Hukum tidak berpihak pada Anggita, jadi aku yang akan jadi hukumnya. Satu misi yang menjadi tujuanku hancurkan Arvin Teriaz. Aku Nabila Azzahra, topengku sekretaris, senjataku kode. Rencana sempurna begitu sempurna sampai Galen Teriaz, dokter yang membenci darahnya sendiri, mengulurkan tangan dalam misiku.
Apakah misi mereka berhasil dalam, menghancurkan seorang Arvin Teriaz ?
Baca selengkapnya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 DARAH MEMANGGIL DARAH
Jam 15.30 UGD RSPAD, koridor putih, bau darah dan antiseptik. Galen duduk di lantai, punggungnya ke tembok dan baju kemejanya basah karena darah. Tangan kanannya masih genggam tangan Nabila yang udah dingin karena infus, tangan kirinya genggam ujung selimut.
Galen dan Nabila yang didorong ke ruang operasi, Anggita dipeluk 2 perawat dengan matanya bengkak.
"Bila... Kakak... jangan mati..." Isaknya Anggita
Danrem keluar yang seragamnya ada bercak darah.
"Kolonel" Panggilnya pelan
Wijaya berdiri
"Gimana, Danrem?" Tanya Wijaya dengan suaranya serak
"Kolonel, peluru di paru kanan yang terkena di bahu Galen akan di operasi, lalu Nabila luka bakar membuat dia masih tidak sadarkan” Jawab Dandrem
Danrem menepuk bahu Wijaya.
"Kuat ya, kolonel" Lanjut Dandrem, Wijaya mengangguk.
Tapi di dalam …
"Nggak akan ada yang mati, sebelum aku bunuh Bram" Batin Wijaya
*****
Jam 16.00 di ruang interogasi Makodam, lampu neon menyala, Bram duduk yang masih mengenakan jas Armani hitam dan dasi masih menampel rapi. Tangannya diborgol tapi dia nyender kayak di sofa, di sebelahnya Bayu dengan kepala diperban, bibir pecah tapi masih senyum-senyum. Di depan mereka: Danrem, 2 penyidik POM, dan 1 cermin 1 arah. Di balik cermin: Wijaya, Arvin, dan Anggita.
Kenapa ada Arvin ?, Wijaya sengaja agar Arvin tahu kalau papanya itu begitu kejam dan serakah seperti dirinya. Namun Arvin, yang hanya tahu kalau sang papa yang hanya memiliki sifat sirik kepada kakak kandungnya karena Wijaya mebdapatkan warisan lebih besar dari pada Arvin dan Bayu. Namun Wijaya tidak pernah mengambil haknya, karena dia merasa cukup menjadi seorang TNI dan tidak mau berurusan dengan namanya kolega. Arvin sengaja di beri surat keluar sementara dari kantor polisi, untuk melihat semuanya yang harus dia ketahui.
Penyidik membanting map…
"Bram Teriaz! Kamu dalang C-12! Kamu perintahkan penembakan dan pemboman!" Ucap Penyelidik
Bram mengangkat bahu.
"Buktinya ?" Tanya Bram belum mengakui
"4 anak buahmu udah ngaku!" Jawab Penyelidik
"Anak buah? Saya nggak kenal" Jawab Bram santai
"Saya cuma pengusaha, ketemu adik saya baik-baik. Tiba-tiba ditembak" Lanjut Bram
Bayu menimpali …
"Iya, kakak saya itu halu. Ngaku-ngaku prajurit" Timpal Bayu
Danrem ingin meledak
"Kalian ngebakar mobil! Ada 2 korban kritis!" Ujar Dendram Bram menatap cermin.
Dia tau Wijaya di sana.
"Oh... Nabila dan Galen ya ?" Bram tersenyum
"Sayang sekali, padahal Nabila itu calon menantu yang baik yang cocok sama Arvin" Lanjut Bram
Kata "Arvin" itu membuat Wijaya mengepal, pintu kebuka tak lama Arvin masuk. Wajahnya kosong dan di tangannya ponsel.
Arvin menatap Bram.
"Papa... itu bener ?" Tanya Arvin
Bram berdiri pelan.
"Duduk, Nak. Papa jelasin" Jawab Bram
"JANGAN SENTUH AKU!" Bentak Arvin.
Arvin mundur, melihat itu Bram menghela napas
"Baiklah, jalan pintas" Ucap Bram
Dia menatap Wijaya di balik cermin, Wijaya keluar berbicara 4 mata. 2 menit kemudian, Galen masuk. Bahunya masih diperban. Darah rembes.
"Lihat. Keluarga Teriaz kumpul lengkap" Ucap Arivn
"DIAM!" Bentak Wijaya.
Wijaya maju.
"Kamu kenapa lakuin ini?!" Tanya Wijaya
"Karena iri, kak" Jawab Bram jujur, terlalu jujur.
"Wijaya anak emas, pahlawan. Sedangkan aku? Aku anak kedua yang dilupain. Makanya aku bikin C-12, biar nama Teriaz lebih terkenal dari Wijaya" Lanjut Bram
Dia menoleh ke Arvin.
"Dan kamu, Nak. papa lakuin ini biar kamu hidup di atas. Bukan di bawah kayak Galen" Tambah Bram
Arvin gemetar.
"Jadi... semua ini... demi aku?" Tanya Arvin terbata
"Tentu" Kata Bram merasa bangga.
"Papa rela jadi iblis demi anak papa" Lanjut Bram
Tamparan begitu nyaring
PLAK !!!
Arvin menampar Bram sampai dia terdorong ke belakang dan borgolnya bunyi.
"KAMU BUKAN AYAHKU!!" Teriak Arvin, air matanya pecah.
"AYAHKU MATI 15 TAHUN LALU KETIKA MILIH JADI IBLIS!!" Tambah Arvin
Bram memegang pipinya, lalu... dia tertawa kenceng sampai batuk.
"Bagus! Itu baru anakku!" Ujar Bram
Menatap Galen, Galen terpaksa langsung ikut ke tempat setelah melakukan operasi untuk sebagai saksi.
"Kamu liat? Dia lebih berani dari kamu, Galen. Kamu cuma bisa nangis di pojokan" Ujar Bram
Galen tidak jawab, dia berjalan pelan ke meja untuk mengambil foto. Foto Nabila gosong memeluk Anggita, dia taruh di depan Bram.
"Ini liat" Suara Galen rendah namun berbahaya
"Ini karena kamu" Lanjut Galen
Bram melirik.
"Oh Nabila, Calon istrimu ya? Sayang sekali" Ujar Bram
"Dia kritis buat lindungin Anggita, kamu tega" Ucap Galen
Bram menyender lagi
"Perang itu gitu, Galen. Ada yang menang, ada yang mati" Jawab Bram begitu enteng
Galen menunduk, saat dia angkat kepala lagi, matanya bukan mata manusia.
"Aku sumpah, Bram" Bisik Galen.
"Aku akan gali C-12 sampai ke lubang cacing terakhir. Aku akan seret kamu, Bayu, dan semua orang di dalamnya ke pengadilan atau ke neraka" Ujar Galen
Bram menatapnya lama lalu mengangguk.
"Aku tunggu, keponakan" Jawab Bram
Dia berdiri
"Bawa saya ke sel, saya capek" Lanjut Bram
Sebelum digelandang, Bram berhenti di depan Arvin.
"Jaga dirimu, Nak. Dunia ini kejam. Cuma C-12 yang bisa lindungin kamu" Ujar Bram
Arvin meludah ke kaki Bram.
"Lebih baik mati, dari pada jadi kayak kamu" Jawab Arvin
Bram tertawa terakhir kali, lalu pintu sel tertutup.
*****
Jam 18.00, ruang tunggu UGD Galen, Arvin, dan Anggita duduk bersebelahan mereka saling diam.
Ponsel Danrem bunyi.
"Lapor! Ada upaya pembobolan sel tahanan! Kode: GARUDA HITAM!"
Galen dan Arvin berdiri bersamaan.
"Dia mau kabur" Kata Galen.
"Berarti C-12 masih aktif" Ucap Arvin
Mereka saling tatap 15 tahun bersaing, hari ini bersatu.
"Kita ke sana" Kata Galen.
"Kita habisin" Ujar Arvin
Danrem menahan.
"Kalian berdua luka, biar kami" Ucap Danrem
Galen menggeleng.
"Ini urusan keluarga, Danrem. Darah memanggil darah" Tolak Galen
Dia menoleh ke Anggita, mengelus pucuk kepalanya.
"Tunggu di sini ya, Sayang. Om sama Kakak beresin dulu" Ujar Danrem, Anggita mengangguk walau takut melihat Arvin dari tadi
"Hati-hati" Jawab Anggita
Di ujung koridor, sirine meraung lagi. Bram Teriaz, seorang iblis dengan jas rapi dan dia belum selesai. Sedangkan Arvin kembali masuk ke sel jeruji, karena izin keluar telah selesai.
Minta likenya ya reader 🙏🏻😊