Aurelia Vanzara, sosok yang dulu ditakuti sebagai Crimson Queen, memilih menghilang dari dunia gelap setelah kehilangan satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hatinya.
Kematian orang terkasih itu bukan hanya merenggut kebahagiaannya, tetapi juga menghancurkan alasan Aurelia untuk terus memegang kekuasaan.
Dengan identitas baru sebagai wanita biasa, ia mencoba menjalani hidup sederhana. Bekerja, tersenyum, dan berpura-pura bahwa masa lalunya tak pernah ada.
Namun, dunia tidak pernah benar-benar melepaskan miliknya.
Ketika sebuah keadaan mengancam satu-satunya kehidupan damai yang ia miliki sekarang, Aurelia dipaksa memilih: tetap menjadi wanita lemah yang mencoba melupakan segalanya, atau kembali menjadi ratu kejam yang pernah menguasai dunia bawah tanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25- Max kembali
Lanjut...
Malam semakin larut, dan pasar malam yang meriah perlahan mulai ditinggalkan para pengunjung.
Bagi Alena dan Bara, dunia seolah hanya milik mereka berdua malam itu. Namun, realitas sebagai pemilik toko bunga memaksa Alena untuk menyudahi momen manis mereka.
Ia teringat bahwa beberapa pasokan bunga segar yang baru datang sore tadi belum sempat diperiksa kesehatannya, belum disiram, dan butuh persiapan ekstra agar tetap prima saat toko buka esok pagi.
"Kita harus kembali, Bara. Bunga-bungaku bisa layu kalau dibiarkan sampai besok," ucap Alena saat mereka turun dari bilik bianglala.
"Baiklah. Ayo kita kembali," balas Bara seraya mengangguk patuh.
Mereka pun meninggalkan hiruk-pikuk pasar malam dan berkendara membelah jalanan kota yang mulai lengang menuju Alena’s Floral Boutique.
Sesampainya di seberang jalan toko bunga, Bara memarkirkan mobilnya dengan rapi. Dengan sigap, pria itu turun terlebih dahulu, memutari moncong mobil, lalu membukakan pintu untuk Alena.
Sebuah perlakuan manis dan penuh perhatian yang selalu sukses membuat sudut bibir Alena terangkat.
Saat kaki mereka menapak di trotoar jalan, Bara sempat tertegun sejenak. Ia menatap telapak tangan Alena yang bebas, lalu beralih menatap wajah wanita itu di bawah temaram lampu jalan.
Dengan mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya, Bara perlahan mengulurkan tangan dan menautkan jemarinya di sela-sela jari Alena. Genggaman yang erat, hangat, dan sarat akan perasaan yang mendalam.
Alena tidak menolak. Ia justru membalas genggaman itu dengan remasan lembut, lalu bersiap menyeberang jalan bersama.
Namun, langkah mereka seketika melambat saat pandangan mereka tertuju pada teras depan toko bunga yang cukup remang-remang karena lampu toko belum di nyalakan.
Di sana, di atas salah satu kursi kayu pajangan, tengah duduk seorang pria dengan gaya kasual yang sangat familiar. Pria itu sedang melipat tangan di dada, dengan kepalanya yang bersandar lesu pada dinding toko.
Tap tap tap!!
Begitu mendengar suara langkah kaki mendekat, pria itu langsung mendongak. Sorot matanya langsung tertuju pada kebersamaan mereka, lalu turun perlahan dan menatap jemari Alena dan Bara yang saling menggenggam erat.
"Max...?" seru Alena spontan, lalu menghentikan langkahnya tepat beberapa meter di depan teras.
Max kemudian berdiri perlahan dari kursinya. Ia mengembuskan napas kasar dari hidungnya, mengusap tengkuknya dengan gestur malas khas dirinya, lalu menatap Alena dengan pandangan penuh kekecewaan yang dramatis.
"Kau ini sangat keterlaluan, Alena. Apa kau sengaja membuatku lama menunggu di sini, hah?" tanya Max dengan nada bicaranya yang agak seret, malas, sekaligus menuntut.
Alena mengernyitkan dahinya karena merasa heran dengan kedatangan pria ini yang selalu tidak terduga. "Max, kamu pergi tiba-tiba tanpa kabar, dan sekarang datang juga tiba-tiba. Mana mungkin aku tau kalau kamu akan datang ke sini malam-malam begini?"
Mendengar Alena yang disudutkan, Bara pun tidak tinggal diam. Ia lalu melangkah satu senti lebih maju dan setengah melindungi Alena dengan tubuh tegapnya.
"Benar. Kamu pergi tiba-tiba dan datang juga tiba-tiba, mana mungkin Alena tau jika kamu akan datang," sahut Bara.
Mendengar sahutan itu, Max seketika menoleh. Matanya membelalak tak percaya menatap Bara.
Ia lantas menunjuk Bara dengan telunjuknya, lalu beralih menatap Alena bergantian dengan ekspresi wajahnya yang berubah menjadi sangat heran dan sedikit menurut gaya khasnya, agak jamet dan berlebihan.
"Tunggu, tunggu... Sejak kapan kau memanggilnya dengan nama langsung? 'Alena'?" tanya Max, dengan suara yang naik satu oktav.
Ia menyipitkan mata, lalu pandangannya turun lagi ke arah bawah. "Dan ini... apa maksudnya?!" tanya Max, sambil menunjuk ke arah genggaman tangan mereka yang masih bertaut.
Sadar bahwa situasi ini bisa memicu keributan yang tidak perlu di larut malam, Alena perlahan melepaskan genggaman tangan Bara. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri, lalu menatap Max dengan serius.
"Max, ini sudah larut malam. Lebih baik kamu pergi sekarang. Aku punya banyak pekerjaan di dalam, dan aku tidak punya waktu untuk berdebat," kata Alena tegas.
Namun, Max justru mendengus meremehkan. "Huh! Pergi? Enak saja. Aku sudah menunggumu berjam-jam di sini sampai digigit nyamuk, dan sekarang kau menyuruhku pergi begitu saja setelah melihatmu asyik pacaran?"
Alena mengabaikan gerutuan Max. Ia lalu melangkah melewati pria itu, dan merengkuh kunci toko dari dalam tasnya, lalu mulai membuka gembok pintu kaca Alena’s Floral Boutique.
Namun bukannya menjauh, Max justru langsung membuntuti Alena dari belakang, dan mengekor dengan sangat dekat bagai anak ayam yang kehilangan induknya.
"Alena, dengar dulu. Aku ke sini karena ada hal penting. Hei, Alena! Jangan abaikan aku!" cerocos Max sambil ikut menyelinap masuk begitu pintu toko terbuka sedikit.
Bara yang berdiri tidak jauh dari mereka hanya bisa mengawasi dengan tatapan mata yang dingin dan waspada. Meski Bara menahan diri demi menghormati privasi Alena, sorot matanya yang tajam tidak pernah lepas dari setiap gerak-gerik Max yang mulai bersikap lancang di dalam toko kekasihnya.
Bersambung...