NovelToon NovelToon
Menikah Karena Jebakan

Menikah Karena Jebakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Nikahmuda / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:12.8k
Nilai: 5
Nama Author: Moms TZ

Kegiatan kemping Pramuka yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi petaka, kala seseorang dengan sengaja mengubah arah tanda panah penunjuk jalan. Daniel dan Zeya tersesat hingga terpaksa bermalam di sebuah pondok tua. Demi bertahan dari dinginnya malam yang bisa menyebabkan hipotermia, mereka pun saling menghangatkan tubuh.

Pagi harinya, warga desa menemukan mereka dalam keadaan berpelukan. Tanpa mau mendengar penjelasan, keduanya langsung dibawa ke Balai Desa dan dipaksa menikah sesuai hukum adat yang berlaku.

Daniel dan Zeya mengira semuanya akan selesai setelah pernikahan itu. Namun, mereka kembali dikejutkan oleh aturan adat yang melarang pasangan pengantin meninggalkan desa sampai waktu yang ditentukan.

Terjebak dalam pernikahan yang tak terduga, Daniel dan Zeya harus menjalani hari-hari bersama di desa, apakah Daniel dan Zeya akan terpuruk atau justru bangkit memulai hidup baru mereka di sana?

Ikuti kisah mereka hanya di sini;
"Menikah Karena Jebakan"
karya Moms TZ, buka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23.

Zeya membalas genggaman itu sambil tersenyum tipis. "Aku pasti akan selalu mendukungmu. Tapi, yang jadi masalahnya... kita belum punya lahan."

Daniel kembali memandang hamparan tanah kosong di hadapan mereka. Angin sore mengibaskan ujung kemejanya yang sengaja tak dikancingkan. Sementara pikirannya mulai dipenuhi berbagai kemungkinan.

"Iya, juga," gumamnya pelan.

Beberapa saat pemuda itu terdiam, lalu senyum tipis kembali menghiasi wajahnya.

"Kalau begitu, aku akan tanya Pak RT atau Pak Kades mengenai kepemilikan sebenarnya lahan ini."

Zeya mengangkat alis. "Kamu... serius?"

"Tentu saja aku serius." Daniel mengangguk mantap. "Kalau memang orang itu berniat menjualnya, kita akan membelinya. Tapi, kalau hanya diperbolehkan untuk menyewa, ya, nggak masalah. Daripada lahannya terus terbengkalai."

Zeya memandang lahan itu sekali lagi. Rumput liar memang tumbuh hampir setinggi lutut, tetapi di balik itu ia bisa membayangkan hamparan tanaman hijau yang tertata rapi.

"Bagaimana kalau ternyata pemiliknya nggak mau?" tanyanya lagi.

Daniel tersenyum tenang. "Setidaknya kita sudah berusaha. Rezeki itu memang sudah diatur oleh Allah, tapi kita sebagai manusia juga harus menjemputnya."

Ucapan itu membuat Zeya mengangguk pelan. "Benar juga, sih."

Mereka kembali berjalan menyusuri jalanan desa. Tak jauh dari sana, terlihat seorang lelaki paruh baya sedang memperbaiki pagar bambu di depan rumahnya.

"Itu seperti Pak RT," bisik Zeya.

Daniel menoleh dan tersenyum. "Kebetulan sekali."

Mereka menghampiri pria itu. "Assalamu'alaikum, Pak."

"Wa'alaikumussalam." Pak RT menoleh sambil tersenyum ramah. "Eh, Daniel, Zeya. Jalan-jalan sore, ya?"

"Iya, Pak," jawab Daniel. "Sekalian menikmati suasana desa."

"Bagus itu. Udara sore memang paling enak." Pak RT lalu mempersilakan Daniel dan Zeya untuk mampir.

Keduanya mengangguk lalu duduk di teras. Daniel melirik ke arah lahan kosong yang letaknya tak jauh dari rumah Pak RT.

"Maaf, Pak. Lahan kosong yang di ujung sana itu... milik siapa, ya?" tanyanya sambil menunjuk ke arah yang dimaksud.

Pak RT mengikuti arah telunjuk Daniel, lalu menjawab, "Oh, yang dekat saluran irigasi itu?"

"Iya, Pak." Daniel mengangguk.

"Itu milik Pak Hadi. Sudah beberapa tahun tidak diurus, sejak beliau pindah tinggal bersama anaknya di kota," jawab Pak RT.

"Masa, Pak?" tanya Daniel, matanya mulai berbinar.

Pak RT mengangguk. "Setahu saya, lahannya memang belum dijual. Jadi warga di sini memanfaatkan rumput-rumput di sana untuk pakan ternak."

Daniel dan Zeya saling berpandangan. Ada secercah harapan yang mulai tumbuh di hati mereka.

"Kalau saya ingin bertemu beliau atau meminta izin mengelola lahannya, apakah bisa, Pak?" tanyanya antusias.

Pak RT tersenyum melihat semangat pemuda itu. "Bisa saja. Kebetulan minggu depan Pak Hadi kabarnya pulang ke Desa Sekar karena ada urusan keluarga."

"Kalau memang kamu berniat baik, nanti saya bantu mempertemukan kalian. Siapa tahu beliau malah berniat menjual lahannya."

Wajah Daniel langsung berbinar. "Alhamdulillah. Terima kasih banyak, Pak."

"Sama-sama." Pak RT menepuk bahu Daniel. "Saya senang melihat anak muda yang punya kemauan bekerja. Bertani memang tidak mudah, tapi kalau ditekuni hasilnya juga bisa menjanjikan."

Daniel mengangguk penuh keyakinan. "In sya Allah, Pak. Saya ingin memulainya bertahap. Saya tahu jalannya tidak akan mudah, tapi saya ingin membangun masa depan dari usaha kami sendiri."

Pak RT tersenyum bangga. "Itu semangat yang bagus. Semoga Allah memudahkan jalan kalian."

"Aamiin," jawab Daniel dan Zeya hampir bersamaan.

Saat mereka melanjutkan perjalanan pulang, langkah Daniel terasa lebih ringan daripada sebelumnya. Meski belum memiliki lahan, tapi setidaknya sudah ada secercah peluang yang bisa diperjuangkan.

Di sampingnya, Zeya menggenggam tangan sang suami lebih erat. Perjalanan mereka memang masih panjang dan tak mudah. Namun, melihat sorot mata Daniel yang dipenuhi harapan, ia percaya bahwa setiap mimpi besar memang selalu berawal dari satu langkah kecil dan keberanian untuk mencoba.

.

.

.

Di kamarnya Maura duduk memeluk kedua lututnya di atas tempat tidur. Wajahnya disembunyikan di balik lipatan tangan, seolah ingin menghilang dari dunia. Rambutnya tampak berantakan, wajahnya pucat, sementara kedua matanya membengkak akibat terlalu banyak menangis.

Ponselnya sudah sejak tadi dimatikan. Tak sanggup membaca atau melihat komentar teman-temannya di grup yang terus membicarakannya.

Pintu kamar terbuka perlahan. Bu Safira masuk membawa sepiring nasi hangat dan semangkuk sup. Ia meletakkannya di meja belajar lalu mendekati putrinya.

"Maura, makan dulu, sayang."

Maura menggeleng pelan tanpa mengangkat wajah. "Nggak lapar, Bu."

Bu Safira mengembuskan napas panjang. Ia duduk di sisi ranjang, menatap putrinya iba. "Maura, masalah nggak akan selesai hanya dengan kamu nggak mau makan."

"Justru sekarang kamu harus banyak makan supaya kuat menghadapi kenyataan."

Maura tetap diam, airmatanya kembali menetes. "Aku takut, Bu...."

"Ibu tahu, tapi menangis terus juga bukan solusi, Maura." jawab Bu Safira.

Maura menggigit bibirnya. "Semua orang membenciku sekarang."

Bu Safira meraih tangan putrinya lalu menggenggamnya pelan. "Mungkin ada yang marah, ada juga yang kecewa. Tapi semua itu adalah konsekuensi yang harus kamu hadapi."

"Ibu sangat sedih melihatmu seperti ini. Tapi ibu juga nggak bisa membenarkan apa yang sudah kamu lakukan."

Tangis Maura pecah lagi. "Aku menyesal, Bu...."

"Kalau memang menyesal, buktikan dengan memperbaiki diri. Bukan dengan terus menangis dan mengurung diri di kamar."

Kemudian, terdengar langkah kaki seseorang masuk kamar, membuat Bu Safira dan Maura sama-sama menoleh.

"Mas, sudah pulang?" Bu Safira meraih tangan suaminya dan menciumnya takzim.

"Iya... Aku tak mendapati salah satu dari kalian di bawah, makanya aku langsung kemari begitu mendengar suara kalian di sini."

Namun, begitu melihat raut wajah Maura yang sembab, pria itu langsung mendekat dan duduk di kursi dekat tempat tidur. "Maura... ada apa?" tanyanya bingung.

"Papa..." Gadis itu langsung menghambur memeluk ayahnya.

"Maura pingsan di sekolah tadi," jawab Bu Safira.

Kening Dr. Rangga berkerut. "Pingsan? Kenapa bisa?"

"Di sekolah Kepala Sekolah minta klarifikasi soal video itu. Tapi sebelum berhasil menjawab, dia tiba-tiba kehilangan kesadaran. Pihak sekolah langsung menghubungiku, lalu aku membawanya pulang setelah dia sadar."

"Dia hanya syok. Tapi dari tadi menangis terus dan belum mau makan," lanjut wanita itu seraya melipat kedua tangannya di dada.

Dr. Rangga mengembuskan napas panjang. "Sekarang apa yang kamu inginkan, Maura?"

Perlahan gadis itu melepaskan pelukannya. Ia menatap sang ayah dan airmatanya kembali mengalir.

"Aku... nggak mau pergi ke sekolah, Pa. Aku malu.... semua orang menghujatku, menganggapku penjahat. Melempariku telur dan tomat busuk."

Suara Maura bergetar. "Aku mau homeschooling, aja."

Dr. Rangga dan Bu Safira saling berpandangan. "Homeschooling?" seru mereka serempak.

Maura mengangguk cepat. "Iya, Pa... Bu. Aku nggak sanggup ketemu mereka."

Tatapan Bu Safira berubah tegas. "Nggak, Maura!

Gadis itu menatap ibunya dengan wajah memelas. "Tapi, Bu...."

"Kamu pikir dengan homeschooling akan menyelesaikan semuanya? Mereka justru akan menganggapmu sebagai pecundang."

"Kamu harus berani mempertanggungjawabkan perbuatanmu," timpal Dr. Rangga.

Ucapan sang ayah membuat Maura terdiam. Airmatanya kembali jatuh. Ia tak mampu menjawab.

Bu Safira menatap putri sambungnya dalam-dalam. "Hadapi semuanya. Minta maaf kalau memang perlu dan terima konsekuensinya. Jadikan ini pelajaran paling mahal dalam hidupmu."

"Atau... kamu mau kembali ke sel tahanan?"

1
Enz99
bagus banget
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: makasih bintang 5 nya akak 🫰🫶😍
total 1 replies
Nar Sih
org seperti juragan bahar yg rentenir juga jht pelu di laporin polisi biar gk se enak nya sendiri
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 👍👍👍👍👍
total 1 replies
Nar Sih
alhamdulilah untung nya zheya dtg tepat waktu
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: huummm
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
rapat dadakan 😁
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: mungkin🤭
total 1 replies
Nar Sih
jgn kepede an dulu juragan ,jgn anggap remeh daniel dan zheya yg ada kmu yg kalah🤣
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: betul betul betul
total 1 replies
Patrick Khan
kyk nya mw rundingan😁😁
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: mungkin🤭
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
perasaan cuuinttaaaaa ..... itu namanya Zeyaaa kasih tau Moms
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 🤣🤣🤣🤣🤣,
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
ini mama Mia yang di sebelah yah ... Mak Mia 🤭🤭
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: huummm
total 9 replies
Patrick Khan
serbuuuuuuu🔨🔨🔨🔨🔨ini q bawah senjata😁
Aditya hp/ bunda Lia: siap perang kita 😂😂😂
total 5 replies
Aditya hp/ bunda Lia
kebalik paaaakkk kamu yang siap2 belum tau ajah kau itu siapa Daniel dan zeya ... kamu salah pilih lawan ...
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: huummm
total 1 replies
Esther
Bu Yuni kompor meleduk....kalau iri bilang bu😂🤭
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: kak, Es, pernah lihat sinetton tukang ojek pengkolan gak? nah seperti itulah karakter bu yuni dlm bayangan ibu🤭🤣
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
akhirnya maraton 😁
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 👍👍👍👍👍
total 3 replies
Nar Sih
lega kan hti mu maura klau sdh minta maaf dan di terima ,tinggal perbaiki diri dan hti mu biar jauh dri sifat yg gk trrpuji lgi
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: aamiin
total 1 replies
Patrick Khan
ahh muara tobat ni ye🤣🤣🤣
Patrick Khan: 😁😁😁😁😁😁😁😁😁
total 2 replies
Patrick Khan
terkejut kan zeya
.emaknya datang😁
Esther
kalau akur gini kan enak,gak ada rasa iri.
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: huummm
total 1 replies
Nar Sih
kejutan untuk mu ya zhe
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 👏👏👏👏👏
total 1 replies
Nar Sih
semoga dgn ada nya zheya dan daniel di desa tersebut bisa membwa perubahan yg lbh maju
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: aamiin
total 1 replies
Nar Sih
👍👍maura kmu sdh berani bersikap legowo minta maaf semoga dgn saling memaaf kan bisa membawa hidup lebih damai biar bagai mana pun kmu dan zeya saudara
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: aamiin
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
tium atuh Niel udah sah ini tium kening ajah ... 🤭
Aditya hp/ bunda Lia: wkwkwkk ... iya juga yah
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!