada nada yang Nadia belum pernah dengar dari Bu Lilis. Bukan kontrol. Bukan kritik. Lebih seperti seseorang mengingat dirinya sebelum menjadi ibu yang selalu khawatir.

"Kalau Ibu mau, kapan-kapan bisa coba mesin ini," kata Nadia.

Bu Lilis menatapnya, curiga.

"Kamu tidak takut saya merusak?"

"Kalau rusak, kita servis."

Raka tersenyum.

Bu Lilis menyadari anaknya tersenyum melihatnya dan Nadia bicara biasa. Wajahnya sedikit melunak.

"Raka minum obat?"

"Sudah, Bu," jawab Raka.

Bu Lilis menatap Nadia.

Nadia berkata, "Dia ingat sendiri pagi ini."

Bu Lilis tampak tidak percaya.

Raka mengangguk.

"Saya ingat sendiri."

Ada sesuatu yang bergerak di wajah Bu Lilis. Sedih sedikit. Bangga sedikit. Kehilangan sedikit.

"Bagus," katanya pelan.

Kunjungan itu berlangsung tanpa pertengkaran.

Setelah Bu Lilis pulang, Raka duduk lama.

"Saya baru tahu Ibu pernah menjahit."

"Orang tua juga punya hidup sebelum menjadi orang tua."

"Saya sering lupa."

"Mereka juga sering lupa anaknya punya hidup setelah dewasa."

Raka menatap Nadia.

"Adil."

Di rumah Pak Darto, suasana tidak selembut itu.

Bella sedang mencoba baju akadnya. Penjahit kampung yang dipanggil Bu Ratna mengencangkan bagian pinggang. Payet di dada terasa gatal. Warna merah mudanya membuat Bella terlihat lebih muda, tapi juga lebih mencolok.

"Bagus," kata Bu Ratna.

Eyang Marni mengangguk.

"Yang penting kelihatan pengantin."

Bella memandang cermin.

Ia tidak merasa seperti pengantin.

Ia merasa seperti orang yang sedang dibungkus agar aibnya terlihat cantik.

"Bu," katanya pelan, "boleh bagian payetnya dikurangi?"

Penjahit menatap Bu Ratna.

Bu Ratna mengerutkan kening.

"Kalau dikurangi, bajunya kelihatan biasa."

"Aku ingin biasa."

"Pengantin tidak boleh biasa."

Bella diam.

Ponselnya berbunyi.

Pesan Arman.

Aku tidak bisa antar fitting. Lembur.

Bella menatap layar, lalu cermin.

Di cermin, ia melihat baju yang tidak ia suka, cincin yang sempit, dan wajah perempuan yang menang tapi tidak bahagia.

Di rumah kecil, Nadia sedang menyelesaikan pesanan ketiga. Mesin barunya bergerak lancar. Raka duduk di dekat jendela, benar-benar membaca kali ini.

"Mas Raka," kata Nadia.

"Ya?"

"Kalau nanti usahaku besar, rumah ini tidak cukup."

"Kita cari tempat."

"Semudah itu?"

"Tidak mudah. Tapi bisa direncanakan."

Nadia tersenyum.

Dulu, masa depan baginya seperti lorong gelap yang ujungnya pukulan dan air mata. Sekarang masa depan terdengar seperti sesuatu yang bisa dicatat di buku, dihitung, diperdebatkan, lalu dijalani.

Suara mesin jahit berlanjut.

Tak-tak-tak.

Di telinga Nadia, itu bukan hanya suara kerja.

Itu suara hidupnya mulai bergerak atas kemauannya sendiri.

Keesokan harinya, papan kecil buatan Joko dipasang di warung Sari. Tulisannya tidak terlalu rapi, tapi jelas:

Baju Tante Nadia

Pesanan gamis sederhana, rapi, dan nyaman.

Rani menambahkan gambar bunga di sudut papan. Sari awalnya ingin menghapus karena terlihat kekanak-kanakan, tapi Nadia membiarkan.

"Biar orang tahu ini usaha yang masih tumbuh," katanya.

Papan itu langsung menarik perhatian.

Seorang ibu berhenti membeli tempe goreng, membaca papan, lalu bertanya, "Tante Nadia yang mana?"

Rani menunjuk bangga.

"Tanteku!"

Ibu itu tertawa dan memesan untuk melihat contoh kain. Sari mencatat dengan tangan sedikit gemetar. Joko, yang sedang menggoreng, hampir lupa membalik tempe.

Ketika Nadia datang siang harinya, ia melihat papan itu dari ujung gang. Langkahnya melambat.

Raka yang berjalan di sampingnya bertanya, "Kenapa?"

"Namaku ada di papan."

"Bagus, kan?"

"Aneh."

"Aneh yang baik?"

Nadia tersenyum. "Aneh yang baik."

Di kehidupan lalu, namanya lebih sering disebut dalam keluhan. Sekarang namanya tertulis di papan kecil sebagai sesuatu yang dicari orang.

Nadia mendekati papan itu dan menyentuh tepinya.

"Jelek sedikit," kata Joko dari belakang. "Tulisanku miring."

"Miring sedikit tidak apa-apa," jawab Nadia.

Rani protes, "Bunganya bagus!"

"Bunganya paling bagus," kata Raka serius.

Rani langsung tersenyum bangga.

Seorang pembeli yang baru datang ikut membaca papan itu dan berkata, "Kalau sudah ada contoh, saya mau lihat. Anak saya mau lamaran bulan depan."

Sari menatap Nadia.

Nadia mengangguk.

Papan kecil itu belum sehari dipasang, tapi sudah bekerja. Nadia merasa dadanya menghangat. Dulu orang datang ke rumahnya membawa masalah. Sekarang orang datang membawa ukuran baju.

Itu kemajuan.

Kemajuan yang nyata.

1
Murni Sumiarti
Bingung
🤣🤣🤣
Endang Sulistia
di bab atas anak sari namanya Rani...trus mereka buka warung ..🤔🤔kok makin bingung ya thor🤦🤦
Endang Sulistia
bingung mbak Lilis apa Bu Lilis 🤦🤦
Endang Sulistia
Arman cucu pak Hendra,trus ortunya siapa ya..🤔🤔
Endang Sulistia
🤭🤣🤣🤣 biar hemat ya
Endang Sulistia
setajam silet ya nad
Endang Sulistia
oke Tante..🤪🤪🤪
Endang Sulistia
🤪🤪🤪🤪
ria sopingi
gw bingung cerita ini, raka adik Hendra tp manggil lilis ibu sementara si Arman manggil ibu katanya keponakan raka hadohhhh
Yan Wui
Kok anaknya sari mana ya kak
chataleya
sakit jiwa nih Arman 🤭
Ari Peny
d sini rada bingung kok sari panggil kak k nadia dan aq penasaran raka kerjanya apa kok uangnya d pakai buat arman
chataleya
dasar Bella.... andalannya cuma tangisan...
chataleya
semestinya keluarga adalah tempat yang teraman bukan membuat rasa terancam. gimana sih pak Darto??!!!
chataleya
sebenarnya Nadia kehilangan. tapi kehilangan kesempatan masuk neraka rumah tangga bersamamu Arman. 🤣 dan kesempatan itu diambil Bella 🤭
chataleya
untung ada mbak sari....👍
chataleya
bagaimana Arman, apa kamu seperti merasa kehilangan sesuatu??? 🤭
chataleya
duar..duar..duar... Shok kan kaliannnn... 🤣🤣🤣 jantung aman kan Arman... Bella... 🙈
chataleya
detik-detik kemerdekaan Nadia 😍
chataleya
aku bacanya seperti sedang menonton film India 🤭 jadi agak greget gitu dengan kelakuan keluarga Nadia 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!